
~Indhira Janitra
Tak kusangka, wanita Bali sepertiku diundang oleh kepala Akademi Intelijen Bell, Arrie Himala, untuk belajar dan ikut membantu organisasi beberapa muridnya untuk menyelesaikan beberapa kasus disana.
Ya, tak ada salahnya sih. Lagipula, yang bisa kulakukan disini, hanya memandangi bekas sebuah kehidupan sih.
*****
~Couria
"Ini memalukan sih! Ponakan dari kepala sekolah sepertimu, bisa datang terlambat seperti ini?!" tanya Viola George lalu tertawa licik.
Cih! Ini baru pertama kalinya aku terlambat sekolah! Mulutnya saja yang sebusuk bau TPA! Seluruh orang dari marga George memang begitu!
"Setelah kau memberi omongan basi itu padaku, kau memberinya pada Couria juga?! Heh! Orang yang tak pernah sekalipun ikut misi sepertimu harusnya tak berhak muncul di panggung, bahkan tak pantas menontoni perjuangan kami, dasar mulut bau sampah!!" bela Aria.
Aria dan Viola pun tampak bertarung fisik. Dan akhirnya berkali-kali serangan menyakitkan dari Aria pun mengenai badan Viola hingga kapok. Anehnya, baru kali ini Aria membelaku. Yah, mungkin karena balas budi kemarin.
Kalo sudah ada guru, situasi seperti ini tak mungkin terjadi sih. Betapa beruntungnya aku, karena hari ini para guru sedang rapat dan jam pelajaran disita satu jam, jadi aku tampak bagai datang terakhir, bukan terlambat. Lagipula kasus kemarin sudah diketahui Paman Arrie dari Carrie.
"Terima kasih Aria. " bisikku pada Aria. Bila aku mengucapkannya dengan suara keras, tentu itu akan mempermalukan diriku.
"Hoho?! Ini pertama kalinya kau berterima kasih padaku! Anggap saja kegiatan amal setelah aku berhasil mengembangkan Iris dengan baik!" bisik Aria dengan sangat percaya diri.
Cih! Kepercayaanku pada gorila itu jadi hilang. Ah sudahlah! Lagipula aku harus menonjok kepala Eins yang dari tadi menutup wajahnya yang sedang menertawaiku.
Setelah sampai di samping Eins, aku langsung menonjok kepala teman tak berguna itu.
"Aduh!!" keluh Eins.
"Oi oi Couria! Jangan emosi begitu! Nanti kamu cepat tua!" ucap Eins sambil berdiri dan menepuk pundak kiriku.
"Ohh? Aku baru tahu kalau kita cepat marah, satu tahun dunia malah jadi enam bulan!" ucapku lalu duduk.
Eins memasang muka sebal lalu kembali duduk. Di jam kosong itu, beberapa murid mulai tak tertib. Viola George dan kawan-kawannya mulai berkumpul dan mulai bergosip. Sedangkan Eins dan beberapa lainnya mencoreti buku, dan melakukan hal yang bisa mengisi rasa bosan. Kalau Aria, malah bertarung fisik dengan Zein. Sedang murid sepertiku, hanya dapat menahan kantuk dengan membaca beberapa novel.
"Duh, kenapa dia lama sekali?!" keluh Viola lalu pergi keluar dari kelas.
"AAAAAAAAAA!!!!"
Terdengar suara teriakan seseorang yang kemungkinannya muncul dari kamar mandi sekolah. Aku dan yang lainnya pun terkejut. Dari suaranya, mungkin saja itu suara Viola.
Saat aku memutuskan untuk melepas perban mata kiriku dan mengaktifkan kekuatan magis mata kiriku, aku mendapati Viola sedang terduduk di lantai kamar mandi, dan di depannya, ada mayat seseorang.
"Oi oi Couria! Penciuman ahli api sepertiku tajam lho, apalagi soal tubuh! Kau juga merasakannya kan?!" tanya Aria dengan penuh semangat.
Aku pun bangun dari kursi dan meregangkan leher dan jari-jariku.
"Ya!"
*****
"Melodi!! Tak mungkin!! Padahal tadi ia bilang ia hanya sekedar BAB di toilet, tapi!! Oi, Melodi!! MELODII!!!" teriak Viola.
