The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Pulang



~Addle


Tuan Muda sudah seperti anakku sendiri. Ia memiliki sifat seperti Ibunya dan terlihat seperti anak-anak lainnya. Ia juga anak yang sangat tegar. Ia tetap hidup seperti biasanya meski ia sering kehilangan orang yang disayanginya, tapi bukan berarti ia melupakan orang-orang yang dicintainya.


Nanti aku mungkin juga akan menyusul orang-orang yang disayanginya yang sudah meninggalkannya. Tapi, aku tak ingin menambah luka yang disembunyikan Tuan Muda sejak dulu.


Jadi saya akan meminta maaf sebesar-besarnya bila itu memang benar-benar terjadi.


*****


~Aria


Bell, Sabtu, 21 Februari 1970


Tanpa kusadari ternyata sejak saat bom di Gallei, Ayah tetap hidup. Tapi untunglah aku bisa bernafas lega karena ia kini sudah menerima hukumannya.


Malam ini, aku memutuskan untuk berbincang-bincang di ruang tamu bersama Ibu Sellya sambil mengemil dan mendengarkan radio.


"Tumben kau ada waktu untuk mengobrol dengan Ibu!" ucap Ibu Sellya sambil tertawa kecil.


"Bukan tak mau, tapi memang tak sempat!" protesku sambil mengambil dan memakan beberapa buah kue kering di toples.


"Jadi, kau berhasil membunuh Ayah kandungmu yang merupakan penyebab kematian Ibu kandungmu dan merupakan anggota aliansi negara baru?" tanya Ibu Sellya dengan nada sedikit khawatir.


"Iya, aku membunuhnya. Dan ialah orang yang paling menyebalkan dalam hidupku!" ucapku dengan sangat marah.


Meski Ibu Sellya tak bermaksud untuk membuatku marah, namun pertanyaannya tadi itu cukup menyebalkan! Aku tak pernah mau mengingatnya dan trik liciknya yang berhasil menghidupkan mayat Ibu!


"Omong-omong kenapa rambutmu bisa pendek begitu?!" tanya Ibu dengan nada sebal.


Sejatinya dari kecil aku selalu menjaga agar rambutku tetap pendek. Tapi semenjak Ibu Sellya mengadopsiku, aku selalu diperintahkan untuk membiarkan rambutku tumbuh panjang agar cantik katanya. Hmmph! Rambut yang panjang itulah yang paling menggangguku!


"Ini terpotong saat sedang dalam pertarungan, lalu aku suruh salah satu homunculus untuk merapikannya! Apa itu salah?" tanyaku dengan kesal.


"Bila kau masih ceroboh begitu, Ibu jadi berpikir dua kali untuk membiarkanmu bertarung!" ucap Ibu dengan sangat sebal.


"Apa salahnya kalau aku merelakan rambutku daripada badanku yang kena!" protesku lalu kembali mengambil beberapa kue kering di toples.


"Polisi berhasil menangkap sebelas orang yang merupakan anggota aliansi negara baru. Mereka ditemukan pada sebuah hotel di Bell dan ditemukan saat mereka sedang menyiapkan senjata mereka. Kemungkinan besar mereka akan beraksi lagi. Sedangkan sekitar lima puluh satu anggota aliansi negara baru lainnya masih belum ditemukan. Diharapkan seluruh masyarakat untuk waspada akan kemunculan mereka." jelas reporter pada siaran berita di radio.


Baru sebelas?! Entah berapa lama waktu untuk para polisi itu menemukan sampah-sampah masyarakat itu!


Padahal sedang asik-asiknya mengemil, tapi tiba-tiba Nenek Quennela menghampiriku.


"Aria. Kakekmu memanggilmu. Datanglah ke laboratoriumnya. " ucap Nenek Quennela.


"Tumben sekali ia memanggilku! Apa yang ia inginkan?! Sialan! Padahal aku masih enak-enaknya ngemil!" protesku sambil berdiri dari sofa.


