The Black Missions

The Black Missions
Eps. 33 Pelarian



...Suatu pilihan yang kau pilih hari ini akan menentukan nasibmu di masa depan. ...


Pernahkah kalian dihadapi dengan dua pilihan yang besar hingga membuat hidup kalian tak tenang?


Hari telah berganti, burung-burung menyanyi mewarnai indahnya hari. Sang Mentari telah memunculkan sinarnya ke seluruh penjuru negeri, suasana pagi ini agak sedikit berbeda, nampaknya Jack mulai tak bergairah untuk menjalani hari seperti biasanya. Gairahnya hilang seriringnya waktu yang berputar.


Ia terjaga semalaman karena selalu terpikirkan tentang perasaan dan kesetiaannya. Ia tak mungkin menyakiti hati Jane tetapi ia juga tak mungkin mengkhianati kepercayaan bos besarnya, karena berkat bosnya ia bisa hidup layak seperti sekarang ini dan hanya bosnya yang menjadi satu-satunya keluarga yang Jack miliki saat ini.


“ Aku tak bisa seperti ini terus, aku harus menemui Jane.” ucap Jack yang mulai meraih jas besar dan topi hitamnya. Jack mulai jalan menyusuri kota dengan penyamaran yang ia lakukan sebelumnya, kali ini ia harus berhati-hati dan selalu waspada jangan sampai ada salah satu anggotanya yang mengikutinya hingga ke rumah Jane, termasuk dengan William Hertz.


William Hertz adalah sosok ancaman besar bagi Jack. Karena William merupakan sosok yang licik yang kapan saja bisa saja menyerangnya dari belakang terlebih lagi ia juga sudah mengetahui hubungan Jack dengan Jane.


Jack mulai berjalan cepat sebisa mungkin ia harus bisa sampai di rumah Jane tepat waktu dan tak boleh ada satu orangpun yang mengikutinya.


Pintu mulai diketuk, kali ini Jack terus mengawasi daerah sekitar memastikan tak ada orang yang mengikutinya. Pintu mulai dibuka terlihat sosok wanita dengan kemeja biru berdiri tegap


“ Apa yang kau inginkan dariku, Jack?” sahut tegas sosok wanita itu, yang keluar dari rumahnya sembari membelakangi sosok pria yang tengah menyamar


“ Jane, ada yang ingin kubicarakan padamu.”


“ Cukup Jack, aku tidak mau mendengar apapun dari mulutmu. Aku sudah tahu semuanya, kau kemari karena kau ingin membawaku ke bos besarmu, bukan?”


Mendengar ucapan Jane, Jack kembali tercengang ia tak bisa berkata-kata lagi. Jane sudah tahu semuanya.


“ Kukira kau baik, Jack, nyatanya kau menjadikan aku sebagai tujuan untuk misimu. Kau ingin membunuhku, bukan? Maka, bunuh saja aku saat ini.” ujar Jane sembari menyodorkan tangannya pada Jack yang memintanya untuk dilenyapkan


“ Jane, bukan maksudku seperti itu. Dengarkan aku dulu, aku mohon. Akan kujelaskan semuanya padamu.” pinta Jack yang mulai berlutut dihadapan Jane. Jane masih terus membuang mukanya tak mau memandang sosok pria yang kini duduk memohon padanya.


“ Apa yang ingin kau katakan lagi, Jack? Semuanya sudah jelas, kau akan membunuhku, bukan? Jika kau ingin melenyapkanku, maka lakukanlah tapi bebaskan semua anggotaku mereka tak bersalah.” cetus Jane dengan nada yang pedas menanggapi ucapan Jack.


“ Tidak, Jane. Kuakui memang aku adalah kaki tangan dan ajudan dalam misi pemburuan The Brouch ini tapi, aku tidak tahu bahwa orang harus kuburu adalah dirimu, Jane. Aku tak tahu bahwa kau salah satu keturunan dari The Brouch itu.” jelas Jack.


“ Omong kosong, tidak mungkin seseorang yang telah diangkat sebagai panglima kematian tidak tahu semua misi dan targetnya. Dengarkan aku, kau memperlakukanku sangat baik tapi ternyata hatimu busuk, Jack. Kau menusukku dari belakang, kali ini aku benar-benar tertipu oleh parasmu yang tulus.” sindir Jane yang mulai membalikkan badannya dari sosok pria yang kini masih duduk memohon kepadanya. Jack mulai menundukan kepalanya dan menghela napasnya, hatinya ini sesak rasanya ia tak bisa memilih diantara dua pilihan. Membunuh Jane kekasihnya atau mengkhianati bos besarnya.


