
Di sebuah ruangan yang cukup besar dengan cat berwarna putih bersih terlihat tiga pria dewasa tengah duduk menghadap sebuah berita televisi pagi ini.
“Sebuah mayat pria ditemukan di jalan Northwest Gloss nomor 12 dengan kondisi mengenaskan kepala yang tersayat benda tajam, polisi masih menyelidiki kejadian perkara yang terjadi. Dugaan sementara mengatakan bahwa sosok pria tanpa identitas ini tewas karena pembunuhan berencana dari oknum tertentu.” ucap salah satu pembawa berita pagi hingga membuat seorang wanita yang ada dalam ruangan itu menjatuhkan gelasnya.
“J..Jack??!” gadis itu mulai menggigil ketakutan dan duduk di atas lantai sontak hal ini mmebuat ketiga pria yang sedari duduk terdiam mulai beranjak dari kursinya dan membantu sosok gadis yang melemas dengan berderai air mata.
“Jane, apa kau tak apa-apa?” tanya Dormino yang mulai memapak tubuh Jane untuk duduk di sebuah kursi. Terlihat Nick juga mulai mengambilkan segelas air untuk menenangkan hati sosok gadis yang baru saja syok mendengar berita pagi. Dengan napas yang sesak, Jane mulai bertanya tentang sekilas berita yang baru saja didengarnya hingga membuat tubuhnya lemas tak berdaya.
“Apa pria yang baru saja tewas itu adalah Jack?” tanya Jane dengan nada lemas dengan tatapan mata yang kosong menatap ketiga pria yang melingkar di hadapannya.
“Tidak, dia bukan Jack.” jawab Tom yang mulai meyakinkan Jane bahwa itu bukanlah sosok pria yang dirindukannya.
“Tapi, semalam aku bermimpi jika Jack..”
“Sudahlah, Jane itu hanya mimpi. Tak semua mimpi itu benar, mimpi hanya bunga tidur.” sahut Dorm yang memotong ucapan Jane dengan menepuk pundaknya sebagai bentuk dukungan bahwa Dorm akan selalu ada bersamanya kapanpun dan dalam situasi apapun.
“Sekarang yang harus kau lakukan adalah berpikir positif. Semua akan baik-baik saja, percayalah bukankah kau percaya dengan Jack?” ujar Tom yang mulai menatap mata Jane.
Jane mulai mengangguk seakan ia terhipnotis dengan semua ucapan Tom.
“Kalau kau mempercayainya maka ingatlah ia akan baik-baik saja dan ia akan kembali padamu.” tambah Tom yang membuat Jane meminum airnya dan merasa sedikit lebih tenang.
Sementara itu, di sebuah markas yang jauh dari pemukiman warga terlihat beberapa orang tengah duduk melingkar dengan kepala yang tertunduk, nampaknya salah satu diantaranya memasang wajah masam dan ingin marah. Suasana pagi ini agak mencekam di ruangan ini.
“Brukk!” terdengar suara meja yang dipukul keras dengan tangan hingga membuat seluruh anggota yang tadinya diam mulai was-was dan jantungnya kini berdagup tak beraturan.
“Kita kehilangan sosok Brian. Siapa yang berani main-main denganku hingga berani merenggut nyawa salah satu anggotaku!” bentak seorang pria dengan perawakan tubuh yang besar dengan mata yang terbelalak seram dan wajah yang memerah. Semua anggota hanya diam membisu, kini gangster mereka telah dirundung kepiluan dimana salah satu anak buah dari Bob Markle telah tewas dengan mengenaskan tanpa tahu sebab dan akibatnya.
Sontak kejadian yang tiba-tiba seperti ini menyulut emosi Bob Markle selaku ketua gangster yang paling ditakuti di Amerika.
“Siapapun dia, aku akan membalas semua perbuatannya. Aku akan membalasnya lebih pedih dari ini. Aku mau, mulai saat ini kita cari pelaku pembunuhan ini. Kita balaskan kematian Brian.” ungkap Bob dengan mengepalkan tangannya sebagai bentuk menahan amarah yang kini meletup-letup di kepalanya.
Seluruh anak buah Bob mulai mengangguk mengiyakan seakan mereka siap mendapatkan perintah dan misi yang baru.
“Nyawa harus dibalas dengan nyawa.” desis Bob yang menyeringai sadis.
“Jack!” panggil lantang sang bos kepada ajudan kepercayaannya, Jack O’Hammels.
