
Sekarang ini usiaku sudah 14 tahun.
Aku bersekolah di Akademi Intelijen Negara Bell, tingkat mengengah pertama. Sudah hampir 6 tahun semenjak Ibuku tiada. Ayah saat ini di kurung dan diamankan oleh pihak kepolisian negara.
Semenjak tragedi itu, Paman Arrie dan Carrie juga pindah, banyak pelayan di rumahku yang memutuskan berhenti bekerja. Aku benar-benar sendirian, dan itu menyenangkan. Tapi tetap saja, pekerjaan menanti.
*****
Bell, 26 Januari 1970
Kicauan burung terdengar sangat nyaring, cahaya matahari menembus gorden jendela. Aku terbangun. Aku jadi terpaksa menyelesaikan mimpiku. Aku bermimpi aku mendapat tugas menyelidiki kematian istri seorang naga, saat itu aku baru akan menjelaskan motif kematian korban, tapi mau bagaimana lagi, aku tahu itu mimpi, dan kalau aku terlambat ke akademi aku bisa memperburuk nama baikku.
"Tok-tok-tok" suara pintu kamarku yang diketuk dari luar. Aku membersihkan mataku terlebih dahulu dan berjalan perlahan membuka pintu kamar.
"Tuan muda, air hangatnya sudah siap" ucap Bibi Addle, seorang pelayan yang kini usianya sudah 60-an. Ia sudah 30 tahunan bekerja disini.
"Terima kasih, sebenarnya air dingin pun tak apa" ucapku lalu berlari ke kamar mandi.
Di kamar mandi sudah ada kolam air panas dengan taburan bunga mawar merah yang dipetik dari taman. Aku menceburkan diri ke dalam kolam itu. Aku berenang dengan gaya bebas, kebetulan kolam itu seluas kolam umum, padahal untuk pribadi.
Sebenarnya aku agak liar untuk ukuran orang bangsawan. Jadi bila aku tidak dalam pengawasan, aku akan melakukan apapun semauku.
Di pinggiran kolam ada sabun mandi dengan aroma ringan. Aku membasuh badanku dengan sabun itu, dan kembali menceburkan diri ke kolam.
"Tok-tok-tok" terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Kenapa?" tanyaku.
"Apa Tuan muda sudah selesai mandi?" tanya Bibi Addle dari luar.
"Sebentar lagi!!" jawabku.
"Bolehkah saya masuk untuk menaruh handuk?" tanya Bibi Addle lagi.
"Boleh, aku akan menyelam dulu" jawabku lagi. Lalu aku menyelam sebentar selagi Bibi Addle menaruh handuk. Sebenarnya aku tidak suka disela-sela mandiku ada orang datang, tapi mau bagaimana lagi, itu gaya keluargaku sejak lama.
Setelah Bibi Addle pergi aku keluar dari kolam, lalu membasuh badanku dengan handuk dan menggunakan baju yukata biru, dan keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur.
Di kasur sudah ada pakaian formal yang teripat rapi di kasur. Aku melepas yukata dan memakai pakaian formal itu.
Saat aku ke dapur, sudah ada sarapan di meja. Sepiring pancake dengan madu, sepiring buah-buahan, semangkuk es krim stroberi cokelat, dan secangkir susu. Aku memulai sarapan dari pancake, susu, es krim, buah-buahan, dan susu lagi.
Weinhard, supir mobil sudah menungguku dan membawa tas selempangku. Aku mengambil tas selempang yang dibawanya.
"Aku bawa motor sendiri saja!" ucapku.
"Motor, tapi Tuan Couria, walau kau bisa mengendarai motor, bukannya itu sangat tak layak untuk seorang bangsawan?" tanya Weinhard. Aku merapatkan gigi atas dan gigi bawahku. Aku benar-benar sebal dengan aturan sehari-hari ini.
Aku naik dan duduk di mobil kodok di belakang bangku supir Weinhard. Weinhard menghidupkan mesin mobil dan menancapkan gas mobil.
Pak Weanne, penajaga rumah menutup gerbang saat mobil sudah keluar dari rumah.
"Mau diputarkan lagu?" tanya Weinhard.
"Tentu! Lagu dari grup band ex-tream!! (grup band yang terkenal dengan lagu rock nya yang sangat metal di negeri ini)" jawabku.
Weinhard tertawa.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kemarin saat akan melakukan penyelidikan anda meminta lagu seriosa, sekarang rock? Saya tidak mengerti selera anda Tuan Couria!!" ucapnya.
"Seleraku bukan urusanmu bodoh!!" ucapku sebal. Weinhard masih saja menertawakanku.
