The Black Missions

The Black Missions
Eps. 37 Bad Dream



Di sebuah ruangan yang gelap dan sunyi dengan suasana yang sedikit seram mencekam dengan keadaan udara yang lembab menambah aura angker dalam ruangan tak berpenghuni ini, namun tiba-tiba terdengar suara seseorang yang meminta untuk masuk.


Terlihat seorang pria mulai dipaksa masuk dengan cara yang tak manusiawi dengan kaki tangan yang terikat rapat dan mata yang tertutup dengan sebuah kain hitam pekat hingga menghalau jarak penglihatannya.


“Buka ikatan matanya!” bentak seorang pria dengan suara lantangnya hingga membuat gema di seisi ruangan. Mendengar perintah itu membuat seseorang menarik paksa kain hitam yang menutupi mata sosok laki-laki yang sedari tadi meraung-raung memohon pengampunan.


“Ampuni aku, bos. Aku melakukan ini karena aku terpaksa, aku tak bisa menahan semua rasa dalam dadaku.” ucap sosok pria itu sembari menahan rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya, wajahnya mulai lebam karena hantaman demi hantaman ia terima hingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah segar dan pipi yang biru melebam.


“Apa yang bisa kuampuni dari sosok pengkhianat seperti dirimu, Jack? Apa selama ini kebaikanku kurang di matamu hingga kau membalas demikian padaku? Apa semua sikap baikku kurang!” bentak sosok pria berbadan besar dengan tato yang memenuhi seluruh tubuhnya. Jack hanya terdiam menatap sosok bos besar yang sedari tadi membelakanginya.


“Aku berjanji, aku takkan melakukan hal ini lagi, bos.” mohon Jack dengan mata yang masih berkaca-kaca penuh iba. Bos besar nampaknya masih menyimpan amarah dan dendam dalam hatinya hingga ia tak terbujuk oleh air mata Jack yang sedari tadi ia tahan agar tidak berlinang, karena menurutnya seorang lelaki pantang menangis.


“Bagiku pengkhianat tetaplah pengkhianat, tak ada yang harus dimaafkan. Aku bukanlah Tuhan yang bisa menerima segala pengampunan.” tegas sang bos besar genk-nya sembari melirik sadis ke arah Jack yang sudah lemah tanpa daya, yang lain dan bukan dia adalah Bob Markle.


“Habisi saja dia!” perintah Bob kepada seluruh anak buahnya sembari menyeringaikan bibirnya, mendengar perintah dari sang bos besar membuat beberapa anggota lainnya mulai meluncurkan aksinya tak peduli lagi bahwa Jack dulu pernah menjadi bagian dari mereka dan menjabat sebagai seorang panglima tempur dan eksekutor kematian dalam gangster mengerikannya.


Jack menjerit memohon ampun walaupun pukulan demi pukulan terus diberikan padanya hingga membuat mulutnya mengeluarkan darah dan staminanya mulai melemah terlihat kedua matanya mulai sayu seakan ia sudah tak kuat menahan rasa sakit yang menghantui seluruh tubuhnya. Tangan sang big bos mulai di angkat tinggi, nampaknya meminta seluruh anak buah untuk berhenti memukuli Jack O’Hammels yang sudah tak babak belur dan terbatuk.


Namun, tiba-tiba Bob mulai menghampiri Jack dan mulai menariknya hingga ia berlutut di hadapannya.


“Maafkan aku, bos. Aku janji, aku takkan mengulangi kesalahanku lagi.” ucap lirih Jack dengan mulut yang sudah dipenuhi darah dan wajah yang babak belur karena hantaman. Tanpa iba sedikitpun dalam hatinya, Bob Markle mulai mencengkram keras rambut Jack hingga membuat kepala Jack terangkat dan membuat kedua pria ini saling menatap satu sama lain.


“Aku akan tunjukan padamu, betapa bencinya aku terhadap para pengkhianat.” desis Bob pada telinga Jack, terlihat Jack tak melawan ataupun berkata sepatah kata apapun. Ia hanya memandang dengan tatapan mata yang penuh dengan penyesalan. Tiba-tiba Bob mulai menyeret tubuh Jack dengan sangat keras tanpa ampun hingga membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tertawa terbahak-bahak melihat peristiwa pilu seperti ini seakan ini adalah suatu hal yang menyenangkan dimana salah satu temannya tengah di beri hukuman dan diperlakukan secara tidak manusiawi.


“Inilah harga yang harus kau bayar, karena kau telah mengkhianati kepercayaanku, Jack kau memilih wanita itu daripada aku bosmu yang membesarkan namamu. Seorang pengkhianat tak pantas untuk diberikan ampunan. Sikapmu sudah terlalu jauh membuatku enggan untuk memaafkanmu.” ucap Bob yang terus menarik tubuh Jack dengan tali yang masih terikat di tubuhnya.


