
Bell, 1 Februari 1970
Hari ini, Jack, salah satu teman Leone meninggal pada dini hari pukul 01.00. Ia melakukan tindakan bunuh diri. Pasalnya Jack tinggal sendirian pada sebuah apartemen. Ayah dan Ibunya mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu. Mungkin karena Ia tak memiliki apapun, karena semua yang ditinggalkan orang tuanya habis, Jack merasa tak perlu hidup lagi.
*****
"Seperti itu, Carrie. Jadi maukah kau pergi ke rumah korban sekarang?" tanya Paman Arrie padaku melalui telepon.
Sialan. Ternyata memang benar dugaanku. Tak hanya Leone, tapi teman-temannya juga di teror oleh gadis yang dimaksud Ibu Leone dan arwah Leone.
"Baiklah. Aku sedang akan mandi. Paman tunggu ya..." ucapku lalu menutup telepon, dan segera pergi ke kamar mandi.
Aku mandi di kolam air hangat dengan mawar, seperti biasanya.
"Hai Couria! Bagaimana tugasmu yang kemarin? Apa kau sudah tahu penyebab kematian Leone?" tanya Ikkye padaku. Aku sudah menceritakan perihal kasus kemarin pada Ikkye. Siapa tahu sebagai hantu Ia bisa membantu.
"Iya. Karena ada aroma kemenyan dan sedap malam di tubuhnya, kemungkinan Ia-"
"Diberi ilmu hitam leak, bukan?" tanya Ikkye yang langsung tahu apa yang akan aku katakan.
"Kau tahu banyak ya?" tanyaku dengan antusias
"Ya, tentu! Ayahku adalah seorang yang sangat rajin mempelajari ilmu yang seperti itu. Aku jadi tahu deh!!" ucap Ikkye.
"Oh...." ucapku sambil mengangguk.
"Nah Couria! Apa kau suka dengan Alice? Jangan-jangan kau sudah pernah berciu-"
"Tentu belum! Kalau kau tanyakan suka, mm....." ucapku sambil berpikir. Mukaku merah padam.
"Ohoho! Sudahlah! Jujur saja Couria!!" ucap Ikkye sambil mendekatiku. Ia melayang di air.
"Tidak!! Sudahlah! Kenapa kau malah membahas ini?!" tanyaku dengan gugup. Ikkye menertawaiku, sangat terbahak-bahak. Kalau Ia manusia hidup, mungkin Bibi Addle dan semua yang ada di rumah kesini. Tapi ya... mereka kan tidak tahu keberadaan Ikkye.
Aku mandi lebih cepat karena malas mengobrol dengan Ikkye. Aku berpamitan dengannya dan segera berpakaian, sarapan, dan berangkat.
Tapi Alice minta ikut dan aku terpaksa menurutinya.
Weinhard yang mengantarku menuju rumah Pak Arrie.
"Nah Tuan muda! Kemarin anda dengan siapa dan mengendarai apa saat ke rumah Leone?" tanya Weinhard sambil menyetir mobil.
Darimana Ia tahu aku ke rumah Leone? Bahkan sepertinya dia sudah tahu apa jawaban pertanyaan yang diberikannya sendiri tadi.
"Itu bukan urusanmu!" jawabku singkat.
"Mengendarai motor Tuan Arrie bersama Alice dengan mengebut, bukan?" tanya Weinhard. Ia tahu semuanya, siapa yang memberi tahunya?!
"Darimana kau tahu?!!" tanyaku.
"Nyonya Aria kemarin malam-malam sekali datang. Ia mengembalikan buku-buku di menara lonceng. Saat ini bukunya masih kusimpan di gudang. Dan Ia menceritakan semua yang terjadi kemarin! Termasuk yang tadi itu, Tuan muda mengendarai motor Tuan Arrie dengan kecepatan tinggi" jelas Weinhard. Dari kaca jendela mobil Ia terlihat tersenyum sinis.
"Kenapa kau yang mengaturku sejak dulu?" tanyaku. Aku mulai kesal dengan sifatnya yang terlalu perhatian bak bodyguard.