Seorang murid dari kelas yang sama dengan kami, Melodi Arcban, meninggal dengan kedua kaki yang terpotong dan hilang.
Ia adalah salah satu sahabat dekat Viola, tentu Viola mengalami syok dan sangat depresi.
"Padahal kau baru saja mengajakku ke tempat seseorang yang katamu sangat ajaib, suka memelihara hewan-hewan aneh, dan dapat mengabulkan setiap keinginan kita. " ucap Viola lalu menangis.
"Apa ada tingkah Melodi yang aneh belakangan ini?" tanya Aria.
"Hanya satu. Katanya kakinya sering terasa sakit, dan entah kenapa tiba-tiba, ia menyukai sesuatu yang berbau mistis. " jelas Viola sambil menangis.
Melodi mungkin meninggal karena kehabisan darah atau syok. Tapi kalau ia baru ke toilet beberapa menit yang lalu, itu terlalu aneh sih. Lagipula, kenapa sang pembunuh hanya mengincar kaki Melodi? Jika ia ingin menjualnya, kenapa tidak ambil bagian tubuh yang lebih berharga?
Mungkin karena Aria menemukan keganjilan yang sama, Aria pun memeriksa mayat Melodi.
"Wah wah! Ini aneh sekali! Kalau kaki Melodi dipotong dalam waktu yang singkat, tak mungkin potongannya serapi ini! Bahkan yang lebih parah, kakinya justru terkesan seperti putus, bukan terpotong. Pahanya juga masih utuh. Dan patahnya tepat di lutut, tulangnya tak terlihat terpotong sama sekali!" jelas Aria sambil memeriksa paha Melodi.
Patah?! Memamgnya Melodi boneka? Ini merupakan insiden yang paling aneh yang pernah kutangani. Oh ya! Kata Viola, kaki Melodi memang sudah sakit dari dulu. Dan Melodi tiba-tiba terobsesi dengan hal-hal yang magis. Tapi aku tak melihat aura hantu di dekat Melodi sedikit pun.
"Insiden yang paling aneh, kurasa. Mungkin kita tak akan bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat. Tapi kalau aku tak menyelesaikannya, arwah Melodi akan marah-"
"Maka, pemanggilan arwah korban sangat baik dilakukan saat ini. "
Tiba-tiba, seorang wanita seusiaku, dengan rambut hitam terurai sampai lutut, dengan pakaian aneh yang tak pernah kulihat, malah datang dan memberi solusi yang sangat tak masuk akal.
"Apa kau yang membunuh Melodi?!!" tanya Viola dengan sangat marah pada wanita yang baru datang tadi.
"Jaga emosimu, Viola George. Ia adalah murid dari Indonesia yang aku undang untuk belajar disini. lagipula, Ayahnya adalah orang dari Bell dan merupakan teman dekatku. Sayangnya, ia meninggal dua tahun lalu. " ucap Paman Arrie yang menyusul datang.
"Tunggu, jadi, rapat guru tadi, hanya tentang murid ini?!!" tanya Aria dengan sangat kesal.
"Wah wah kenapa tiba-tiba kau emosian begitu?! Justru aku disini terpilih untuk masuk ke sebuah tim yang paling senior disini!!" ucap murid baru dengan nama Indhira itu sambil memasang muka kesal pada Aria.
Cih! Baru aku cebol! Aku terus saja dihina! Apa salahnya kalau asupan nutrisiku masuk ke otak?! Jauh lebih baik begitu ketimbang tubuh besar tapi otak nol!!
"YANG BENAR SAJA!!" bentak Indhira dan Aria bersamaan.
Ya, ini mengejutkan dan sedikit menyebalkan. Aku, Aria, dan bahkan anak Paman Arrie sendiri, Carrie, butuh waktu dan tenaga yang banyak agar berhasil menjadi sebuah tim yang ahli. Sedangkan, tiba-tiba saja seseorang masuk ke tim kami tanpa pikir panjang dan proses yang panjang.
"Kalau kalian bertanya-tanya kenapa aku bisa memasukkannya ke tim kalian begitu saja, kalian salah besar. Di Indonesia, tepatnya di Provinsi Bali, ia menempuh segala ujian dari Ayahnya yang sangat mayor disini. Asal kalian tahu, dia adalah anak dari mendiang Fransis Habble. " jelas Paman Arrie.
