
(PERHATIAN!! KALI INI SUDUT PANDANG AKAN DIKEMBALIKAN KEPADA COURIA HIMALA)
*****
Bell, Senin, 16 Februari 1970
Aroma bunga-bunga di taman menyusup ke dalam kamarku. Cahaya dan hangatnya matahari ikut menyambut pagi.
Saat aku membuka mataku setelah menghabiskan satu malam untuk tidur, aku melihat bibi Addle yang sedang membuka jendela kamarku.
"Pagi, Tuan muda!" ucap bibi Addle sambil melempar senyum yang ramah.
"Pagi!" ucapku dengan nada malas sambil membersihkan mataku yang masih melihat semuanya dengan buram.
Bibi Addle lalu berjalan keluar kamarku. Tapi langkahnya tiba-tiba berhenti saat berada di depan pintu.
"Tuan muda sudah tumbuh besar ya..." gumam bibi Addle sambil menoleh ke arahku.
"Kenapa tiba-tiba membahas usiaku?" tanyaku sambil berdiri dari ranjang.
"Tidak ada. Omong-omong perlengkapan mandi sudah siap, tuan muda tinggal pergi kesana saja..." ucap bibi Addle lalu pergi.
Aku mengangguk pelan lalu pergi dari kamar tidurku dan berjalan ke kamar mandi.
Saat aku sudah melepas penutup mata dan membuka pintu kamar mandi, Ikkye tiba-tiba muncul didepanku sambil berteriak, "ba!!"
Karena aku kaget badanku sampai jatuh ke lantai. Ikkye justru menertawaiku dengan sangat puas. Sialan bocah hantu itu! Memangnya Ia tahu rasanya seluruh badan jatuh? Sudah berapa tahun bocah hantu itu tak punya tubuh?!
"Sakit tahu!!" ucapku sambil berusaha berdiri.
"Kau sendiri yang mudah terkejut!" ucap Ikkye dengan entengnya.
"Kalau aku dikejutkan manusia biasa itu biasa saja! Coba makhluk-makhluk sepertimu! Siapapun yang dapat melihatmu akan terkejut!!" protesku sambil bejalan ke dasar kolam.
Dan omelanku itu malah dijawab tawa yang sangat besar dengan Ikkye.
Tanpa basa-basi aku segera menceburkan diri ke dalam kolam air hangat.
Sebenarnya fisik Ikkye yang saat ini beda jauh dengan saat Ia mati.
Katanya, fisik seorang arwah akan berbentuk seperti pada masa terbaik dan paling bahagia arwah itu sendiri. Karena masa yang paling membuat Ikkye bahagia adalah saat Ia berusia 10 tahun, maka sebesar itulah fisiknya sekarang.
Tak hanya fisiknya saja, kenakalannya pun juga sama dengan anak berusia 10 tahun. Seperti sekarang ini, Ia kini sedang mencipratkan air ke mukaku berkali-kali. Sialan!
"Oh ya Couria! Kamu itu benar-benar cinta dengan Alice kan?" tanya Ikkye secara tiba-tiba. Nadanya terdengar seperti sedang menggodaku.
Sial! Kenapa Ia menanyakan hal seperti itu padaku? Sampai sekarang selain aku dan Alice, tak ada yang tahu kalau aku dan Alice memiliki hubungan yang lebih dari pertemanan. Pertanyaan Ikkye ini malah membuatku semakin larut dalam perasaan yang sejak dulu kujauhkan dan kusembunyikan.
"Bukan urusanmu!" jawabku singkat dengan sangat kesal. Mana mungkin aku akan menjawab pertanyaannya itu?! Itu kan urusan pribadiku!
Ikkye dengan entengnya kembali tertawa sambil melompat dan menghilang diri dari kolam berkali-kali.
Tiba-tiba Ia muncul di pinggiran kolam, lalu Ia melompat dan menghilang di kolam. Lalu Ia muncul lagi di pinggir kolam dan terus seperti itu.
Aku sangat kesal dan segera mempercepat mandiku. Aku tak mau berlama-lama dengan hantu bocah yang satu itu.
Aku menepi di pinggir kolam, lalu membasuh badanku dengan sabun. Setelah seluruh tubuhku diselimuti busa sabun, aku kembali mencebur ke kolam.
Setelah seluruh busa sabun menghilang dari tubuhku, aku segera mengeringkan tubuh dengan handuk dan menggunakan yukata biru.
