
Mengganggu? Siapa yang Indhira maksud? Apa maksudnya adalah Si COURIA atau ada orang lain lagi?
Ah entahlah. Kalau Indhira memang tulus dan ingin menolong dan menyembuhkanku, maka aku akan menerimanya dengan senang hati. Lagipula jarang-jarang wanita merk Aria baik begini.
*****
Setelah aku ditinggal sebentar, Indhira kembali dengan membawa semacam minyak. Entah apa fungsi dari minyak yang dibawanya, tapi kurasa Indhira tak akan melakukan hal buruk.
Saat Indhira menaruh mangkuk dengan minyak yang dibawanya tadi, seseorang dengan rambut putih, pakaian putih, namun dengan penampilan yang sama persis seperti Indhira masuk ke dalam ruangan yang Indhira sebut kamar suci ini.
"Indhira, ada orang datang!" ucap Si wanita serba putih itu pada Indhira.
"Oh, ia pasti gadis yang menjawab telepon tadi!" ucap Indhira lalu berlari keluar.
Gadis? Siapa yang Indhira maksud? Ah entahlah! Tapi, tak kusangka ternyata wanita merk Aria ini punya kehidupan yang aneh.
Ia memanggil dan membiarkan arwah mantan sopirnya untuk kembali bekerja sampai usia yang si sopir itu inginkan. Ada juga wanita yang sangat mirip dengannya, hanya saja, rambut dan pakaiannya serba putih.
Tak lama kemudian, Indhira datang bersama, Alice?! Mungkin Alicelah yang dikatakan "gadis yang mengangkat telepon" tadi.
"Nah, gadis. Kau ini, aneh ya? Kau hidup, tapi kau mati. Kau sangat sehat, tapi sangat sakit, tidak, bahkan seperti mati. Tapi, aura kehidupanmu juga terpancar sangat cerah. " ucap Indhira sambil menghidupkan dupa.
"Iya. Kehidupanku, bukan murni. Ini atas sebuah berkah. Seharusnya aku sudah mati. " ucap Alice sambil tersenyum.
"Oh, karena suatu mantra ya?" tanya Indhira.
"Jika dibilang mantra tidak juga sih. " ucap Alice.
Indhira pun mengucapkan mantra, namun dengan berbisik, tepat di depan tempat menghaturkan sesajen, lalu mengambil minyak dan berjalan ke arahku.
"Kau bisa duduk disana, gadis kecil. " ucap Indhira sambil menunjuk sebuah kursi.
"Terima kasih. " ucap Alice lalu duduk di meja yang ditunjuk Indhira.
"Buka bajumu, Couria. " pinta Indhira.
Oi yang benar saja?! Kenapa tiba-tiba ia malah memintaku untuk melepas bajuku?! Apa mungkin ia akan mengolesi minyak itu di tubuhku?!
"Jangan salah sangka! Aku hanya ingin mengolesi minyak ini dan memijat badanmu. Ini akan membuat penyakitmu keluar. " ucap Indhira sambil tertawa.
Sudah kuduga, tapi, baru kali ini aku diberi teknik pengobatan pemijatan. Biasanya, kalau saat kecil aku tidak enak badan, Ibu hanya memberiku obat.
"Hanya baju kan?" tanyaku.
Indhira menjawab hanya dengan mengangguk.
Karena sudah tidak ragu, aku melepaskan bajuku dan bersiap mendapat pijatan untuk pertama kalinya.
"Baiklah, aku mulai dari tangan kananmu. " ucap Indhira sambil mengambil tangan kananku dan mengolesinya dengan minyak.
Indhira memulainya dengan mengolesi telapak tangan kananku minyak, lalu menekan-nekan tanganku dengan jarinya, sesuai titik pijatan yang sudah Indhira tahu.
Awalnya terasa nyaman, namun, di beberapa titik, rasanya sakit. Kadang sangat sakit, hingga ingin rasanya menyuruh Indhira menghentikannya. Dan justru di titik yang menyakitkan itulah, Indhira mengumpulkan tenaga sebanyak-banyaknya dan menekannya dengan sangat keras.
"Jangan terlalu keras!" pinta Alice dengan suara yang bergetar dan terdengar seperti ketakutan.
