The Black Missions

The Black Missions
Eps.17 Pemantauan Tersangka



Di sebuah ruangan rapat di dalam sebuah gedung partai Big Solidarity terlihat beberapa aparat kepolisian datang untuk menemui sosok ketua umum partai tersebut yakni Albert Barbara, hanya enam aparat datang tuk memberikan informasi terkini tentang pengintaian kasus, sebagian menjaga ketertiban pemilihan umum dan sebagian lagi ikut menyidik kasus kematian Jason yang diduga karena persaingan politik yang ada.


“ Aku sudah mencatat beberapa tersangka yang bisa kita selidiki lebih lanjut. Aku sudah menaruh rasa curiga terhadap setiap gerak-geriknya.” jawab Stephen pada badan pemerintahannya.


“ Siapa yang kau curigai, Steve?” tanya Barbara dengan penuh rasa ingin tahu tentang sosok yang kini masuk daftar pengintaian Stephen Ivander.


“ Pertama dia adalah Sammy Grint, seorang pengacara hebat yang baru-baru ini menjadi salah satu pengacara terbaik yang pernah ada, yang kedua dia adalah Mayora Bradle, ketua umum partai Momentum dan yang ketiga kemungkinan besar aku mencurigai sahabat karib Pak Jason yaitu James Sher.” jawab Stephen dengan nada yang serius menghadap sosok ketua umum partai ternama itu.


Barbara mulai mengangkat tubuhnya yang sedari tadi bersandar pada kursi empuk di ruang rapat negara itu.


“ Sudah kuduga, aku sudah mencium gelagat aneh pada diri mereka. Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Barbara yang mulai tak sabar untuk menyeret para pelaku dalam jeruji besi.


“ Sementara ini masih dalam pemantauan terlebih dahulu, pak. Nanti jika ada informasi lebih lanjut maka saya beserta aparat yang lain akan segera memberitahukan kepada bapak. Kami akan mencari bukti-bukti pendukung lainnya agar menguatkan kesalahan mereka di meja hijau nanti.” ucap Stephen dengan menjelaskan semua misinya.


“ Lalu, jika aku boleh tahu mengapa sosok Sammy Grint si pengacara handal ini ikut serta dalam misi hitam Mayora dan James, Steve? Aku sangat tidak percaya dengan semua ini, hukum dan keadilan dibayar dengan harta.” sidik Barbara yang mulai ingin tahu tentang keterlibatan sosok Sam pada misi licik yang diadakan oleh Mayora beserta staff lainnya.


“ Untuk itu kami belum tahu kepastiannya pak. Dugaan sementara yang bisa saya ambil adalah mereka mempergunakan Sam sebagai lindungan hukum. Maka dari itu, kasus ini tidak tuntas karena ada hukum yang menaungi pak Mayora beserta staff lainnya yang ikut terlibat . Intinya mereka berkawan dengan hukum, pak.” jelas Stephen pada sosok pria yang tak lagi muda.


Barbara mulai mengangkat alisnya sembari membelai halus dagunya mencerna semua ucapan yang diutarakan oleh sosok mata-mata handal seperti sosok Stephen Ivander ini. Ia tak pernah menduga sebelumnya bahwa harta bisa membeli segalanya, uang bisa membeli hukum, uang bisa membeli jabatan dan kehormatan, bahkan uang juga bisa membeli nyawa seseorang.


Nampaknya, ia merasakan sesuatu hal yang aneh dalam pikirannya, tiba-tiba saja ia kembali teringat dengan pesan Jack si pelaku pembunuhan Jason beserta keluarganya, bahwa ia pernah mengatakan pada Barbara jika kau bukan siapa-siapa apa orang lain akan mematuhimu? Ia mulai paham makna ucapan anak muda yang mengerikan itu bahwa tahta dan harta itu segalanya. Jika kau miskin kau takkan berarti tapi jika kau kaya kau akan dipuji bahkan perintahmu akan di jalani. Dunia ini memang keras dan kau harus terbiasa menjalaninya.


“ Tapi, tenang saja pak kami akan segera mengusut kasus ini sampai ke akarnya dan takkan membiarkan satu orangpun lolos dalam penyelidikan ini.” tambah Stephen yang membuat hati Barbara semakin puas dengan semua kerja bagusnya.


Barbara hanya mengangguk mengiyakan, seakan ia setuju dengan kesepakatan yang ia buat dengan sekelompok aparat keamanan untuk mengusut tuntas kasus kematian Ary Jason dan keluarganya. Hatinya mulai bergumam mungkinkah ini semua ulah dari partai saingannya yang tak lain dan yang bukan adalah partai Momentum, partai yang dipimpin langsung oleh musuh bebuyutan Barbara sejak tujuh tahun silam, karena selama ini hanya merekalah yang selalu ikut campur dalam setiap masalah yang ada di dalam partai Barbara. Sikap ketua umumnya, Mayora Bradle yang tak mau kalah saing dengan siapapun, ia harus selalu terlihat lebih unggul dari siapapun. Ya, mereka haus akan tahta dan jabatan tak heran jika kasus ini merekalah yang merencanakannya.


“ Tenanglah, Jason. Kasus ini akan segera selesai dan kau bisa beristirahat dengan tenang di sana. Jangan khawatir aku akan mencari keadilan untukmu dan keluargamu.” gumam Barbara dalam hati sembari memandangi sebuah foto yang terpajang manis di atas mejanya terlihat dalam bingkai foto itu ia tengah berdiri tegak bersama sosok mendiang yang banyak meninggalkan jasa, Ary Jason.


