
Aroma Kematian masih tercium segar di rumah Jason.
Hari ini agak sedikit mendung, mentari nampaknya agak ragu tuk menunjukkan sinarnya, suasana dingin masih menyelimuti seluruh alam semesta terlihat beberapa orang mulai mengerumuni rumah besar di jalan Port Saint no. 28, New York, para warga menatap penuh heran melihat tiga orang penjaga berbadan besar yang terkapar tak berdaya dengan perut yang tersayat benda tajam yang menyebabkan darahnya tercecer di jalanan rumahnya.
Semua orang mulai bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada keluarga dermawan, Ary Jason semalam. Nampaknya mereka telah kerampokan.
Sungguh kejam perampok itu.
Beberapa mobil polisi juga mulai ikut berdatangan dan memasang garis kuning milik kepolisian di sekitar tempat kejadian. Aparat keamanan juga ikut turun tangan membubarkan massa yang berkerumun di depan rumah korban, dugaan sementara kasus ini adalah pembunuhan berencana yang di lakukan oleh seseorang pada keluarga Ary Jason atas perpolitikan.
Salah satu ketua dari partai Big Solidarity, Albert Barbara beserta staff lainnya juga ikut hadir dalam kejadian malang yang menimpa salah satu rekan kerja mereka yang beberapa hari lagi akan melaksanakan pemilihan parlemen.
Albert mulai mengusap wajahnya dan menyapu air matanya yang hampir jatuh menetes ketika melihat jasad Ary Jason yang terkapar dengan luka tembak di dadanya.
Ia semakin shock, melihat seluruh keluarga terbabat habis dengan cara yang sangat tragis dan bercak darah yang bercecer di lantai dan mengotori dinding rumah korban, ingin sekali ia marah tetapi ia tak tahu harus meluapkan amarahnya kepada siapa, orang yang melakukan kejahatan ini benar-benar tidak berhati manusia. Nampaknya memang benar ini adalah pembunuhan berencana yang di lakukan dengan sengaja.
Albert Barbara selaku ketua umum partai memberikan penghormatan terakhir pada Ary Jason dengan mengantarkan jasadnya beserta keluarganya hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kali ini, seluruh keluarga Big Solidarity benar-benar merasa kehilangan sosok hangat seperti mendiang.
Beberapa reporter dan juru kamera mulai mendatangi Albert yang tengah berdiri dan berduka untuk meminta penjelasan tentang kejadian tragis yang menimpa Ary Jason dan keluarganya.
Namun, Albert lebih memilih tuk tetap diam menutup mulutnya tanpa ada sepatah kata yang keluar, hatinya masih tak percaya bahwa tangan kanannya itu telah tiada secepat ini.
“ Berita hari ini, Ary Jason dan keluarganya tewas dengan misterius dengan luka bacokan dan tembakan di tubuhnya. Polisi menduga kejadian ini adalah bentuk pembunuhan berencana yang dilakukan oknum tertentu, menurut salah satu rekan kerjanya, Millen Ary Jason semasa hidupnya tidak pernah memiliki musuh dan ini pasti karena perebutan politik yang akan terjadi beberapa hari ke depan.” ucap salah satu pembawa berita dari sebuah stasiun televisi.
Di sebuah ruangan besar dengan penuh barang-barang mewah, terlihat dua orang berkemeja putih sedang duduk bersantai di atas sofa panjang nan empuk menyaksikan berita pagi yang mencengangkan dan menggebrak dunia perpolitikan negara sembari terhidang kopi hangat di depannya.
“ Lihatlah, rencana kita sudah berhasil, James.” gumam Mayora Bradle dengan tersenyum jahat.
Pagi ini, James nampaknya sedikit kurang enak badan, karena semalaman ia tak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan rencana pembunuhan sahabatnya itu, kini ia hanya melamun menatap layar kaca televisi besar yang terpampang di depan matanya, seperti ada sesuatu yang ia pikirkan dan mengganjal di relung batinnya.
“ Hey, James. Apa yang kau pikirkan? Kita sudah berhasil menyingkirkannya, seharusnya kau bahagia bukan malah melamun derita seperti ini.” senggol Mayora dengan terus tertawa jahat menatap James. James hanya tersenyum membalas perkataannya.
“ Apakah polisi akan menemukan kita dan menangkap kita atas kejahatan ini?” tanya James dengan terus menatap Mayora dalam-dalam seakan-akan inilah pertanyaan yang mengganjal dadanya di sepanjang malam.
