
"Jadi hal yang harus kita lakukan saat ini hanyalah menunggu Couria sembuh?!" tanya Aria dengan sangat tidak ikhlas.
Ya, pasti dia terktekan kalau harus menungguku. Apalagi kalau seandainya Ayah malah membantai selama aku dalam masa penyembuhan.
"Itu benar paman, apa lebih baik aku langsung menerima undangan itu sekarang?" saranku.
"Jangan bodoh! Kalau kau gagal di saat terakhir, yang ada malah kekacauan! Iya, aku tahu! Membiarkan banyak orang meninggal juga buruk! Jadi, Pak Alter sudah memberiku perintah untuk mengulurkan tiga tim terbaik di sekolah untuk berjaga-jaga di jalanan sekitar Bell, nanti aku akan memanggil tim dua dan tiga agar penyampaian misi menjadi lebih mudah, " jelas Paman Arrie.
Jadi, sambil menunggu diriku sembuh, orang-orang membiarkan dirinya kelelahan dengan bekerja?! Siapa yang sudi?! Jauh lebih baik kalau aku ikut mereka!
"Apa aku boleh ikut?" tanyaku.
Paman Arrie tampak kesal saat aku selesai mengusulkan untuk ikut.
"Ah! Ya ampun, dasar bocah! Kalau kau merasa sudah lumayan sehat, aku mengizinkanmu!" ucap Paman Arrie dengan kesal.
Akhirnya! Kupikir aku akan dimakinya, tapi untunglah Paman Arrie mau menyetujuinya! Aku sangat senang!
*****
~Haeva
Aku kembali kesini lagi. Dimana bila bel itu berbunyi, pasti ada genangan darah setelahnya. Kuil yang amat suram dna menyedihkan.
"Dasar bodoh! Kau kembali dengan hasil kerja yang buruk! Bukankah kau sang wanita pembawa kedamaian? Tidak, kau malah mengacaukan semuanya!" ucap Raja Vaisa, sang Raja Bell pertama, dan pendiri negeri Bell.
Ia ada tepat di belakangku, aku membalikkan arah berdiriku ke arahnya, lalu memberinya hormat dengan menundukkan kepala sejenak.
"Maaf, saya gagal, " ucapku.
Aku telah melakukan kesalahan besar. Aku pikir, aku sudah bisa kembali, aku pikir, semua telah usai. Nyatanya, kepergianku malah menyuramkan segalanya.
"Apa? Aku tahu itu kesalahanmu, tapi inilah takdir. Kau ditakdirkan untuk melakukan hal bodoh!" komentar Raja Vaisa lalu tertawa.
"Ini bukanlah hal yang lucu!" protesku. Aku sedang sangat serius dan menyesal, tapi beliau malah membuat suasananya jadi santai.
*****
Pada abad ke-18, sebuah desa dengan sebuah suku berdiri. Desa dan suku tersebut dinamai Bell, karena sebuah kuil yang sangat dihormati di desa. Kuil itu diketuai oleh Pendeta Rail Bell. Pendeta Rail Bell memiliki seorang putri yang tak lain adalah diriku, Heava Bell.
Aku dijodohkan kepada Vaisa, anak dari Solma, ketua suku Bell saat itu.
Namun, suku Bell tak pernah damai. Karena kekayaan sumber daya alam di daerah kekuasaan suku Bell, suku-suku, bahkan negara lain menhincar dan menjajah hak kami. Karena hal itu juga, Tuan Solma meninggal di tangan penjajah. Kekuasaan Tuan Solma dialihkan ke Vaisa.
Vaisa ingin membuat desa sekaligus sukunya sebagai sebuah negara, segera setelah merdeka. Ia bahkan membicarakan keinginannya tersebut ke seluruh warganya.
Karena Pendeta Rail Bell merasa tak membantu dalam mengusir penjajah sama sekali, ia sangat ingin membantu, meski dengan cara sehina dan seburuk apapun.
Diam-diam, beliau menculik anakku sebagai persembahan kepada Iblis dan memohon kepada para Iblis untuk membantunya mewujudkan Bell yang damai.
Iblis-iblis itu tak menerima anakku, mereka membuangnya begitu saja entah kemana.
Iblis-iblis itu memang benar-benar membantu. Mereka juga berhasil membantu kami. Namun, sebelum semua itu terwujud, yang ada, Bell hanya menjadi lautan darah dan penuh kesengsaraan.
