
~Fairy Queen
Meski kami terlahir sebagai ciptaan manusia, kami tetap ingin hidup.
Namun, kami hanya bisa hidup bila kami sering memakan ingatan orang. Itulah tujuan kami terlahir. Karena itu, sebagai bawahan Tuan Jackstein dan Nona Paisaca, kami akan dengan senang hati menuruti perintah mereka berdua dan siap memakan ingatan siapapun.
*****
~Couria
Bell, Rabu, 25 Februari 1970
Kini aku benar-benar mengurusi diri sendiri. Ya, aku tak keberatan. Tapi, kehilangan Ibu kedua kalinya membuatku sangat depresi. Lagi-lagi aku kehilangan sosok wanita yang sangat kukagumi.
Namun, tenggelam pada kepedihan malah akan membuat Bibi Addle sedih. Jadi aku memutuskan untuk segera memulai semuanya seperti biasa.
Saat aku masuk ke kamar mandi, aku menemukan Ikkye yang sedang duduk termenung di samping kolam. Ia tampak agak sedih.
"Kau kenapa?" tanyaku sambil menaruh baju yukata biru, handuk, dan sabun di pinggir kolam.
"Hah? Oh. Tak apa!" ucap Ikkye sambil merubah wajah sedihnya menjadi senyum.
Aku lalu mengangguk dan menceburkan diri ke dalam kolam.
"Aku justru mengkhawatirkanmu. " ucap Ikkye lalu ikut menceburkan diri ke dalam kolam.
Khawatir? Apa yang ia khawatirkan dariku? Apa aku tampak seperti sedang sakit, atau kenapa?
"Memangnya aku kenapa?" tanyaku.
"Kemarin, aku sedang keliling rumah. Lalu, tiba-tiba Paman Arrie datang dengan membawamu yang sedang pingsan! Kau baik-baik saja?" tanya Ikkye.
"Ya. Aku hanya sedang kelelahan. Sekarang aku tak apa-apa!" ucapku.
Ya, aku bohong. Kalau aku menjelaskan kalau kemarin aku sedang dipanggil COURIA, maka Ikkye akan makin mengkhawatirkanku dan malah akan menyusahkan.
"Yang benar saja! Jiwa lain sedang bicara padamu kan? Tidak, bukan jiwa sih. Tepatnya pengganggu itu terlihat seperti dirimu sendiri!" bentak Ikkye sambil mendekatkan wajahnya pada wajahku. Itu, menjijikkan.
"Oi menjauhlah sedikit!" ucapku sambil menjauh dari Ikkye.
Ikkye lalu tertawa dan kembali ke pinggir kolam. Lalu ia berlari dan melompat-lompat kesana kemari. Entah apa yang dipikirkan hantu bocah itu.
Aku jadi mulai malas melihat tingkahnya, aku juga harus bergegas supaya aku tak terlambat pergi ke akademi. Kalau terlambat, maka reputasiku akan menurun drastis.
Aku membasuh tubuhku dengan sabun hingga busanya menutupi tubuhku, lalu aku kembali mencebur ke kolam dan berenang sambil membuat busa-busa di tubuhku hanyut.
"Apa kau sebal denganku?" tanya Ikkye.
"Tidak! Aku hanya harus bergegas. Aku lupa kalau nanti ada rapat penting anggota osis!" ucapku. Aku bohong lagi. Aku tak ingin menyakiti hati hantu bocah yang labil itu.
"Baiklah. Dadah!" ucap Ikkye sambil melambaikan tangan kanannya. Aku ikut melambaikan tangan kananku dan pergi keluar dari kamar mandi.
Setelah aku selesai berpakaian, aku memutuskan untuk mencari Alice dan mengajaknya sarapan. Dari kemarin malam, ia selalu diam di kamarnya tanpa keluar sedikit pun.
Aku mengetuk pintu kayu kamar yang sebenarnya milik Ibu itu.
"Alice, ayo keluar, kita sarapan! Nanti kamu sakit perut lho!" ajakku masih sambil mengetuk pintu.
"Kau saja yang masuk!" pinta Alice.
Kupikir Alice akan menurut atau justru tak menjawab sama sekali. Tapi ia malah menyuruhku untuk masuk ke kamarnya. Setelah aku berpikir sebentar, aku memutuskan untuk masuk tanpa memikirkan keraguanku.
"Kenapa kau tak keluar dari kamar dari kemarin?" tanyaku pada Alice yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya sambil memandangi pemandangan taman.
"Jangan khawatir. Aku sembunyi bukan karena depresi atau sedang marah. Tapi aku sedang bersembunyi. " jelas Alice sambil menatapku dengan wajah serius.