"Jangan seperti itu Aria! Siapa tahu ia memanggilmu karena urusan yang penting. Sudahlah kesana saja, nanti sehabis urusanmu dengan Kakekmu selesai, kau bisa ngemil sepuasnya!" perintah Ibu sambil memelototiku.


Oi oi! Ternyata setelah sekian lama aku tak pernah mengobrol dengan Ibu Sellya, Ibu Sellya ternyata sudah jadi ibu-ibu yang galak.


"Mau bagaimana lagi!" protesku sambil berjalan ke ruang laboratorium, disusul Nenek Quennela.


"Sudah kuduga kau akan kemari dengan rasa terpaksa!" ucap Kakek Elric dengan senyum sialannya itu.


"Kenapa kau memanggilku?! Baru sempat aku istirahat, namun kau tiba-tiba menyita waktu senggangku!" protesku.


"Sudah kubilang dari dulu bukan? Kau harus tetap membuktikan kekuatanmu sebagai manusia dan sebagai wanita?!" tanya Kakek Elric.


Sial! Ini tanda-tanda kalau ia akan menyuruhku melakukan sesuatu! Tapi, bila aku menolaknya, maka aku akan kembali bertanggung jawab atas keselamatan Ibu Sellya.


"Apa yang kau minta?!" tanyaku tanpa basa-basi.


"Aku memerintahkanmu untuk.... membuat homunculus!" perintah Kakek Elric.


Homunculus?! Apa ia sudah gila?! Setahuku, homunculus dibuat dengan mayat makhluk hidup. Untuk membuat homunculus dengan jangka waktu hidup yang banyak, maka pembuatnya harus membuatnya dengan mayat manusia. Misalnya Nenek Quennela yang dibuat dengan pacar Kakek Elric yang meninggal saat masih muda, dan Bibi Haeva yang dibuat dengan mayat seorang pendeta wanita yang masih muda juga.


Aku memang menyukai mayat. Aku selalu tertarik dengan mayat. Namun bukan berarti aku suka mengambil hak hidup seseorang. Memangnya aku sudi membunuh seseorang?!


"Jangan salah sangka Aria! Aku akan menyuruhmu membuat homunculus dengan mayat hewan. Yang sudah lama pun tak apa. Namun... kau harus membuatnya dengan kualitas sebagus homunculus yang dibuat dari mayat manusia. " jelas Kakek Elric.


Bapak-bapak tua itu makin gila. Ia saja akan kesulitan melakukannya, bagaimana denganku yang tak pernah membuat homunculus?!


"Mana mungkin aku bisa melakukannya?! Aku bahkan tak pernah membuat seorang homunculus pun selama ini! Kau sendiri belum tentu bisa melakukannya!!" protesku.


"Bila kau berhasil. Aku akan mengaku kalah darimu. Bila kau gagal, aku akan terus membulimu dan mengejekmu sebagai manusia gagal. Dan bila kau tak mau, aku akan, membunuh kalian berdua dengan homunculus yang kubuat dari campuran mayat singa, harimau, gorila, elang, gagak, dan seorang manusia pada zaman prasejarah yang kutemukan di tulangnya di museum. Belum lagi aku berhasil memasukkan arwah anak dari raksasa di dalamnya. Ia adalah homunculus bernama Gorguan. Kau bisa bayangkan kekuatannya bukan?!" tanya Kakek Elric dengan senyum sialannya.


Sial! Aku memang bisa membayangkan betapa dahsyatnya kekuatan Gorguan. Aku pernah melihatnya yang masih terkurung di tempat seperti penjara. Saat ia terbangun, teriakannya saja sudah mampu menerbangkan orang yang dekat dengannya. Aku jadi berpikir dua kali untuk menolak permintaannya.


"Baiklah! Aku terima tantanganmu!!" ucapku dengan sangat terpaksa.


*****


~Couria


Bell, Senin, 23 Februari 1970


Keadaan Bibi Addle makin memburuk. Weinhard mau tak mau harus terus diam di rumah sakit berhari-hari untuk menemani Bibi Addle.


Meski itu adalah hal yang memilukan, tapi ada sepercik keberuntungan untukku. Aku bisa mengendarai motor terus-terusan tanpa dimarah Weinhard. Tapi aku juga tak benar-benar senang.


