The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Ketua



"Syukurlah kau sudah bangun!" ucap Paman Arrie dengan sangat lega.


Sesuai dugaanku. Saat aku pergi ke dimensi lain karena dipanggil Ibu, seseorang atau mungkin Paman Arrie sendiri membawaku ke ruang kesehatan akademi.


"Kenapa kau sampai pingsan begitu?" tanya Paman Arrie.


"Maaf! Tadi, aku lupa makan obat dan aku tadi sarapan sedikit, padahal, dokter melarang hal seperti itu!" ucapku.


Aku membuat alasan seadanya. Haah, pada akhirnya alasan apapun yang aku lontarkan, Paman Arrie tetap akan bawel atau mungkin khawatir berlebihan.


"Dasar keponakan kecil yang ceroboh! Kalau begini terus, kau akan sembuh dalam waktu yang lebih lama tahu!" ucap Paman Arrie sambil mendelik padaku.


Akhirnya benar juga kan? Paman Arrie pasti akan marah. Meski aku bernasib buruk karena memiliki Ayah yang keras kepala, arogan, dan mudah memiliki dendam, Paman Arrie sudah bisa menjadi sosok Ayah bagiku, padahal aku tak pernah menuntutnya.


*****


"Kakak Couria sudah makan bukan?" tanya Carrie dengan panik.


"Tenang saja, aku sudah makan kok! Kalau tidak percaya, tanya saja Paman Arrie!" ucapku sambil tertawa pelan.


Aduh! Karena tertawa, lukaku jadi sakit lagi! Lagi-lagi Carrie khawatir karena aku yang terlalu gegabah.


"Gara-gara kamu, kami sampai dipanggil kesini oleh Paman Arrie, dasar merepotkan!" protes Aria.


Cih! Namun ucapan Aria tadi cukup menyebalkan, namun ucapannya tak dapat aku salahkan sih. Aku memang merepotkan banyak orang.


"Dasar wanita tanpa kesabaran! Selain menjenguk Couria, kita akan bicara soal cara mengalahkan Jack Himala! Memangnya kau sudah lupa?!" singgung Indhira.


"Hah?! Hmmpph! Siapa yang mau percaya dengan wanita lemah sepertimu! Asal kalian tahu, tadi, Indhira kalah kelak oleh Zein lho!" singgung Aria.


"Hei-hei! Kau akan berpikir keras saat aku memegang sebuah benda tumpul!" ucap Indhira dengan sebal sambil memukul dahi Aria dengan dahinya sendiri.


Pertengkaran terjadi di antara mereka berdua. Mereka saling beradu tangan dan saling mendorong. Sesekali kata "bodoh!" dan "lemah!" keluar dari mulut mereka.


Ya ampun! Aku sudah menduga dari dulu kalau Aria akan kerap bertengkar dengan Indhira seperti ini, meski aku memiliki kesan mereka agak mirip. Ah, justru itu! Karena kemiripannya itulah mereka akan tidak akur diluar, tapi sebaliknya di batin mereka sendiri. Tumben aku merasa senang menganalisa sesuatu yang tersembunyi di dalam jiwa wanita bar-bar seperti Aria dan Indhira.


"Padahal ada orang sakit di depan kalian, tapi kalian malah bertengkar seperti ini?!" protes Zein sambil berjalan masuk ke ruang kesehatan.


"Eh, maafkan aku, Couria!" ucap Indhira padaku.


Aku membalas permintaan maaf Indhira dengan lambaian tangan sambil tersenyum. Bukannya malas menjawabnya, luka bekas tembakan ini selalu kambuh setiap aku mencoba bicara.


"Oi-oi Zein! Bisa-bisanya kau memarahiku tanpa tahu masalahnya!" seru Aria sambil memelototi Zein.


Aduh, saking bertolakannya sikap Aria dan Indhira, mereka malah jadi tampak mirip. Lama-lama aku jadi penasaran apa jadinya kalau aku mengatakan langsung pada mereka berdua kalau mereka mirip. Apa tanggapan mereka berbeda? Atau malah sebaliknya?


"Sudah kuduga, kalian memang mirip!" ucapku pelan.


"HAAH?!"


Itulah tanggapan spontan dari Aria dan Indhira. Yang lebih mengesankan, mereka memelototiku dengan tanggapan tadi secara bersamaan. Kesamaan di antara mereka tak dapat disembunyikan lagi!


