
Pernahkah kalian memiliki kisah masa lalu yang kelam, tragis dan mengenaskan?
Malam sunyi bertemankan sepi, suasana malam menjadi semakin dingin dan mencekam terlihat jam dinding telah menunjuk pukul 01.00 dini hari. Namun, seseorang pria dengan perawakan yang cukup gagah dan besar tengah melamun seperti ia benar-benar telah kehilangan sebuah harapan. Ya, dia adalah Jack, Jack masih terjaga dari tidurnya, ia memandangi langit-langit sel sembari sesekali ia juga menghela napas panjang yang sedari tadi menyesakkan dadanya. Ia termenung memikirkan nasibnya yang kini tengah berada di ujung tanduk kehancuran.
" Jack?" panggil seseorang dengan suara serak yang baru saja bangkit dari tidur malamnya menatap sosok pria yang bersandar penuh beban kehidupan.
Jack hanya tersenyum membalas ucapan pria itu.
Malam itu, pikiran Jack benar-benar kosong ia tak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana menjalani hari-hari dan menjadi seorang tahanan kelas kakap yang menunggu waktu eksekusi kematiannya.
" Apa yang kau pikirkan hingga membuatmu terjaga semalaman seperti ini, Jack?" tanya pria itu sekali lagi pada Jack sembari tangannya mengusap kedua bola matanya yang mulai memerah.
" Aku ingin bebas dan pergi dari sini, Jay. Aku tak mau mati konyol dalam jeruji besi ini." ucap Jack yang masih terus melamun menyandarkan kepalanya pada sebuah dinding putih dalam sel.
Jay hanya bergumam dan menganggukkan kepalanya sembari jarinya ikut mengusap dagunya, seakan ia juga ikut berpikir tentang cara ampuh untuk meloloskan diri dari jeruji besi yang kini membelitnya dengan seorang pria muda dengan masa depan yang lebih panjang darinya.
" Apa kau punya ide untukku melarikan diri, Jay?" tanya Jack dengan menatap Jay yang tengah melamun di atas tempat tidur penjara dengan sprei yang terlihat usang dan sedikit kotor karena debu.
Jay tertunduk diam menatap sosok pria yang kali ini duduk melamun di hadapannya yang mengharapkan sebuah ide licik darinya. Kali ini, batinnya mulai bergejolak ia benar-benar kembali terbayang dengan sosok dirinya di masa sulit delapan tahun silam, ketika ia ingin mencoba tuk melarikan diri dari penjara dan hukuman yang kini menimpanya, namun dalam hatinya kembali terbesit tuk memilih agar tetap tinggal dan melaksanakan hukuman yang didapatkannya sebagai bentuk pembalasan dari segala perbuatan jahat yang pernah ia lakukan. Ia menganggap ini sebagai tebusan sebuah dosa, namun suatu hari Jay memilih tuk mengurungkan niatnya untuk kabur karena ia berpikir bahwa tidak ada lagi hal yang membuatnya pantas tuk kembali hidup dan bebas menjadi orang biasa, karena selama ini ia dikenal buruk dan menjadi buronan polisi hingga membuatnya tak berarti lagi di mata masyarakat dunia.
Jay mulai menghela napas panjangnya, nampaknya ada sesuatu yang tiba-tiba saja datang menyesakan relung batinnya. Pikirannya kini mulai kacau.
Ia kembali teringat pada masa delapan tahun silam, ketika ia menikahi seorang gadis yang cantik jelita asal San Francisco, ia bernama Maria Cardwill.
Maria adalah gadis yang sangat baik dan ramah yang baru saja ia temui di sebuah kedai kopi ternama di San Francisco.
Di pandangan pertama, Jay mulai merasakan getaran-getaran yang datang menyengat hatinya, ia benar-benar telah jatuh hati dan tertarik untuk menikahi sosok penjaga kedai kopi yang belum lama ini ia kenal, walaupun Maria tahu bahwa Jay adalah seorang berandalan jalanan, namun ia tetap teguh untuk mencintainya dengan sepenuh hati dan raganya.
