The Black Missions

The Black Missions
Eps. 34 Las Vegas



Mentari mulai tenggelam di ufuk barat, langit berubah menjadi gelap, sang Surya bergantian dengan rembulan.


Terlihat tiga orang pria dewasa tengah menyusun sebuah rencana untuk melakukan pelarian. Mereka juga disibukan dengan membereskan beberapa barang berharga.


“ Bawa barang-barang yang penting saja dan jangan lupa selipkan senjata pada pakaian atau saku kalian karena kita tidak tahu musuh akan datang, mereka bisa kapan saja datang mengintai.” ucap Dormino dengan tegas kepada seluruh anggota The Brouch.


“ Dorm, apa yang sedang terjadi pada Jane sejak tadi ia terlihat murung di sudut sana, sepertinya ada suatu masalah yang besar melanda jiwanya. Apa dia tak ingin pergi dari tempat ini?” bisik Tom yang mulai menaruh rasa curiga pada sikap Jane yang berubah menjadi sangat pendiam. Dorm hanya menggelengkan kepalanya seakan ia menyembunyikan segalanya yang telah terjadi siang tadi, dimana sosok Jack datang memberikan instruksi untuk segera pergi meninggalkan markas lama mereka.


Terlihat di sudut sebuah ruangan terlihat Jane tengah duduk terdiam meratapi nasib cintanya yang kini ada diujung tombak. Ia masih terpikirkan akankah ia bisa bertemu dengan Jack lagi? Apakah rencana yang Jack rencanakan akan berhasil? Hatinya terus bertanya-tanya tentang semua hal ini. Rasanya ia sangat takut jika harus kehilangan Jack secepat ini, baru saja ia merasakan cinta, kini ia harus dipisahkan karena perintah bos dari geng mafia itu.


“ Jane?” panggil Dorm yang mulai menghampirinya


“ Dorm.” Jawabnya yang mulai mengusap air matanya yang jatuh dari pipinya


“ Apa kau sedang memikirkan Jack?” tanya Dorm dengan menyodorkan sebuah sapu tangan untuk Jane mengusap air matanya. Ia mulai meraih sapu tangan itu.


“ Tidak, aku hanya berat meninggalkan markas ini, sepertinya aku akan rindu dengan suasana di sini. Disini dimana aku tinggal.” jawab Jane yang berusaha menutupi semua isi hatinya, ia juga mulai tersenyum walau terpaksa.


“ Kau tak bisa membohongiku, Jane. Aku bisa melihat semuanya hanya dari sorot matamu bahwa kau masih memikirkan sosok pria itu, kau masih mengkhawatirkannya, bukan?” celoteh Dorm dengan sangat tepat menebak seluruh isi hati Jane.


Jane mulai menangis meraung-raung pada bahu Dorm. Kali ini ia mulai bersikap terbuka pada sosok yang akrab di panggil Dorm ini.


“ Aku takut kehilangannya, Dorm. Aku takut jika aku tak bisa bertemu dengannya.” ucapnya yang terus menangis tanpa henti. Dorm mulai menghela napasnya dan memberanikan diri untuk menepuk halus kepalanya yang kini tersandar di bahu bidangnya. Dorm bisa merasakan betapa pedihnya perasaan Jane ketika harus berpisah dari kekasih impiannya.


“ Sudahlah, Jane bukankah Jack sudah berjanji padamu bahwa ia akan menemuimu di waktu yang tepat? Aku yakin, dia akan datang menemuimu lagi. Bukankah selama ini kau begitu mempercayainya?” tanya Dorm yang mencoba untuk menenangkan Jane yang terus menangis.


“ Tapi, bagaimana jika dia terbunuh karena dianggap pengkhianat oleh bos besarnya?”


“ Tidak, Jack itu cerdik dia pasti memiliki ribuan cara untuk menghindar dari ancaman dan kejaran gangsternya. Sekarang yang terpenting kita harus pergi dari tempat ini sebelum mereka menemukan kita. Kau ingin bertemu Jack lagi, bukan? Maka dari, itu siapkan dirimu malam ini kita akan berangkat.” nasihat Dorm pada Jane. Tangis Jane mulai berhenti, nampaknya hatinya mulai tenang. Tak lupa Dorm menyodorkan sebuah pistol dan pisau untuknya berjaga-jaga.


Malam itu tepat pukul 12. Suasana mulai sepi dan bulan nampaknya ikut bersembunyi di balik awan, bintang-bintang seakan ikut menghilang di telan awan yang datang. Terlihat tiga orang pria dengan seorang wanita mulai masuk ke dalam mobil.


Mereka mulai pergi meninggalkan markas lama mereka, sebelum salah seorang dari komplotan berbahaya itu menyergapnya.


“ Aku mohon pada kalian semua, tetap pasang mata kalian, pantau keadaan sekitar selama di perjalanan. Aku takut jika ada pengintai yang mengikuti kita.” ucap Jane pada seluruh anak buahnya yang ada di dalam mobil


“ Siap, laksanakan.”


“ Jangan lupa siagakan senjata kalian.” tambah Dorm yang kali ini mengambil alih setir mobil.