Para Iblis menyerap daya hidup hampir seluruh warga Bell, termasuk Pendeta Rail Bell sendiri dengan merasuki mereka. Mereka semua menjadi manusia kanibal, saling makan memakan.
Dan saat wabah itu makin parah, anakku muncul dan merelakan badannya untuk menjadi wadah kutukan para Iblis, termasuk sang Raja Iblis yang ada di tubuh Pendeta Rail Bell.
Karena aku baru tahu kalau anak yang mengaku bernama Nati itu adalah anakku sendiri saat ia sudah tiada, aku benar-benar menyesal dan bunuh diri sambil membawa bendera Bell yang selalu berkibar di atas menara Bell, dengan harapann semoga aku dna anakku dapat membawa kedamaian pada suku Bell yang akan menjadi sebuah negara.
*****
Aku lahir kembali sebagai putri dari Pendeta Agrna Bell, Pendeta yang lagi-lagi merupakan Pendeta kuil Bell sekaligus keturunan Pendeta Rail Bell. Namun, aku menyandang marga Noria, yakni marga Ibuku, karena di usiaku yang ke lima tahun, Pendeta Agrna Bell tewas karena penyakit jantung dan digantikan oleh Ibundaku, Elizabeth Noria. Aku diberikan kemampuan khusus untuk melihat diriku yang dulu dan yang akan datang, demi tugas mengstabilkan keadaan para bangsawan di Bell.
Ternyata, hanya ada satu cara untuk membuat keadaan para bangsawan stabil, yakni peperangan. Namun peperangan ini bukan untuk menghasilkan satu marga bangsawan pemenang, melainkan masing-mawing marga hanya akan mewakilkan salah satu anggota keluarganya untuk berperang. Sedangkan anggota marga lainnya tak perlu melakukan pertumpahan darah.
Agar perang itu tak menyelakai orang yang terlibat, san agar perang tersrbut berjalan sesuai aturan, aku diturunkan untuk mengawasi perang tersebut.
Namun, kecerobohanku justru menewaskanku. Salah satu peserta perang, Hary George membunuhku. Ya, orang-orang dari marga George merasa tak senang akan aturan-aturan yang berlaku dalam perang menara Bell.
Setelah aku tiada, aku dengar dari beberapa orang dan dari pengawasanku di alam ini, menara Bell yang berada tidak di dunia manusia, menara Bell yang berada di Pitra Loka, kalau perang menara Bell amat kacau.
Aku sangat ingin kembali ke bumi, namun, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan hal itu.
*****
Setelah gagal di kedua kali reinkarnasiku, aku lagi-lagi gagal saat ini. Jack Himala mengalami kesalah pahaman yang amat parah karena cinta Alice pada Tenbri Himala yang terlalu besar.
Ingin rasanya segera ke bumi untuk menyelesaikan perselisihan antara Jack Himala dan anaknya sendiri, Couria Himala.
Namun kini semua sudah terlambat. Couria hanya bisa melakukan satu hal, yakni membunuh Ayahnya sendiri. Namun, putra Jack Himala yang juga merupakan putraku itu kini sedang sangat bimbang. Membunuh Ayahnya sendiri pasti adalah hal yang amat sulit, fisik maupun batin.
Setelah melakukan banyak kesalahan seperti ini, aku pantas disalahkan. Tidak, bahkan aku pantas dihukum seberat-beratnya.
"Apa anda tidak menghukumku?" tanyaku.
"Untuk apa pula, lagipula bila kau dihukum, wku bukanlah algojo untukmu!" ucap Raja Vaisa
"Lalu, apa kau tidak akan memberiku tugas?" tanyaku.
"Meski aku bisa memerintahkanmu, aku bukan Tuhan! Aku tak bisa menurunkanmu begitu saja, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang bisa melakukannya!" ucap Raja Vaisa.
"Bukan begitu! Maksud saya, berikanlah saya perintah setelah saya kembali lah-"
Tiba-tiba, aku terangkat ke langit. Apa yang terjadi?
"Masa kau tidak tahu, Haeva? Lihatlah, Tuhan memberi kita jalan! Kau diberi kesempatan turun ke bumi!" seru Raja Vaisa dengan sangat semangat.
Ini adalah kesempatan besar! Bahkan pendosa sepertiku, masih diberikan kesempatan. Tuhan Maha Pengampun, hanya doa yang bisa saya panjatkan.