“ Tidak, Jane ini tak seperti yang kau pikirkan. Kedatanganku kemari bukan karena aku ingin membunuhmu atau menyeretmu secara paksa tetapi aku ingin kau lari dari tempat ini. Pergi dan bersembunyilah yang jauh, Jane sebelum komplotanku menemukan keberadaanmu dan seluruh anggota rampokmu.” jelas Jack yang kali ini mulai bangkit dari berlututnya. Jane mulai membalikan tubuhnya menghadap Jack yang tengah menceritakan suatu hal padanya.


“ Apa maksudmu?”


“ Sebenarnya ketika aku datang kemari, ada seseorang dari komplotanku yang mengikutiku hingga kemari. Aku tak tahu jika ia mengikutiku, ia mengetahui semua hal tentang dirimu dan tempat persembunyianmu. Aku takut jika suatu hari ia datang dan membawamu secara paksa ke markasku. Pria itu sangat licik, dialah musuh dalam gangsterku. Aku mau kau beserta komplotanmu pergi dari tempat ini, aku mohon.” ucap Jack yang mencoba menggenggam erat tangan Jane, namun ia mencoba untuk menarik tangannya kembali.


“ Kau jangan bersikap baik terhadapku, Jack. Aku tahu semua akal busukmu, kau memintaku untuk pergi maka dengan cara itu kau beserta gangstermu mudah untuk menangkapku, benar begitu? Ingat, aku tak sebodoh itu.” jawab Jane dengan menyeringaikan bibirnya dengan seram


“ Tidak, kali ini aku tak berpikiran seperti itu. Aku ingin kau selamat, Jane, aku tak mau kau tertangkap dalam misi khusus yang kupimpin saat ini.”


Jane masih terus diam tanpa gerak, ia masih tak percaya dengan semua ucapan pria itu.


“ Atas dasar apa kau memerintahku?” celoteh Jane dengan melipatkan kedua tangannya memandang sosok Jack


“ Karena aku mencintaimu. Aku tak mungkin melukaimu.”


Mendengar ucapan Jack, Jane mulai mematung. Ia tak menyangka bahwa Jack akan menyatakan cintanya di waktu yang tengah genting seperti ini.


“ Jack?”


“ Iya, aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, Jane. Hatiku sepenuhnya milikmu. Aku tak mau kehilanganmu, percayalah padaku, Jane, pergilah ke tempat lain. Komplotanku mengintaimu.” ucap Jack dengan suara yang lembut sembari menyentuh pundak Jane dan matanya terus menatap Jane dalam-dalam.


“ Apa yang kau lakukan disini?!” teriak seorang pria dengan lantangnya yang mulai memukul wajah Jack dengan kepalan tangannya. Jack jatuh tersungkur di atas lantai, hidungnya mulai mengeluarkan darah.


“ Berani sekali kau datang kemari. Apa yang kau inginkan? Kau ingin membunuh bosku, bukan?” tanyanya dengan sangat tegas dan jelas sembari menatap Jack yang tengah mengusap darah yang mengalir pada hidungnya.


“ Aku tak bermaksud untuk membunuhnya. Aku hanya ingin melindunginya.”


“ Melindungi apa yang kau bicarakan? Apa melindungi itu harus menyerahkan nyawa?” sahut Dorm dengan wajah yang memerah marah


“ Aku juga tak ingin membunuh Jane, aku ingin kalian tetap hidup. Percayalah, aku juga tak bisa memilih diantara Jane dan misi bosku.” terang Jack


“ Omong kosong! Kau adalah kaki tangan mereka, mana mungkin kau tak melakukan hal semacam itu.” Ucapnya dengan memberikan pukulannya yang kedua. Kali ini Jack tak membalasnya, ia hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.


Melihat Dormino yang terus memukuli Jack tanpa ampun, hati Jane mulai tak tega dan terketuk untuk menghentikan kekerasan ini, sebagaimanapun ia juga menyimpan sebuah rasa yang tak biasa pada Jack. Jack adalah cinta pertama bagi Jane, ia tak tega jika melihat cintanya terluka dan dipukuli dengan bengis seperti ini.


“ Hentikan Dorm!” ucap Jane yang mulai memisahkan pertengkaran diantara dua pria gagah dan perkasa ini. Wajah Jack dipenuhi luka yang membiru karena pukulan yang diberikan oleh Dorm. Jane berusaha membantu Jack untuk bangun dan ia juga mendudukan Jack di kursi ruang tamunya.


“ Mengapa kau menolongnya, Jane? Dia akan membunuhmu, biarkan saja dia mati di tanganku, jika dia mati, mereka takkan bisa apa-apa lagi karena panglima kematiannya sudah tewas.” ujar Dorm yang masih terpancing emosi.