Tepat di bulan April, Jay menikahi Maria di sebuah gereja besar yang ada di San Francisco, terlihat senyum sumringah yang menghiasi kedua wajah mempelai ini. Jay sangat beruntung bisa mendapatkan sosok wanita lembut seperti Maria Cardwill.
Dalam menjalin rumah tangganya bersama Jay, Maria hidup bahagia dan sangat mencintai suaminya yang kala itu bekerja sebagai pembunuh dan bandar dari sebuah misi penyelundupan narkoba. Maria sama sekali tidak mempedulikan perkataan orang lain tentang pekerjaan dan status suaminya. Ia hanya terus berusaha mencintai dan menjadi seseorang yang mampu mengubah perilaku dan sifat Jay agar menjadi sosok pria yang baik seperti sebelumnya.
Rumah tangga pernikahan mereka sangat harmonis dan dipenuhi oleh cinta dan kasih, Maria memberikan semua cinta kasihnya hanya kepada Jay dengan harapan suatu hari nanti Jay bisa kembali menjadi sosok pria yang baik seperti sediakala yang mana ia dambakan sejak lama, sementara Jay juga amat mencintai istrinya, ia tak mau kehilangan Maria hingga membuatnya bersifat berlebihan yang overprotektif terhadap semua hal yang berhubungan dengan sang istri kesayangannya.
Ia tak mau melihat istrinya dekat dengan pria lain, ia tak mau istrinya meninggalkannya dengan jangka waktu yang lama, ia juga membatasi semua gerak-gerik istrinya dan ia hanya ingin istrinya, Maria selalu bersama dengannya. Sifatnya yang overprotektif inilah yang membuat Maria terkadang terganggu.
" Aku mencintaimu melebihi apapun, Maria." bisik mesra Jay pada telinga kanan Maria saat awal mereka menikah.
" Aku juga sangat mencintaimu, Jay." balasnya dengan senyum manis yang terlukis dalam wajah lugunya .
" Jangan pernah kau tinggalkan aku, Maria. Aku rapuh tanpamu." bisik Jay lagi kali ini tangannya mulai berani menyentuh halus dan membelai rambut panjang Maria.
" Jadilah sosok pria yang baik, Jay dan aku takkan pernah meninggalkanmu, aku akan selalu ada di sisimu sampai kapanpun itu. Inilah sumpah setiaku di depan Tuhanku dan Tuhanmu." balas Maria yang masih terus memandangi sosok pria yang ada di hadapannya. Ia tahu, Jay adalah pria yang baik walau terkadang ia sering haus akan membunuh dan terus berbuat keji tapi dalam hati kecilnya ia percaya bahwa Jay, suaminya tidak akan pernah bisa menyakitinya karena hanya pada dialah Jay tunduk dan patuh.
Hari demi hari telah berganti, tahun demi tahun telah terlewati. Rumah tangga mereka mulai tak lagi harmonis, masalah demi masalah selalu datang melanda dan badai kehancuran sering muncul dan mencoba tuk menghempaskan rumah tangga mereka dan memporak-porandakan kebahagiaan yang terlukis indah di sana.
Jay mulai meragukan cinta kasih tulus dari sang Istrinya, Maria. Ia mulai tidak percaya akan semua ucapan dan janji manis Maria padanya.
" Maria membencimu, Jay. Ia hanya kasihan padamu." ucap salah satu bayangan semu yang ada di dalam diri Jay. Jay memiliki dua kepribadian yang bisa muncul kapan saja, terkadang ia bersikap manis namun terkadang ia juga bersikap bengis terhadap siapapun yang dikehendakinya.
" Tidak mungkin, Maria mencintaiku." jawab Jay yang kini tengah berdiri di depan cermin besar yang ada di rumahnya
" Dia tidak mencintaimu. Dia hanya kasihan melihatmu, wanita itu pendusta, Jay. Habisi saja dia." ucap salah satu sisi gelap Jay yang ia lihat dalam sebuah pantulan di cermin. Jay kembali berbicara dan berhalusinasi lagi.
