
Ya, Indhira mungkin benar soal empat saudara itu. Aku pernah melihat empat anak yang sama persis sepertiku di dalam mimpi. Hanya saja, dari mereka, ada yang baju, mata dan rambutnya berwarna hitam, putih, merah, dan kuning.
Tapi, aku hanya pernah melihat mereka sekali, tepat sehari setelah mata Nati muncul di mata kiriku. Mereka hanya tersenyum, tak meninggalkan satu pun pesan.
Dan hari ini, Indhira mengajakku untuk membuatkan wujud seperti manusia untuk mereka. Tapi, meski dengan wujud manusia, mereka bisa hilang dan datang saat dipanggil dan sesuai keinginan mereka sendiri.
*****
"Badanmu sudah lebih baik kan?" tanya Indhira padaku yang baru saja bangun dari tidur yang sangat singkat. Setidaknya hanya setengah jam.
"Iya sih. " jawabku singkat.
"Kalau begitu, kita bisa memulai pemanggilan keempat saudaramu. " ucap Indhira sambil tersenyum.
Setelah aku memakai bajuku dan menyiapkan diri, aku dan Alice diajak ke sebuah ruangan kosong yang cukup luas oleh Indhira. Mungkin, ritual pemanggilan empat saudaraku akan dilakukan disini.
"Sebenarnya ini cukup mudah. Couria, kau bayangkan saja wujud keempat saudaramu itu. Akulah yang akan memanggil keempat saudaramu itu dengan mantra, tentu dengan bantuan ruangan ini. " jelas Indhira lalu menaburkan serbuk bekas membakar kayu, serbuk putih yang dibuat dari beras yang dihancurkan, dan serbuk kuning yang dibuat dari kunyit dengan sebuah pola lingkaran dengan pola tulisan yang tak dapat kubaca.
"Untuk yang terakhir, aku minta kau meneteskan sedikit saja darahmu di mangkuk ini. " pinta Indhira sambil memberiku pisau dan memperlihatkan mangkuk kaca.
Mau bagaimana lagi, aku lebih baik menuruti Indhira, karena aku sendiri tak tahu seperti apa jalan ritualnya. Aku menggores bagian tanganku yang tak nampak garis kematiannya pada mata kiriku dengan pisau tepat di atas mangkuk kaca yang dibawa Indhira.
Setelah kurasa cukup, aku menutupi luka bekas goresan tadi dengan kain yang dibawa Indhira untuk membalut lukaku, lalu Indhira menumpahkan darahku pada pola lingkaran yang belum sempurna tadi sehingga kini menjadi sempurna.
"Baiklah, kita akan memulai upacaranya. Kau sudah siap kan, Couria?" tanya Indhira.
Tanpa pikir paniang, aku pun menjawabnya dengan tegas
"Ya!"
Indhira pin tersenyum dan memulai ritualnya dengan menaruh piring dengan sisa bubuk putih, hitam, kuning, dan darahku tepat di tengah lingkaran.
"Couria, berdirilah tepat di belakang piring ini!" pinta Indhira.
"Baik!" ucapku lalu berjalan dan berdiri ke arah yang dipinta Indhira.
Setelah itu, Indhira duduk di belakang lingkaran, lalu mulai membaca mantra yang selama ini tak pernah kudengar. Dan perlahan, dari masing-masing serbuk dan darahku, mulai muncul cahaya yang sesuai dengan warna serbuk dan darahku.
Tiba-tiba, dariku, muncul cahaya berbentuk bulat putih, disusul hitam, merah, dan terakhir kuning. Cahaya bulat itu berada di atas masing-masing warna. Setelah itu, Indhira menghentikan mantranya, dan munculah empat orang dengan warna mata, rambut, dan pakaian putih, hitam, merah, dan kuning.
"Kami adalah saudaramu. Bila kau memanggil kami, kami akan melindungi, menemani, membimbing, dan menghiburmu. " ucap keempat saudaraku.
"Lihat, mereka sudah datang dengan wujud sempurna! Kau bisa memanggil dan meminta mereka hanya nampak untukmu, maupun untuk nampak di mata semua orang seperti sekarang!" jelas Indhira.
"Tapi, kenapa selama ini, aku tak menyadari ataupun merasakan keberadaan kalian?" tanyaku.
Ya. Kalau mereka sebenarnya selalu menemaniku, meski tanpa wujud, aku seharusnya bisa merasakan hawa mereka dari mata kiriku.
