
Jack mulai terpancing emosinya memandang pria dewasa dengan kumis tipis yang berdiri menantang di hadapannya.
" Aku tanya padamu, siapa kau!?!" bentaknya sekali lagi dengan mengepalkan tangannya, wajah Jack kini berubah menjadi memerah, darahnya kini mulai mendidih.
“ Baiklah, jangan terlalu emosi seperti itu. Namaku adalah Jade Jillary, orang-orang memanggilku dengan panggilan Jay.” ucapnya yang mulai melangkah mendekati Jack yang berdiri di depannya.
Tiada angin tiada hujan, amarah Jack mulai mereda dan urat-urat syaraf emosinya mulai menghilang, namun jantungnya kembali berdegup dengan kencang, suasana dalam jeruji besi kini menegang, Jack tak bisa melawan pada sosok pria yang baru saja memakinya ini.
“ K..Kau Jay si penyandera wakil presiden itu?” Jack mulai gugup dan tak percaya bahwa ia bertemu dengan sosok Jay si penyandera wakil presiden yang membuat heboh dua tahun lalu.
Jade Jillary atau bernama kriminal Jay adalah sosok spesialis kriminal yang menjadi kejaran pihak kepolisian sejak sepuluh tahun silam dan baru dua tahun ia terperangkap dalam jeruji besi ini yang mengatur segala gerak-geriknya. Jay adalah seorang yang berbahaya karena dia dikenal sadis dalam beraksi.
“ Tak perlu terkejut seperti itu, Jack.” gumam sosok pria napi itu yang ternyata bernama Jade Jillary atau terkenal dengan sebutan Jay itu.
“ Bagaimana bisa kau tertangkap?” tanya Jack dengan penuh rasa ingin tahu terhadap sosok laki-laki yang mendekam lebih dulu di jeruji besi ini.
Jade Jillary mulai menceritakan semuanya ketika ia mendapatkan perintah dari salah satu musuh dalam politiknya, dan ia di sewa untuk menyandera dan membunuh wakil presiden dengan misi khusus dan dengan bayaran yang sangat mahal, namun nasib buruk berbalik kepada Jay, polisi berhasil menangkapnya dengan menembakan peluru pada kakinya sama persis dengan apa yang dialami oleh Jack, hingga ia mendekam di jeruji besi seperti ini dan menunggu eksekusi kematiannya.
Jay bukan hanya memiliki misi menyandera wakil presiden namun ia juga telah memiliki segelintir catatan pembunuhan lainnya seperti membunuh dua buah keluarga, seorang lelaki tua, merampok rumah, merampok lima bank di Kanada dan membegal puluhan orang di jalanan sepi untuk mendapatkan harta dan kendaraan dari korban. Bukan hanya sebagai pembunuh, tetapi dia juga adalah seorang bandar narkoba dan sabu-sabu yang telah sekian lama dicari radar keberadaannya.
“ Untuk awalnya aku senang menjadi sosok orang yang ditakuti orang-orang, aku bangga dengan kejahatanku. Aku bisa membunuh kapan saja yang kumau, tapi ternyata aku mengidap gangguan jiwa, aku senang melihat orang menderita, aku menjelma menjadi sosok psikopat yang haus akan darah dan ingin terus membunuh.” ujar Jay yang menceritakan kisah kelamnya.
" Aku tak bisa berhenti dari kecanduanku untuk membunuh orang lain, rasanya sangat bahagia dan puas ketika aku melakukannya." tambah Jay dengan menatap tajam mata Jack.
Jack hanya diam mendengarkan pria ini bercerita tentang kisah kelamnya yang menjadi seorang yang memiliki gangguan jiwa dan terobsesi untuk selalu membunuh orang lain di sekitarnya, Jack sangat tertarik dengan semua lika-liku kriminal yang dilakukan Jay sebelum terkunci dalam penjara ini, ia sudah mengetahui Jay sebelumnya dari berita dan acara televisi.
“ Namun, kau tahu dulu aku hanyalah anak biasa yang tak sedikitpun terlintas untuk melakukan kejahatan. Aku pendiam dan berkawan baik dengan semua temanku.” Katanya dengan menghela napasnya mengingat kejadian dimana ia hanya seorang anak biasa yang baik budi dan pekertinya.
“ Lalu, mengapa kau menjadi brutal, Jay?” ucap Jack yang mulai penasaran dengan kisah Jay sang raja kriminal.
“ Aku berubah menjadi seorang pembunuh brutal karena kematian keluargaku, aku membalaskan dendam untuk keluargaku namun aku melampaui batas dan mengulangi pembunuhan itu secara terus menerus hingga membunuh menjadi sebuah hobi baruku.” jawab Jay yang mulai mengenang kisah sendu beberapa tahun silam ketika ia tengah berulang tahun.
Malam itu, tepat di hari ulang tahun Jay yang ke-10 kebahagiaan berubah menjadi kemalangan. Seseorang dengan pakaian serba hitam datang membobol rumah keluarga Frank Jillary, keluarga Jade Jillary. Terdengar seseorang mencoba memecahkan kaca jendela, hal ini sontak membuat Frank dan istrinya terbangun.