Seperti biasa, saat mandi, aku selalu diajak mengobrol dengan Ikkye, si hantu dengan wujud bocah yang sangat usil dan cerewet.


"Jadi, Bibi Addle masih di rumah sakit?" tanya Ikkye sambil ikut berendam di kolam bersamaku, meski ia menggunakan baju. Tapi baju yang ia kenakan tak mungkin basah.


"Begitulah. Tapi, aku harap ia akan segera sembuh. Aku tak mau ia terus-terusan terbaring lemah di rumah sakit. " ucapku.


"Bilang saja tak mau terus-terusan tak dilayani!" ucap Ikkye lalu tertawa.


Sialan! Padahal aku sedang serius, tapi ia selalu saja membawa pembicaraanku dengannya menjadi lelucon.


"Apa kau pernah merasa iba pada pelayanmu dulu?" tanyaku lalu menyelam ke dalam kolam. Aku ingin menguji sifatnya sebagai seorang bangsawan.


"Jangankan iba, peduli saja tidak! Mereka hanya menghambat kehidupanku! Hanya karena aku seorang bangsawan, aku selalu dipaksa ini itu! Tapi kalau pelayanku seperti Bibi Addle, mungkin aku akan peduli dengannya. " ucap Ikkye dengan nada kesal.


Aku sudah dapat menduga jawabannya. Aku memang setuju dengan rasa sebal yang dialami Ikkye, karena aku juga merasakannya. Meski begitu, aku ingin selalu menyamai derajat para pelayan dengan diriku sendiri.


"Apa mungkin semua bangsawan seperti kita kesal dengan aturan yang membosankan ini?" tanyaku saat berhenti menyelam.


"Rasanya tak semua juga sih. Bahkan mungkin ada yang sangat puas karena terlahir sebagai bangsawan dan memanfaatkannya untuk hal yang tidak-tidak seperti pada zaman dulu!" jelas Ikkye berdasarkan opininya.


Benar juga pendapatnya. Aku jadi teringat dengan kasus Enzo Alban. Berarti masih saja ada satu dua orang yang memanfaatkan kastanya untuk kesenangan pribadi. Memang benar, akan lebih baik kasta semua orang disamakan saja.


Karena tak ingin buang-buang waktu, aku segera mengambil sabun dan membasuhinya ke seluruh bagian tubuhku. Lalu aku kembali ke dalam kolam agar busa sabun yang menyelimuti tubuhku hanyut.


Setelah tubuhku bersih dari busa sabun, aku segera keluar dari kolam dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, lalu menggunakan yukata biru.


*****


"Kalau kalian memang benar-benar ingin jadi anggota intelijen, kenapa kalian bisa ketakutan begitu hah?!" bentak Aria.


Baru saja aku sampai di sekolah, aku malah langsung mendapati kerusuhan.


Aria terlihat sedang berdiri di bawah pohon, dan orang-orang di sekeliling pohon tersebut tampak ketakutan.


Saat aku mendekati Aria, akhirnya aku menyadari apa yang terjadi. Ini adalah hal yang biasa saja sebenarnya.


"Kau tak perlu menakut-nakuti mereka seperti itu!" perintahku pada Aria.


Aria yang sedang memegangi mayat seekor tupai itu pun tampak sangat sebal. Mayat tupai yang dibawanya tampak penuh luka.


"Kau sendiri baru datang mana tahu! Lihat wanita itu! Ialah yang pertama melihat mayat ini! Dan ialah yang membuat semua gempar, bukan diriku! Aku baru saja kemari untuk mengambilnya dan membawanya pulang! Kamu yang baru datang lebih baik diam!" protes Aria sambil menunjuk seorang wanita yang sedang berdiri agak jauh darinya dengan wajah sebal.


Dibawa pulang? Baru kali ini Aria membawa pulang mayat yang masih segar. Biasanya ia menguburnya di sekolah dan menunggu hingga mayat itu menyisakan tulang, atau mayat yang ditemukannya akan langsung ia bakar, baru dibawa pulang.