"Couria! Mengatakan opini tanpa dasar adalah kesalahan besar! Kalau kau tidak ada bukti, buang saja pikiran seperti itu jauh-jauh!" ucap Indhira.


Baiklah, kini Indhira melanjutkan tanggapannya dengan sopan dan lembut. Yang tadi mungkin karena efek terkejut.


"Hmmph! Mirip dari mananya coba?! Aku disamakan dengan wanita lemah?! Apa kepalamu sempat terbentur, sampai bicara sembarangan begitu?!" protes Aria masih sambil mendelikku.


Sudah kuduga Aria akan bicara begitu. Lihat saja, sebentar lagi mereka akan lanjut bertengkar.


"Wanita lemah katamu?! Apa aku perlu mencongkel jantungmu?!" protes Indhira sambil mendelik ke Aria.


"Hah?! Memangnya wanita lemah sepertimu, bisa melakukan hal, seperti itu?!" protes Aria sambil mengepal tangannya dan siap untuk memukul Indhira.


Namun rencana Aria gagal, Indhira menahan kepalan tangan Aria yang hampir saja sampai di wajah Indhira dengan tangannya, lalu pertengkaran seperti tadi terulang lagi. Sangat sesuai dugaanku.


"Mereka berdua punya sifat sama yang paling identik, yakni sifat kekanak-kanakan mereka!" komentar Zein.


Nampaknya, Aria dan Indhira tak mendengar komentar Zein sama sekali. Mereka terlalu sibuk bertengkar dan saling menghina. Apa mereka sadar kalau pertengkaran seperti itu adalah hiburan bagi yang melihatnya?


Lihat saja! Tak hanya aku, Carrie dan Paman Arrie yang diam-diam datang ke ruangan kesehatan pun nampak tersenyum sambil menahan tawa masing-masing. Bahkan Zein pun mulai ikut terhibur!


"Aah! Kalau begini terus keadaannya, Pak Alter akan bagaimana ya?" singgung Paman Arrie sambil duduk di sebuah kursi yang ada di dekatku.


Tentu saja Paman Arrie sedang bercanda. Sontak Indhira dan Aria berhenti bertengkar. Tapi, apa Pak Alter akan benar-benar kemari.


"Maafkan aku, Pak Arrie... " ucap Indhira lalu duduk di sebuah kursi.


Paman Arrie hanya menanggapinya dengan mengangguk. Namun nampaknya Aria tak akan melakukan hal yang sama dengan Indhira.


"Apa?! Apa Pak Alter akan benar-benar kemari?!" tanya Aria dengan sangat tak percaya.


"Ah... untuk itu, sebenarnya kitalah yang diminta kesana. Tapi, karena luka Couria yang kambuh lagi ini, aku sudah minta tolong pada Pak Alter untuk kemari. Tenang saja, Pak Alter pasti akan kemari. Beliau bilang, ia akan kemari di sore hari saat jam pulang siswa, ini akan menjadi kesempatan yang sangat baik untuk membicarakan misi penting... " jelas Paman Arrie.


Selain semua rekan-rekan terdekatku, aku juga membuat orang tinggi seperti Pak Alter repot?! Yang benar saja! Apa yang bisa kulakukan untuk membalas segala perlakuan mereka semua padaku?


"Anu, Paman Arrie. Tidak, maksudku semuanya... " ucapku dengan gugup.


Aku sebenarnya ingin minta maaf. Tapi, apa hanya meminta maaf begini, aku bisa menebus segala perlakuan baik mereka padaku? Karena itulah aku masih sangat ragu. Aduh, kalau sudah begini, aku harus benar-benar minta maaf.


"Bisakah kau bicara dengan benar?!" protes Aria.


Aduh, aku baru ingat kalau Aria adalah tipe orang yang tidak punya rasa sabar. Kalau begini terus, aku harus segera ke topiknya.


"Semuanya, aku minta maaf!" ucapku sambil sedikit menunduk.


Akhirnya aku bisa bicara tanpa ragu. Tapi, apa iya hal ini mampu membuat jasa mereka terbalas? Apa yang harus kulakukan?


"Minta maaf kenapa?" tanya Paman Arrie.


Semua orang, kecuali Aria, nampak heran dengan permohonan maafku tadi. Yang benar saja! Apa jangan-jangan, mereka kesal karena aku hanya minta maaf?


"Hei Couria! Itu bukanlah kesalahan! Mungkin lebih tepat kalau kau berterima kasih! Tidak, apapun sebenarnya tidak perlu!" seru Indhira sambil tersenyum.