Hah? Bersembunyi? Memangnya Alice ingin bersembunyi dari siapa? Memangnya ia sedang takut dengan apa?
"Dari raut wajahmu, aku tahu kau sedang bertanya-tanya, ya kan? Karena itulah aku akan menjelaskannya sekarang. Ini sangat penting. " ucap Alice lalu duduk ke kasurnya.
Aku pun duduk pada sebuah meja kayu di samping kasur Alice untuk mendengar penjelasan Alice.
"Belakangan ini, aku melihat makhluk yang aneh. Makhluk itu sangat kecil dan berterbangan kesana kemari, dan tak ada satupun orang yang mengetahui keberadaannya. Namun anehnya, mereka seperti memakan ingatan orang dan membuat orang yang ingatannya dimakan melupakan segala ingatannya. Tentu keberadaannya merupakan hal yang tak baik. Bagaimana kalau kita menelusuri lebih lanjut makhluk itu?" ajak Alice sambil memegang kedua tanganku dan mencondongkan badannya ke arahku.
Karena tak ingin terlalu dekat, aku menjauh darinya. Dan jarak yang sangat dekat itu justru membuatku tak bisa berpikir dengan baik.
Aku mulai bisa kembali mengontrol pikiranku. Jadi, tadi Alice bilang ada beberapa makhluk kecil yang terbang dan memakan ingatan orang hingga orang yang dimakan ingatannya tak mengingat apapun. Tentu kalau khalayak umum akan menganggapnya sebagai omong kosong, karena tak semua bisa melihat makhluk itu.
Jadi Alice memintaku untuk membantunya, hanya diriku. Karena, misi ini adalah misi rahasia yang bila terungkap justru akan membuat kami terlihat bodoh atau justru dianggap tersangka.
Baiklah, karena aku dapat berpikir jernih, maka aku sudah memutuskan jawabanku.
"Ya! Aku bersedia ikut mencari tahu soal makhluk tersebut!" ucapku dengan tegas.
Alice pun menanggapinya dengan mengangguk.
"Untuk saat ini, akan kunamai makhluk itu fairy. " ucap Alice sambil mencatat semua tentang makhluk aneh itu dalam sebuah buku catatan yang sudah sangat tua.
"Apa tak apa kalau pakai buku yang setua itu, mau kuberi buku lain?" bujukku.
Alice justru menggeleng sangat kencang dengan wajah yang terlihat marah.
"Ini hadiah dari Heava! Aku tak mungkin membuangnya begitu saja!" ucap Alice lalu memeluk buku catatan tuanya itu.
Ternyata Ibu sangat perhatian dengan Alice. Meski begitu, Ibu tak pernah sekali pun menceritakan soal Alice pada semua orang. Apa mungkin sosok Alice seharusnya disembunyikan?
"Ya sudah. Ayo kita sarapan!" ajakku sambil berdiri dari kursi kayu.
Alice pun mengangguk dan menaruh buku catatan beserta penanya pada meja kayu, lalu berdiri dari kasurnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi perut yang minta segera diisi, dan ternyata suara itu dari perut Alice. Aku pun tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya. Alice pun menundukkan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang merah padam.
"Oi Alice. Itulah yang terjadi kalau kau tak makan semalaman! Tak hanya perutmu, namun dirimu pun harus menanggung malu!" ucapku sambil menahan tawa.
Karena tak tahan ,aku kembali tertawa hingga puas. Alice mulai kesal hingga mengepal tangannya.
Aduh!
Alice memukul perutku dengan kepalan tangan kanannya.
"Aku sudah lapar jadi aku harus segera makan! Kalau kau tak segera ikut makan, aku takkan ragu memukulmu untuk kedua kali!!" bentak Alice sambil menggosok-gosok kepalan tangan kanannya dengan tangan kirinya.
Aduh! Pukulannya yang tadi itu cukup menyakitkan. Dan tumben sekarang Alice marah-marah begitu. Tapi ia malah makin imut. Bukan berarti aku puas. Siapa tahu ia begitu karena sedih akan kematian Bibi Addle, parahnya bisa saja ia terus seperti itu.
"Baiklah, ayo kita makan. " ucapku sambil mengelus pelan perutku yang sakit karena dipukul, lalu mengikuti Alice yang sudah pergi duluan.
Sambil menunggu sarapan matang, di ruang makan, aku dan Alice duduk di kursi sambil mendengarkan radio.