Fransis Habble?! Bukannya ia adalah seorang ahli otopsi terbaik di negeri ini?! Yah, aku tahu sih, istri Tuan Fransis memang orang dari Indonesia, Bali. Tapi, aku masih tak mau percaya kalau murid itu adalah anaknya.
"Lawakanmu membosankan, Pak Arrie! Orang ini anak ahli otopsi?! Kalau begitu, buktikan keahlianmu! Indhira!" ajak Aria.
"Dengan senang hati! Akan kubuktikan kalau aku lebih ahli darimu!" ucap Indhira lalu mendekati jasad Melodi.
"Tak ada alat apapun yang bisa membuat potongan serapi ini. Bahkan ujung tulangnya masih utuh, tak terpotong. Dan juga, tkpnya, toilet. Pak Arrie, ini merupakan ruangan paling selatan di lantai tiga akademi ini kan?" tanya Indhira.
"Benar. Memangnya, apa ada masalah dengan itu?" tanya Paman Arrie.
"Kita tunggu, setidaknya hari ini saja. Aku yakin, perkiraanku ini pasti tepat!" ucap Indhira dengan sangat semangat.
*****
Baru kali ini, jam istirahat justru jadi waktu yang sangat menyiksa. Bagaimana tidak?! Karena terlambat, aku sampai lupa membawa bekal. Perutku selalu menggetarkan alrmnya, kadang sampai meronta-ronta karena ingin diberi makan.
"Couria, kan?" tanya Indhira sambil mendekatiku yang sedang duduk di bangkuku sendiri sambil memegangi perut yang mengamuk minta makan ini.
"Iya. Ada apa?" tanyaku sambil menoleh ke Indhira sedikit.
"Ah, perutmu pasti sangat menderita! Apa kau mau kutraktir?" ajak Indhira.
Sebenarnya aku enggan, tapi, menolak rezeki dan perut yang lapar, adalah kesalahan besar.
"Boleh saja. " ucapku sambil berdiri.
"Sebenarnya, aku tak sebaik itu. Kau harus membayarnya dengan memberiku informasi tertentu. " ucap Indhira lalu tertawa.
Cih! Kupikir orang itu tak akan menyebalkan seperti Aria, tapi malah lebih parah. Setelah berpikir sebentar, aku pun menganggukkan kepala.
Setelah Indhira membelikanku makanan di kantin, kami memutuskan untuk makan bersama di taman. Kebetulan di sana ada meja dan kursi yang diletakkan memang untuk tempat makan.
Wanita yang cukup misterius itu membelikanku sandwich, dan jus. Kurasa setidaknya itu cukup untuk mengganjal lapar di perutku. Perutku pasti berkata, "akhirnya, aku bisa makan... "
Setelah aku menghabiskan sandwichku, aku pun ingin segera membahas apa yang Indhira inginkan. Karena, selain bersama Alice, aku sangat tak nyaman, apalagi seseorang yang baru kukenal seperti Indhira.
Namun, ternyata ia masih makan. Ia sepertinya membawa bekal sendiri. Anehnya, ia makan langsung dari tangannya, hingga tangannya kotor karena makanan. Apa memang seperti itu cara makan orang di tempat tinggalnya?!
Selain itu, makanannya juga sedikit aneh untukku. Kalo tak salah, ia memakan, kulit kelapa, dengan rempah rempah, kedelai yang berwarna cokelat dan menempel satu sama lain. Lalu dicampur dengan nasi.
"Maaf, apa aku boleh tahu, apa-apa saja yang kau makan itu?" tanyaku.
"Wah wah, kau penasaran ya? Baiklah, memamerkan budaya satu sama lain juga tak salah. Nah, kedelai yang digoreng ini namanya tempe. Awalnya, kedelai itu difermentasi, lalu digoreng, dan boleh dinikmati. Klo yang dari kulit dalam kelapa ini, namanya lawar klungah. Klungah adalah bahasa bali kelapa yang masih muda. " jelas Indhira.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku. Ternyata makanan yang dimakannya cukup unik. Kalau tempe, aku sudah pernah mendengarnya sih, tapi, untuk lawar klungah, aku baru kali ini mendengar namanya dan melihatnya.