"Tuan muda, walau anda Tuan saya, saya tetap berhak menasihati anda. Ibu anda, Nyonya Haeva sempat berpesan pada saya, "lindungilah anakku, meski kau harus memarahinya" toh aku lakukan sesuai perintah kan?" ucap Weinhard lalu tertawa tipis.
Ternyata sifatnya yang terlalu perhatian itu memang perintah ya? Ibuku memang orang yang sangat perhatian. Sebelum meninggal pun Ia sudah mempersiapkan masa depanku? Aku sangat menyesal karena tak begitu peduli gerak-geriknya. Andai aku tahu rencananya untuk mengakhiri hidup. Aku pasti akan segera menghentikannya.
Tapi mau bagaimana lagi. Semoga Ibu memaafkanku. Aku benar-benar menyesal tak dapat berbuat apapun.
Tak lama kemudian aku sampai di rumah Pak Arrie. Sedikit lebih minimalis daripada kastilku. Saat aku keluar mobil, Weinhard tak pulang, malah menungguku di mobil.
"Kenapa kau tak pulang?!" tanyaku. Weinhard menunjuk motor Paman Arrie di teras rumah Paman Arrie. Aku mendengus sebal dan masuk ke rumah Paman Arrie, disusul dengan Alice.
"Akhirnya kau datang juga Couria!" ucap Paman Arrie sambil menghampiriku. Disini ada dua pelayan, seorang tukang kebun, dan dua orang penjaga di pintu gerbang. Saat aku menoleh ke sofa di ruang tamu. Sial, ada Aria. Saat Aria sadar aku menolehnya, Ia menjulurkan lidahnya. Aku mendengus sebal.
"Silahkan duduk Couria. Aku sudah membelikan es krim cone cony-cony di market tadi..." ucap Paman Arrie.
"Cony-cony? Asik!!!!!!" ucapku ceria, lalu langsung berlari dan duduk di sofa, disusul Alice.
Tak lama salah seorang pelayan membawakan empat es krim cony-cony. Aku langsung menyerbu yang rasa cokelat. Aria mengambil yang rasa vanilla. Tapi Alice masih kebingungan. Ada rasa sttrawberry dan cokelat juga.
"Maaf Alice... aku ambil yang cokelat ya?" tanya Carrie sambil mengambil sebuah es krim cokelat. Alice yang polos hanya mengangguk.
"Kupikir yang satunya lagi untukku!!" ucapku sambil sibuk menikmati es krim cony-cony. Rasanya benar-benar nikmat! Aroma cone dan cokelatnya berpadu, jika kau mencium aromanya.... kau akan langsung memakannya!
"Ah Cou!! Kau terlalu berharap!! Mana ada Paman Arrie sedia memberimu lebih dari satu! Beli satu untukmu saja mikir dulu, iya kan, Paman Arrie!!" ucap Aria sambil menoleh ke Paman Arrie. Paman Arrie, Aria, dan Carrie malah tertawa.
"Hmmph! Paman! Jangan pedulikan Aria! Waktu ini Paman menghukumnya karena menakuti Carrie dengan bangkai cicak kan? Ah! Aku masih ingat betul wajahnya!" ucapku lalu menirukan wajah sedih Aria saat itu. Lalu aku, Carrie, dan Paman Arrie tertawa. Muka Aria merah padam.
"Sudahlah kalian! Mari kita mulai ke topik utamanya..." ucap Paman Arrie saat es krim kami habis, lalu Paman Arrie duduk ke sofa, disusul Carrie.
"Seperti yang aku katakan di telepon. Teman Leone, Jack, baru saja meninggal tadi pukul 01.00 dini hrai karena bunuh diri. Yang harus kalian lakukan adalah memeriksa apa Jack benar-benar bunuh diri atau dibunuh seseorang..." ucap Paman Arrie.
"Baik!!" ucapku, Carrie, dan Aria menjawab serempak.
Aku, Carrie, Aria, dan Alice berdiri dan keluar dari rumah Paman Arrie.