"Kekurangan mata kutukan ada disitu. Meski kau bisa melihat titik lemah dan titik kematian seseorang, kau tak bisa melihat empat saudara orang, bahkan kami sekali pun. " jelas saudara hitam.
"Tapi, kami pasti akan datang saat kau membutuhkan!" lanjut saudara kuning.
"Kami pasti akan menemanimu, dan asal kau tahu, akulah yang paling tua diantara ketiga saudaramu dan kau sendiri!" ucap saudara putih dengan sangat percaya diri.
"Oi oi, putih! Bukankah kau paling takut saat masuk ke area kuburan?!" tanya saudara merah lalu tertawa.
Setelah saudara merah mengolok-olok saudara putih, saudara hitam dan kuning pun ikut tertawa. Entah kenapa, rasanya, mereka cukup menyenangkan.
"Benar bukan. Tapi, ada baiknya kau memberi saudara-saudaramu sesajen. Mereka pasti akan membantumu kapan saja!" jelas Indhira sambil tersenyum.
"Tepat sekali! Meski perutku bukan perut, aku kini sangat lapar!" ucap saudara kuning, lalu ketiga saudaraku yang lain pun tertawa.
"Baiklah, apa yang perlu kuberi?" tanyaku.
"Biasanya sih makanan, tapi terserah padamu. Kau juga bisa membuat semacam tempat khusus untuk menghaturkan sesajen pada kami!" jelas saudara hitam.
Akhirnya, hari ini, banyak pertanyaan yang mengganjil di dalam otakku terlunasi. Tapi, masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, sangat banyak. Tapi, aku yakin, tiap waktu, akan ada saja pertanyaan di dalam hidup ini yang akan terjawab dalam waktu tertentu. Dan akan sangat sayang kalau seseorang meninggal, padahal masih banyak pertanyaan di dalam hidupnya.
Aku jadi heran, apa di detik terakhir hidup Ibu, Ibu tak memiliki pertanyaan sama sekali? Lagipula, kenapa Ibu bunuh diri di hari biasa? Tidak ada yang khusus di hari kematiannya. Mengingat tugasnya yang sudah turun temurun dari reinkarnasinya dulu, apa iya kalau Ibu bunuh diri untuk mengakhiri tugasnya?
Semua, mungkin jawabannya adalah "ya" maupun "tidak". Memang, sejak kematian Ibu, ribuan pertanyaan, penderitaan, dan lain sebagainya, selalu mengusik hidupku.
Dan, keputusan Ibu untuk bunuh diri adalah salah besar. Tugasnya belum usai. Ayah justru menjadi makin berdosa karena kematiannya. Dan disinilah tugas Alice dan aku, yakni, menanggung kutukan yang terlanjur dilontarkan Alice. Kalau bisa, aku tak akan membunuh Ayahku.
"Couria, aku sudah lapar sekarang, bolehkah aku mendapat sesajennya sekarang?" tanya saudara kuning sambil menggosok-gosok perutnya.
"Sewa dapurku mahal ya?" tawar Indhira sambil tersenyum.
Aku, Alice, Indhira, dan keempat saudaraku pun tertawa.
"Baiklah, apa boleh buat. Tapi, bayar sewa dan bahannya bon ya?" tanyaku sambil menampilkan senyum bodoh.
"Ah sudahlah, aku bercanda! Kau boleh menggunakan dapurku sepuasnya!" ucap Indhira dengan senyuman sok bijak.
Setelah perbincangan hangat dan tawa ria, aku memberikan keempat saudaraku dengan sesajen makanan berupa ayam panggang. Setelah puas, mereka kuizinkan untuk pergi.
"Jadi sekarang, kita akan pergi ke sekolah?" tanyaku. Aku baru ingat kalau Paman Arrie tadi meminta kami pergi ke sekolah karena ada seorang murid yang meninggal.
"Aku hampir lupa! Aduh, terima kasih Couria! Ayo, kita ke sekolah. Nona kecil, apa kau ikut?" tanya Indhira dengan panik.
"Tentu saja!" jawab Alice dengan tegas.
*****
"Kenapa kalian lama sekali?!" tanya Paman Arrie dengan agak marah.
Yah, kelihatannya, polisi sudah siap membawa mayat korban untuk diotopsi lebih lanjut, sedangkan kami baru datang.