"Aku cuci tangan dulu ya, setelah ini, mari kita bicarakan, hal-hal yang ingin kuketahui. " ucap Indhira lalu pergi ke wastafel, dan kembali dengan tangan yang bersih.
"Baiklah. Agar kita bisa saling mengenal, aku ingin kau menjelaskan sesuatu tentang dirimu, sedikit saja. Nah Couria, kau memang benar ponakan Pak Arrie, bukan?" tanya Indhira.
"Ya, itu benar. Tapi, aku akan memberi tahumu sesuatu tentangku yang perlu-perlu saja ya?" pintaku.
"Baiklah-baiklah. Aku tak mau tau banyak sih, tapi hanya satu. Mata kirimu itu, apa saja yang bisa dilihatnya?" tanya Indhira, kelihatannya Indhira mulai serius.
Kenapa ia malah menanyakan mata kiriku?! Ini terlalu berlebihan, aku takut dia malah mencuri informasi pribadiku untuk kesenangannya.
"Bila aku memang memiliki niat tak baik, kau boleh membunuhku kok! Tapi ini serius, Couria! Mata itu, mungkin aku bisa mengkaitkannya dengan kasus kematian orang tadi. Meski aku tampak biasa saja, aku sebenarnya merasa sangat tertekan. Habisnya, ada orang yang meninggal tepat pada kedatanganku. Aku tak ingin, ada korban lagi. " ucap Indhira.
Lama-lama, aku mulai bersimpati padanya, namun, bukan berarti aku percaya padanya. Aku pun menbuka perban pada mata kiriku dan melihat apa Indhira memiliki niat buruk. Ternyata dia memang tak memiliki niat buruk.
"Baiklah, akan kujelaskan. Mata kiriku ini, saat ini, aku sebut sebagai kutukan, sih. Karena, semenjak mata kiriku ini muncul, muncul juga sesosok diriku yang lain, yang sangat menggangguku. Namun, mata ini juga membantuku. Keahliannya adalah melihat kapan matinya orang, titik kematian orang, orang akan mati seperti apa, tragedi dalam jarak berapapun, melihat hal-hal yang berhubungan dengan hal supernatural, dan, melihat isi hati orang, fan niatan orang. " jelasku.
"Wah wah, banyak sekali! Sepertinya, kau seharusnya sudah tahu kalau murid tadi akan mati. " ucap Indhira.
"Tidak juga. aku sering menutup mata kiriku dengan perban. Terkadang, melihat kenyataan, malah akan membuat kita menderita. Karena itu, kadang aku memihak pada kebohongan, meski aku sudah tahu itu bohong. " ucapkku sambil menundukkan kepala.
Ya, mata kiriku sangat menyiksa. Aku tak ingin melihat sesuatu yang malah menyiksa batinku, tapi malah itu yang kulihat.
"Pilihan katamu cukup menarik, Couria. Aku menanyakan mata itu, karena aku punya mata semacam mata yang dapat melihat sesuatu yang bersangkutan dengan "sakit" dan "sehat". Bila seseorang yang ada didepanku sedang sehat, batin maupun fisiknya, mata kananku akan bereaksi. Namun, bila sebaliknya, sakit, mata kiriku akan bereaksi. Mata kananku juga dapat mengobati, dan mata kiriku dapat menyakiti. Karena itulah, aku sangat cocok untuk sesuatu yang berkaitan dengan tubuh. Dan, kematian murid tadi, mengingatkanku pada, tujuh cakra dalam tubuh manusia. " jelas Indhira.
Tujuh cakra pada tubuh manusia? Aku pernah mendengarkan itu. Itu ada pada kepercayaan hindu, dimana, setiap manusia memiliki cakra pada beberapa bagian tubuh, dan dapat diasah, hingga menciptakan bagian tubuh pada cakra yang diasah memiliki kemampuan khusus.
"Jadi, maksudmu, kita akan tunggu hingga ada enam korban lagi?" tanyaku.
"Ya! Kau memang jenius, Couria! Baiklah, sampai sini dulu. Kemungkinan, pelaku dari kejadian tadi, adalah seseorang yang sangat mengerti fisik dan hal yang mistis. " ucap Indhira.