
Hari ini adalah hari yang cerah terlihat langit biru yang membentang indah dan mentari bersinar dengan ramah menggambarkan suasana hati Jack yang tengah berbunga dan gembira. Tepat di hari ini, ia akan datang menemui kekasih idamannya, Jennings Brouch dengan membawa setangkai bunga dan coklat di sakunya ia mulai mengetuk pintu rumah Jane, dengan harapan hatinya juga ikut terketuk dengan perbuatan manisnya kali ini. Nampaknya, sosok panglima kematian kini mulai jatuh hati dengan seorang wanita yang tak lama ia temui dengan kesan yang tak disangka-sangka.
“ Jack?” ucap Jane yang tak menduga bahwa Jack datang ke rumahnya dan berdiri kokoh di depan pintu, dengan sigap ia mulai memeluk erat tubuh Jack seperti sosok anak kecil yang memeluk erat bonekanya.
“ Betapa aku merindukanmu, Jack kemana saja kau? Apa kau baik-baik saja?” tanyanya dengan nada sedikit gugup bercampur bahagia melihat sosok pria yang ia tunggu kedatangannya akhirnya datang juga. Jack hanya terdiam tanpa kata, ia merasa tak percaya bahwa Jane menyambutnya dengan hangat.
“ Aku baik, Jane.” jawab Jack, Jane hanya mengangguk dan kedua bola matanya kini mulai memperhatikan tangan Jack yang menggenggam setangkai bunga mawar.
“ Apa yang kau bawa? Apa itu untukku?” tanya Jane dengan nada yang agresifnya sembari menunjukan ekspresi wajah sumringah melihat sekuntum bunga yang Jack bawa sebagai buah tangannya.
“ Iya, ini untukmu. Aku membelinya di tukang bunga tadi, melihat bunga ini aku jadi teringat tentang dirimu, Jane.” jawab Jack yang nampaknya agak sedikit kikuk, ia merasa gugup karena cinta yang bersemayam dalam dada, ia mulai salah tingkah dengan segenap rasa yang memenuhi dadanya.
Jane menerima pemberian Jack dengan senang hati, nampaknya kehadiran Jack kali ini telah ditunggu sejak lama.
“ Ada apa kau datang kemari, Jack? Mengapa kau tak bilang terlebih dahulu padaku?” tanya Jane yang mulai membuka topik pembicaraan diantara mereka. Terlihat wajah Jack mulai gugup.
“ Tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu, Jane. Bukankah sudah lama kita tak bersua?” jawab Jack yang tengah menutupi suatu hal pada Jane.
“ Iya benar, aku sampai merindukanmu, Jack.”
Jack hanya tersenyum memandang gadis yang ada dihadapannya, nampaknya benih-benih cinta mulai merasuki jiwa mereka.
“ Jane, ada suatu hal yang ingin kubicarakan padamu.”
“ Apa? Bicaralah, aku akan mendengarkannya.” jawab hangat Jane
“ Apa kau tau siapa diriku sebenarnya?” tanya Jack pada Jane hingga membuat gadis itu terdiam sejenak memandang sosok pria yang kini menatap dalam bola matanya.
“ Aku ini adalah seorang buronan, aku telah membunuh Ary Jason dan keluarganya dan aku adalah panglima kematian di gangsterku, akulah pembunuh bayaran itu.”
Jane terkejut mendengar ucapan Jack yang mulai berterus terang tentang dirinya, ternyata ucapan yang dikatakan oleh Dormino, teman satu komplotan Jane itu benar bahwa Jack adalah sosok pembunuh bayaran yang selama ini masih dicari keberadaannya oleh pihak kepolisian. Jane mulai terdiam dengan mata yang sedikit terbelalak kaget.
“ Jane! Apa yang kau lakukan dengan pria ini!” teriak keras seorang pria yang turut menarik tangan Jane agar menjauh sosok pria yang baru saja mengakui profesinya
“ Dorm, hentikan dia tamuku.”
“ Dia ini pembunuh bayaran, Jane. Aku tak mau jika kau ikut terseret dalam masalahnya, kau tahu di aini serigala berbulu domba, hatinya menyimpan seribu kebusukan.”