“ Baik, pak kalau begitu saya beserta rekan saya ingin pamit undur diri dan kembali bertugas.” ujar Stephen dengan sopannya yang mulai membangunkan Barbara dari lamunan masa lalu tentang sosok Ary Jason yang baik dan ringan tangan.


“ Baiklah, silahkan. Jangan lupa untuk selalu memberi kabar untukku tentang perkembangan kasus ini, agar aku tahu bagaimana perkembangannya.” jawab Barbara dengan nada yang ramah sembari ia berdiri menyalami satu persatu aparat kepolisian yang turut hadir membantunya dalam menyelesaikan masalah yang penuh tanda tanya dan misteri seperti ini.


“ Ya, pak saya akan selalu memberikan informasi terbarunya pada anda. Kalau begitu kami permisi, pak.” kata Stephen yang mulai meminya izin untuk pergi kembali ke markas dimana ia ditugaskan.


 


Sementara itu, di sebuah gedung dengan fasilitas AC dan di penuhi dengan berkas-berkas yang penting terlihat beberapa orang tengah berkumpul menatap layar kaca yang menyiarkan siaran langsung hitung cepat banyaknya suara yang masuk dari hasil pemilihan umum pagi hari ini. Inilah momen yang paling menegangkan dan yang paling di tunggu-tinggu oleh seluruh rakyat. Siapakah diantara beberapa kandidat yang akan menjadi perwakilan mereka dalam menampung aspirasinya, sayang sekali beberapa diantaranya memilih untuk menjadi golput alias tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum ini, karena mereka bingung untuk memilih kandidat yang tepat untuk mewakilkan aspirasinya agar keluhan dan sarannya di dengar oleh pemerintah. Mereka juga mulai putus asa dalam berkontribusi di pemilihan serentak ini dikarenakan sosok yang mereka idamkan untuk menjadi perwakilan aspirasi mereka telah tiada, dengan tiadanya sosok Ary Jason ini membuat harapan mereka pupus seketika. Karena takkan ada lagi orang yang baik dan menyatu dengan rakyat seperti Ary Jason di muka bumi ini.


Terlihat hitungan mulai memuncak dan partai Momentum dengan kandidat James Sher mulai meningkat dan selalu memimpin di berbagai kota. Hal ini sontak membuat Mayora beserta staff partai lainnya tertawa bahagia melihat kemenangan telak yang kini menghampiri partainya, sudah lima tahun mereka tak melihat pemandangan seindah ini dimana bendera partai momentum akan kembali gagah berkibar di seluruh penjuru kota.


 


“ Lihatlah, James kita berhasil memimpin.” Ujar Mayora dengan tertawa jahat dan mengangkat gelas beernya untuk bersulang atas nama James Sher diikuti para anggota lainnya yang ikut bersulang juga menyaksikan sebuah kemenangan yang diraih oleh James Sher pada pemilihan umum di berbagai kota hari ini.


James Sher hanya tersenyum sumringah melihat kemenangan atas dirinya, hatinya mulai dipenuhi berbagai macam bentuk bunga. Ia benar-benar bahagia dan bangga terhadap semua pencapaian yang ia dapatkan selama ini, ia merasa bahwa setiap usahanya berbuah manis dan tidak mengkhianati hasi, tapi naasnya, ia melupakan cita-cita besar dari sosok sahabat karibnya, Ary Jason, ia yang juga ingin ikut duduk di kursi parlemen negara dan mewakili suara rakyat, namun kini sosok Jason telah tiada, ia telah tenang di alam yang berbeda. James tidak mau tahu lagi tentang Jason, ia hidup dan mulai membuka lembaran yang baru tanpa ada sosok sahabat disisinya.


 


Hasil sementara 75% suara telah masuk dan menyatakan bahwa James Sher dari partai Momentum mendominasi seluruh hasil pemungutan suara.


 


Nampaknya, jika James Sher benar-benar menjadi pemenang dan berhasil menjabat sebagai Menteri rakyat maka seluruh staff dan anggota partai lainnya tak segan-segan akan mengadakan pesta perayaan atas kemenangan James Sher. Inilah momen yang dirindukan oleh partai Momentum, karena sudah lima tahun lamanya mereka selalu kalah dalam pemilihan umum.


 


Sementara, di kubu partai Big Solidarity, Barbara beserta anggota lainnya hanya memandang pasrah dengan semua hasil perhitungan suara yang disiarkan secara langsung di setiap stasiun televisi. Ia mendadak pasrah dengan setiap hasil perhitungan yang ada, partainya kini berada di posisi terendah dan sepi akan peminat, tetapi ia tetap tidak peduli kali ini hal yang terpenting adalah mencari dalang dari peristiwa tragis yang menimpa Ary Jason dan keluarganya.


 


Setelah ia tahu semua kebenarannya dan mendapatkan semua bukti kejahatannya, maka ia takkan segan-segan memukul mundur dan meminta keadilan hukum untuk sosok pembunuh dari kaki tangannya dalam partai yang dipimpinnya itu. Ia juga takkan melepaskan satu pelaku begitu saja, ia ingin mereka dihukum dengan hukuman yang setimpal.


Bagaimanakah hasil pemungutan suara selanjutnya? Akankah James memenangkan pemilihan ini? Dan bagaimana dengan kasus penyelidikan yang di lakukan oleh Stephen Ivander apakah ia mendapatkan titik terang tentang pembunuh Jason?


“ Apalah arti dari sebuah harta dan tahta, jika kau tak memiliki rasa empati dan simpati yang melekat di dalam jiwa.”