“ Suara apa itu, Frank?” tanya Laisa dengan nada panik sembari membenahi rambutnya.
“ Biar aku yang periksa.” jawab Frank yang beranjak dari kasur dan membawa sebuah tongkat pemukul baseball sebagai senjatanya. Frank dan Laisa mulai memeriksa keluar.
“ Hati-hati, Frank.” gumam Laisa dengan menggigiti kukunya karena rasa panik yang menjelma di batinnya. Frank mengangguk mengiyakan sembari menuruni tangga.
“ Biar Sam yang membantu Ayah untuk memeriksa.” ucap Sam dengan menyusul ayahnya yang menuruni tangga dengan perlahan-lahan. Jika benar ada rampok di rumahnya Sam akan siap menjadi tameng bagi keluarganya. Laisa hanya menepuk pundak Sam.
Sam dan Frank mulai menuruni tangga menuju lantai satu, terlihat sebuah kaca jendela pecah dan serpihannya berhamburan di lantai. Siapa yang malam-malam seperti ini berani meneror keluarganya. Sam kala itu hanya tertegun menelan ludahnya karena khawatir.
Tiba-tiba sosok bayangan hitam muncul dari sebelah kanan dengan mengayunkan sebilah pisau yang besar dan panjang layaknya sebuah pedang.
“ Ayah!” teriak Sam. Pria itu mulai menyayat punggung ayahnya hingga membuat baju tidur Sam tersembur darah ayahnya. Sam mulai panik dan ketakutan, ia berlarian menaiki tangga memberi kabar duka bahwa ayahnya tewas ditangan pria hitam dengan samurai itu.
“ Ayah tewas.” ucapnya yang terengah-engah sembari wajahnya ketakutan dihiasi dengan darah yang menempel pada bajunya.
“ Ada seseorang dengan pedang membunuh ayah, Bu.” tambahnya dengan nada panik, sontak membuat Jay yang masih kecil saat itu menangis. Laisa mulai meminta anak-anaknya untuk bersembunyi dan masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Suasana malam dirumah Jillary menjadi sangat mengerikan padahal sebelumnya ia tengah merayakan pesta ulang tahun anak bungsunya, Jade Jillary yang tak lain dan tak bukan adalah Jay.
Hari itu Sam sebagai kakak sulung meminta Jay adiknya untuk bersembunyi di bawah kolong tempat tidur dan memintanya untuk diam tanpa suara. Sementara Sam mencoba menutupi Jay dengan kain hitam agar tidak ketangkap dan dibunuh oleh pria tanpa identitas itu. Terdengar suara pintu diketuk dengan sangat keras.
“ Jay, masuklah. Sebelum pria itu berhasil membuka pintu.” pinta Sam pada Jay dengan nada yang lirih.
“ Lalu, bagaimana dengan kakak?” tanya Jay yang kala itu masih berderai air mata memandang kakak tertuanya itu.
“ Aku akan baik-baik saja, kau ikuti perintahku, Jay. Cepat masuk!” Perintah Sam pada Jay, dengan segenap hati Jay mengikuti perintah kakak sulungnya itu.
Terdengar pintu di bobolnya hingga membuat gagang pintu itu rusak. Pria hitam dengan samurai dipunggungnya mulai menghampiri Sam yang tengah berdiri kokoh menggenggam sebuah tongkat baseball miliknya.
“ Pergi dari rumahku.” teriak Sam dengan nada sedikit ketakutan sembari matanya yang mulai agak memerah karena cemas.
“ Aku takkan pergi sebelum semuanya mati.” jawab pria itu dengan suara yang amat berat. Pria itu mulai mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan mengarahkan sebuah pistol kepada Sam yang tengah berdiri kokoh dengan tongkat baseball kesukaannya.
“ Selamat ulang tahun.” ucap pria hitam itu dengan menembak kepala Sam. Sam jatuh tersungkur dengan darah yang memenuhi kepalanya.
Pria itu mulai mencari sosok anak kecil yang bersembunyi sembari ia memanggil-manggil namanya.
“ Jay kemarilah, jangan takut. Ambil hadiah ulang tahunmu.” ucap sosok pria pedang itu dengan nada yang menggoda bagi anak-anak.
Jay kala itu mencoba menahan tangisnya dengan menutup mulutnya dengan tangannya. Terlihat sepasang kaki yang sedari tadi berkeliling mencarinya.
“ Baiklah, jika kau tak mau keluar. Aku akan pergi.” ucapnya kali ini pria itu mulai memancing sosok anak kecil itu untuk keluar, namun Jay teringat dengan pesan yang diucapkan kakaknya, Sam yang memintanya agar tidak keluar dari bawah kolong tempat tidur sebelum pagi datang atau sebelum seseorang yang membantumu datang.
Jay tertidur di bawah kolong malam ini tanpa bisa keluar karena ia tahu bahwa perampok itu masih berkeliaran di rumahnya mencarinya.
Apakah Jay Junior akan selamat dari peristiwa pembunuhan massal yang menimpa keluarganya?