"Aku sudah selesai mandi, jadi aku akan pergi, selamat tinggal..." ucapku sambil melambaikan tangan pada Ikkye yang sedang melakukan kegiatan yang sama sejak tadi, yaitu mencebur ke kolam, hilang, dan kembali ke pinggiran kolam. Namun kegiatannya berhenti sampai situ saat aku berpamitan dengannya.
"Bilang saja kau tak ingin aku membicarakan Alice..." goda Ikkye lalu tertawa.
"Aku akan ke sekolah hari ini karena itu aku mempercepat mandi!" ucapku sambil keluar dari kamar mandi.
Aku berjalan di lorong menuju ke kamar untuk berpakaian. Tapi di lorong aku bertemu Alice yang sedang berjalan ke arah yang berlawanan sambil membawa boneka kelincinya. Pada wajahnya terukir ekspresi sedih. Kalau dilihat-lihat, boneka kelincinya robek pada bagian telinganya.
"Kau kenapa?" tanyaku pada Alice. Masih dengan wajah sedih, Alice lalu menoleh ke arahku.
"Boneka kelinciku robek. Ia sangat berharga...." ucap Alice sambil mengusap matanya yang tergenang air mata.
"Kalau begitu suruh saja bibi Addle untuk membenarkannya!" ucapku sambil memperhatikan robekan pada telinga boneka kelinci putih kesayangan Alice tersebut.
"Sekarang aku sedang mencarinya. Apa kau melihatnya tadi?" tanya Alice dengan sepercik harapan.
Selain saat membukakan gorden kamar, aku tak melihat bibi Addle sama sekali. Tapi kalau aku menjawab tidak pada Alice, mungkin Alice akan kembali terlarut kesedihan. Sebaiknya aku bantu saja gadis kecil itu.
"Tidak, tapi aku akan membantumu mencarinya!" ucapku lalu melempar senyum ikhlas pada Alice.
Sepercik senyuman muncul dari wajah Alice yang mungil nan indah bak taman dengan ribuan bunga yang bermekaran. Senyumannya yang polos itu selalu mampu membuatku luluh.
"Terima kasih!" ucap Alice.
Aku mengangguk dan segera pergi ke kamar untuk berpakaian. Selesai berpakaian, tanpa basa-basi aku segera mencari bibi Addle.
Pertama, aku mencarinya di dapur, tapi bibi Addle justru tak ada. Aku lanjut mencarinya ke ruang tamu, tak ada juga. Karena biasanya bibi Addle pergi ke taman untuk menyapu, aku memutuskan mencarinya ke taman, tapi tidak ada juga.
Satu-satunya tempat yang ada kemungkinan bibi Addle ada hanya di gudang. Saat aku mencarinya kesana, akhirnya ketemu juga!
Tapi, aku malah menemukan bibi Addle dalam keadaan terbaring di lantai. Pada dagu dan lehernya, terdapat beberapa tetes darah.
Tanpa basa-basi aku segera mendekati bibi Addle. Nafasnya tersengal, matanya sipit, wajahnya amat pucat. Aku cemas akan keadaan bibi Addle, karena aku tak ingin kehilangan siapapun.
"Bibi! Kau tak apa?!" tanyaku dengan sangat cemas. Bibi Addle yang masih setengah sadar dengan pelan menoleh kearahku.
"Tuan muda..." ucap bibi Addle dengan suara yang serak dan tipis.
"Saya, tak apa-apa... cuma tak enak badan..." lanjut bibi Addle.
"Jangan bohong! Bibi harus segera diantar ke rumah sakit!!" bentakku.
Karena mendengar bentakanku yabg terlalu keras tadi, Alice pun segera berlari kemari. Ia sangat terkejut saat mendapati bibi Addle yang sedang terbaring lemah, dan segera mendekati bibi Addle.
"Bibi tak apa?" tanya Alice dengan cemas.
"Tak kenapa..." jawab bibi Addle dengan pelan dan serak.
Tak ada gunanya diam! Lebih baik aku menyuruh Weinhard membawa bibi Addle ke rumah sakit!
"Weinhard!! Antar bibi Addle ke rumah sakit!!" perintahku dengan berteriak.
Tak lama Weinhard pun datang dan segera menggosong bibi Addle.
"Belakangan ini bibi terlalu memaksakan diri." ucap Weinhard sambil menggosong bibi Addle menuju mobil. Aku dan Alice menyusulnya dengan berlari.
Setelah membaringkan bibi Addle di kursi penumpang, Weinhard segera duduk di kursi supirnya dan menghidupkan mesin mobil.
