The Black Missions

The Black Missions
Eps. 44 Pembalasan Dendam



Namun, di sebuah ruangan terlihat tiga orang pria gagah dengan satu orang wanita tengah bersembunyi dan menyiapkan segala amunisi. Satu diantaranya tengah mengintip pergerakan dari balik jendela. Kali ini kondisi mereka benar-benar terdesak.


“Mereka datang." desis Nick kepada seluruh anggotanya yang melihat dari balik jendela. Mendengar ucapan Nick tentang kedatangan sosok musuh bebuyutan, membuat Dormino mulai menarik senjata panjangnya dan mengisinya dengan beberapa peluru, begitu juga dengan Tom yang tengah siap sedia mengantongi sebuah pisau kecil jika terjadi bekal perlawanan hebat tanpa senjata.


"Jane, dengarkan aku baik-baik jika keadaan mulai terdesak atau salah satu diantara kami ada yang tewas terbunuh, maka segeralah bersembunyi di ruangan bawah tanah. Kau mengerti?" ucap Dormino dengan menyentuh bahu Jane.


Terlihat Nick mulai melirik ke arah Jane yang nampaknya merasa berat untuk meninggalkan ketiga kawan pria yang selama ini ikut menjaga dan menjalani misi berbahaya bersamanya. Mereka sudah layaknya sebuah keluarga baginya.


"Dengarkan dia, Jane. Kau adalah bos kami. Anak buah berhak melindungi bosnya dan kau tak boleh egois dengan dirimu, nyawamu lebih berharga daripada kami.” tambah Nick yang membuat Dorm dan Tom mengangguk setuju.


Terlihat wanita tangguh itu mulai mengusap air matanya yang hampir jatuh menetes dari sudut matanya. Rasanya berat jika harus meninggalkan seorang kawan yang selama ini selalu ada menemani dan menghibur diri ketika sedang ada kesulitan.


"Kau akan aman jika kau pergi ke ruangan rahasia itu. Karena hanya The Brouch saja yang tahu mengenai tempat persembunyian itu, tak ada seorangpun yang bisa menembus keamanan tempat itu." Tom mulai ikut menambahkan pesan. Jane mulai mengangguk mengiyakan menandakan setuju walau rasanya agak sedikit berat yang menyelimuti tubuh dan pikirannya.


"Kau bisa bersembunyi di sana sampai semuanya aman.”


Nick masih mengintai di balik jendela melihat beberapa pergerakan musuh yang nampaknya mulai memasuki ruangan. Pakaian yang serba hitam lengkap dengan senjata panjangnya mulai menyergap mereka. Pertempuran yang terjadi hanya karena pembalasan dendam masa lalu sang bos gangster terbesar dengan mendiang Ayah Jane.


"Mereka mulai mengepung semua akses jalan keluar kita, bahkan mereka juga melakukan penjagaan ketat pada area halaman hingga belakang rumah, kurasa kebencian mereka tak main-main dengan kita.” ucap Nick yang masih memasang mata mengawasi setiap gerak-gerik musuh.


"Berapa jumlahnya?” tanya Dorm yang nampaknya mulai penasaran dan merasakan beberapa suara hentakan kaki yang sedari tadi berjalan dan sedikit berlari mengitari rumah tua tempat persembunyian mereka.


"Aku tak tahu pasti berapa jumlah lawan yang akan kita habisi, tapi nampaknya kita akan berperang besar hari ini. Aku akan memulai menembaknya di balik jendela. Kalian carilah tempat aman untuk berlindung." jawab Nick yang nampaknya mulai siap sedia dengan tembakannya.


Nick adalah seorang penembak ahli yang bisa diandalkan untuk misi seperti ini, kejelian penglihatannya membuat siapapun takjub dengan hasil tembakannya yang selalu tepat sasaran.


“Dorm, bawalah Jane bersamamu.” tambah Nick yang mulai siap siaga dengan senapannya. Dormino mulai mengangguk mengiyakan sembari menggenggam erat tangan Jane yang mulai gemetar kedinginan.


Suasana di luar rumah mulai mencekam terlihat beberapa aparat mulai menyergap dan mulai mendobrak pintu rumah Jane. Hentakan kaki menjadi suatu hal mengerikan, nampaknya pertarungan besar akan dimulai. Nick mulai menelan ludahnya sembari menaruh jari telunjuknya pada sebuah senapan panjang yang kali ini berada di genggamannya.


"Keluar atau kalian akan menyesal." teriak salah satu atasannya yang nampaknya pria itu adalah William Hertz.


Namun, tiba-tiba tembakan mulai dilepaskan dan berhasil membunuh salah satu ajudan yang berada di sisi Will hingga tanpa sadar darah menyembur ke pipinya. Nampaknya, Nick bekerja baik dengan pistolnya, terlihat ia mulai menghela napas dengan lega.


“Perhatikan langkah kalian, sniper mulai menyerang.” perintah Will dengan suara lantangnya, mendengar ucapan William seluruh Angkatan bersenjata segera memasang mata bagai elang.


“Nampaknya, mereka ingin bermain-main denganku." desis William dengan menyeringaikan bibirnya.