Mereka mulai bergerak menyusuri malam. Suasana yang sepi semakin membuat hati menjadi was-was. Tom dan Nick terus mengawasi keadaan baik dari kiri ke kanan dan bahkan ke belakang, senjata sudah disiapkan matang-matang jika ada yang menyerang tinggal luncurkan satu tembakan dan orang itu akan segera tepar tanpa balasan. Kali ini, benar-benar sangat menegangkan dimana keberadaan mereka sangat diincar bukan hanya pihak kepolisian tetapi juga sebuah gangster yang terkenal di Amerika.



“ Kurasa tempat ini aman.” ujar Dorm yang mulai melihat sekeliling.


“ Mengapa kita tak pergi ke Los Angeles saja? Bukankah tempatnya lebih menarik dan terawat daripada markas ini, Dorm?” tanya Jane yang merasa kurang nyaman dengan suasana markas yang baru saja mereka datangi. Markas ini terlihat seperti sebuah gudang yang terpakai lama, temboknya yang mulai retak termakan usia dan tumbuh-tumbuhan liar mulai merambat memberikan kesan yang mengerikan.


“ Karena menurut yang kutahu, markas ini tak diketahui oleh siapapun, termasuk Bob Markle si pengkhianat itu. Jadi, kurasa tempat ini akan aman untuk kita bersembunyi.” jawab Dorm yang mulai menjelaskan tentang markas ini pada Jane.


Mereka mulai mengangguk mengiyakan, markas baru mereka ada di Las Vegas dan akan segera didirikan. Mereka mulai mengeluarkan isi barang-barang dan mencoba untuk masuk ke dalam markas yang telah lama disembunyikan.


Pintu mulai dibuka, terlihat beberapa barang masih ditutupi oleh sebuah kain putih sebagai pelindungnya, banyak sarang laba-laba yang menjadi hiasan ruangan itu, lantai yang berdebu menjadi suatu ciri khas bahwa bangunan ini sudah lama tak terpakai dan tak pernah tersentuh oleh manusia.


“ Tempat ini sudah 20 tahun tak dihuni, tapi masih terlihat mengesankan juga. Aku merasa aku kembali pada zaman dimana ayah masih memimpin The Brouch ini.” ucap Nick yang terus memandang ruangan sekitar. Terlihat sebuah lukisan besar yang terpasang di sana, lukisan itu adalah lukisan dari sosok Edward Brouch, ayah dari Jane. Dialah perintis dari komplotan perampok ini, dahulu jumlah anggota dari The Brouch ini berjumlah 28 orang namun, seiring berjalannya waktu banyak yang tertangkap dan tewas dalam sebuah misi hingga kini yang tersisa hanyalah Nick, Dormino dan Tom. Sejak kematian sang bos besar, kini The Brouch dipimpin langsung oleh anak perempuannya Jennings Brouch atau akrab dipanggil Jane ini.


“ Aku tak pernah tahu soal markas di Las Vegas ini.” sahut Jane yang terus menyentuh lukisan ayahnya itu seakan ia begitu merindukan sosok ayahnya yang sudah lama meninggal.


Mereka mulai membereskan barang-barang yang ada. Kali ini, Las Vegas menjadi tempat persembunyian mereka.



Sementara di sebuah ruangan yang minim cahaya terlihat seorang bos besar tengah duduk menghisap rokoknya bersama dengan seorang pria yang kini duduk menghadapnya


" Jadi, kau sudah tahu dimana mereka berada?" ucap sang bos besar dengan menghisap rokok yang terselip di tangannya


" Ya, aku tahu betul dimana mereka bersembunyi bos, besok aku bisa menunjukanmu markas mereka." jawab Will dengan sangat serius menatap wajah pemimpin gangsternya.


" Bagus, kerjamu sangat bagus, Will. Aku tak sabar ingin menyergap mereka, sudah lama aku tak bertemu dengan sosok penerus The Brouch itu. Penerusnya seorang gadis kurasa ini akan mudah untuk ditangani." ujar Bob Markle yang diiringi gelak tawa yang bergema di tengah malam.


Mendengar pembicaraan serius antara William dan Bob membuat Jack terus khawatir hatinya terus bertanya-tanya akankah Jane sudah pergi meninggalkan markas itu? Resah mulai menyelimuti relung hatinya, rasanya ingin memeriksa kesana tapi apalah daya karena ini sudah larut malam dan tak mungkin juga jika ia harus menyelinap keluar melihat keadaan Jane beserta kawan-kawannya. Mereka pasti akan menaruh rasa curiga.


" Kuharap kau sudah meninggalkan markas itu, Jane." gumam Jack dalam hati sembari menyadarkan kepalanya di sebuah tembok besar yang memisahkan Jack dengan Bob yang tengah bercengkrama bersama William Hertz.


Jane masih terus merenung di loteng markas barunya sembari mengingat bahwa markas ini pernah menjadi singgahan ayahnya ketika ia dalam pengejaran.


" Kini kau sudah jauh dariku Jack, kuharap cintamu juga tak menjauhiku. Aku akan terus menunggumu, Jack. Sampai kapanpun itu akan terus menunggumu." gumamnya dalam hati sembari memandangi langit yang hampir menjelang pagi.


Kisah cinta Jack dan Jane terhalang karena sebuah misi khusus masa lalu. Mereka sama-sama dilema dengan semua rasa yang ada. Ingin saling mencinta namun takdir mengatakan hal lain.


Akankah mereka dipersatukan kembali?