The Black Missions

The Black Missions
Eps. 43 Keberadaan The Brouch



"Sebaik-baik bangkai disembunyikan, baunya akan tercium juga." Mungkin itulah peribahasa yang pantas menggambarkan suasana tegang di sebuah markas gangster kali ini. Dalang dibalik pembunuhan Brian akhirmya terbongkar, pencetusnya tak lain dan tak bukan adalah William Hertz, si pria licik yang berencana tuk menyingkirkan Jack. Dengan ekspresi wajah dan suasana hati yang terbakar amarah, Jack memulai perjalanannya menuju Las Vegas tuk mencari sosok berandal picik, Will, di ajaknya ketiga orang anak buah untuk menemani dan membawa paksa sosok Will.


“Kali ini, aku takkan melepaskanmu, Will. Aku akan menghabisimu jika kau berani menyentuh gadisku. gumam Jack dalam hati dengan menyetir mobil dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan tata tertib berkendara.


Sementara itu, di sebuah ruangan yang tertutup terlihat beberapa orang tengah berdiri penuh kekhawatiran dan mulai berjaga-jaga dengan senjata apinya.


Apa kau yakin jika salah satu diantara mereka berhasil menemukan markas kita?" tanya salah seorang pria yang kali ini menatap heran dengan menggenggam sebuah pistol laras panjang di tangan kirinya. Satu orang mulai mengangguk mengiyakan.


"Aku mendengarnya sendiri bahkan beberapa preman jalanan mengatakan bahwa salah satu pasukan King gangster telah merayap ke Las Vegas untuk mencari sosok rivalnya dan sementara itu kabar baik datang dari komplotan Jack yang telah berhasil memecahkan misteri kematian Brian, temannya itu.” jelas Nick sembari menatap ketiga kawannya.


"Lalu, siapa yang datang kalau bukan Jack? Apa ada hubungannya dengan Jack?" tanya Jane yang memotong pembicaraan.


“Entahlah, tapi nampaknya ini bukan perihal yang baik. Kau tahu kan kalau Jack dipindah alihkan untuk mengusut tuntas kasus kematian sejawatnya? Jadi, kurasa ini adalah malapetaka besar bagi kita. Kita harus berhati-hati bisa jadi ini adalah tipu muslihat mereka, mereka sengaja mengalihkan Jack ke misi lain dan membiarkan orang lain membunuh kita.” sidik Nick yang membuat semua orang mengangguk paham. Dorm mulai mengusap dagunya.


"Aku yakin Jack akan datang membantuku karena ia sudah berjanji padaku.” ucap lirih Jane yang mulai menyentuh dadanya seakan tiba-tiba terasa sesak.


"Semoga saja, Jane. Kau siapkan saja senjatamu, karena penjahat bisa datang kapan saja.” sahut Dorm yang mulai menepuk bahu Jane yang tengah melamun.


Beberapa orang dalam markas terlihat sibuk menyiapkan beberapa amunisi mereka guna berjaga-jaga. Tak tahu sebanyak apa pasukan yang harus dilawan, mereka harus tetap melawan walau mereka hanya berempat yang terdiri dari satu orang wanita sebagai penerus kepemimpinan Ayahnya.


"Jane, dengarkan aku. Jika keadaan mulai terdesak atau kau melihat diantara kami tewas terbunuh, segera berlari lah sejauh yang kau bisa. Kau tahu, ada satu ruangan di bawah tanah yang mungkin bisa menjadi tempatmu untuk bersembunyi sampai situasi tempat ini aman.” ucap Dorm memandang teduh wajah Jane.


"Tapi, Dorm kita harus melawannya bersama-sama, mengapa aku harus pergi ketika kalian sedang kesulitan?” elak Jane yang mulai mengangkat alisnya. “Apa aku terlalu merepotkan bagimu?”


“Bukan seperti itu Jane, kau petarung hebat tapi dengarkan apa yang dikatakan Dormino, keselamatanmu itu harus dijaga, mereka mengincar nyawamu karena kau adalah satu-satunya penerus dari marga the brouch.” tambah Tom yang ikut menjelaskan makna pembicaraan Dormino. Terlihat raut wajah gadis itu berubah menjadi murung.


"Lakukan saja, jika diantara kami ada yang terbunuh, maka bersembunyilah. Kita hanya berempat dan kau wanita seorang diri tak mungkin bisa melawan pasukan sebanyak mereka. Kau bisa bersembunyi di ruang bawah tanah itu sampai Jack benar-benar datang menemuimu, kau mengerti, Jane?”


Terlihat kedua bola mata Jane mulai berkaca-kaca menatap ketiga pria yang kini tengah berdiri di hadapannya. Ia tak mampu lagi tuk berkata, bibirnya kelu tuk digerakan rasanya seperti tubuhnya tengah mati rasa.