Beberapa mulai digerakan, Nick mulai menembakinya dari balik jendela lantai dua sementara Tom berjaga dengan beberapa senjata api dan bersembunyi di garasi mobil, Sementara Dorm dan Jane berada dalam satu ruangan mereka bersembunyi di lantai satu siap menunggu beberapa musuh yang datang.


Bruukk!! Suara pintu mulai didobrak terlihat beberapa orang mulai masuk tanpa permisi beberapa diantaranya membawa sebuah senjata tajam dan pistol di genggaman. Terdengar suara pistol mulai ditembakan satu persatu nampaknya ini adalah perlawanan bagi The Brouch.


“Jane, tak perlu kau takut. Kau takkan dibawa pergi oleh mereka." gumam Dorm yang mulai menenangkan perasaan Jane.


Bagaimanapun keras dan tangguhnya sikap Jane, tetaplah dia adalah seorang wanita yang tak kuasa melihat sebuah pertempuran brutal seperti ini. Empat orang melawan beberapa musuh yang datang. Rasanya sungguh tak adil.


Dorm mulai menembakinya dengan pistol satu persatu hingga membuat beberapa musuh tumbang. Namun, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari alat komunikasi yang dibawanya.


"Tom, tom tewas! ucap Nick dengan sedikit suara yang terisak tangis dari balik Alat komunikasi Dorm.


"Aku terdesak, aku membutuhkan bantuan. Dorm, apa kau mendengarku?” tambah Nick yang nampaknya tengah kesulitan dengan misinya di lantai dua.


"Jane, kau tahukan apa yang harus kau lakukan saat ini?" ucap Dorm yang mulai menatap mata Jane yang hampir berlinang air mata.


"Tapi, Dorm, bagaimana dengan Tom?”


"Abaikan dia, kau pergilah bersembunyi ke tempat itu. Satu orang telah tewas, kita tak tahu siapa selanjutnya yang akan tewas. Maka, aku mohon pergilah.”


"Dorm.” ucap Jane dengan mata yang mulai memerah berkaca-kaca seakan berat tuk meninggalkan Dorm.


"Cepatlah!" bentak Dormino pada Jane. Gadis itu mulai memeluk erat tubuh Dormino, rasanya ini pertama kalinya Jane mendekap hangat tubuh Dormino. Pedih, perih itulah yang pasti dirasakan oleh sosok Dormino, hidup dan matinya kini di depan mata.


Kemudian, ia mulai berlari menuju tempat persembunyian yang dahulu di buat Ayahnya. Dengan berbekal sebuah pistol dan pisau tajam di sakunya, ia mulai mengendap-ngendap menuju tempat persembunyian.


Namun, di tengah perjalanan ia melihat mayat Tom yang tergeletak dengan darah yang bercecer di lantai. Ia mulai menutup mulutnya dan menangis tersedu-sedu melihat kondisi tragis teman sejawatnya.


"Maafkan aku, Tom. Ia mulai melangkah pergi dari jenazah Tom yang tewas tergeletak tak bergerak. Terdengar beberapa langkah kaki yang membuat Jane semakin bergidik ngeri, nampaknya suara ini adalah suara musuh yang datang untuk menyergap mereka.


Ia mencoba untuk memasukan beberapa kode rahasia yang ada untuk membuka markas persembunyian itu. Namun, nampaknya ada beberapa nomor yang salah.


Suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat dan terdengar beberapa suara tembakan yang terus diluncurkan memberikan suasana tegang semakin terasa di rumah ini. Keringat dingin mulai ikut bercucuran dengan deras, Jane semakin tertekan tak bisa membuka kunci ruangan itu.


"Cepat seret gadis itu, aku tak peduli siapapun yang berani menghalangi jalanku habisi saja dia. tapi, jangan habisi nyawa gadis itu." perintah seorang pria dengan suara lantangnya yang membuat tubuh Jane semakin gemetar membuka kode ruangan.


Baik, pak! jawab beberapa anggota dengan suara serak basah yang lantang dan terdengar perkasa dan tangguh.


Jane masih terus mengingat beberapa digit kode rahasia itu.


Dan, “Kreek. Pintu mulai terbuka. Ia mulai masuk ke dalam ruangan tanpa permisi. Bahkan ia juga mulai turun ke ruangan bawah tanah dan menguncinya dengan rapat.


Sementara di tempat persembunyian Nick, Dormino datang dengan wajah yang panik melihat tangan Nick yang terluka karena peluru.


“Bantu aku, jumlah mereka semakin banyak kurasa kita tak bisa menghadapinya jika hanya dua orang. keluh Nick yang mulai mengikat lukanya dengan sebuah kain.


"Aku akan membantumu, setidaknya jika ajal datang menjemput dan kita tewas dengan terhormat karena menyelamatkan nyawa seorang gadis." jawab Dormino yang membuat Nick tersenyum aneh memandang sosok pria itu.


“Jane? Bagaimana dengan Jane?”


"Jane sudah aman. Ia menuju ruangan itu.”


Nick mulai menghela napasnya, sementara Dorm mulai menggantikan posisi Nick yang mulai melawan beberapa penyusup bersenjata itu. Beberapa pasukan masih menyergap mereka, namun tiba-tiba.


"Angkat tangan kalian atau kalian akan mati." teriak salah seorang musuh dengan menyodorkan senjata ke arah mereka.


Dormino dan Nick mulai mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


….