Jane mulai berusaha menenangkan Dorm yang mulai terpancing emosinya ketika melihat wajah Jack O’Hammels yang saat itu datang ke rumah Jane. Jack mulai berdiri dari kursinya dan memandang tajam Dorm yang tengah berdiri di hadapannya.
“ Untuk kau, Jack kau jangan ganggu Jane lagi. Jauhi dia!”
Jack mulai menyeringaikan bibirnya
“ Hei, bung bicaralah yang sopan dan kendalikan emosimu.” desis Jack pada Dorm dengan menepuk pundaknya dan pergi meninggalkan Jane bersama sosok pria yang tiba-tiba saja datang memaki tanpa sebuah alasan.
“ Apa yang kau lakukan, Dorm? Mengapa kau mengusirnya?”
“ Kau tahu, pria itu berbahaya untukmu, Jane.”
“ Tapi, dia sudah berkata jujur padaku, dia mengakui semuanya bahwa dia seorang pembunuh keluarga Ary Jason dan dia juga telah mengatakan bahwa dia adalah panglima kematian di gangsternya. Dia pria yang jujur, Dorm.”
“ Tapi, tetap saja walaupun dia telah berkata jujur padamu, dia tetap pria yang jahat, Jane. Aku tak mau suatu hal yang buruk terjadi denganmu karena kau dekat dengannya. Apa sangat sulit menyanggupi permintaanku? Jauhi dia, Jane dan pandanglah aku, aku selalu ada untukmu.”
Untuk kesekian kalinya, rasa Dormino pada Jane tak terbalaskan.
“ Asal kau tahu, Jane aku melakukan semua ini karena aku peduli denganmu. Aku mencintaimu melebihi apapun di dunia. Aku takkan membiarkanmu hidup dengan tenang, Jack.” ucapnya dalam hati sembari mengepalkan tangannya.
Kali ini, Jane menolak cintanya karena ia lebih mencintai Jack dibandingkan dirinya, ia merasa bahwa Jack adalah dinding penghalang yang menghalangi cintanya dengan Jane.
Di sebuah ruangan yang tertutup dengan penerangan cahaya yang sedikit gelap terlihat beberapa orang tengah berkumpul disana, beberapa diantaranya bermain kartu dan lainnya hanya duduk santai menikmati dan menenggak sebotol minuman berbotol hijau.
Terlihat seorang pria muda dengan gagah mulai menyelinap masuk diam-diam, pria itu adalah Jack O’Hammels yang beberapa minggu lalu berhasil melarikan diri dari hukuman mati yang menjeratnya.
“ Jack?” ucap lirih salah seorang diantara mereka yang tersadar bahwa Jack kembali menghampiri markas mereka, pria itu mulai berlari meneriaki berita baik ini.
“ Jack kembali! Jack datang kemari!” teriak riang gembira sosok pria itu. Sontak hal ini membuat beberapa diantara mereka yang tengah bermain kartu mulai berdiri dan terperangah kaget seakan tak percaya dengan kedatangan sosok panglima kematian mereka yang telah dicari keberadaanya. Seorang pria dengan tato di lengannya juga mulai menyeringaikan bibirnya sepertinya ia tahu bahwa Jack akan kembali sesuai dengan dugaannya.
“ Sejauh apapun burung terbang pasti akan kembali pada sangkarnya.” ucap Bob dengan suara yang berat sembari menghisap rokoknya.
Jack mulai memasuki ruangan itu, semua orang mulai menyambut kedatangannya dengan riang gembira seakan mereka menyambut sosok penting dalam kehidupan gangsternya.
“ Akhirnya kau kembali, Jack.” jawab beberapa orang diantara mereka dengan menepuk pundak Jack. Namun, dengan kasar Jack menepis semuanya seakan ia tengah marah.
“ Ada apa dengan dirimu, Jack? Mengapa kau seperti ini?” tanya seseorang dengan nada yang sedikit heran dengan perubahan tingkah laku Jack. Tak biasanya ia bersikap kasar seperti ini, Jack yang mereka kenal dikenal sebagai sosok yang pendiam dan murah senyum, namun berbeda dengan saat ini, ia datang dengan keadaan yang temperamental dan kasar.