"Kemarin, selasa, 24 Februari 1970, terjadi hal yang aneh pada seorang anak perempuan yang masih lima belas tahun yang bernama Welly. Welly dikabarkan tiba-tiba melupakan segala ingatannya, bahkan namanya sendiri setelah bangun tidur. Pasalnya gadis tersebut hanya gadis biasa tanpa masalah, tak pernah mengalami penyakit psikis dan tak pernah mengalami kecelakaan yang dapat membahayakan otaknya. Jadi, penyebab gadis bernama Welly itu mengalami lupa ingatan masih belum diketahui. " jelas reporter berita pada radio.
"Tadi aku juga mendengar gosip ibu-ibu dipasar. Kata mereka, sudah ada beberapa orang yang mengalaminya dalam beberapa waktu terakhir. Dulu memang ada sedikit, tapi kini kasus seperti itu kian merebak. " ucap Kak Sylya sambil meletakkan dua piring pancake dan segelas susu ke atas meja makan.
Dulu pernah? Apa mungkin para fairy sudah ada sejak dulu? Atau kasus-kasus yang dulu itu hanya sekedar amnesia biasa? Entahlah. Dan inilah yang aku dan Alice harus cari tahu.
"Semuanya hati-hatilah saat berpergian. Itu mungkin adalah penyakit. " jelas Alice lalu memakan pancakenya.
Mungkin Alice mengatakan bahwa wabah yang disebabkan para fairy itu sebagai penyakit agar tak ada yang merasa aneh. Tapi, mendengar kalau amnesia bisa tertular itu aneh juga!
"Apa iya amnesia bisa menyebar bak virus? Aku belum pernah dengar itu. Ya sudah, karena dik Alice merupakan seorang kutu buku, untuk saat ini aku mempercayainya dan tetap waspada saat berpergian. " ucap Kak Sylya lalu kembali ke dapur.
Untunglah Kak Sylya tak curiga sama sekali. Aku dapat menghela nafas lega, dan mulai memakan pancakeku.
Setelah pancakeku dan Alice habis, kami berdua meminum susu kami masing-masing hingga habis.
"Nah Couria, kita mulai setelah kau pulang sekolah ya? Tapi rasanya para fairy akan beraksi pada malam hari. " bisik Alice padaku.
Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk. Entah sudah berapa orang yang menjadi korbannya, karena informasi yang aku dan Alice dapati sangat minim.
"Apa anda sudah selesai sarapan, Tuan Muda?" tanya Weinhard sambil berjalan mendekatiku yang masih duduk di kursi kayu.
"Ya, ayo kita berangkat ke sekolah. " ucapku sambil berdiri dari kursi kayu.
Eh? Aku lupa sesuatu. Sesuatu yang sangat penting yang mana mungkin bisa dilupakan?! Ah sialan memang diriku!
"Sebelumnya antar aku ke makam Bibi Addle ya? Semoga Bibi Addle masih memaafkan diriku yang ***** ini!" ucapku sambil tertawa tipis, untuk menyembunyikan rasa kesalku pada diri sendiri.
Weinhard yang terlihat berpikir sejenak pun akhirnya mengangguk.
"Aku ikut!" ucap Alice sambil berdiri dari kursi kayu.
"Baiklah. Kak Sylya, aku berangkat ya!" ucapku sambil melambaikan tangan.
"Ya!" ucap Kak Sylya dari dapur. Mungkin kini ia sedang mencuci piring.
Aku, Alice, dan Weinhard segera pergi ke mobil. Aku duduk di jok depan di samping Weinhard dan Alice duduk di jok belakang. Weinhard pun menghidupkan mesin mobil dan mengendarai mobil keluar dari rumah.
Di perjalanan, Alice tampak memandangi jendela mobil. Aku yakin ia tak sekedar hanya ingin melihat pemandangan. Dari wajahnya yang serius, aku yakin, Alice pasti sedang mencari-cari para fairy.
Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai pada tempat pengkremasian keluarga Himala.
"Kita sudah sampai. " ucap Weinhard sambil keluar dari mobil. Aku dan Alice pun menyusulnya dan kami bertiga pergi ke tempat tulang Bibi Addle dikubur.
Aku mengeluarkan sebuah surat yang kusembunyikan di tas selempangku sejak tadi dan meletakkannya di atas kuburan tulang Bibi Addle. Aku hanya menuliskan permohonan maaf dan rasa terima kasihku pada Bibi Addle.
Lalu aku dan Weinhard berdoa. Saat aku selesai berdoa, Alice yang tadi ada di sampingku tiba-tiba hilang.