"Ya! Tuntunlah Couria Himala untuk membunuh Ayahnya! Hanya kau yang dapat melakukannya!" perintah Raja Vaisa.
*****
~Couria
Huh, benar-benar membosankan! Karena luka yang disebabkan peluru Ayah, aku tak bisa melakukan apa-apa di jam pelajaran olahraga seperti ini! Paman Arrie memintaku untuk berdiam diri kelas.
Melihat jendela kelas hanya akan terkesan beberapa menit pertama, setelah itu aku amat bosan. Mencorat-coret halaman belakang buku sudah, membaca novel juga sudah. Tetap saja, masih terasa bosan.
"Ada yang ingin kubicarakan... "
Tiba-tiba, aku mendengarkan bisikan wanita tepat di samping telinga kananku, padahal tak ada siapapun. Namun, rasanya, aku mengenal suara wanita itu. Tidak, mungkin dulu aku sangat sering bertemu dengan pemilik suara tersebut.
Beberapa waktu setelah aku mendengar bisikan itu, kepalaku mulai terasa pusing dna amat berat, lukaku serasa sakit lagi, hingga tanpa sadar aku sudah terjatuh di lantai. Apa wanita yang berbisik tadi itu merupakan semacam makhluk astral?
*****
"Apa kabar?"
Tiba-tiba aku berada di ruangan putih yang hampa. Dan tepat di depanku, Ibu berdiri sambil menanyakan kabarku. Yang berbeda dari biasanya adalah, pakaian Ibu yang mirip kesatria dan bendera negara Bell yang dibawanya.
Ingin rasanya langsung memeluknya, tapi, mungkin saja kedatangan Ibu ini bukan untuk hal sepele seperti itu, pasti ada maksud khusus.
"Seperti yang Ibu lihat, dibilang sehat tidak, tapi sakit pun tidak juga, " ucapku sambil menoleh ke arah lukaku.
Ibu langsung tertawa mendengarnya. Ya, itu bukan hal lucu ataupun hal yang mengerikan. Biar sudah ia mengekspresikan perasaannya.
"Sudah kuduga, anakku pasti selalu polos seperti biasanya! Tapi, maksud kedatanganku ini bukanlah reuni antara anak dan Ibunya, melainkan dengan maksud penyampaian hal yang serius... " jelas Ibu dengan gaya bicara yang mulai serius.
"Aku tahu itu. Jadi, apa yang ingin Ibu sampaikan padaku?" tanyaku dengan nada yang serius juga.
"Jangan terlalu tegang seperti itu! Sebelumnya, Ibu minta maaf karena kabur begitu saja dulu... " ucap Ibu sambil menundukkan kepala, berusaha menutupi wajah yang Ibu pikir merupakan wajah pendosa.
"Itu tidak benar Ibu, itu bukanlah kesalahan! Lagipula, Ayah melakukan hal sekeji ini, mungkin juga atas keinginannya sendiri. Ibu jangan berpikir kalau ia melakukan kekacauan ini karena Ibu!" bujukku.
Ibu lalu menghela nafasnya panjang, lalu tampak kembali serius.
"Aku tak hanya akan datang sekarang! Untuk sementara, aku akan sering mendatangimu atau muncul langsung di bumi, tujuanku sekarang adalah menuntunmu untuk membunuh Ayahmu sendiri! Aku yakin, keadaan hidupmu dan keadaan Bell memaksamu untuk melakukan hal itu, karena hal itulah yang harus kau lakukan!" jelas Ibu.
Sudah kuduga, hal inilah yang membuat Ibu sampai repot-repot datang kesini, bahkan ia akan kerap muncul demi membimbingku agar aku tak gentar untuk membunuh Ayahku sendiri.
Tapi, meski Ibu sekali pun muncul tetap saja, aku sangat takut dna enggan membunuh Ayah.
"Setelah perlakuannya terhadap banyak orang, bahkan dirimu sendiri, kenapa kau masih sangat ragu?" tanya Ibu.
"Beliau Ayahku, beliau juga sama seperti anda. Kasih sayangnya saat aku masih kecil, aku tak bisa melupakannya begitu saja!" ucapku sambil mengacak-acak rambutku.