"Gadis, justru, di titik yang paling menyakitkanlah yang penekanannya ditingkatkan. Dengan begitu, rasa sakitnya akan hilang seiring waktu. " ucap Indhira sambil meningkatkan tekanan jarinya pada titik di tanganku yang sakit.
Ingin rasanya menendang Indhira. Tapi, ini pengobatan. Tanpa sadar, aku sudah berteriak kesakitan sesekali. Dan kadang juga ingin melepaskan tangan Indhira dari tanganku, tapi tanpa sadar.
"Baiklah, disini hanya sisa. " ucap Indhira sambil melepaskan tangan kananku.
"Couria, kau baik-baik saja?" tanya Alice.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Sungguh, karena saking sakitnya tadi, aku jadi enggan bicara.
Proses seperti tadi juga dilakukan di tangan kiriku, kedua kakiku, dan punggung. Semuanya terasa sama sakitnya seperti tangan kananku tadi. Hingga aku merasa kehilangan banyak tenagaku.
"Tubuhmu hampir dikuasai sepenuhnya oleh orang itu! Ya! Bertahanlah Couria! Aku akan memijat kepalamu, ini yang terakhir. " ucap Indhira dengan sangat serius.
Dengan rasa terpaksa, aku menganggukkan kepalaku. Indhira pun memulai proses yang sama pada kepalaku.
Tepat di kepala bagian kiri, tepatnya di samping mata kiriku, rasa sakitnya teramat sangat, jauh lebih sakit dari yang lainnya.
Aku sampai bergerak tak karuan, berusaha menahan rasa sakit. Samar-samar kudengar suara Alice yang menyuruh Indhira menyudahinya. Dan rasanya, tangan kananku dipegangi tangan mungil, hangat, dan lembut yang tak salah lagi merupakan tangan Alice.
Tapi lama-lama, semua makin tak terasa. Dan perlahan, aku masuk ke dalam ruangan yang serba putih.
Di sana, ada seorang pria yang sedikit mirip denganku. Namun bedanya, tubuhnya penuh coretan mantra kutukan. Bola mata kananya berwarna hitam, dan tampak hampa. Sedangkan, mata kirinya dibaluti perban. Lalu, di kepalanya terikat pita hitam, dan hanya menggunakan kain hitam putih sebagai bawahan, ia tak menggunakan baju.
"Siapa kau?" tanyaku.
"Nama bukanlah identitas. Lagipula, aku tak punya identitas. Lagipula, meski kau tahu namaku sekalipun, tak akan ada informasi berarti untukmu. " ucap pria di depanku dengan senyuman yang sudah jelas bukan senyuman bahagia.
"Tak masalah! Asal aku tahu namamu, itu susah cukup!" ucapku dengan tegas.
Pria di depanku itu tampak heran. Setelah itu ia tertawa terbahak-bahak. Memangnya apa yang lucu?! Apa ia sakit jiwa?!
"Ya sudah! Namaku adalah Nati. Hei-hei, harusnya kau tahu artinya!" ucap Si pria yang mengaku bernama Nati itu.
Kalau tak salah, Nati adalah bahasa Sansekertha yang artinya adalah, tidak ada.
"Jangan bercanda! Siapa coba yang namanya tidak ada?!" tanyaku dengan rasa kesal.
Si pria yang mengaku namanya Nati itu kembali tertawa terbahak-bahak. Heh! Wajar saja ia tertawa begitu! Ia pasti sedang mengolok-olok diriku! Yang benar saja, aku tak sebodoh itu!
"Aku tak bohong! Akan aku jelaskan masa laluku. Tapi dengan satu syarat!" pinta si pria yang mengalu namanya Nati itu.
"Apa?!" tanyaku.
Dia memintaku untuk meminjamkan tubuh agar bisa dengan mudah bicara dengan Indhira dan Alice?! Memang apa tujuannya menjelaskan dirinya sendiri pada orang yang tidak bersangkutan?!
"Mereka perlu tahu, semua dunia perlu tahu. Dengan begitu, aku akan merasa puas dan pergi ke alam sana. " ucap si Nati.
Kalau dipikir, mungkin ia arwah liar yang sangat menderita dulunya. Meski aku sangat tak terima, tapi akan lebih baik kalau aku ikut membantunya pergi ke alam kematian dengan tenang.
"Baiklah!" ucapku dengan rasa enggan, tapi, lebih baik begitu sih.