"Untuk apa kau membawa pulang mayat yang masih segar?" tanyaku.


"Itu bukan urusanmu! Kalau kau ingin tahu, maka tanyalah pada Kakek!" ucap Aria lalu pergi.


Aku sangat sebal dengan sifatnya itu. Setiap hari selalu saja menggunakan cara-cara kasar untuk berkomunikasi. Dan wanita yang ditunjuknya tadi tampak menangis.


"Apa yang membuatmu menangis? Apa Aria menyakitimu?" tanyaku pada wanita itu. Tampaknya ia adalah siswi kelas delapan.


"Ti' tidak. Tapi, kakak ketua osis mengataiku sebagai wanita lemah. " ucap wanita itu sambil mengusap air matanya.


Aria memang sesosok yang sangat ingin memperjuangkan kastanya sebagai seorang wanita, karena itu ia akan kesal kalau harus memperjuangkan wanita yang lemah dan penakut, karena itu akan membuat perjuangannya sia-sia. Tapi caranya menanggapi wanita yang lemah juga tak bisa disetujui.


"Kalau kau tak ingin dikatai begitu, maka jadilah orang yang kuat. Akademi ini diperuntukkan pada orang yang memang serius ingin menjadi sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Karena maski kita sudah menyelamatkan orang nanti, nama kita tak akan pernah diingat, bahkan kita tak akan dikenal siapapun. " ucapku lalu pergi ke kelas.


*****


"Kau mai ikut denganku makan di ruang osis tidak?" ajakku pada Eins sambil mengeluarkan bekalku dari tas selempangku setelah bel istirahat berbunyi dan saat pelajaran olahraga selesai.


Hari ini lagi-lagi Eins murung. Tapi kali ini penyebab murungnya adalah karena ia berhasil dikalahkan duel beladiri tangan kosong oleh Wins, yang merupakan rival sejatinya.


"Kau sendiri saja! Aku akan makan di sini!" ucap Eins dengan sebal lalu mengambil bekal di tasnya.


Biasanya kalau ia sebal ia akan cepat melupakannya, jadi kuputuskan untuk meninggalkannya, ia mungkin memang harus sendiri untuk merenungi masalahnya.


Sesaimpaiku di ruang osis, aku hanya melihat Carrie. Baru kali ini tak ada Aria, biasanya ialah yang paling dulu ada dan segera makan.


"Dimana Aria?" tanyaku pada Carrie.


"Entahlah. Dari tadi Kak Aria tak ada disini. " jawab Carrie. Dari wajah polosnya, sepertinya ia kelihatan jujur. Ia juga bukan tipe pembohong.


Saat aku mengambil tempat duduk dan bersiap untuk memakan bekalku, tiba-tiba Aria datang dengan membuka pintu ruang osis dengan sangat kencang, sehingga menyebabkan suara yang keras.


"Bisa-bisanya kalian mendahuluiku!" protes Aria sambil memukul meja tempatku dan Carrie makan.


"Kau sendiri kemana saja?!" tanyaku dengan sangat kesal. Bisa-bisanya Aria datang dan langsung protes, padahal itu salahnya karena tak kunjung datang.


"Aku sedang mencari mayat! Dan lihat ini! Aku menemukan mayat anjing!" ucap Aria sambil memamerkan mayat seekor anjing.


Mayat anjing itu bersimbah darah. Namun ada kalung di lehernya, sepertinya itu anjing peliharaan. Carrie hampir muntah dan segera pergi ke jendela.


"Dimana kau mendapatkan mayat itu? Kelihatannya mayat anjing itu merupakan mayat anjing peliharaan!" ucapku pada Aria sambil mendekati mayat anjing yang dibawanya.


"Iya, ini mayat anjingnya Bu Enny. Katanya tadi saat dalam perjalanan kemari, anjingnya ditabrak anjing. Ia sangat sedih. Saat ia akan mengubur anjing kesayangannya ini, aku segera memintanya!" jelas Aria.