Sialan Weinhard, Ia benar-benar menungguiku. Aku masuk ke dalam mobil, disusul Alice, dan Carrie.
"Dimana alamatnya?" tanya Weinhard. Lalu Carrie memberikan secarik kertas pada Weinhard. Weinhard lalu menghidupkan mesin mobil dan menancapkan gas. Sedang Aria bersama Brain.
*****
Sesampaiku di apartemen Jack, ada puluhan polisi.
Salah seorang polisi menghampiriku yang baru turun dari mobil bersama Alice dan Carrie.
"Nah anak muda, disini sedang ada penyelidikan..." ucap polisi yang menghampiriku.
"Aku detektif di Badan Intelijen Bell, aku akan memperiksa TKP dan mayat korban" ucapku sambil menunjukkan kartu peserta Badan Intelijen Bell.
"Oh! Baiklah! Maaf atas kelancanganku! Mari-mari!" ucap Polisi itu lalu memberiku masuk.
Aku mengangguk dan masuk ke apartemen tempat Jack tinggal, disusul Alice dan Carrie di belakangku.
Tak lama kemudian Aria datang. Di apartemen Jack, semua sangat berantakan, ini membuktikan Jack adalah orang yang kehidupannya berantakan. Di ruang dapur, ada mayat Jack yang sudah di evakuasi dan ditutupi dengan plastik kuning.
Aku membuka plastik itu. Karena mayat masih segar, aroma mayat tidak begitu menyengat.
"Wah-wah! Mayat yang masih segar! Kalau dilihat-lihat, korban memang melakukan bunuh diri. Lihat ekspresi Jack. Senyum lega, walau kesakitan" ucap Aria sambil menunjuk wajah mayat Jack dengan jari telunjukknya. Carrie gemetaran karena takut.
"Dan tak ada tanda-tanda perlawanan jika dilihat dari lukanya. Tapi... jika dipikir-pikir...." ucap Aria sambil menaruh kedua tangannya dipinggang.
"Ya. Sama dengan Leone. Ia pasti dipaksa atau terpaksa bunuh diri..." ucapku.
"Kenapa bisa begitu? Apa kau menyimpulkannya begitu saja hanya dengan melihat hubungan mereka?" tanya Aria.
"Tidak. Mereka memiliki aroma yang sama, sama persis..." ucapku.
"Oh? Itu masuk akal. Nah Alice! Apa ada Jack disini?!" tanya Aria sambil menoleh ke Alice. Alice menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu... apa cuma hanya segitu dan kasus selesai?" tanya Carrie. Aku mengangguk, mengiyakan.
"Kalian lihat senyum Kak Jack? Senyum yang ibaratnya mengatakan, "apa kau sudah puas?!" mungkin Ia bunuh diri karena ada dendam dengan seseorang?" tanya Carrie.
"Ia melakukannya karena "gadis" yang dikatakan Ibu Leone kemarin... mungkin siksaan gadis itu yang menyebabkannya bunuh diri. Ini hanya spekulasi awal, tapi sudah cukup rasional kan?" tanyaku. Carrie mengangguk pelan.
Aku menutup kembali mayat korban dengan plastik kuning. Lalu aku berdiri dan keluar dari apartemen Jack, disusul Aria, Carrie, dan Alice.
"Bagaimana? Detektif-detektif muda?" tanya Polisi yang tadi menghampiriku.
Polisi itu mengangguk.
"Baiklah, aku pamit Pak..." ucapku pada Polisi itu.
"Baiklah! Hati-hati!" ucap polisi itu sambil melambaikan tangan saat kami akan naik ke mobil.
*****
Sesampaiku dirumah, rumah sangat sepi. Tak ada Bibi Addle, tukang kebun Pak Joe, dan juru masak Kak Sylya. Kemana mereka? Belum lagi lampu ruang tamu mati, padahal sudah mulai gelap, memang baru pukul lima sore tapi horden jendela juga ditutup.