Jay mulai terpancing emosi, ia mulai menghancurkan cermin yang ada didepannya dengan tangan kosong ia pukul cermin itu sampai retak hingga membuat luka dengan darah yang bercucuran.
Jay jatuh tersungkur dan menangis dalam ketakutan, penyakit kejiwaannya mulai datang dan menyakitinya.
" Jay? Apa yang kau lakukan?" teriak histeris seorang wanita yang baru saja pulang dari kantornya
" Lepaskan aku, Maria! Aku membencimu." teriak Jay yang mulai mendorong istrinya ke tembok. Maria hanya tertegun melihat perubahan sikap Jay yang semakin lama semakin keras dan tak terkendali.
" Sudah kubilang, pergi!" bentak Jay pada Maria yang kini ucapannya mampu membuat hati kecil seorang wanita menangis sakit.
Maria pergi meninggalkan rumah dan menelpon seorang dokter jiwa dan memintanya tuk bertemu di sebuah kafe ternama di San Francisco.
" Jay marah lagi?" kejut sang dokter dengan mata yang terbelalak lebar.
Maria hanya mengangguk dan masih terus menangis menatap sosok dokter jiwa dimana Jay berobat.
Sang dokter hanya diam memikirkan sesuatu.
" Apa yang ia lakukan?"
" Ia menghancurkan cermin dengan tangannya dan berbicara kasar padaku. Aku sudah tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, Tom." ucap Maria yang kali ini dengan nada yang putus asa dan ingin menyerah menghadapi sikap suaminya yang semakin tempramental.
" Maria, tenanglah." ucap dokter jiwa itu yang ternyata bernama Tom yang kini tengah mencoba menenangkan kliennya yang menangis tersedu-sedu.
Namun, secara tak sengaja dan di waktu yang tak di sangka-sangka Jay datang memergoki mereka dengan membawa sebuah pistol genggam. Amarah Jay kian berapi-api bagaikan api yang disiram bensin. Ia mulai kehilangan kendali dalam dirinya. Jay mulai menarik paksa Maria dan menodongkan sebuah senjata tajam ke arah dokter Tom dimana yang sedari tadi meminta Jay untuk tenang dan mengambil napas agar ia tak tergesa- gesa melakukan hal yang tidak diinginkan.
" Aku tak butuh kau, aku hanya butuh istriku! Jauhi istriku atau kau akan kubuat menyesal, dokter." ancam Jay dengan menodongkan senjata ke arah seorang dokter
" Tenanglah, Jay tenangkan dirimu." ucap halus sang dokter.
" Diam kau! sekali lagi kau bergerak aku takkan segan-segan menembakmu." ancam Jay kali ini dengan nada yang benar-benar marah.
Dokter itu mulai mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan membiarkan Maria dibawa paksa oleh suaminya yang mengidap gangguan jiwa itu. Walau dalam hatinya ia selalu berdoa untuk keselamatan Maria dari suaminya yang kejam ini.
Maria masih terus meraung-raung kesakitan karena cengkraman erat tangan Jay yang mulai menyakiti pergelangan tangannya, rasanya hampir sedikit gila jika ia bersama dengan Jay, suaminya.
Jay mulai menginjak gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, seakan ia benar-benar ingin membawa dirinya dan Istrinya menghadap pada sang malaikat kematian. Jay memperlakukan Maria dengan sangat keras hingga membuat beberapa tetangga di rumahnya berhamburan keluar melihat pertengkaran hebat antara sepasang suami istri yang akhir-akhir ini sering berbuat gaduh di kompleks rumahnya.
" Apa ini yang kau namakan cinta, Jay?" tanya Maria yang kedua bola matanya masih terus mengucurkan air mata.
" Apa cinta harus seperti ini?" tambahnya kali ini dengan terus meraung-raung.
