
Apakah kalian pernah dihadapi dengan dua pilihan yang sulit, pilihan yang menentukan hidup atau mati seseorang? Seperti mengorbankan seseorang yang dicintai demi mematuhi perintah atasan? Itulah yang dirasakan Jack saat ini, ia tengah dilanda kebingungan dan dilema yang berkepanjangan dimana ia harus menyerahkan sosok wanita yang ia idam-idamkan kepada bos besar gangsternya hanya untuk membalaskan dendam di masa lalunya.
Di sebuah ruangan yang sedikit lembab, kedap suara dan dengan pencahayaan yang minim terlihat tiga orang pria dewasa dengan pakaian serba hitam dan seorang wanita tengah duduk dan berkumpul di sana. Mereka menyimpan semua barang-barang hasil rampokannya di sana, terlihat beberapa emas dan berlian serta uang masih tersimpan rapi dan melimpah ruah di beberapa brankas yang ada.
Namun, kali ini mereka berkumpul bukan karena ingin membahas sebuah misi perampokan atau pembegalan lagi, tapi mereka berkumpul karena ada sebuah berita yang mengerikan yang mungkin akan mengancam kehdiupan misi dan geng rampok mereka.
“ Jane, ada suatu hal yang ingin kubicarakan padamu. Ini menyangkut kau dan komplotan rampok kita.” Ucap salah seorang pria yang mulai membuka topik pembahasan diantara mereka, Jane mulai mengangguk mengiyakan seakan ia mempersilahkan sosok pria ini menceritakan apa yang ia ingin sampaikan.
“ Apakah Jack datang menemuimu, Jane?” sidik salah satu anggotanya yang mulai menatap Jane.
“ Iya, ia datang menemuiku. Ia juga memberikanku setangkai bunga yang indah, mengapa?” balas Jane dengan apa adanya sesuai apa yang terjadi semalam.
Terlihat salah seorang pria itu mulai menghela napasnya seperti ada sesuatu hal yang berat mulai menyesakkan dadanya. Tangannya juga ikut mengusap rambut dan dahinya yang mulai berkeringat, sepertinya ia mulai gelisah karena mendengar jawaban Jane yang apa adanya sesuai dengan kejujurannya.
“ Ada apa, Tom? Apa ada masalah dengan sosok ini?” tanya Dorm yang mulai menyidik akan berubahnya sikap Tom. Raut wajahnya nampak gelisah dan penuh kebingungan, seakan ada sebuah masalah besar yang akan menghantuinya.
“ Kemarin aku tak sengaja melihat seseorang misterius yang memantau Jane dan Jack yang sedang berbicara, aku melihat seseorang pria itu mengenakan pakaian hitam dan topi besar yang menutupi wajahnya, ia mengintai dan memperhatikan setiap gerak-gerik Jane dari kejauhan, sepertinya ia memiliki sebuah misi yang buruk pada kau, Jane. Ketika kuikuti pria itu ternyata, sosok pria berbusana hitam itu adalah teman satu komplotan Jack yang ingin membunuhmu dan membawamu ke bos besar gangster mereka.” jelas Tom dengan nada suara yang sedikit gemetar ketakutan, kali ini membuat suasana ruangan menjadi hening dan mencekam.
“ Apa yang kau bicarakan, Tom? Aku tak mengerti.” sahut Jane yang mulai menegakkan tubuhnya yang sedari tadi tersandar di sebuah kursi yang empuk.
“ Keberadaanmu diburu Jane. Mereka ingin melenyapkanmu.” sahut pria satunya lagi yang bernama Nick dengan mata yang terbelalak lebar menatap Jane yang masih menyidik penasaran. Mendengar penjelasan Nick hal ini membuat Dormino mengepalkan tangannya seakan ia menyimpan amarah dalam hatinya, bagaimana bisa Jane diburu oleh sekelompok berandal jalanan itu.
“ Menurut informasi yang kudapat dari salah satu mata-mataku, ia mengatakan bahwa bos besar Jack tengah meminta dan menunjuk Jack sebagai ajudan untuk penangkapan dirimu, Jane.” tambah Tom yang mulai tertunduk lesu
“ Tidak mungkin! Jack tidak mungkin melakukan hal selicik itu padaku, kemarin ia datang dengan sopannya membawakanku setangkai bunga, aku juga tak menaruh curiga apapun padanya, aku merasa dia sangat tulus bersamaku. Aku yakin apa yang kau dengar itu salah, Jack adalah pria yang baik, kemarin ia juga menceritakan kisah masa lalunya padaku.”