"Terima kasih!" ucap si Nati, lalu, tak lama kemudian, aku merasa bergesekan dengannya, lalu diam dalam satu tubuh yang sama, namun, tubuhku dikelola olehnya.
*****
~Nati
Akhirnya, aku bisa melunasi penderitaanku! Ini juga demi si anak muda pemilik tubuh ini. Dialah yang juga menyimpan mata kiriku berabad-abad lamanya.
Aku memulai salam pembuka dengan tertawa. Ini akan membuat gadis paranormal yang memanggilku melalui pijatan tadi menyadari kehadiranku.
"Dia susah datang, gadis kecil!" ucap gadis paranormal di depanku.
"Meski kau tak berniat menyakiti pemuda yang membawa matamu ini, kau cukup membuatnya kesakitan tahu!" ucap si gadis paranormal padaku.
"Hahaha! Mau bagaimana lagi! Resiko karena membawa salah satu tubuh orang sepertiku memangalh sesakit itu! Kepribadian dua, bahkan sampai dijauhi empat saudaranya!" ucapku.
"Saking banyaknya kutukan yang ditanam orang-orang di tubuhmu, kau sampai dapat melihat dengan jelas, segala kegelapan di dunia. Mulai dari kegelapan kecil, sampai niat licik seseorang. " ucap si gadis paranormal di depanku.
"Sebenarnya siapa kau?!" tanya gadis satunya lagi padaku.
"Namaku adalah Nati!" ucapku dengan sangat percaya diri.
"Dari rasa sakit yang dapat kulihat dari pria ini, aku bisa tahu seperti apa masa lalunya. Ia adalah pria yang menjadi korban penderitaan orang-orang Bell di masa negara Bell baru terlahir. Karena depresi, stres, dan berbagai macam hal negatif di pikiran, orang-orang di Bell pada zaman dulu meninggal massal. Tentu saja, semakin banyak yang mati, orang-orang di Bell semakin depresi dan stres. Tapi, seorang pemuda tanpa nama, yang tak punya ikatan dengan siapapun, yang masih bisa baik-baik saja sendiri di Bell, yang tak lain adalah pria ini, menjadi sasaran pelampiasan stres, depresi, dan seluruh emosi orang-orang di Bell. Segala kutukan di ukir di tubuh pria ini, sangat banyak, hingga rasa depresi, stres, dan emosi para orang-orang di Bell terbayar lunas. Pria ini tak pernah kesal, dan pria ini justru sangat senang karena ia bisa melunasi penderitaan orang-orang di Bell. Namun, jasanya tak pernah diingat, ia pun menjuluki dirinya sendiri sebagai si Nati, yang artinya tidak ada. Di akhir hayatnya, ia mati karena penuh kutukan, dan satu hal yanh menjanggal di hatinya. Yakni, ia ingin mata kirinya dilindungi dan digunakan seseorang, dan orang itu serta beberapa rekannya, harus tahu masa lalunya, dengan begitu, ia akan lega. " jelas si gadis paranormal tentangku.
"Terima kasih banyak, gadis paranormal! Aku jadi tak perlu banyak bicara!" ucapku lalu tertawa lagi.
Padahal aku baru mau menjelaskan masa laluku pada orang-orang, tapi si gadis paranormal itu bisa menjelaskan semuanya dengan sangat lengkap.
"Tapi, kenapa Couria dan Tenbri bisa membawa matamu?" tanya gadis satunya lagi.
"Ayah Tenbri Himala, Eable Himala, berhasil menemukan sisa hidupku dan berhasil menemukan mata kiriku. Aku langsung menjunpainya dan memintanya menaruh mata itu pada anaknya, dengan jaminan, anaknya bisa memenangkan perang menara Bell. " jelasku pada gadis satunya lagi yang kelihatannya merupakan jodoh si Tenbri dan reinkarnasi Tenbri, si Couria, yang memiliki tubuh ini.
"Jadi, saat Couria lahir, mata kirimu yang ditanam di Tenbri ikut muncul?" tanya gadis paranormal.
"Kurang tepat. Tak seperti Eable, Jack Himala, Ayahnya Couria, adalah Ayah yang sangat tak manusiawi. Karena kematian istrinya, ia menyiksa Couria dan menvabut mata kirinya. Karena menderita, munculah mata kiriku di kelopak mata kirinya. " jelasku.