"Kadang kala, di saat misi, kami hampir tak berbuat apa karena kakak yang mengambil seluruh pekerjaan bukan? Kamilah seharusnya yang berterima kasih!" ucap Carrie sambil memegang bahu kiriku.


w2⅕⁴Zein dengan wajah menyesal.


Eh?! Ada apa ini? Aku hanya meminta maaf pada mereka, tapi kenapa malah mereka yang meminta maaf padaku? Ah, lupakan. Aku juga harus menanggapi mereka sebaik mungkin dan harus bertanya hal apa yang harus kulakukan untuk membalas perlakuan dan jasa mereka.


"Kenapa malah kalian yang meminta maaf padaku? Ah, selain itu. Meski rasanya aku tak dapat benar-benar membalas jasa kalian, apa aku bisa melakukan sesuatu untuk membalas jasa kalian?" tanyaku.


"Kenapa malah kami? Apa kau bercanda? Banyak hal darimu yang tak bisa kami balas, hingga kini!" ucap Zein, disusul dengan anggukan dari Indhira dan Carrie.


"Pertanyaan yang bodoh tapi tepat, Couria! Apa yang ponakan kecilku bisa lakukan untuk membalas jasa kami?! Tentu saja ada!" seru Paman Arrie dengan sangat semangat.


Apa-apaan ucapan Paman Arrie itu? Aku benar-benar tidak paham. Ah sudahlah, lebih baik aku mendengarnya...


"Apa itu, Paman Arrie?" tanyaku.


"Tentu saja, sembuhkan lukamu dan kalahkan Jack Himala beserta rekan-rekannya! Mungkin ucapan paman tadi terkesan cukup egois, tapi inilah yang harus kamu lakukan! Semua orang ingin kau melakukannya!" seru Paman Arrie.


Ya, Paman Arrie benar. Apa yang aku pikirkan? Mereka melakukan ini semua karena mereka ingin aku bisa menyelesaikannya dengan keadaan dan usaha terbaik.


"Hmmph! Untuk saat ini saja, aku mengandalkanmu, Couria!" seru Aria, meski tidak benar-benar ikhlas.


Semua mendukungku, bahkan Aria sekalipun. Kalau sampai begini, aku memang tidak boleh mengecewakan mereka, meski aku masih menganggap diriku ini orang lemah. Tidak, justru anggapan itulah yang haru kujadikan sebagai pendorong.


"Haduh, kalau semua begini, aku tak bisa setengah hati lagi! Baiklah, semuanya! Ayo kita selesaikan misi ini dengan keadaan dan usaha terbaik!" seruku.


"Nah, inilah yang namanya keponakan kecilkuku!" seru Paman Arrie, lalu disusul tawa semua teman-temanku.


*****


"Bagaimana keadaanmu, Couria Himala?" tanya Pak Alter.


Setelah jam pulang, Pak Alter benar-benar datang ke akademi. Meski kita tidak akan menerima permintaan perang dari Ayah hari ini, aku yakin Pak Alter akan memberi misi yang berkaitan dengan Ayah.


"Sudah jauh lebih baik!" ucapku dengan sangat bersemangat.


"Aku harap kau benar-benar mengatakan kebenarannya, karena aku membutuhkanmu. Maaf malah menuntutmu untuk segera bekerja, padahal kau sedang dalam keadaan sakit seperti ini... " ucap Pak Alter.


"Aku benar-benar sudah sangat baik saat ini! Lagipula, masalah-masalah yang terjadi belakangan ini di Bell memanglah tanggung jawabku, jangan dipikirkan... " jelasku.


"Itu baru anggota intelijen muda terbaik! Omong-omong, tim satu dari akademi ini baru selesai dibentuk karena ada dua anggota baru kan?" tanya Pak Alter.


"Begitulah Pak, " jawab Aria.


"Apa tim ini sudah memiliki ketua?" tanya Pak Alter sekali lagi.


"Untuk saat ini kami bergerak sesuai rencana hasil usulan masing-masing. Kami masih belum punya ketua yang dapat mengelola kami. Tapi, Ayahku sebagai pembina sudah dapat membuat regu kami menjalankan misi dengan lancar selama ini, " jelas Carrie.


Benar juga, tim kami belum memutuskan ketua tim. Apa hal itu memang harus kami lakukan? Aku rasa perkataan Carrie benar, Paman Arrie sudah membina kami smeua dengan sangat baik.