Hah?! Kalau anjing itu memang anjing peliharaan kesayangan Bu Enny, mana mungkin Bu Enny merelakan mayat anjingnya untuk Aria begitu saja?!


"Kenapa Bu Enny sampai rela memberimu mayat anjingnya?!" tanyaku.


"Itu karena aku akan menggunakan mayat anjingnya sebagai homunculus! Dengan begitu anjingnya akan kembali hidup sebagai seorang manusia buatan!" ucap Aria dengan penuh percaya diri.


Oh, jadi ia mengumpulkan mayat untuk dijadikan sebagai homunculus. Tumben sekali. Biasanya ia selalu mencaci maki kakeknya yang sering membuat homunculus.


Tiba-tiba Kak Sylya berlari ke ruang osis sambil menangis.


"Tuan Muda!" ucapnya sambil mengelola nafasnya yang tersengal.


"Kenapa?" tanyaku.


Tiba-tiba Kak Sylya terjatuh ke lantai lalu menangis dengan sangat kencang.


"Bibi, Bibi Addle!"


*****


Tak mungkin! Yang benar saja! Ini bohong kan?! Apa aku sedang bermimpi?!


Tidak! Bibi Addle hanya tidur! Dasar perawat rumah sakit sialan! Kenapa mereka membawa Bibi Addle ke kamar mayat.


"Tidak, Tuan Muda. Bibi, memang benar-benar meninggalkan kita. " ucap Weinhard sambil menundukkan kepalanya.


Hah?! Memang aku mau mempercayaimu?! Oi, sadarlah Weinhard!! Kau masih bisa percaya kalau Bibimu itu meninggal?! Sepertinya kau sudah tak waras seperti para perawat itu!


"Bibi Addle masih hidup!! Jangan menaruhnya disini! Jangan buat Bibi Addle kelaparan! Ini sudah waktunya untuk makan bukan?!!" bentakku pada perawat-perawat yang hanya diam.


Lagipula kenapa bisa mereka jadi perawat kqlqu tak becus merawat pasiennya?!


"Maafkan saya. Tapi, pasien memang sudah meninggal dunia. Kami sendiri tak tahu harus bagaimana lagi. " ucap salah satu perawat.


Memangnya akan semudah itu kau menipuku! Sial! Jadi penjahat saja sana kalau kau hanya bisa bohong!


"BIBI ADDLE MASIH HIDUP!! KALIAN SEMUA PEMBOHONG!! SUDAH BERAPA KEBOHONGAN YANG HARUS KUDENGAR LAGI HAH?!-"


"BIBI ADDLE SUDAH MATI!!!" bentak Weinhard padaku.


Weinhard sudah menegaskan kalau Bibi Addle sudah meninggal, meski ia adalah keponakan kandung beliau.


Ya, sepertinya memang ini yang terjadi. Aku sudah tak dapat berkata-kata lagi. Memang benar aku sudah buta. Aku tak tahu yang mana kebohongan dan yang mana yang kebenaran. Bahkan aku tak tahu, apa mungkin aku sudah memilih jalan hidup yang benar.


Kini sesosok Ibu kembali pergi dari dunia ini. Aku tak bisa menerimanya, tapi memang ini yang terjadi. Dua hal yang berlawanan akan selalu muncul di dunia ini. Benar, salah. Jujur, bohong. Hidup, mati. Suka, duka. Semua akan selalu muncul di kehidupan seluruh manusia di muka bumi ini.


Apa aku terlalu egois? Sejak dulu aku tak pernah bisa memaklumi keberadaan dua hal yang berlawanan di dunia ini. Aku hanya ingin semua berjalan dengan baik dan damai.


Meski aku beberapa kali mendapat pencerahan, namun aku selalu merasa terperangkap dalam gelap. Meski dua hal yang berlawanan muncul di dunia ini, keadilan tak pernah berdiri kokoh, selalu goyah akan kebohongan, dan keegoisan para manusia itu sendiri.


Mungkin saja, aku sudah membuat orang tenggelam dalam lautan sengsara karena keegoisanku.


Maaf. Tapi, aku tak pernah dapat dimaafkan, bukan?