The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Baru kali ini



Bell, 30 Januari 1970


Kemarin aku mencoba mencari tahu apa yang ada di dalam menara lonceng. Dan ada seorang gadis kecil yang mengaku bernama Alice, tapi Ia tak mengingat apapun selain namanya.


Ada satu hal yang aneh dari raga Alice. Ia memiliki dua aroma yang berlawanan. Yakni aroma kehidupan dan Aroma kematian.


*****


Setelah sarapan aku mengunjungi Alice dan membawakannya sarapan. Aku melakukannya diam-diam, aku bilang kepada Bibi Addle kalau ada sesuatu yang harus ku ambil di menara lonceng, iya itu bohong.


"Alice, aku bawakan sebuah apel dan sandwich untukkmu!!" ucapku.


Sedangkan Alice masih di atas, tampaknya mengambil sebuah buku. Aku mendekatinya. Tak lama kursi tempat Alice berpijak bergoyang dan Alice jatuh tepat di atasku, juga beberapa buku. Setelah sembuh dari tinjuan Zein, aku sekarang ditimpa orang dan buku-buku berat. Sial sekali nasibku.


"Kau tak apa Couria?" tanyanya sambil bangun dariku.


"Ittetete! Aduh!! Sakitlah!! Baru waktu ini aku ditinju sama orang yang setara dengan ahli bela diri aabuk hitam, dan sekarang aku ditimpamu dan buku-buku! Tentu saja sakit!!" protesku sambil memegang pinggangku yang sakit.


"Maaf. Habisnya tempat bukunya tinggi sekali!" ucap Alice.


"Memang kau akan mencari buku apa?" tanyaku.


"Alice in Wonderland! Namanya seperti namaku ya?!" tanya Alice.


"Siapa peduli Paling cuma kebetulan!!" ucapku, sambil memegang bahuku yang sakit juga.


"Siapa tahu ada hubungannya denganku kan?" tanya Alice.


Aku hanya menjawabnya dengan raut muka dingin khas-ku.


"Anu... Couria....." ucap Alice, tiba-tiba Ia bicara dengan ragu-ragu dan malu. Tanpa sadar mukaku juga memerah, malu. Tapi entah kenapa.


"Ke' kenapa?" tanyaku juga sama gugupnya.


"Setelah kupikir-pikir......... Aku ingin keluar dari sini! Aku ingin berpetualang denganmu! Aku ingin mencari tahu masa laluku denganmu!!" ucap Alice penuh antusias. Tapi mukanya masih merah, dan kedua tangannya memegang tangan kananku, dan Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku semakin malu dan gugup.


"Eh? Anu.......b'oleh saja, tapi-"


"Terima kasih!!!" ucapnya sambil melompat, padahal aku belum selesai bicara.


"Aku akan kesusahan menjelaskan keberadaanmu. Bagaimana?" tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Bilang saja aku kenalannya Haeva! Eh, maksudnya Ibumu!" ucapnya dengan semangat.


"O' oke..." ucapku.


"Oke? Apa oke?" tanya Alice.


"Apa kau orang dari zaman purba? Artinya iya!" ucapku dengan kesal. Ya ampun aku jadi berpikir, sekalian saja Ia lupa cara bicara.


"Iya ya! Hmmm......." ucap Alice sambil berpikir.


"Oke!!" ucap Alice saat Ia berhenti berpikir.


"Baiklah! Bersiaplah!!" perintahku.


"Oke!! Wah ini pertama kalinya aku keluar menara ini, senangnya!!!" ucap Alice sambil berjalan dan mengemas barang-barangnya. Termasuk pakaian yang sepertinya diberikan Ibu.


"Kenapa kau membawa pakaian?" tanyaku.


"Aku akqn tinggal di kastilmu!!" ucap Alice sambil melompat.


"HEEEH?!!!" tanyaku terkejut. Ini akan sulit. Aku akan merawat titipan Ibu ini sepenuhnya?! Sial sekali nasibku!


*****


"Tuan muda, siapa gadis kecil ini?" tanya Bibi Addle.


Sialan sekali Alice, saking semangatnya Ia masuk sendiri ke dalam kastil.


"Dia kenalan Ibu, Ia sudah menunggu di gerbang belakang, makanya tadi aku ke belakang.." ucapku.