Akhirnya aku sampai di akademi. Lagi-lagi ada ritual khas bangsawan. Weinhard membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya, aku pun menaruh tanganku di tangannya dan keluar dari mobil. Orang-orang menatapku serius, seperti sedang melihat sesuatu yang amat langka saja, perlakuan khusus inilah yang membuatku sebal.
Weinhard menaruh tangannya di dada, tanda hormat. Aku mengangguk. Weinhard masuk ke mobil, lalu me nghidupkan mesin mobil dan pergi dari akademi. Aku mendengus sebal dan pergi ke kelasku, kelas 9-1, kelas elit, dimana siswa di dalamnya adalah siswa-siswa terpilih, diman siswa-siswa di dalam kelas itu sudah cerdas, kuat fisik, dan pintar dalam materi, dan kemungkinan besar bekerja lebih awal sebagai Intelijen, seperti aku saat ini.
Seperti biasa, setiap aku ke kelas, semua orang menghindar dariku, entah karena apa. Satu orang teman di kelasku, namanya Eins, dia memang agak nakal dan suka mencari perhatian, sehingga membuatku sebal.
"Hai Cou!! Lihat!! Aku datang duluan ke sekolah!!" ucap Eins sambil menepuk-nepuk bahuku.
"Siapa peduli?" tanyaku, lalu pergi ke bangkuku dan menaruh tas selempangku.
"Ya ampun Cou!! Kau dingin seperti biasanya ya!!" ucapnya sambil nyengir. Aku mendengus sebal.
Tak lama kemudian, lonceng berdentang tiga kali, tandanya berkumpul di lapangan.
Di lapangan para siswa termasuk aku melakukan persembahyangan, dan mendengar ocehan guru sambil berjemur. Aturan akademi ini sangat ketat. Bila ada siswa yang pingsan kepanasan lebih dari tiga kali, siswa itu akan dikeluarkan dari sekolah, padahal kepala sekolahnya, Pak Arrie adalah orang yang santai, yah, kupikir Ia adalah sosok yang disebut berkepala dua.
Setelah mendengar ocehan Pak Brainne selama satu jaman, kami ke kelas. Hari ini kelas kami mendapat jadwal olahraga pagi ini, kutukan bagiku, tidak, tepatnya semua siswa.
Aku dan seluruh siswa kelas 9-1 mengganti pakaian ke pakaian olahraga, dan berkumpul, dengan waktu yang diberikan hanya 5 menit.
Setelah selesai, seluruh siswa termasuk aku, berkumpul dan melakukan gerakan pemanasan.
Lanjut berlari di trotoar jalan selama 12 menit dengan jarak 1 km, bila kembali ke sekolah dengan waktu lebih dari 12 menit, siswa akan di hukum jongkok bangun 100 kali, tak memandang jenis kelamin, usia, maupun keterbatasan.
Dilanjutkan dengan push up, sith up, dan bela diri tangan kosong.
Terakhir adalah pendinginan dan kami diistirahatkan.
Hari ini adalah hari sial bagiku. Karena aku tadi berhadapan dengan Zein di bela diri tangan kosong. Ia sangat berotot dan kuat. Karena modal itu, Ia bisa masuk di kelasku, padahal Ia sangat bodoh.
Mungkin karena Ia kesal atas prestasiku yang jauh darinya meski fisikku cebol dan kecil, Ia menghajarku habis-habisan sampai aku hampir pingsan dan dirawat di ruang kesehatan akademi.
Saat keadaanku membaik, Aria, Ketua osis memanggilku ke ruang osis dengan berpesan kepada salah satu adik kelas, entah untuk apa. Aku terpaksa menurutinya dan pergi ke ruang osis dibantu dengan adik kelas itu.
"Apa badanmu sudah baikan?" tanya Aria.
"Tentu belum! Aku baru dirawat 1 jam kurang!" protesku.
"Oh kalau begitu baguslah-"
"Bagus dari mana?!!!!" aku membetaknya.
Aria memang memiliki tingkah yang sialan. Sejak dulu kami sering bertengkar. Aku mengenalnya saat usia 6 tahun. Kami memiliki hubungan saudara karena Ia merupakan anak dari adik Ibuku, Bibi Sallya.
Dia juga ada di kelas 9-1, Ia cukup cerdas dan fisiknya cukup baik, walau dia juga cebol sepertiku.
"Aku memanggilmu bukan untuk basa-basi!! Dengar ya Couria! Kita adalah rival, kau tak boleh menyalip kedudukanku sebagai ranking 1 dikelas, mengerti?!!" bentaknya.