"Tuan muda akan berangkat dengan siapa?" tanya Weinhard.
Inilah kesempatanku mengendarai motor lagi!
"Tentu saja sendirian dengan mengendarai motor!"
*****
Hari ini kelasku mendapat latihan olahraga. Seperti biasa akan ada latihan beladiri. Pak Gradya, guru yang mengajar olahraga sudah menuliskan pasangan duel pada papan tulis. Setelah membacanya, para siswa harus segera pergi mengganti pakaian di ruang ganti.
"Hah?!" jerit Aria dengan suara yang sangat keras saat Ia sedang melihat rivalnya hari ini.
Saat aku ikut bergabung membaca rival yang akan kulawan, untunglah lawanku adalah seorang siswa biasa.
Karena tadi Aria menjerit, aku jadi penasaran, siapa rivalnya hari ini. Sungguh baik nasibnya hari ini! Aku sampai tertawa terbahak-bahak.
"Kau takut kan?!" tanyaku sambil tertawa, saat aku menyadari kalau rivalnya hari ini adalah Zein!
Aria melemparkan senyum masamnya padaku.
"Siapa yang kau bilang sedang ketakutan hah?! Ini justru kesempatanku untuk menunjukkan bahwa aku lebih kuat dari anak berotot itu!!!" ucap Aria. Ia tampak berusaha tidak terlihat ketakutan dan sedang senang. Tapi semua justru gagal dan menghasilkan wajah dengan ekspresi masam.
"Oh, kalau begitu tunjukanlah bahwa tubuhmu yang kecil itu mampu melawan ototku!" ujar Zein yang tiba-tiba muncul di belakang Aria.
Tawaku semakin menjadi-jadi saat melihat wajah ketakutan bercampur takut yang membuat ekspresinya semakin aneh.
"O' oke! Aku akan menunjukannya!" ucap Aria dengan kaku.
"Berikan pukulan yang lebih keras dari padaku saat itu!!" ucapku sambil tertawa, bahkan perutku sangat sakit hanya karena tertawa.
Zein mengangguk kencang sambil mengacungkan jempol. Wajah Aria yang aneh tadi malah makin aneh lagi. Aku tertawa terpingkal-pingkal sampai menyenderkan diri pada sebuah bangku kayu.
"Cepatlah ganti baju! Apa kalian mau terlambat?!" perintah Aria sambil keluar dari ruang kelas.
Aku berusaha menghentikan tawaku, lalu pergi dari ruang kelas bersama Zein.
Saat aku sudah mengganti pakaianku kepakaian kaos olahraga, aku mendengar gosip-gosip siswi sekelasku.
Ada yang bilang, "ada apa dengan Aria?" Atau ada juga yang bilang, "Aria kelihatan aneh. Seperti takut tapi berusaha berani."
Oh tidak! Gara-gara aku mendengar itu aku kembali tertawa terbahak-bahak.
Tapi Aria tiba-tiba memukul kepalaku dari belakang. Sial!
Setelah seluruh siswa kelas 9-1 termasukku berbaris untuk mendengarkan arahan Pak Gradya, seluruh siswa kelas 9-1 melakukan pemanasan, berlari di trotoar kota selama duabelas menit, sith up, push up, sikap lilin, dan senam lantai lainnya, akhirnya sampai pada beladiri tangan kosong.
"Couria Himala dengan Jackson Weaden!" panggil Pak Gradya.
Aku dengan Jackson yang sebenarnya kurang kukenali karena diriku yang sangat jauh dari lingkungan sosial pun datang pada arena.
Aku dan Jackson langsung menyiapkan sikap kuda-kuda masing-masing.
"Mulai!" perintah Pak Gradya.
Beberapa gerakan seperti pertahanan, pukulan, dan tendangan audah kuarahkan pada Jackson. Jackson juga mengerahkan seluruh gerakan miliknya.
Dan akhirnya, Jackson tumbang dan duel ini dimenangkan diriku.
Karena Pak Gradya mengakui kalau aku pemenangnya, aku dan Jackson segera kembali ke tempat duduk penonton.
"Zein Welfon dengan Aria Fatia!!" panggil Pak Gradya.
Ini saat yang kunanti-nanti! Apakah Aria akan tumbang di tangan Zein, atau sesuat yang lebih mengejutkan karena Aria yang menang? Menebak-nebak itu sama sekali tak ada gunanya! Sekaranglah saatnya aku mengetahui hasil dari duel mereka.