"Wah! Kenalan Nyonya Heava!! Kau tahu nak! Sejak Heava tinggal disini, akulah pelayan yang paling sering melayaninya. Beliau sangat baik dan ramah, bahkan Ia menyamai derajat kami. Tapi saat beliau tiada, saya sangat sedih. Dan untungnya Tuan Muda Couria memiliki sikap yang sama dengan beliau, senangnya..." ucap Bibi sambil tersenyum ke arahku. Alice menyusul menatapku. Tanpa sadar wajaku sudah memerah padam, malu.


"It' itu bukan apa-apa!!" ucapku dengan gugup.


"Kalau dipikir-pikir.... lebih baik kamu Couria. Heava tidak pernah membiarkanku keluar dari menara lonceng" ucap Alice, masih dengan wajah polosnya.


"It'itu..... yah! Aku tak peduli apa yang akan terjafi padamu!! Sedangkan Ibu khawatir padamu!! Mengerti?" tanyaku.


"Jangan pedulikan omongan Tuan muda, Nona kecil! Tuan Muda hanya tak ingin terlihat baik hati!" ucap Bibi Addle.


Aku memang tak ingin terlihat baik di depan orang yang baru kukenali. Tapi, aku merasa harus selalu bersama dengan Alice. Ia berbeda dari orang-orang yang pernah ku kenal. Cih! Paling hanya karena aromanya yang unik itu. Tapi.... ada hal lain yang membuatku tertarik padanya. Entahlah, aku tak peduli.


"Omong-omong siapa namamu, Nona kecil?" tanya Bibi Addle.


"Alice!!" ucap Alice dengan semangat dan melompat.


"


"Alice siapa? Siapa nama keluargamu-"


"Airy!!" ucapku menjawab Bibi Addle. Bibi Addle tak boleh sampai tahu kalau Alice bukan kenalan, tetapi peninggalan.


"Alice Airy ya? Nama yang lumayan bagus ya, Nona Alice!!" ucap Bibi Addle.


"Baiklah! Kalau begitu aku ke sekolah dulu dengan Weinhard!! Bibi Addle tolong urusi Alice ya!! Siapkan kamar Ibu untuknya, Ia akan tinggal sementara disini!!!" perintahku pada Bibi Addle sambil berlari ke Weinhard yang sudah menungguku di teras.


"Nah Nona Alice, mari saya antar ke kamar Nyonya Heava..." ucap Bibi Addle sambil membawa tas Alice yang berisi pakaian dan beberapa buku.


*****


"Seorang gadis bernama Alice?!" tanya Aria padaku, seakan-akan Ia tak percaya. Pada jam makan siang ini aku menceritakan apa yang kudapat di menara lonceng. Kami, aku, Aria dan Carrie biasa berkumpul di ruang osis untuk makan bersama saat istirahat.


"Ya, dan di dalam menara lonceng ada banyak sekali buku, bahkan lebih banyak di banding perpustakaan sekolah!!" ucapku, dengan tujuan menggoda Aria yang suka membaca buku ilmiah. Sejak kecil Aria sangat suka dengan tubuh dan siap membedah apapun, siapapun saja yang sudah mati.


"Benarkah?!!! Asik!!! Aku bisa mencari tahu lebih banyqk tentang spesies-spesies atau hal-hal lainnya yang belum kuketahui!!!" ucap Aria dengan penuh semangat.


"Tapi jangan membedah hewan di depan banyak orang seperti dulu Kak Aria.." protes Carrie dengan nada ngeri.


"Apa yang salah dengan itu, penakut akut?!" tanya Aria sambil mengeluarkan bangkai cicak di saku roknya.


"TIDAAAAAAAK!!!!!!!!!!!!!" teriak Carrie sambil melompat dari kursi dan kabur dari ruang osis.


"Kau berlebihan Aria..." ucapku lalu mencari Carrie yang kabur tadi.


Aria tertawa dan membuang bangkai cicak ke jendela.


Saat aku baru keluar dari ruang osis, aku menemukan Carrie yang bersembunyi di balik pintu ruang osis.


"Sudahlah Carrie, cicak yang dibawa Aria sudah dibuang..." ucapku membujuk Carrie.


"Benarkah?" tanya Carrie. Aku mengangguk.


Aku kembali ke ruang osis disusul Carrie dengan langkah yang sangat pelan-pelan.


Saat kami mulai makan. Carrie melamun dan tak memakan bekal yang dibawanya.


"Kenapa tak makan?" tanyaku.


Aku mendengus dan menatap Aria dengan sinis. Ia hanya nyengir. Huh, Aria memang orang yang tak waras. Aku jadi berpikir, sekalian saja Ia membedah isi perutnya sendiri.