“Jack!!” teriak Jane yang mulai terbangun dalam tidurnya hingga membuat semua orang terbangun kaget dan berlari ke tempat dimana Jane terbaring. Terlihat Dormino mulai khawatir melihat Jane yang basah karena keringat dingin dan duduk di atas kasur dengan napas yang terengah-engah.


“Aku memimpikan Jack. Aku melihat kedua tangan dan kaki Jack diikat dengan tali dan tubuhnya di seret oleh sesosok pria berbadan besar dan menyeram dengan tubuh yang penuh dengan tato. Aku takut, bagaimana kabar, Jack? Apakah ia baik-baik saja?” kata Jane dengan wajah yang penuh ketakutan sembari ia menggigit kuku jarinya.


Syukurlah itu hanya mimpi, Jane masih berada di dalam kamar pribadinya bukan di sebuah tempat yang sunyi dan gelap dengan pemandangan penyiksaan manusia yang mengerikan.


Tiga pria itu mulai menghela napas panjangnya, namun dalam hatinya yang mulai diselimuti rasa khawatir melihat tatapan mata Jane yang kosong memikirkan nasib Jack, pujaan hatinya dalam mimpinya yang tengah tersiksa.


“Tenanglah, Jane, itu hanya bunga tidur saja. Aku yakin pria itu akan baik-baik saja, dia pria yang cerdik dan tak mungkin ia tertangkap begitu saja. Kau mempercayainya, bukan?” ucap Nick dengan membawakan segelas air putih dan meminta Jane untuk meminumnya agar hatinya lebih tenang.


Jane menoleh menatap Nick yang mulai menenangkan hatinya, sementara Dorm hanya diam dengan menahan air matanya yang hampir jatuh berlinang. Cinta yang bertepuk sebelah tangan mulai melukai batinnya. Sekian lama ia mendambakan cinta kasih dari Jane yang tulus padanya tetapi ternyata sia-sia. Tom mulai mengelus Pundak Jane dan memintanya untuk kembali tidur karena hari masih malam dengan jam yang masih menunjuk pukul dua.


“Tidurlah, Jane. Dia akan baik-baik saja selama kau juga baik-baik saja.” ucap Tom yang mulai mematikan lampu kamar Jane dan keluar meninggalkan Jane yang sudah terbaring di atas kasurnya.


Di sebuah ruangan kecil nampak sebuah kasur lipat dengan lemari kayu yang berdiri kokoh tak goyah walau dimakan waktu sebagai hiasan yang menghiasi seluruh ruangan itu, terlihat seorang pria tengah duduk memeluk lututnya di bawah tirai jendela.


“Tak ada yang bisa kulakukan, cinta tak mungkin bisa kupaksakan. Asal kau tahu, luka yang kau beri sangat dalam. Aku tak bisa menyembuhkannya dan maafkan aku, aku tak bisa bersikap profesional dalam setiap tugasku karena rasaku padamu ini sudah terlalu besar melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku tak bisa mengendalikannya lagi. Maafkan aku, Jane.” ucap lirih sosok pria itu yang ternyata adalah Dormino.


“Aku sungguh mencintaimu, Jane.” tambahnya lagi kali ini dengan menyandarkan kepalanya dan matanya memandang langit-langit kamar yang masih berhiaskan sarang laba-laba. Nampaknya, Dorm harus mengikhlaskan dan melupakan Jane demi kebaikan dirinya. Bukankah cinta tak harus memiliki?


Di pagi hari yang cerah dengan mentari yang bersinar dengan ramah terlihat segerombolan orang tengah mengerumuni sesuatu, nampaknya ada suatu hal yang telah terjadi semalam. Semua orang bergumam heran melihat seorang pria tewas bersimbah darah.


Mobil polisi mulai berdatangan dan mencoba membubarkan barisan massa, namun nampaknya usahanya sia-sia massa tetap tak mau minggir dan meminta untuk terus mencari tahu dan melihat penyidikan pihak kepolisian tentang kasus kematian misterius yang baru saja melanda sosok pria yang belum diketahui identitasnya ini. Ambulance mulai datang dan membawa tandu rumah sakit guna membawa jenazah korban pembunuhan.


Polisi mulai memberikan penjelasan bahwa sosok pria yang tewas dengan misterius tersebut diketahui adalah korban kekerasan karena terlihat luka sayatan pada lehernya yang sepertinya sengaja dilakukan oleh oknum tertentu. Penyidikan demi penyidikan terus dilakukan hingga sosok pria ini diketahui identitasnya.


Siapakah sosok pria yang tewas mengenaskan tanpa identitas ini? Apa kabar dengan Jack O’Hammels?