"Kalau tak sengaja bagaimana?" tanyaku.
"Aku akan membunuhmu!" ucapnya dengan penuh wibawa.
"Nah Couria! Apa kau sudah pernah masuk ke menara lonceng?" tanyanya.
"Belum, memangnya kenapa?" tanyaku. Baru kali ini Aria membahas topik ini.
"Tidak ada, siapa tahu ada sesuatu yang Bibi Heava simpan untukku! Hah! Ia bahkan lebih menyayangiku dibanding dirimu!!" ujarnya.
"Terima kasih atas leluconnya" komentarku.
"Sudahlah kalian berdua, kenapa ini?" tanya Carrie. Ia siswa dari kelas 8-1, kelas terbaik di angkatannya.
"Kenapa kita berkumpul disini?" tanyaku.
"Hanya rapat biasa, tentang salah satu siswi sekolah ini yang meninggal, Ia meninggal kemarin malam, di sini, ya, sekolah ini" jelas Aria.
"Kalau begitu ini bukan rapat biasa kan?" tanya Carrie dengan gelisah. Ia memang seorang yang penakut, tapi Ia ahli dalam penyamaran.
"Ohohoho, ini biasa saja bagiku!" ucap Aria.
Beberapa saat kemudian, Ketua pengurus osis, Pak Ansterd dan paman Arrie datang ke ruang osis.
"Nah anak-anak, kematian Wynna, siswi kelaa 9-2 cukup mencengangkan. Pasalnya pada tubuhnya terdapat patah tulang dan luka parah. Untuk sementara Ia dianggap bunuh diri. Setelah jam pulang sekolah aku harap anak-anak mau mencari tahu penyebab kematiannya, dan mengintrogasi siswa kelas 9-2, oke?!" tanya Paman Arrie.
"Baiklah!" jawab aku, Aria, dan Carrie serempak.
"Dug"
Sakit di perutku kembali kambuh. Mataku berkunang-kunang, tanpa sadar aku sudah muntah. Paman Arrie memegangiku dan meggendongku. Aku dibawanya ke ruang kesehatan.
*****
Setelah tertidur beberapa lama, aku terbangun. Badanku masih sakit dan terasa bagai retak. Di samping ranjang yang kutiduri, ada Paman Arrie dan Carrie.
"Ayo kita pulang.." ucap Paman Arrie, sambil membenarkan kacamata bulatnya. Paman Arrie dan Carrie sama-sama mengalami minus dan menggunakan kacamata bulat. Carrie bagai copy-an Ayahnya. Bahkan katanya Paman Arrie juga penakut dulu, dan sama-sama cerdas.
"Ini jam berapa?" tanyaku pelan.
"Sudah jam 3 lebih" ucap Pak Arrie.
"Jadi paman menungguiku walau orang-orang sudah pulang?" tanyaku lagi, suaraku benar-benar tipis, kerongkonganku sakit. Kepalaku pusing. Semua terasa panas. Mulutku kering, sepertinya aku demam.
"Apa salah? Semenjak tragedi enam tahun lalu aku sangat khawatir, tapi karena takut aku malah kabur ke tempat yang jauh. Aku hanya bisa kabur dari kenyataan. Tapi kamu masih tabah dan menolak untuk ikut pergi dari kastil itu. Aku suka anak pemberani sepertimu. Kau seperti kakak-"
"Jangan samakan aku dengan orang it-'uhuk-uhuk" tiba-tiba aku batuk-batuk disela teriakanku. Yang dimaksud paman adalah Ayah. Aku sangat membeci orang itu. Kenapa aku harus menjadi anak dari seorang pembunuh. Pasalnya selain membunuh untuk pekerjaannya sebagai algojo, Ia juga membunuh orang yang tidak berdosa. Dasar berdebah.
Paman Arrie menopangku dan membawaku ke mobilnya. Carrie berjalan dari belakang menyusuli kami.
Paman Arrie membawaku ke rumah. Sesampaiku di rumah, Bibi Addle panik berlebihan dan merawatku dengan baik. Saat aku tertidur, Paman Arrie dan Carrie pulang ke rumah mereka, sayang saat itu aku tertidur dan tak menyadarinya.
Aku izin dua hari karena demam. Aku jadi tak bisa mengikuti penyelidikan. Kata Aria, korban memang dibunuh, dilihat dari luka di tangan korban yang menandakan perlawanan dan luka goresan pisau, bukan karena korban terjatuh. Tapi pembunuh masih belum diketahui. Andai aku ikut penyelidikan, aku akan mudah mengetahui pembunuhnya melalui aroma. Sebetulnya aku memiliki kelebihan dalam hal penciuman. Jadi aku dapat dengan mudah masuk di Agen Intelijen dengan itu.