“ Kau bicara apa, kau tahu polisi takkan menangkap kita. Orang yang membunuhnya kemarin itu adalah kriminal kelas kakap, jadi takkan ada apa-apa, santai saja.” jawabnya dengan meyakinkan James yang mulai terpikirkan tentang sebab dan akibat yang harus ia tanggung ketika semuanya terbongkar.
James mulai menyunggingkan senyum lega menatap Mayora yang duduk di sisinya.
“ Kita nikmati saja kemenangan ini.” ucap Mayora dengan mengangkat secangkir kopi panasnya ke arah James untuk bersulang atas pencapaiannya tentang kandidat parlemen yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
“ Aku ingin kasus ini segera di tuntaskan dan pelakunya harus diberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang ia kerjakan, aku mau jasad Ary Jason tenang di alam sana.” tegas Albert Barbara yang menekan kinerja seluruh aparat keamanan negara.
“ Baik, pak. Kami akan mengidentifikasi dan mencoba mencari barang bukti di sekitar rumah korban.” sahut salah satu jendral keamanan dengan sigapnya, terlihat beberapa bintang dan lencana tergantung rapi di seragam hitamnya menunjukan bahwa ia sangat bagus dalam setiap kewajibannya.
“ Laksanakan sampai tuntas, aku tak mau pembunuh itu berkeliaran.” tambahnya dengan makin tegas menatap penuh amarah kepada sosok pembunuh yang berani menghabisi nyawa Ary Jason tanpa sebab akibat.
Hari itu aparat kepolisian mulai menyidik kasus yang menimpa keluarga Jason, mereka menyusuri sekitar rumah mencari barang bukti yang mungkin saja bisa menjadi acuan untuk menangkap pelaku pembunuh keluarga Jason dan ketiga penjaganya.
Mereka mencoba meneliti semuanya dari mulai bercak darah di dinding, gelas yang jatuh di dapur hingga barang-barang lainnya.
Namun, tiba-tiba sesuatu yang mencurigakan muncul pada sebuah kursi kayu yang ada di depan sebuah kamar keluarga Jason.
“ Pak, lapor. Saya baru saja menemukan sebuah sidik jari pada kursi, kurasa ini bukanlah sidik jari dari Pak Jason.” ucap seseorang polisi kepada atasannya yang sedang mencari kesana kemari barang bukti.
"Tunjukkan padaku." ujar kepala polisi itu mengikuti arahan anak buahnya.
Kemudian dengan sigap, kepala polisi itu mulai memeriksa sidik jari itu dan meminta sebuah alat pemeriksa sidik jari yang bernama MAMBIS.
MAMBIS merupakan alat hitam yang bentuknya persis seperti mesin gesek kartu kredit, alat ini mampu mengindentifikasi seseorang melalui sidik jarinya hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu menit.
Seorang polisi mulai mengeluarkan alat itu dari tas ransel kecil miliknya, dengan sangat hati-hati ia mencoba mendekatkan alat itu pada sebuah sidik jari yang terekam di sebuah kursi kayu, semoga saja pelaku segera di temukan agar bisa di berikan hukuman yang setimpal atas perbuatan kejam yang dibuatnya.
" Aku sudah menduganya." gumam kepala polisi itu dengan menganggukkan kepalanya seakan ia tahu siapa pelaku sebelumnya.
"Ikuti aku, kita akan buat rencana baru." tambahnya dengan meminta seluruh anak buahnya berkumpul menjadi satu.
Sementara, di sebuah gudang rahasia yang jauh dari pengetahuan massa adalah sarang perkumpulan sang King Gangster masih terlihat senyap tak ada pergerakan sama sekali. Mereka masih bersembunyi dan tak mau pergi meninggalkan markas rahasia mereka.
Tak biasanya mereka sepecundang ini, biasanya pasca mereka membunuh seseorang mereka pasti akan tetap berkeliaran kemanapun mereka mau, namun kali ini berbeda, seluruh anggota King Gangster memilih tuk mendekam diri di dalam markas, karena mereka amat tahu, orang yang baru saja mereka bunuh bukanlah orang sembarangan dan pasti sekarang polisi sedang berusaha mati-matian melacak dan mencari pelakunya. Ini akan berbahaya bagi mereka jika mereka berpergian kesana kemari.
Terlihat seseorang anggota di antara mereka berlari memasuki markas dengan sangat tergesa-gesa. Dia adalah Antonio Grake, salah satu penjambret tas dan penodong profesional di antara mereka.
“ Gawat, polisi sudah mengetahui markas kita, dan mereka mulai melacak keberadaan kita.” Ujar Antonio dengan napas yang terengah-engah membawa berita tegang untuk seluruh anggota Gangster.
Akankah King Gangster tertangkap dan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya atau malah polisi gagal membekuknya?