"Kalau kau mau makan di tempat lain boleh kok Carrie, itu akan mengurangi rasa mualmu, bayangkanlah es krim cone dengan taburan keju dan cokelat cair!!" ucapku menghasut Carrie.


"Es krim cone!! Ya, aku akan makan bersama Ayah dan mengatakan kejadian tadi!!" ucap Carrie.


"Tunggu!! Jangan laporkan ini kepada Pak Arrie!!!!" teriak Aria. Mukanya benar-benar panik, lalu Ia swgera mengejar Carrie. Aku menertawai Aria. Pemberani dari mana coba? Dia bahkan takut dilaporkan. Selagi Aria mengejar Carrie, aku sibuk makan sendirian.


Tepat setelah bekalku habis, mereka berdua datang. Carrie dengan wajah bahagia dan lega dengan Aria yang memasang wajah sedih tambah kesal. Aku tak dapat menahan tawa saat melihat wajah Aria. Tapi Paman Arrie tak pernah menganggap keusilan Aria seserius itu.


"Bodoh! Ya, pokoknya nanti akan ke rumahmu Couria!!" ucap Aria sambil menunjukku dengan jari telunjuknya.


"Siapa yang mengizinkanmu ke rumahku?!" tanyaku sambil melipat tanganku di depan dada.


"Hmph!! Aku akan datang atas kemaukanku sendiri!! Dengar ya?!! Aku kesitu sebagai ponakan dari Bibi Heava!! Bukan saudaramu!!!" ucap Aria lalu menjulurkan lidahnya.


*****


Sepulang sekolah aku langsung mencari Alice di kamar Ibu. Saat aku disana Alice terlihat sedang menatap jendela yang berhadapan langsung dengan taman, sama halnya dengan kamarku.


Alice lalu menoleh ke aku, dengan wajah polosnya.


"Kau sudah pulang ya?" tanya Alice. Aku mengangguk.


"Salah satu temanku ingin membaca buku di menara jam. Boleh?" tanyaku.


"Boleh saja. Lagipula aku tak ingat betul aku ini siapa. Tapi karena aku terbangun disana, aku menganggap tempat itu adalah rumahku, sekarang juga tempat ini" ucap Alice.


"Tuan muda Couria, Nona Aria datang!!" ucap Bibi Addle dari ruang tamu.


Aku mendengus sebal. Cepat sekali orang itu kemari.


"Ia sudah datang Alice, ayo!" ajakku. Alice mengangguk. Kami lalu menghampiri Aria di ruang tamu.


"Jadi kau yang namanya Alice?" tanya Aria sambil menatap Aria dengan wajah tersenyum. Alice mengangguk.


"Dengar Alice, Couria adalah orang yang membosankan dan rivalku!!" ucap Aria dengan semangat.


"Ri, val?" tanya Alice.


"Musuh Alice" ucapku.


"Kalau Aria adalah musuhmu, kenapa kau menganggapnya teman?" tanya Alice.


"Musuh dalam mendapatkan ranking atau tingkat orang terpintar di akademi!!!" jelasku.


"Begitu ya...." ucap Alice sambil berpikir.


"Apa kau mengalami amnesia atau kau mengalami syndrome karena kamu tak pernah keluar dari rumahmu?" tanya Aria. Alice pun mengangguk.


"Kalau begitu, ayo kita ke perpustakaan!!!!" ucap Aria lalu berlari sendirian ke menara lonceng. Huh, orang itu memang keterlaluan.


Saat aku membukakan pintu menara, Aria langsung seenaknya berkeliaran mencari buku, mengambil buku dengan jumlah yang banyak, dan membacanya di sebuah meja yang sangat besar.


"Bersikap sopanlah sedikit!!" bentakku pada Aria.


"Diamlah aku sedang membaca, lihat ini!!!!" protes Aria. Aku mendengus dan menyusul Alice yang sedang mencari buku.


Aku mencari buku yang mungkin menarik perhatianku di samping Alice. Sepertinya buku-buku ini sudah disediakan pendahulu keluarga Himala, dan mungkin saja Alice ada hubungannya dengan Himala.


"Nah, Couria.." ucap Alice, lalu menghentikan tangannya yang tadinya sedang melihat buku satu per satu.


"Kenapa?" tanyaku sambil mencari-cari buku.


"Aku senang berada bersamamu" ucap Alice.


"Eh?" karena terkejut, aku menjatuhkan sebuah buku karena terkejut.


"Aduh ceroboh sekali diriku!! Kenapa aku bisa ceroboh begini?" ocehku sambil mengambil buku yang jatuh tadi.