Aria juga memaksaku untuk segera ke menara lonceng. Ia menjengukku pada hari pertama aku izin.
Dan ada hal yang mengejutkan. Pada hari kedua Zein menjengukku. Karena para penjaga dan pelayan di kastil sudah tahu kalau Ia yang membuatku begini, mereka melakukan perlawanan atas kedatangan Zein, tapi aku menyuruh mereka mengizinkannya masuk.
Zein meminta maaf berkali-kali, pasalnya Ia di ancam turun kelas ke kelas 9-3 atau 9-4. Tentu Ia takut dan meminta maaf padaku.
Aku berusaha baik dan memaafkannya. Yang bilang aku jahat itu siapa, hehe. Tapi aku sedikit berlebihan sebelumnya. Sebelum aku memaafkannya, aku mengatakan, "Siapa peduli dengan urusanmu? Ini karmamu! Terima saja!!". Dan benar saja, Ia hampir menangis, aku menertawainya. Habisnya baru kali ini aku melihatnya berkaca-kaca.
*****
Bell, Kamis, 29 Januari 1970
Sepulang dari akademi, aku memutuskan untuk membuka pintu menara loceng. Entah apa yang ada didalamnya, sampai Ibu menyerahkan tempat ini kepadaku, mungkin di dalamnya adalah spesies bunga langka, atau apapun yang lebih istimewa.
Aku menebak-nebak di dalam menara lonceng tersebut ada spesies bunga langka seperti yang ku katakan tadi. Karena aku mencium aroma yang sangat berbeda dari bunga pada umumnya dari depan pintu menara.
Lebih manis dari wangi vannila, lebih segar dari aroma lemon, lebih menenangkan dari aroma sedap malam. Aroma yang sangat langka. Semua kriteria aroma masuk ke dalamnya. Aku jadi semakin percaya diri dan membuka pintu menara lonceng.
"Eh?"
Yang ada di sana bukanlah spesies bunga langka. Bukan juga formula parfum apapun. Hanya ada rangkaian rak buku, dan seorang gadis.
Ibuku meninggal bunuh diri di tempat ini. Dan ada gadis kecil bagai boneka disini?
Ia mengenakan gaun biru dengan putih, menggunakan pita hitam di rambutnya dan Ia memegang sebuah boneka kelinci putih. Aku memutuskan untuk menanyakan identitasnya.
"Siapa kau?! Kenapa kau bisaa ada disini?!" tanyaku padanya dengan nada kasar. Ia yang tadinya berdiri di arah sebaliknya dariku, sekarang menoleh ke diriku.
"Bukannya seharusnya aku yang bertanya begitu? Tempat ini milikku.." ucapnya
"Ibu yang memiliki hak disini! Siapa kau?! Apa kau ada hubungannya dengan kematian Ibuku?!" tanyaku lagi.
"Ibu? Oh, Heava ya. Tunggu, mati?!!" tanyanya.
"Bagaimana kau bisa tidak tahu kalau kau berada disini saat itu?!" tanyaku.
"Anak muda, kalau kau tahu, ada dua pintu di menara ini. Ini pintu selatan dan ada pintu utara. Dan di tengahnya dibatasi rak buku. Bagaimana aku tahu kalau Heava kemari tanpa sepengetahuanku?! Dan kunci pintu utara dan selatan itu sama, lihat, aku membawa kunci pintu" ucap gadis itu sambil memamerkan kunci yang sama.
"Ya, kelihatannya tak ada tanda perlawanan dari Ibu" ucapku lalu mendengus.
"Kalau begitu ini sangat buruk. Pantas saja hampir 6 tahun Heava tak pernah mengunjungiku dan memberitahukan apapun tentang pencarian masa laluku.." ucapnya.
"Masa lalu apa?" tanyaku. Ini menarik. Aku ingin tahu hubungannya dengan Ibu.
"Sekitar 16 tahun yang lalu, saat Ibumu baru menikah, Ibumu diberi hak sepenuhnya untuk tempat ini dari suaminya. Saat Ibumu datang kesini, Ibumu terkejut melihatku. Aku menjelaskan bahwa aku tak ingat apapun selain namaku" ucapnya.
"Siapa namamu?!" tanyaku dengan penuh antusias.
"Aku adalah Alice! Salam kenal, eh-"
"Couria, Couria Himala!" ucapku, lalu menjabat tangannya.
Ternyata sumber aroma yang nikmat itu dari dia, ternyata disini memang ada seorang spesies langka.