Tapi, memilih ketua tim juga rasanya diperlukan, karena suatu hari kami mungkin mendapat keadaan dimana tak dapat dibina oleh Paman Arrie, kami harus dapat mandiri.


"Baiklah! Siapa ketua yang ingin kalian usulkan? Mengusulkab diri sendiri juga tak masalah, aku yang akan mempertimbangkannya!" usul Pak Alter.


Hah?! Siapa ya? Baiklah, lebih baik aku absen orang-orang di tim ini. Tiga orang pertama yang mendirikan tim pertama ini adalah aku, Carrie, dan Aria. Dahulu, tim ini, yakni tim satu, adalah tim yang didirikan pertama kali di akademi. Lalu, kakak kelas kami juga mendirikan tim, sekiranya saat itu termasuk kami, hanya ada tiga tim, yang terdiri dari maksimal lima anggota.


Tim kami masih agak pemula, jadi, kami masih dapat disaingi, bahkan tim kami kadang tertinggal dari tim dari kelas yang lebih tinggi dari kami.


Namun, tim kami akhirnya menjadi tim terbaik hingga kini karena kami berhasil menyelesaikan misi menyelidiki pembunuhan berantai yang bahkan membuat kami harus membunuh si tersangka. Tepatnya, tim kamilah yang berani mengambil jalan membunuh.


Baiklah, lebih baik aku mulai memikirkan kandidat ketua dariku. Pertama, Aria?! Aah, mungkin ia memang kuat, ia juga berpengalaman, karena ia menjadi ketua osis akademi ini. Tapi, sifatnya yang keras kepala dan mudah marah itu tak dapat diandalkan. Justru aku pikir lebih mudah menjadi ketua osis dibanding ketua tim ini. Karena, sebagai ketua osis, ia hanya mengontrol siswa siswi akademi ini, sedangkan, ketua tim akan berhadapan dengan hal-hal ekstrim dan pikiran matang dan jernih harus tetap ada. Karena itulah, Aria belum cocok.


Kedua, Carrie. Kalau ia sih, boleh-boleh saja. Pintar, cerdas, cukup kuat. Tapi, yang membuatku agak ragu hanya satu, nampaknya Carrie akan sulit mendapat kepercayaan dari anggota tim yang usianya sedikit lebih besar, selain itu, Carrie sendiri pasti tidak mau menjadi seorang ketua.


Baiklah, aku lihat pada anggota baru. Pertama, Indhira. Indhira cukup cerdas, pintar, kuat, mungkin ia hampir sempurna bila dijadikan ketua. Tapi, dia baru pernah masuk tim seperti ini dan... keberadaan Aria mengacaukan kesabaran sekaligus otak cerdasnya.


Kalau Zein... ia sangat kuat, tapi sangat mudah marah, labil, bukannya menyinggung, dia juga agak bodoh dan payah kalau masalah otak. Karena itulah ia dimasukkan ke tim kami, agar kekuatan fisik tim kami dapat diseimbangkan, karena aku cukup payah dalam hal fisik, mungkin.


"Oi-oi, kenapa kau malah bingung, ponakan kecil paman?!" tanya Paman Arrie sambil tersenyum padaku.


"Eh?"


Tanpa kusadari, semua orang di ruang kesehatan akademi sudah menoleh ke arahku sejak tadi. Aku bahkan tak menyadarinya karena sibuk berpikir. Sial, aku malah jadi gugup!


"Tentu saja, ketuanya adalah-" ucap Paman Arrie sambil mengangkat tangannya.


"Kamu!" seru Paman Arrie sambil menunjukku dengan tangannya yang sempat diangkatnya.


Eh?! Yang benar saja?! Aku?! Kenapa aku?! Orang lemah, bodoh, naif, sepertiku?!


"Paman, apa jarimu salah arah?!" tanyaku.


"Ya! Seharusnya jari paman ada di depanku kan?!" tanya Aria dengan sangat percaya diri.


"Hei, siapa yang akan memilih wanita bodoh sepertimu?" singgung Indhira sambil tersenyum.


"Wanita lemah!" ejek Aria, dan lagi-lagi, mereka bertengkar.


Lagipula, apa Paman Arrie tidak waras, atau aku yang sedang halu? Apa ini mimpi?! Oi, apa ini! Aku tak bisa berpikir sehat!


"Paman, tolong cubit aku... " pintaku.


"Kamu sedang tidak mimpi Couria! Kaulah yang paling pantas! Entahlah, ada banyak alasan yang sangat panjang, intinya, kaulah yang paling pantas!" puji Paman Arrie.