"Aku sangat bahagia dan ceria bersamamu Couria! Kau membawa kebebasan padaku! Senang rasanya!!" ucap Alice sambil memasang wajah ceria ke padaku.


"Ah anu, kau tak bisa menyimpulkan orang yang baru kau kenal" ucapku. Mukaku merah padam, malu.


"Aku jujur Couria. Aku hanya ingin berterima kasih. Tanpa ragu kau mau membantuku mencari tahu masa laluku. Heava sering menceritakan tentangmu. Aku sangat antusias mendengarnya!!" ucap Alice sambil menunduk, mukanya juga memerah.


"Ba' baiklah! Aku akan membantumu! Lagipula itu perintah Ibuku!!" ucapku sambil mencari-cari buku. Alice tersenyum dan kembali mencari buku.


Beberapa lama kemudian saat kami sibuk membaca, Bibi Addle membawakan kue kering, satu cangkir teh, secangkir kopi dan secangkir susu.


"Aku suka susu.." ucap Alice


"Eh? Nona Alice tak mau teh?" tanya Bibi Addle. Alice mengangguk.


"Baiklah, saya ambilkan susu-"


"Ambil saja susuku, aku minum teh saja.." ucapku.


"Tuan muda? Baru kali ini anda begini!! Anda memang baik!!" ucap Bibi Addle.


"Biasa saja!" ucapku sambil membaca sebuah buku dan mengambil kue kering di toples.


"Terima kasih, Couria..." ucap Alice, aku mengangguk, masih sibuk dengan buku yang kubaca. Bibi Addle meninggalkan kami.


Saking asyiknya membaca buku, Bibi Addle sampai mencari kami.


"Tuan muda, Nona Alice, Nona Aria, maaf mengganggu, tapi ini sudah pukul tujuh. Brain sudah menunggu anda di ruang tamu, Nona Aria" ucap Bibi Addle.


"Pukul tujuh malam?" tanyaku terkejut. Bibi Addle mengangguk, mengiyakan.


"Kalau begitu, Alice! Aku bawa pulang buku-buku ini ya?" pinta Aria. Alice yang lugu mau saja memberikannya, Ia tak tahu sifat curang Aria yang kental. Aku tak bisa berkutit karena ada Bibi Addle disini. Aku mendengus sebal.


Kami kembali ke kastil. Aria pulang dengan bodyguardnya, Brain.


"Tuan muda, air panasnya sudah siap, di kamat mandi perempuan juga sudah" ucap Bibi Addle setelah kami berpamitan dengan Aria.


"Sekalian saja taruh sabun, handuk dan yukata di kamar mandi, supaya Bibi tak harus berkali-kali ke kamar mandi, dan antarkan Alice ke kamar mandi perempuan!" suruhku lalu pergi ke kamar mandi.


"Baiklah, Tuan muda! Ayo Nona Alice, kita ke kamar mandi..." ajak Bibi Addle. Alice mengangguk dan mengikuti langkah Bibi Addle ke kamar mandi.


Aku mandi seperti biasa, tapi yang berbeda, seluruh perlengkapan sudah lengkap. Aku bisa berenang dengan leluasa.


Aku mencebur beberapa kali, menggosok badan dengan sabun, dan kadang bicara pada salah satu makhluk halus di kamar mandi. Ia adalah Ikkye. Ikkye mati bunuh diri di kamar mandi karena pada saat itu keadaan Himala sedang kritis, sama halnya denganku saat ini. Mata kiriku bisa melihat mereka yang mati juga. Dan tentu tanpa segaja aku melihat Ikkye karena saat mandi aku harus melepas kain penutup mataku.


"Nah Couria! Kau tahu? Aku sangat kagum padamu! Kau masih tabah walau kau kehilangan Ibumu dan memiliki Ayah yang tak waras. Kasusku tak separah kau Couria, tapi aku malah mengakhiri hidupku. Saat melihatmu, aku sangat menyesal mati..." ucap Ikkye.


"Makanya, hargai sebuah kehidupan!!" ucapku menasihatinya.


"Aku jadi ingin berinkarnasi!!" ucap Ikkye dengan penuh semangat.


Selesao mandi aku membasuh diriku dengan handuk, memakai yukata dan berpamitan dengan Ikkye.


*****


"Aku akan terus mencarimu, kau harus menanggung semua ini, ini ulahmu, aku mencintaimu, tapi kau mengkhianati dan membohongiku, karena itu akan membunuhmu, karena aku sangat menyayangimu, Kerry"