“Iya, bos!"
“Kali ini, kuperintahkan kau untuk mengusut tuntas kasus kematian Brian, untuk kasus The Brouch aku ingin William yang menyelidiki radar keberadaan mereka.” perintah baru sang bos besar, Bob kepada seluruh anak buahnya. Kali ini mata Jack mulai terbelalak kaget mendengar misi khusus pencaharian The Brouch jatuh ditangan William Hertz. Nampaknya, ini akan menjadi hal yang berbahaya bagi keberadaan The Brouch dan juga mengancam keamanan Jack.
“Baik, bos. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menuntaskan kasus The brouch ini.” jawab mantap Will dengan menatap tajam Jack sembari menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya.
“Tapi, bos bukankah sebaiknya aku saja yang menyelidiki kasus The brouch itu dan William yang akan menuntaskan kasus kematian kak Brian?” usul Jack yang nampaknya sedikit keberatan dengan keputusan yang baru saja dibuat Bob tentang perubahan misinya.
“Tidak, karena kau adalah mata-mata terbaik yang bisa mengusut tuntas kasus Brian ini, kau juga sangat piawai dalam menjalankan semua tugasmu, sementara kecerdasan William dalam membaca situasi akan membantunya untuk mengusut tuntas kasus the brouch ini. Jadi, aku ingin dua misi penting ini selesai.” jawab Bob dengan mengelus-elus janggutnya.
Jack sudah tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa pasrah dengan semua keputusan yang telah dibuat. Jika ia terus protes dan meminta untuk tetap memegang misi The Brouch itu akan membuat Bob curiga, kali ini ia juga harus berhati-hati dengan gerak-gerik William yang kapan saja bisa mengambil alih dan bahkan berhasil membawa The brouch ke markasnya. Jack harus terus pasang mata dan mengawasinya.
“Kesibukanmu dalam mencari pelaku pembunuh Brian akan membuatmu sibuk dan lupa. Aku akan segera menyeret kekasihmu dan komplotannya masuk ke markas ini dan kau akan menderita, Jack. Kau tunggu saja waktu mainnya.” gumam William dalam hati sembari diiringi tatapan mata yang bengis menatap Jack yang duduk termenung dihadapannya. Ambisi William untuk menjatuhkan dan menyingkirkan Jack semakin berapi-api. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menemukan keberadaan komplotan bernama The brouch itu.
“Ini tak bisa dibiarkan, William tak boleh menemukan markas mereka. Lalu, bagaimana caranya aku menghubungi Jane atau Dormino bahwa bukan aku lagi yang memikul tanggung jawab ini. Ini semua rumit, aku tak bisa menyangka bahwa akhirnya akan seperti ini.” gumam Jack dalam hati sembari terus berpikir bagaimana caranya ia menghubungi the brouch untuk berhati-hati dalam setiap detik yang bergulir.
Jack mulai terdiam menatap meja yang ada di hadapannya, rasa sesak tiba-tiba saja menghampiri dadanya. Ia mulai menyesali semua perbuatan yang telah ia lakukan, termasuk menyimpan rasa pada Jane pada awal mereka berjumpa. Jika berakhir menderita dan bukan saling bersama tapi harus saling berkorban mengapa harus dipertemukan. Penyelidikan kasus kematian Brian akan menjadi kesibukan bagi Jack, kemungkinan besar ia juga tak bisa mencari keberadaan Jane.
Namun, di sebuah ruangan kecil dengan suasana gelap dan sedikit lembab berhiaskan sebuah lampu bohlam kecil yang menggantung di langit-langit ruangan sebagai penerangannya terlihat beberapa orang mulai tertawa kegirangan dengan menenggak sebotol minuman dengan botol hijau.
“Akhirnya kita berhasil menghancurkan mereka, satu anggota terbaik mereka sudah tewas di tangan kita dan sebentar lagi satu persatu anggota gangster itu akan mati dan Bob takkan ada artinya lagi.” ujar salah seorang pria dengan suara serak basah yang penuh wibawa sembari diiringi dengan suara gelak tawa yang besar den menyeramkan.
“Benar, bos. Mereka semua akan musnah.” tambah seseorang dengan suara khasnya sembari menenggak minuman yang ada di genggamannya.
“Tunggu pembalasanku, Bob.” desis sadis sosok pria dengan perawakan besar itu.
*Siapakah sosok ini sebenarnya? Ada dendam apa yang terpendam antara dirinya dan Bob Markle*?