Aku masih ingat betul, saat Ayah menggendongku keliling taman di menara Bell. Aku masih ingat saat Ibu sedang sibuk, Ayahlah yang menyuapiku makan, dan masih banyak kenangan lainnya yang selalu muncul tiap aku berpikir untuk membunuh beliau.
Belum lagi berdasarkan hubungan darah, beliau adalah "Ayahku". Membunuh Ayah sendiri? Aku merasa sangat gila!
"Sebelum terlambat, kau harus buang jauh-jauh keraguan dan ingatan-ingatan itu untuk saat ini dan saat terakhir nanti. Setelah kau menyelesaikannya, tak ada yang akan melarangmu untuk menangis. Dunia pun akan memberimu kesempatan untuk menangis. Tapi Couria, untuk saat ini saja!" pinta Ibu sambil menutupi wajah sedihnya dengan wajah serius.
Karena ingatanku tentang Ayah yang tiba-tiba muncul lagi dan menghantui pikiranku, lama-lama aku tak dapat membendung literan air mata di mataku. Ingin sekali rasanya membiarkan bendungan itu jebol dan mengeluarkan banyak air mata yang keluar.
Tapi Ibu juga benar, ini bukan saatnya! Setelah aku menyelesaikannya, aku boleh menangis sepuasnya!
Aku memang munafik san egois. Aku juga terlalu lemah. Belum juga apa-apa, aku sudah tak kuat lagi. Karena itulah, aku selalu bertanya-tanya, apakah aku pantas?
"Ibu, apa aku memang pantas untuk menyelesaikan tugas ini?" tanyaku sambil menundukkan kepala. Aku tak ingin air melihat wajah egois dan lemahku saat ini.
"Kalau kau masih mempertanyakan hal itu, sama saja kau sedang mempertanyakan keberadaan takdir dan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa!" seru Ibu.
Eh, apa yang?-
"Sudah jelas bukan! Takdir dan Tuhan Yang Maha Esa sendiri sudah berkata! Kaulah protagonis utamanya! Kaulah sang pahlawan dalam cerita ini! Jangan ragu sebelum tampak seperri cacing kepanasan! Bunga-bunga indah di menara Bell menunggumu kembali dengan kemenangan! Nati dan Tenbri pun akan sangat senang bila kau kembali dengan kemenangan! Majulah, cuma sedikit lagi!" ucap Ibu sambil menepuk-nepuk bahuku.
Baru kali ini Ibu menyemangatiku dengan cara seperti ini. Padahal Ibu yang selama ini kukenal adalah wanita lemah lembut. Oh, benar juga! Yang kali ini muncul di depanku bukanlah wanita lemah lembut, melainkan kesatria pembawa kedamaian!
"Apa aku harus percaya pada seorang wanita kesatria pembawa kedamaian sepertimu?" tanyaku.
Plak!!
Ibu menjitak dahiku. Benar-benar sakit!
"Yang benar saja! Apa kau ragu dengan perkataan yang aku ucapkan?! Apa kau ingin mengkhianati tenggorokanku yang kering setelah bicara panjang lebar?!" tanya Ibu dengan wajah yang sedikit marah.
Haah, sudah kuduga. Pertanyaan tadi itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah kulontarkan pada Ibu!
"Maaf! Yang tadi itu adalah pertanyaan dari otak udang!" ucapku sambil tersenyum dan mengelus dahiku yang sakit karena dijitak.
Ibu sekali lagi tertawa. Bahkan yang kali ini, tawanya sangat terbahak-bahak, bahkan ruangan hampa ini sampai bergema. Ini pertama kalinya aku melihat Ibu yang sangat senang setelah sekian lama tidak bertemu.
"Ah, kau mirip tokoh protagonis novel bergenre action pada umumnya ya!" ucap Ibu sambil menepuk-nepuk kepalaku.
"Benarkah?" tanyaku.
"Ah sudahlah! Aku harus kembali! Rasanya, Paman Arrie sedang membawamu ke ruang kesehatan sekolah! Kembalilah sebelum pamanmu khawatir secara berlebihan!" pinta Ibu.
Perlahan, tubuh kami dan tempat hampa ini memudar. Mungkin ini tandanya aku akan terbangun di dunia nyata sebentar lagi.
"Sampai jumpa lain waktu Ibu!" ucapku sambil melambaikan tangan.
"Yah! Ingatlah! Buang jauh-jauh otak udang simpananmu itu!" seru Ibu sambil melambaikan tangannya juga.