"Pak Arrie tak berhak marah-marah begitu. Ponakan kecilmu itu tadi jatuh sakit, bahkan pingsan. Dia juga masih memaksakan diri kesini, dan kau justru memarahi kami. " jelas Indhira dengan wajah kecewa.
Paman Arrie tampak heran lalu memeriksa badanku.
"Ini mendadak Paman... " jelasku dengan suara lemas.
Yah, habis naik mobil saja, sakitku kambuh lagi. Tapi, saudara merah menyadarinya dan melindungi badanku, meski aku tak memanggilnya.
"Baiklah, maafkan kesalah pahamanku tadi. Aku akan menjelaskan kasus ini. Jadi, siswi yang meninggal adalah Rose Salsabella, siswi dari kelas VII-I. Ia kehilangan perut beserta isinya, dan lagi-lagi, potongannya sangat rapi, tak ada organ dari perut yang rusak. Hanya saja yang beda, korban bukan murid yang kelasnya berada di lantai tiga. " jelas Paman Arrie.
"Random, ya?" tanya Indhira sambil tersenyum.
Kalau dipikir-pikir, selama ini korban yang diambil memanglah random, yang membuat pembunuh terkesan sebagai orang yang mengalami sakit jiwa. Tapi, dari kerapian dan tempat yang dipilih, tersangka terkesan sangat cerdas.
Jangan-jangan, tak ada tersangka dalam kasus ini?! Atau, tersangak terlibat dekat dengan lantai tiga?! Kalau makhluk astral, sepertinya tak mungkin. Karena aku tak merasakan jejak makhluk astral sama sekali dari seluruh korban.
"Kalau kau kebingungan, kau hanya perlu menunggu, Couria!" jelas Indhira.
Iya, Indhira mungkin benar. Ia sempat bilang kalau kasus ini menggunakan teknik cakra. Meski begitu, aku mana tahan menunggu korban bertambah untuk memancing si tersangka keluar. Aku tak ingin ada orang yang mati lagi.
"Aku tak bisa membiarkan ada orang yang mati lagi!" bentakku.
"Kalau kau berharap tersangka segera keluar, kemungkinan besarnya, ia akan membunuh lebih banyak orang karena gagal. " jelas Indhira dengan serius.
Cih! Sial! Siapa sebenarnya si tersangka itu?! Berani-beraninya dia mempermainkan kesabbaranku!
"Apa maksudmu wanita pendatang?! Apa jangan-jangan kau pembunuhnya?!" tanya Aria dengan sangat marah.
"Mata Couria tak akan bicara begitu sih!" jawab Indhira dengan percaya diri.
"Kakak Indhira bukan tersangkanya. Aku memiliki sebuah spekulasi, tapi aku tak ingin menjelaskannya. Malah, kalau tak ada Kak Indhira, tak mungkin kasus ini akan terungkap sebanyak ini!" bela Carrie.
"A'apa? Aku tak butuh pembelaan!" ucap Indhira dengan wajah malu.
"Baiklah, untuk hari ini, kita sudahki dulu, kalau bisa, silahkan menyelesaikan kasus ini di rumah masing-masing. Tapi, ada sebuah pengumuman penting lain. " jelas Paman Arrie.
"Apa?!" tanya Aria. Tampaknya Ia sudah tak sabar ingin segera pulang.
"Regu kalian, akan bertambah satu orang anggota lagi. " ucap Paman Arrie sambil tersenyum.
Setelah mendengar itu, aku menganggapnya biasa saja. Sedangkan Indhira tampak senang, mungkin ia orang sosial. Sedangkan Carrie juga tampak biasa saja, namun sedikit tersenyum. Mungkin ia sudah tahu lebih dulu. Alice juga tampak senang seperti Indhira. Dan terakhir Aria, ah, tentu saja. Ialah yang tak terima kalau ada sesuatu yang baru.
"Siapa coba?!" tanya Aria dengan wajah sebal.
Beberapa detik kemudian, Zein datang. Ya, Zein. Orang dengan otot besar itu. Ya, karena dia si anggota baru, aku cukup terkejut sih, tapi Aria malah tampak malu, terkejut, dan sebal. Mungkin ia memiliki perasaan khusus pada Zein. Entahlah, itu bukan urusanku.
"APA DIA ORANGNYA?!!" tanya Aria dengan sangat sebal.