" Kau menduakanku, Maria. Kau berkhianat." tegas Jay dengan sedikit membentak dan mendorong Maria ke arah pintu rumahnya yang kini tengah terbuka lebar. Ia meminta Maria untuk masuk menyelesaikan masalah rumah tangganya di dalam.
" Aku tidak mengkhianatimu, aku tetap Maria yang selalu mencintaimu, Jay. Kau selalu berlebihan dalam menilaiku. Kau yang kehilangan kendali dirimu, Jay." jawab Maria yang kali ini mulai berani melawan ucapan sang suaminya yang tengah hilang kendali dengan harapan semoga ia lekas sadar akan segala perlakuan yang ia perbuat.
" Bohong, semua ucapanmu itu bohong! kau anggap aku ini apa, Maria! Apa aku buta!" elak Jay yang membentak keras dan lebih keras menuding Maria atas perselingkuhan yang tak ada tanda buktinya.
" Kau pergi dengan pria lain, tapi kau masih berani berkata kalau kau masih tetap mencintaiku?" tambah Jay dengan menyidik bengis istrinya yang masih terus menangis.
" Kau gila, Maria! Kau gila!" bentaknya lagi kali ini ia menggebrak dan menggulingkan sebuah kursi makan yang ada di depannya.
" Kau yang gila, Jay. Kau selalu bersikap demikian padaku. Buka matamu, Jay. Gangguan psikismu yang membuatku tertekan, Jay."
Jay mulai mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menampar pipi istrinya yang kali ini menangis karena derita batin yang ia pendam selama ini. Maria hanya menyentuh pipinya dan menatap Jay dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Benar, Jay bukanlah sosok Jay yang dulu, ia berubah menjadi sosok yang bengis terhadap siapapun.
" Jay, bunuh saja aku! Aku sudah tidak tahan hidup dengan pria kejam sepertimu, bunuh aku, Jay!" ucap Maria yang mulai mengusap air matanya menatap Jay dengan tatapan tajam seakan ia benar-benar pasrah atas apa yang akan suaminya perbuat padanya. Mungkin inilah satu-satunya cara untuknya hidup tenang tanpa sebuah tekanan yang ada pada dirinya dan rumah tangganya.
" Baiklah, kaulah yang menantangku, Maria. Jangan salahkan aku jika aku benar-benar ingin melenyapkanmu. Aku benar-benar membenci orang yang mengkhianati orang lain." jawab Jay kali ini dengan mengarahkan sebuah pistol tepat dimana Maria berdiri.
Maria mulai menarik napasnya dalam-dalam. Ia merasa bahwa inilah takdir cinta dan akhir dalam perjalanan hidupnya bersama sosok pria bengis seperti Jay, ia benar-benar merasakan pedihnya menjadi sosok istri bagi pria hilang akal seperti Jade Jillary atau Jay.
Jay mulai menarik pelatuk pistol itu dengan kuat. Ia tak peduli jika ia benar-benar menghabisi nyawa istrinya sendiri. Pandangan dan pikirannya kini gelap karena nafsu setan yang menggodanya.
"Doorrr!" Sebuah peluru kembali dikeluarkan dari sarangnya dan menembus tubuh sosok wanita lembut seperti Maria.
Maria mulai tergelatak tak berdaya dengan peluru yang menembus dadanya. Terdengar sesekali ia merintih kesakitan seperti seseorang yang benar-benar kehabisan napas, inilah napas dan perjalanan terakhir dari sosok Maria Cardwill.
Jay mulai menghampiri sosok wanita yang kini terbaring lemas tanpa nyawa, ia mulai memandanginya dalam-dalam.
" Maafkan aku, Maria. Kaulah yang memulai segalanya." ucapnya dengan membelai halus rambut hitam lebat milik istri tercintanya yang kini telah tiada di sisinya.
Di sebuah kamar dengan dekorasi rumah yang indah di penuhi bunga dan foto pernikahan. Jay kembali menatap foto bahagianya bersama mendiang istrinya yang baru saja ia bunuh.