"Alice, dimana kau?!" tanyaku sambil menoleh kesana kemari. Yang ada hanya hamparan tanah dan beberapa kuburan tulang orang-orang yang sudah meninggal mendahuluiku, termasuk kuburan tulang Ibu.
"Aku disini. " ucap Alice yang sudah ada di dekat mobil.
"Oi, kenapa kau mendahului kami seperti itu?" tanyaku sambil berlari ke arah Alice.
Saat aku sudah berada di dekat Alice, Alice pun membisikkan sesuatu padaku.
"Tadi ada beberapa fairy. Di dekat sini ada sebuah gedung kosong bekas kantor bukan? Rasa-rasanya diaitulah mereka berkumpul. " bisik Alice.
Ini aneh. Kalau para fairy adalah makhluk yang tak tinggal di bumi, tak mungkin ia punya markas seperti itu.
"Jangan-jangan mereka dibuat oleh seseorang. " bisikku pada Alice.
Alice pun mengangguk kencang. Sepertinya ia juga berpikir sama.
"Apa kita sudah bisa pergi ke akademi, Tuan Muda?" tanya Weinhard sambil mendekati kami.
"Baiklah, ayo kita ke akademi!" ajakku lalu masuk ke dalam mobil. Disusul Alice dan Weinhard.
Weinhard pun mengendarai mobil menuju ke akademi.
Alice pun kembali sibuk melihat ke arah jendela untuk mencari para fairy.
Tak lama akhirnya kami sampai di akademi. Aku turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Weinhard dan Alice yang masih berada di dalam mobil.
Aku menyuruh Weinhard untuk langsung pulang saja, karena Alice pun juga ikut dengannya.
Saat aku sampai di kelas, lagi-lagi aku mendapati kericuhan. Tapi kini bukan masalah Aria lagi. Seorang siswi di kelasku tampak meneriakkan kata "peri!" beberapa kali sambil mengacak-acak rambutnya sampai berantakan.
"Oi, kau tak apa-apa?" tanya Aria.
Tak seperti murid-murid lainnya yang berkerumun, Aria mengamati tragedi itu dengan jarak yang agak jauh sepertiku. Alu pun segera menghampiri Aria.
"Apa ia sudah begitu sejak tadi?" tanyaku.
"Ya, begitulah. " ucap Aria sambil tetap mengamati siswi yang sedang mengamuk itu.
"Mungkin para fairy sedang berusaha merenggut ingatannya. " ucapku sambil membuka mata kiriku.
Benar saja! Ada lima fairy yang sedang mengelilingi siswi itu. Mereka memang benar-benar sedang memakan ingatan siswi itu.
"Pergilah!!" bentakku sambil berlari ke arah siswi yang sedang mengamuk itu.
Aku mengibas-ibaskan tanganku pada para fairy seperti sedang mengusir lalat. Para fairy itu pun pergi, karena tanpa senjata apapun aku dapat membunuh mereka karena aku dapat menyentuh titik kematian mereka.
Semua orang tampak kebingungan dan pergi menjauh. Mereka mungkin menganggapku aneh. Tapi tak apa, siswi yang hampir kehilangan segala ingatannya itu bisa kembali normal tanpa melupakan ingatannya sama sekali.
*****
Sesuai janji, aku dan Alice pun pergi ke gedung bekas kantor perusahaan yang merupakan markas para fairy.
Aku pergi ke sana pukul sebelas dengan mengendarai sepeda motor.
Di lantai paling bawah gedung tersebut, aku sudah langsung mendengar suara tawa wanita yang mirip dengan tawa hantu. Aku pun membuka mata kiriku.
Ternyata seluruh fairy sedang berkumpul pada lantai paling atas. Mereka kelihatannya sudah tahu keberadaanku dan Alice.
"Ayo, Alice!" ajakku.
Alice pun mengangguk dan kami berdua langsung naik ke lantai paling atas dengan tangga.
Cukup melelahkan karena kami harus melewati tujuh lantai untuk bisa naik ke lantai paling atas.
Dan akhirnya kami sampai. Di lantai paling atas ini, hamparan langit malam terlihat sangat jelas dan indah. Begitu juga pemandangan gedung-gedung dan rumah-rumah yang lebih kecil dari gedung ini.
Ya, ada ribuan fairy disini. Ada seorang fairy yang paling besar. Ukurannya seukuran manusia, bahkan wujudnya seperti manusia. Hanya saja fairy terbesar itu memiliki sayap dan ikut terbang di langit bersama ribuan fairy lainnya.
"Selamat datang Couria dan Alice. Kami sudah lama menunggumu. " ucap fairy terbesar itu sambil tersenyum.