"Karena aku orang baru di akademi ini, perkenalan tentu sangat diperlukan, siapa namamu?" tanya Indhira pada Zein.
"Namaku adalah Zein. Aku sebenarnya teman sekelasmu, rasanya. Tapi, ini pertama kalinya kita saling bicara, ya kan?" tanya Zein.
"Kalau begitu aku orang baru yang buruk ya. Salam kenal, Zein. " ucap Indhira dengan ramah.
Ternyata sifat Indhira tak seburuk Aria. Tapi, ada perubahan sikap kalau ia sedang merasa asik pada sesuatu, misalnya saat mata kiri atau kanannya bangkit. Itu hasil dari pengamatanku. Yah, aku harus biasa mencermati orang baru.
"Hemph! Aku bisa mengandalkan ototmu itu sih!" ucap Aria dengan nada sebal.
"Apa kau sudah lupa dengan pemberian tertinggiku untuk Iris hah?!" tanya Zein, berusaha mengingatkan mayat elang kesayangannya yang ia beri cuma-cuma pada Iris.
Aria tampak sangat malu dan memalingkan wajahnya.
"B'baiklah! Tapi hanya itu pemberianmu kan?!" tanya Aria dengan sangat malu.
"Semuanya sudah selesai kan?" tanyaku.
Yah, lama-lama aku ingin cepat pulang. Lagipula para polisi juga sudah mengevakuasi mayat korban hari ini.
"Ya sudah, kalian semua boleh pulang. Tapi, apa kalian masih belum punya nama untuk regu kalian?" tanya Paman Arrie sambil tersenyum.
Sial!! Paman Arrie selalu saja mencari cara agar aku dan yang lainnya tak bisa pulang! Ya, mungkin aku harus segera mencari ide, intinya agar aku bisa cepat pulang. Atau mungkin, lebih baik aku bilang tidak saja. Sial! Sakit kepalaku malah kambuh!
"Susahlah Ayah, Kak Couria tampaknya susah tak tahan lagi. Hal sepele seperti ini, bisa diselesaikan kapan saja kan?" bujuk Carrie.
Terima kasih banya Carrie! Ternyata, kau memang adik sepupu yang sempurna!
"Eeh, tapi kau sudah tahu kan, kalau tim dua yang diketuai Viola sudah punya nama!" ucap Paman Arrie.
Sial! Malah bertambah sulit keadaannya! Kalau sudah sakit kepala begini aku tak bisa berpikir dengan baik!
"Hah?! Lagipula, namanya sangat menjijikkan. "Be Cool"?! Apa itu coba?!" protes Aria.
Baguslah! Untuk saat ini, aku mendukungmu, Aria! Tapi hanya untuk hal-hal seperti ini, ini demi kami semua.
"Ya, lagipula, kenapa kita harus berlama-lama disini. Dan nama bukanlah identitas terpenting, melainkan kualitas orang-orangnya!" ucap Zein sambil tersenyum.
Bagus Zein! Semuanya, kumohon!!
"Ya, ada banyak hal yang harus kulakukan di rumah. Pak Arrie, ayo pulangkan kami... " pinta Indhira.
Bagus! Aku yakin, dengan serangan permintaan sebanyak ini, Paman Arrie pasti akan memulangkan kami semua! Aku sudah jenuh dengan keadaan kepala yang pening seperti ini!
Setelah tampak berpikir beberapa detik, Paman Arrie lalu menghela nafas.
"Baiklah, kalian boleh pulang. Lagipula, kalian memang harus ke sekolah besok kan?" ucap Paman Arrie.
Akhirnya, aku bisa pulang! Yah, mungkin Paman Arrie sangat gembira karena tim kami mulai terbentuk dengan sangat baik, apalagi, ialah pembina tim kami. Manusia seperti Paman Arrie adalah sosok yang sangat menyukai hal baru, dan memiliki ambisi yang sangat tinggi untuk berkembang, dan berubah. Sekali Ia berhasil mengembangkan apapun, ia akan terlalu bersemangat sampai lupa waktu, seperti hari ini.
"Baiklah, aku pulang, Paman!" ucapku lalu masuk ke mobil.
Untunglah Indhira dijemput Pak Made Budhasa, jadi Weinhard tak harus mengantarnya pulang dulu. Dan selama di perjalanan, keempat saudaraku menjagaku dengan sangat baik.