"Jane, apa kau paham dengan penjelasanku?" tanya Tom yang mencoba untuk memastikan bahwa Jane benar-benar paham tentang apa yang dibicarakan.


Jane mulai mengangguk dan menghela napas panjangnya, "Baiklah, aku akan melakukan apa yang kalian katakan, tapi kuharap takkan terjadi apa-apa dan kita semua akan mengalahkan mereka seperti kita mengalahkan penjahat kota kala itu.”


Tom, Nick dan Dorm mulai tersenyum geli menatap Jane yang sudah paham dengan semua instruksi yang diberikan. Tiba-tiba mereka teringat dengan suatu kejadian yang mana sangat membekas dalam ingatan. Ketika the brouch memulai aksinya untuk merampok sebuah rumah besar yang ada di kota New York. Namun, kejadian tak terduga terjadi mereka melihat beberapa orang yang mengenakan pakaian serba hitam dan membawa senjata tajam datang menyusup rumah mewah yang memiliki tujuan untuk membantai habis seluruh anggota keluarga rumah tersebut.



“Seperti biasanya, Tom kau yang menjaga situasi.” perintah Jane pada Tom, terlihat sosok pria itu hanya mengangkat jempolnya menandakan setuju. Sebelum mereka masuk mereka mendengar suara kegaduhan yang terjadi di sekitar rumah tersebut. Salah satu orang mulai berteriak histeris meminta pertolongan. Sontak hal ini membuat the brouch meninggalkan tujuan awalnya untuk merampok. Mereka berempat mulai berlari dan masuk ke rumah tersebut.


Terkejutnya mereka, melihat lima orang masuk tanpa permisi dengan menodongkan pistol serta pisau ke arah seseorang.


“Kurasa kita harus menyelamatkan mereka.” bisik halus Jane kepada ketiga pria yang berdiri di sisinya.


“Ya, kau benar Jane. Kita lupakan semua tujuan rampok kita, nyawa mereka dalam bahaya dan banyak anak-anak disini. Kau lindungi anak-anak itu, biar kami yang melawan pria hitam-hitam.” jawab Tom yang membuat Jane mengangguk dan mencoba mengamankan tiga anak-anak dan seorang wanita dewasa.


Di sebuah ruangan yang serba putih, terdengar gelak tawa yang memecahkan suasana tegang yang tengah menyelimuti seluruh ruang.


“Kau tahu, itu pengalaman yang takkan terlupakan, ketika kita gagal merampok dan malah menjadi superhero di rumah itu.” ujar Jane yang tertawa geli mengingat sedikit demi sedikit kejadian yang terjadi kurang lebih setahun lalu.


“Bahkan kita juga bisa menjadi sosok perampok yang baik hati dan berbudi luhur.” tambah Tom yang membuat seluruh ruangan penuh dengan tawa.


“Maafkan aku, jika nanti aku gagal melindungimu, Jane.” gumam Dormino dalam hati dengan menutupi kekhawatirannya dengan sebuah tawa palsu untuk menghargai teman-temannya yang tengah tertawa dan melupakan suasana tegang yang sedari tadi menyelimuti relung kalbu.


Sementara itu, di sebuah mobil besar dengan cat berwarna hitam mengkilap. Terlihat sosok pria mulai menodongkan sbeuah senjata tajam ke arah seorang preman jalanan yang diculiknya.


“Kudengar, kau tahu di mana the brouch itu bersembunyi.”


“Tidak. Aku tidak tahu apapun tentang mereka.”


“Jangan berbohong jika kau tak ingin mati di tanganku.” ucap sosok pria itu dengan mendongkan sebuah pisau dan menaruhnya tepat di leher sosok preman jalanan yang baru saja ditemuinya. Keringat dingin mulai bercucuran, jantungnya kini berdegup kencang dengan napas yang tak beraturan.


“Beritahu kami atau jika tidak nyawamu akan melayang ke surga.” ancamnya sekali lagi sampai sosok pria itu mau membuka mulut dan menunjukan dimana markas rival king gangster itu.


“B-baiklah, aku akan menunjukan markas persembunyian mereka.” jawabnya yang kali ini membuat pisau itu menjauh dari lehernya.


“Pilihan yang bijak.” ucap sosok pria bersuara serak basah sembari menyeringaikan bibirnya dengan seram menatap sosok pria yang tengah menggigil ketakutan.


Mobil hitam itu mulai mengarah ke sebuah tempat yang mana sepi dengan penduduk dan memarkirkan kendaraannya tepat di depan sebuah bangunan tua namun masih terawat.


“Jadi, kalian bersembunyi di sini. Aku akan membuatmu membayar semua ini, Jack dan aku akan menyeret kekasihmu itu di hadapanmu.” ujar sosok pria itu ternyata dia adalah William Hertz. Beberapa orang mulai berjalan masuk ke sebuah halaman.