“ Dengarkan aku dulu, Jane. Nyawamu kini dalam bahaya, mereka mempergunakan Jack untuk mendekatimu. Kau jangan mudah percaya dengan sosok pria seperti Jack, dia bersikap lembut karena ada suatu hal bahkan dia juga punya ribuan bahkan jutaan akal bulus untuk menangkap dan membunuh targetnya.” jelas Nick yang mulai meyakinkan Jane.
Jane mulai berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan ketiga teman satu komplotannya. Ia merasa apa yang temannya katakan tak sesuai dengan kenyataan. Jack adalah pria yang baik, itulah yang ia pegang teguh sebelumnya.
“ Jane, ini bukan omong kosong, ini sungguhan, mereka melakukan hal ini karena dendam masa lalu mereka pada ayahmu.” teriak Nick yang mulai membongkar semua rahasianya hingga membuat Dormino dan Tom mulai melirik sadis ke arahnya, mendengar ucapan Nick Jane mulai berbalik dan menghampiri mereka lagi dengan ekspresi wajah seidkit musam karena kesal.
“ Dendam apa yang kau bicarakan? Ada apa dengan ayahku?” tanya Jane yang mulai menggebrakan tangannya pada meja yang ada di ruangan itu hingga suaranya bergema. Nick nampak gugup melihat tatapan tajam Jane.
Mereka hanya diam membeku tanpa sepatah kata yang terucap, melihat seluruh anggotanya tertunduk lesu.
“ Jawab! Ada hubungan apa ayahku dengan mereka? Dendam apa yang mereka punya hingga mereka mengejarku dan Jack mengkhianatiku?” tegas Jane yang mulai menyidik kesana kemari menatap satu persatu anak buahnya yang masih diam.
“ Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untukku menceritakan semuanya padamu, Jane.” jawab Tom dengan mengangkat kepalanya hingga membuat Jane duduk kembali di kursi yang ia tinggalkan sebelumnya
“ Bos besar mereka bernama Bob Markle. Dia dulu adalah anak buah dari ayahmu, Jane.” ujar Tom yang memberanikan diri untuk bercerita tentang sebuah rahasia yang lama disimpan.
Jane masih mengerutkan dahinya, ia masih belum mengerti apa maksud ucapan Tom sebenarnya.
“ Bob adalah orang yang paling licik dan berbahaya. Ia mulai menyimpan dendam pada saat Ayahmu memintanya untuk merampok sebuah bank namun dengan tak sengaja polisi mengetahui rencana mereka, akhirnya komplotan ayahmu pergi meninggalkannya dan ia dikejar oleh pihak kepolisian, namun ia berhasil kabur hanya saja kakinya terluka karena tembakan itu. Karena hal inilah, yang membuatnya merasa dikhianati dan akhirnya Bob keluar dari komplotan kami dan menjadi sosok pengkhianat diluar sana, ia selalu membocorkan rahasia ke pihak kepolisian untuk menangkap kami, namun usahanya selalu sia-sia. Hingga suatu hari, markas kami berhasil dikepung oleh aparat keamanan dan saat itu ayahmu meminta kami untuk pergi dari markas dan akhirnya ayahmu tertangkap dan dihukum mati oleh pengadilan, semua itu karena dia, dialah yang membocorkan semua rahasia yang ada, ia juga membocorkan dimana markas kita berada. Bukan hanya sebagai pengkhianat, ia juga meneror keluargamu bahkan ia juga sempat mengatakan bahwa ia akan membunuh seluruh keturunan dari The Brouch, ya itu termasuk keturunanmu Jane. Kemudian, ia membuktikan ucapan terornya dengan membunuh tiga anggota dalam komplotan ayahmu, itu hal yang mengerikan yang pernah terjadi dalam sepenjang sejarah komplotan ini.” ucap Tom yang menceritakan semua runtutan kejadian yang dahulu menimpa ayahnya dan komplotan rampoknya, The Brouch.
Jane mulai terdiam seakan ia tak percaya dengan semua kisah yang diceritakan oleh Tom, ayahnya dihukum mati karena pengkhianatan anak buahnya yang kini menjadi bos besar di sebuah gangster yang mana Jack ikuti.