“ Aku begini karena orang itu!” tegas Jack sembari menunjuk keras kepada sosok bos besar gangsternya, Bob Markle. Tak luput ia juga menatapnya dengan tajam. Jack mulai berjalan perlahan-lahan menghampiri sosokl bos besar yang kini tengah berdiri membeku.
“ Mengapa kau tak datang menyelamatkanku padahal kau bos besar dalam gangster ini? Kemana kau selama ini? Apa kau peduli dengan kehidupanku dalam jeruji besi? Kau tahu, aku menderita disana, setiap menit bahkan detikpun hatiku dihujani rasa penyesalan, ketakutan dan bahkan hidupku menjadi tak tenang karena aku saat ini menjadi kejaran pihak kepolisian, itu karena apa? Karena aku mematuhi semua perintahmu, bos. Enak sekali ya, kalian semua hidup bahagia tanpa masalah seperti diriku, apa ini yang dikatakan sebagai adil!” jelas Jack yang mulai meluapkan segala kekesalannya dalam hatinya. Ia merasa telah dikhianati oleh teman satu komplotannya.
“ Jack, tenanglah kendalikan dirimu. Aku bisa jelaskan semuanya.”
“ Cukup aku tak mau mendengar semua omongan kosongmu! Aku ingin keluar dari gangster ini.” ujar Jack yang mulai mengucap tujuan kedatangannya.
“ Jack! Kau jangan main-main dengan ucapanmu.” bentak Bob yang kini mulai terpancing emosinya karena perkataan Jack yang mengucap bahwa ia akan mengundurkan diri dari gangster yang selama ini menjadi sosok naungan Jack.
Jack masih terus menatap sadis sosok Bob yang kini ada di hadapannya. Tak ada rasa takut dalam hatinya, kali ini ia merasa bahwa semua keputusannya sudah benar.
“ Aku tak peduli, aku ingin keluar dari komplotan ini. Sudah cukup aku menjadi kambing hitam dan umpan dalam segala tugas pembunuhan. Apa kau tak berpikir bahwa aku juga membutuhkan kebebasan, aku ingin hidup bebas tanpa tekanan dari kau dan kejaran kepolisian.” jawab Jack yang mulai melangkah membelakangi Bob Markle yang mulai terdiam tak bisa berkata lagi.
Semua anggota gangster hanya bisa diam membatu, mereka tak berani melawan apalagi menyanggah ucapan sang panglima kematian gangsternya. Kali ini, Jack benar-benar marah, ia kecewa dengan perlakuan seluruh teman satu komplotannya. Di sisi lain, Jack juga ingin mengubah takdir kehidupannya, ia kembali teringat dengan sosok mendiang Jade Jillary atau Jay si criminal kelas kakap yang menjadi legenda.
Jay pernah mengatakan bahwa kehidupan Jack masih panjang dan harus menjadi sosok yang lebih baik, ia juga tak mau mati konyol seperti Jay, ia dapat melihat betapa pedihnya kehidupan Jay selama di dalam sel dan menunggu giliran hukuman matinya.
Ia kembali teringat tentang jasa Jay, jika bukan karena bantuan Jay, ia mungkin tak bisa lepas dan bebas dari penjara, mungkin kini ia masih mendekam dalam jeruji besi yang menjadi penghalang gerak geriknya.
“ Jay, kau sudah tenang disana, kan?” ucap lirih Jack dengan menatap langit biru yang kini menaunginya
“ Apa kau sudah bertemu dengan istrimu? Bisakah kau sampaikan juga permintaan maafku pada Ary Jason dan keluarganya? Aku menyesal telah melakukan pembunuhan itu dan katakanlah padaku, Jay apakah keputusan yang kuambil ini sudah tepat?” ucap Jack lagi yang terus menengadahkan kepalanya menatap langit biru dengan awan putih yang menggumpal di setiap ruangnya.
Hati Jack mulai bimbang, rasa bersalah kini semakin menyelimuti hatinya.
“ Jack?” panggil seorang yang menyebut namanya.