"Oh ternyata begitu. Sekarang semuanya susah jelas, terima kasih banyak, Nati. Besok, aku akan membuatkan upacara kecil untukmu. " ucap gadis kecil.
"Jangan besok! Aku ingin membimbing si Couria ini sampai ia mencapai hal yang harus dicapainya, yakni, membunuh Ayahnya sendiri. Karena, Ayahnya itu telah diracuni kepribadian ganda Haeva yang membentuk badan fisiknya sendiri. Saat ini, kepribadian ganda Haeva sedang berada di sisi Jack Himala.
"Oh begitu. Baiklah! Aku mengerti. Lakukan semuanya dengan lembut ya!" ucap si gadis paranormal.
Aku pun berpamit dengan kedua gadis itu dan Couria dengan menumyatukan kedua telapak tanganku, lalu kembali menelusuri negeri Bell dan melihat betapa bahagianya orang-orang zaman sekarang.
*****
~Couria
Meski tadi tubuhku diambil alih oleh Nati, aku tetap masih setengah sadar dan tahu semua pembicaraan Nati, Indhira, dan Alice.
Ternyata, Moyangku dulu yang sering masuk dalam sejarah Bell, Eable Himala, adalah Ayah dari Tenbri Himala yang sebenarnya adalah diriku dulu. Dan aku juga baru tahu, ada sebuah sejarah besar yang terhapus, yakni pengorbanan Nati.
Awalnya aku jengkel dengan orang itu. Tapi ialah guruku, ia juga yang memberi mata yang istimewa ini. Tapi, orang dalam mimpiku tadi malam masih belum kuketahui.
Banyak hal yang baru kusadari saat ini. Sungguh mengejutkan, mengherankan, menyeramkan, menyakitkan, menyenangkan, hingga membuatku merasa gila.
Padahal aku masih mengumpulkan energi untuk bangun, tapi aku justru merenungi hal-hal yang justru membuatku gila. Pijatan Indhira dan perasukan Nati membuat energiku terbuang sangat banyak.
Setelah merasa cukup energi, setidaknya untuk bangun, aku pun memaksakan diri untuk bangun. Di samping kananku, ada Indhira dan Alice. Mereka bedua tampak tersenyum saat melihatku membuka mata.
"Wah wah, kau sudah bangun? Kalau begitu baguslah! Kau tahu semua yang terjadi tadi kan?" tanya Indhira.
"Ya, begitulah. " jawabku pelan.
Sungguh, sebenarnya aku sedikit memaksakan diri. Saat mencoba menjawab Indhira tadi, suaraku sangat serak, sangat sulit untuk bicara. Kepalaku juga pusing, seluruh badanku terasa panas. Namun semua gejala itu lebih parah dibandingkan demam biasa.
"Apa kau sudah bisa pulang sekarang?" tanya Alice.
"Baiklah, tak ap-"
Tiba-tiba, Pak Made Budhasa berlari ke dalam kamar suci.
"Ada apa, Pak Made?" tanya Indhira.
"Tadi kepala sekolah anda menelpon, beliau bilang kalau ia butuh bantuan Nona dan Tuan Couria. Seorang siswa meninggal di lorong lantai tiga dengan perut yang hilang. " jelas Pak Made Budhasa.
"Hah?! Padahal belum ada satu hari. Pelakunya pasti sudah tak sabar dalam melakukan aksinya. Tapi sebelumnya Couria. Kau harus memanggil empat saudaramu!" pinta Indhira.
Empat saudara? Siapa? Tak mungkin empat saudara yang dimaksudnya adalah manusia.
"Empat saudara siapa?" tanyaku.
"Setiap manusia, sebenarnya terlahir dengan empat saudaranya. Tapi lebih baik kau tidak memanggilnya dengan namanya. Panggil saja si putih, si kuning, si merah, dan si hitam. " jelas Indhira.
"Bagaimana caraku memanggilnya?" tanyaku.
"Wanita yang tadi kau lihat dengan rambut dan pakaian putih itu adalah saudaraku, si putih. Umumnya, empat saudara tak punya wujud seperti kita, melainkan seperti arwah, yang selalu mengikuti dan melindungi kita. Tapi, aku bisa membuat wujud untuk empat saudaraku. Aku juga akan membantumu. Tenang saja, ini takkan sulit. " jelas Indhira.