“ Bukan hanya itu saja, Jane. Mereka akan terus memburu dan membabat habis seluruh komplotan ayahmu dan kau tahu yang tersisa tinggalah aku, Dormino, Tom dan kau sebagai bos besarnya.” tambah Nick yang mulai berani membuka suara.
“ Jadi, selama ini mereka mengejar kita? Mengapa aku tak tahu akan hal ini? Mengapa taka da seorangpun yang memberitahuku?” tanya Jane yang mulai penasaran.
“ Iya, mereka selalu mencari keberadaan kita. Kami tak bisa menceritakan hal ini padamu, karena ayahmu tak mengizinkan keluarganya tahu, ia pikir saat ia mati karena hukuman itu, Bob akan berhenti meneror keluarganya, tetapi salah Bob terus mengintai keluargamu, Jane bahkan ia ingin membunuh semua keturunan The Brouch.” ujar Dormino dengan suara yang tegas dan jelas menjawab pertanyaan Jane hingga membuat Jane tertegun tak percaya.
“ Tak mungkin, berarti Jack?” ucapnya dengan nada yang lirih
“ Iya, kemungkinan besar ia akan ikut campur tangan dengan misi ini, aku mau dengan sungguh padamu Jane, kau jauhi Jack secepatnya. Bukan apa, nyawamu dan nyawa kita semua menjadi taruhannya.” saran Tom yang mulai mengekang keras Jane untuk dekat dengan sosok Jack O’Hammels itu.
Jane masih terus memikirkan kisah yang baru saja diceritakan oleh Tom dan Nick, rasanya sangat menyakitkan ayahnya tewas karena pengkhianatan anak buahnya. Jack, mungkinkah akan ikut serta dalam misi yang sudah ditunjukan ini?
“ Tak bisa kupercaya bahwa kau menjadi kaki tangan dari bos pengkhianat dan pembunuh ayahku dan keluargaku, Jack. Kau sangat baik padaku tapi itu hanya menutupi sifat aslimu. Aku sunggu kecewa denganmu. Mengapa kau tega melakukan semua ini padaku Jack?” gumam Jane dalam hatinya yang terus memandang langit malam dari jendelanya, ia juga turut meraih setangkai bunga mawar yang hampir layu pemberian Jack siang tadi.
“ Kau pembohong, Jack. Kukira kau tulus mendekatiku. Hatiku sudah menjadi milikmu, tapi kau mengkhianatiku begitu saja. Jika kutahu begini akhirnya, saat pertemuan pertama kita aku takkan memberikan hatiku begitu saja padamu” gumamnya lagi sembari menarik satu persatu kelopak bunga mawar itu.
Nasi sudah menjadi bubur, Jane tak tahu lagi harus berbuat apa ketika ia mengetahui kebenaran yang ada. Jack menjadi ajudan sekaligus pemimpin dari misi baru untuk membunuhnya. Hatinya kini sudah menjadi milik Jack, namun ia juga harus menjauhinya jika tidak suatu hal buruk akan menimpanya dan komplotan yang lain. Dosa apa yang harus ia tanggung karena peristiwa itu?
Sementara itu, di sebuah rumah kecil hanya ada satu jendela yang masih terbuka lebar terlihat sosok pria mulai duduk dan menatap luar jendela sembari merasakan hembusan angin yang bertiup lembut menampar wajahnya. Pria itu nampaknya tengah dilema dengan segala hal yang ada.
“ Aku mencintaimu tapi bosku memintaku untuk membunuhmu. Apa yang harus kulakukan saat ini? Meninggalkanmu adalah suatu bencana tetapi pengkhianatan itu lebih besar dari sebuah bencana.” gumamnya dalam hati sembari menyandarkan kepalanya di tembok.
Jack tenggelam dalam suatu pilihan, ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, jika bosnya tahu bahwa ia sudah menemukan sosok wanita yang ia maksudkan pasti ia akan meminta Jack untuk membawanya ke markas. Bagaimanapun, Jack harus melindungi Jane, karena Jane adalah cahaya hidupnya saat ini. Esok ia akan berusaha menemui Jane diam-diam.
“ Apakah ini akhir dari kisah cintaku? Aku hanya ingin mencintai seseorang dengan tulus, tetapi mengapa aku harus membunuhnya?” gumamnya lagi yang terus menyesali setiap detik dan menit yang berputar seakan nasib baik tak selalu menjadi miliknya.