"Bibi Addle hidupkan lampunya! Bi! Bibi! Pak Joe! Kak Sylya! Dimana kalian?!!!!!!" teriakku memanggil mereka. Alice di belakangku dan memegang tanganku.
Suasana makin tak enak saja. Yang aku takuti nanti ada perampok atau pencuri. Tidak juga! Ada dua pelayan di gerbang depan dan dua di gerbang belakang. Ini serasa ganjil. Apa ada ******* yang datangnya diam-diam. Ah!! Buang semua pikiran negatif itu.
Tenang-tenang! Tak ada hal buruk yang terjadi. Paling mereka sedang lalai. Saat aku menemukan mereka aku akan menghukum mereka!
"Brakk!!"
Tiba-tiba meja kayu di ruang tamu berbunyi. Suasana makin mengcekam. Padahal aku tak merasakan hawa makhluk halus selain penunggu-penunggu dan Ikkye.
Tiba-tiba lampu menyala, dan..........
"Selamat ulang tahun Couria!!!" ucap Bibi Addle, Pak Joe, Kak Sylya, dan entah sejak kapan ada Paman Arrie, Carrie, dan Aria. Yah, memang sih, aku tidak mampir ke rumah Pak Arrie dan kami langsung bubar tadi.
Tapi sungguh!! Aku lupa sekarang hari ulang tahunku. Aku menepuk jidatku.
Di meja ruang tamu ada sebuah kue black forest, sepertinya dibuat Kak Sylya.
"Mari makan! Aku sudah tak sabar!!" ucap Pak Joe. Semua yang ada di ruang makan tertawa. Pak Joe memang suka membuat lelucon.
Awalnya Alice bingung, tapi karena ada kue, Ia tak peduli dengan apa-apa.
Kami menikmati pesta kecil-kecilan itu. Walau aku tak memiliki orang tua lagi, mereka, semua keluargaku yang masih hidup sudah cukup membuatku bahagia. Mereka mampu membuatku tidak ber larut di dalam keputusasaan.
Aria dengan entengnya mengambil kue lebih banyak dari yang lainnya.
Mungkin karena Alice baru pernah makan kue, krim dari kue yang Ia makan blepotan kemana-mana, kami semua menertawakannya. Alice yang polos pun hanya diam karena tak mengeri apapun.
Aku jadi teringat saat ulang tahunku yang ke empat tahun. Kuenya sama dengan sekarang, yakni kue black forest. Aku sangat menikmati kue itu sampai aku tak sadar kalau akulah yang memakan kue itu terbanyak. Untung, saat itu Aria masih polos dan anti sosial, Ia jadi kalut dan memakan kuenya sedikit.
Ibu dan semua orang saat itu menertawaiku karena krim pada kue yang kumakan blepotan kemana-mana. Aku sama bingungnya dengan Alice. Sampai-sampai Ibu yang menjelaskan padaku.
"Couria, ambil sapu tangan di meja! Pipi dan dagumu penuh dengan krim!!" ucap Ibu sambil tertawa. Aku tertawa polos sekejap, lalu mengambil sapu tangan dan mengusap pipi dan daguku.
Semua sangat menyenangkan saat itu. Kerinduanku akan hal-hal sederhana yang menyenangkan sudah dihadirkan kembali oleh mereka yang masih mendampingiku.
*****
"Hah?! Sungguhan?!!" tanyaku di telepon.
"Iya, kemarin malam pukul sebelasan, Pitch, Fendy, dan Arthur saling bunub membunuh" ucap Pak Arrie dari telepon dengan pelan dan nadanya agak gemetaran.
Ini baru pukul enam pagi, dan kabar buruk sudah datang dari sekelompok gengster tersebut.
"Ini sangat mencengangkan, jadi untuk hari ini aku akan mengizinkanmu, Aria, dan Carrie untuk tidak ke akademi. Aku juga ikut mendampingi kalian" ucap Paman Arrie.
"Baiklah! Dimana kita akan berkumpul?" tanyaku.
"Di akademi saja..." ucap Paman Arrie, nadanya masih gemetaran.