“ Cukup, kubilang cukup Dorm! Apa kau belum puas memukulinya?” bentak Jane sekali lagi kali ini dengan mata yang berkaca-kaca memandang kondisi Jack yang babak belur dihajar Dorm. Dorm hanya menghela napasnya


“ Mengapa kau selalu membelanya, Jane?” tanya Dorm yang kali ini emosinya mulai mereda.


“ Aku mencintainya. Aku tak bisa melihat orang yang kucinta terluka. Apa jawaban itu membuatmu puas, Dorm?” jawab Jane yang membuat Jack terbelalak kaget dengan ucapannya. Tentu hal ini membuat hati sosok Dorm terpukul, cintanya bertepuk sebelah tangan. Jack yang ada di sebelahnya hanya menatap kaget karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


“ Kau mencintai pria bejat seperti ini, Jane buka matamu dia ini ingin melenyapkanmu. Jane dialah kaki tangan dari gangster dimana yang mengkhianati ayahmu." ujar Dorm yang mencoba menyadarkan Jane dari ucapannya


“ Jika dia memang ingin melenyapkanku, aku rela. Bunuh saja aku, bawa aku pada bosmu Jack."


Dorm tertegun mendengar ucapan Jane, kali ini Jane sudah tidak waras ia sudah dicuci otaknya oleh sosok kriminal ini. Dorm mulai menghela napas panjangnya dan mencoba untuk memahami apa yang Jack jelaskan padanya.


“ Baiklah, untuk apa kau datang kemari? Apa ada suatu hal yang penting yang ingin kau bicarakan pada kami?” tanya Dorm pada Jack dengan nada yang tegas


Jack mulai menceritakan semuanya pada Dorm tentang misinya untuk membunuh Jane dan komplotannya, ia juga menceritakan tentang sosok pria yang kemarin mengikutinya yang sewaktu-waktu bisa saja menjadi ancaman bagi Jane dan komplotannya karena pria itu tahu betul dimana Jane dan The Brouch itu tinggal. Mendengar ucapan dan penjelasan Jack, Dorm mulai terbuka mata hatinya ia melihat sebongkah cinta yang keluar dari sorot mata sosok pembunuh bayaran ini.


“ Aku ingin kalian pergi dan tinggalkan tempat ini, carilah tempat baru yang jauh dari sini. Aku takut jika sewaktu-waktu salah satu komplotanku datang dan mengkhianati aku sebagai ajudannya.” ucapnya dengan menyodorkan sebuah saran, kali ini Jack berbicara dengan mata yang berbinar-binar seakan apa yang ia bicarakan benar-benar datang dari hatinya.


“ Apa dengan cara melarikan diri seperti ini ampuh untuk mengelabui musuh yang mengintai nyawa bos kami?” tanya Dorm


Jack mulai terdiam sejenak, ia masih berpikir tentang tata cara untuk lolos dari pengejaran dan pembalasan dendam dari sosok Bob Markle.


“ Jika kami berhasil pergi dan bersembunyi ke daerah lain, bagaimana dengan kau?”


“ Aku akan baik-baik saja. Kutitipkan Jane padamu, jagalah dia sampai aku bisa bertemu lagi dengannya.” jawab Jack yang mulai melirik Jane yang tengah terdiam.


Dorm mulai mengangguk mengiyakan. Sementara Jane, ia mulai resah dengan keadaan Jack jika ia benar-benar pergi meninggalkannya.


“ Jack, aku akan ikut denganmu.”


“ Jangan, nyawamu dalam bahaya, Jane. Percayalah, aku akan kembali dan menemuimu di waktu yang tepat.” Balas Jack yang menahan rasa sakit pada pipinya sembari ia membelai halus kepala Jane. Mata Jane mulai berkaca-kaca seakan ia tak mau pisah dengan sosok pria yang baru saja menyatakan cintanya.


“ Baiklah, malam ini kami akan segera tinggalkan tempat ini.” ujar Dorm yang sedari tadi terdiam memikirkan waktu yang pas untuk melarikan diri.


Jack mulai tersenyum semringah dengan menatap mata Jane dengan memberikan senyuman. Jack mulai meraih jasnya dan pergi meninggalkan Jane. Hati Jack mulai berat melepasnya tetapi harus bagaimana lagi, inilah sebuah pilihan dimana nyawa kekasihnyalah yang harus menjadi prioritas hidupnya.


“ Jack?” panggil Jane yang terus menatap Jack dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. Jack hanya melambaikan tangannya pada Jane yang masih berdiri menatapnya


“ Kita akan segera dipertemukan lagi, Jane.” Teriaknya dari kejauhan sembari kakinya terus berlari menjauhi markas Jane dan The brouch.


“ Aku akan menunggumu, Jack. Aku akan selalu menunggu kedatanganmu.” gumam Jane dalam hati.