" Maria, aku mencintaimu tapi mengapa kau tinggalkan aku." gumam Jay yang mengelus lembut wajah Maria dalam foto pernikahannya.
" Sial!" teriak Jay kali ini dengan membanting foto itu ke lantai hingga membuat bingkai itu pecah berserakan.
" Aku telah membunuh istriku sendiri, aku...aku.." ucap Jay yang kali ini menjambak rambut cepaknya ia mulai merasa menyesal telah membunuh sosok orang yang mencintainya.
Jay benar-benar akan kembali menyendiri dan akan selalu berteman sepi.
Kematian Maria membuat Jay semakin terpukul, gangguan jiwa yang ia derita membuatnya hilang arah dan tak terkendali atas nafsunya untuk terus membunuh dan melukai seseorang.
Jay mulai melarikan diri ke Florida dan meninggalkan jasad istrinya tanpa rasa bersalah. Beberapa tetangga mulai ketakutan melihat tingkah biadab Jay, mereka memilih untuk diam dan menunggu waktu yang tepat untuk memeriksa keadaan Maria yang dikenal sebagai sosok wanita yang baik dan ramah di kompleks rumahnya.
Beberapa polisi telah datang dan mengamankan rumah Jay dan Maria. Polisi masih menyidik kasus kematian wanita ini dengan sangat detail, namun Jay tetap berhasil melarikan diri dari kejaran polisi dan berhasil menetap dan tinggal di Florida, Amerika serikat.
Kejadian itu membuat Jay kembali merindukan sosok mendiang istrinya.
Di sebuah jeruji besi khusus dengan tembok putih terlihat dua orang pria duduk bercengkrama menatap penuh rasa penyesalan.
" Jay, apa kau baik-baik saja?" tanya Jack yang mulai membangunkannya dari lamunan ngeri masa lalu.
" Aku baik."
" Jadi, apa kau punya rencana untukku melarikan diri, Jay?" tanya Jack sekali lagi kali ini hatinya mengharap agar Jay mau membantunya bebas.
" Baiklah, esok aku akan membantumu."
Jack tersenyum lebar mendengar berita bagus ini.
" Lalu, kita akan pergi dan lari bersama, Jay."
" Tidak, Jack. Kau saja yang pergi. Aku akan menjalankan eksekusi matiku." tolak Jay kali ini matanya mulai memerah
" Hei, mengapa Jay? Apa kau tidak senang jika kau bisa bebas dari tahanan?" sidik Jack yang terheran-heran mendengar ucapan Jay yang diluar dugaan.
" Tidak, Jack. Dosaku telah terkumpul banyak. Kurasa ini adalah satu-satunya cara yang tepat untukku menebus segala kejahatan yang telah ku perbuat di masa lalu. Lagipula aku akan bertemu dengan istriku di alam sana." jawab Jay dengan menatap tajam wajah Jack yang terdiam
Jack hanya terperangah mendengar ucapan Jay. Ia tak pernah menduganya.
" Aku merindukan istriku, Jack." jawabnya dengan menyekat air mata yang hampir saja jatuh menetes di pipinya.
Jack mulai menepuk pundak teman satu selnya itu, Jay sebagai bentuk dukungan padanya.
" Pergilah denganku, Jay. Kau tahu perjalananmu juga masih panjang, Jay." bujuk Jack yang kini tengah duduk berdampingan bersama Jay.
Jay hanya terdiam mematung dan menatap serius mata Jack sepertinya ada sesuatu hal yang mulai muncul di pikirannya. Pikiran Jay kembali tertuju pada misinya tentang sebuah pelarian.
*Akankah pelarian Jack berhasil ataukah Jack akan membusuk dalam kesepian di penjara seperti yang dialami oleh Jay?
Apakah Jay akan di eksekusi atau Jay malah berubah pikiran dan memilih kabur dari sel bersama Jack*?
Jangan lupa like, Vote dan Komennya ya Readers* :)