"Baiklah! Tunggu ya!" ucapku lalu menutup telepon dan segera ke kamar mandi.
Di kamar mandi, ada Ikkye yang sedang berdiri di depan pintu.
"Maaf Ikkye, tapi aku harus segera ke akandemi, ada ahal penting yang harus kulakukan" ucapku padanya sambil berjalan menembusnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ikkye.
"Fendy, Pitch, dan Arthur, tiga teman Leone dan Jack, mereka katanya saling membunuh di markas geng mereka sendiri..." ucapku sambil masuk ke kolam.
"Apa?! Tak mungkin! Apa mungkin itu dipengaruhi dengan hal yang sama dengan kematian Jack dan Leone?" tanya Ikkye sambil mendekatiku.
"Kemungkinan besar..." ucapku. Opini Ikkye memang sama persis sepertiku. Jika nanti pada penyelidikan ditemukan aroma yang sama, yakni aroma kemenyan dan sedap malam, tidak diragukan lagi, kasus mereka terhubung dengan seorang gadis yang sudah dibicarakan dari awal.
*****
~Aria
Aku sudah datang ke sekolah sejak jam setengah tujuh pagi. Tapi apa-apaan coba Couria?! Belum lagi aku yang membawa berkas-berkas penyelidikan yang banyak ini. Saat ini aku sedang akan ke ruang osis. Tapi berkas-berkas yang banyak ini menghalangi mataku saat melihat jalan. Sial!
"Brakk!!!"
Aku menabrak seseorang dan menjatuhkan berkas-berkas yang kubawa.
"Maaf!" ucap orang yang kutabrak, dan ternyata Ia Daisy, seorang siswa dari kelas 9-2.
"Tidak apa-apa, seharusnya aku yang minta maaf" ucapku sambil merapikan berkas-berkas yang jatuh tadi.
"Biar aku bantu..." ucap Daisy sambil ikut merapikan berkas-berkas.
"Aria. Apa kau tahu informasi tentang Kerry?" tanya Daisy.
"Tidak, memangnya ada apa ya?" tanyaku balik.
"Ah tidak! Aku hanya memiliki urusan kecil dengan Kerry. Aku sangat berharap bisa menemukannya" ucap Daisy sambil mengusap-usap perutnya sendiri.
"Apa kau sakit perut?" tanyaku.
"Iya, perutku agak sakit karena aku makan pedas kemarin, padahal aku tahu aku tak tahan pedas!" ucapnya dengan sedikit kikuk.
"Lebih baik kau ke ruang kesehatan..." ucapku sambil berdiri dengan berkas yang sudah rapi.
"Terima kasih! Aku pergi dulu ya! Ada sesuatu yang harus kuurusi dulu!" ucapku lalu kembali berjalan menuju ruang osis.
*****
Aku sarapan dengan terburu-buru karena aku harus segera ke akademi.
"Tuan muda kenapa anda sangat terburu-buru?" tanya Bibi Addle.
"Ada hual pentuing! Akkeu hawrus ceupat!" ucapku sambil mengunyah pancake.
"Hati-hati Tuan muda, nanti anda tersedak..." saran Bibi Addle. Ake mengangguk sambil menyeruput susu.
"Bukan untuk belajar kan?" tanya Alice padaku.
"Memangnya kenapa?" tanyaku saat berhenti makan.
"Aku ingin ikut!" ucap Alice sambil melompat dari kursi yang didudukinya tadi.
"Eh? Ya ampun Alice! Suka sekali kau ikut!" ucapku. Alice malah nyengir.
"Sudahlah Tuan muda, beri saja. Bukannya Alice suka jalan-jalan?" tanya Bibi Addle pada Alice. Alice pun mengangguk.
"Sudah sini! Weinhard!! Segera antar aku!!" suruhku pada Weinhard yang ada di pintu depan rumah.
"Baik, Tuan muda!" ucap Weinhard sambil menaruh tangan kanannya di dada, lalu pergi ke teras, dan menghidupkan mesin mobil.
Aku dan Alice segera naik ke mobil, dan Weinhard pun menancapkan gas.