Ternyata tak cuma aku yang penasaran. Seluruh siswa kelas 9-1 sangat penasaran akan hasil duel mereka. Habisnya Aria dijuluki sebagai "algojo" di akademi ini karena Ia kerap menghukum orang dengan pukulannya yang dahsyat. Sedang Zein sangat ahli dalam beladiri bahkan pernah menang sebagai juara satu dalam lomba nasional yang mewakili akademi ini.
Zein dan Aria pun bertemu dalam arena. Wajah mereka berdua terlihat sangat serius. Padahal aku pikir
"Mulai!!" perintah Pak Gradya.
Duel antar Aria dengan Zein pun dimulai!
Aria melompat dengan sangat tinggi dan siap menendang perut Zein dengan kaki kanannya. Namun tepat saat Aria menendang Zein, Zein menangkisnya dengan tangan kanannya.
Aria langsung mencoba menendang Zein dengan kaki kirinya. Tapi nasib Aria berkata lain, Zein langsung mengambil kakinya dan melempar Aria ke lantai. Aria pun jatuh terpelanting ke lantai, pasti sakit sekali.
Tapi Aria dengan cepat bangkit lalu berlari ke arah Zein dan memukul Zein dengan sangat gesit. Namun Zein berhasil menahan pukulan Aria dengan kedua tanagnnya sebagai pertahanan supaya Aria gagal memukulinya.
Saat Zein mendapati sedikit celah, Zein segera menyiapkan pukulannya ke perut Aria. Namun rebcananya gagal saat Aria segera melompat menjauh.
Kali ini Zein yang berlari ke Aria dan menyiapkan serangannya.
Adu pukulan dan gerakan pertahanan antar mereka berdua terjadi. Seluruh orang yang menonton menjadi sangat asik dan terbawa suasana, termasuk diriku. Tapi aku tak seperti beberapa penonton yang berteriak, "Zein!!" Atau, "Aria!!" Atau juga, "Ayo!!" Aku memilih untuk duduk manis dan berusaha tenang.
Dan kejadian mengejutkan pun terjadi. Aria berhasil memukul pipi Zein.
Pendukung Zein tampak kecewa, sedang pendukung Aria kembali berteriak, "Aria!!" dengan suara yang makin kencang.
Tapi Zein tak menyerah, Ia kembali berusaha memukul Aria dan Aria kembali menahan pukulan Zei dan sesekali memukul Zein.
PUKK!!
Zein berhasil memukul perut Aria.
Kali ini pendukung Zein yang bersorak dan meneriaki nama Zein dengan tak kalah kencangnya dengan pendukung Aria.
Duel kembali terjadi. Pukul, tendang, menahan, adegan itu terus menerus berulang.
Dari kejauhan aku melihat Aria dan Zein yang sama-sama mengangguk dan akhirnya menghentikan pertarungan mereka.
Semua penonton tampak heran. Aku menduga mereka saling menyerah.
"Kami seri!!" teriak Aria dan Zein bersamaan.
Seluruh penonton nampak kecewa. Padahal mereka sudah menebak-nebak kalau orang yang mereka dukung masing-masing akan menang.
Tapi aku sendiri sudah menduga akan kemungkinan itu. Aria dan Zein sama kuatnya, jadi ada kemungkinan besar mereka akan mengaku seri.
"Baiklah, semuanya berkumpul!! Sudah waktunya kita istirahat!!" perintah Pak Gradya.
"Baik!" ucap seluruh siswa termasuk aku, dan semua berkumpul di lapangan, mendengar arahan Pak Gradya, lalu istirahat.
*****
Aku pulang dari akademi dengan motor Ibu. Angin sore yang terasa kencang karena kecepatan motor yang sangat tinggi membuatku sangat nyaman.
Jalanan kota cukup sepi. Saat aku mendongak ke kanan dan ke kiri jalan sebentar, aku melihat seorang anak gadis yang sepertinya lebih kecil dariku sedang terbaring di jalan trotoar dengan penuh luka.
Aku segera menghentikan motorku dan memarkirkannya di bawah pohon yang dekat dengan anak itu. Lalu tanpa basa-basi aku segera menghampiri anak itu.
"Kau kenapa dik?" tanyaku.
"Ibu, Ibu sudah jahat. Semua mati karenanya..." ucap anak itu dengan suara serak.
Karena anak itu sedang dalam keadaan yang sangat buruk, aku segera membawa anak itu ke rumah sakit dan meminta pihak rumah sakit untuk memanggil polisi, dan pulang ke rumah.