The Black Missions

The Black Missions
Eps. 39 Hal Yang Tersembunyi



Hari cerah menaungi langit Las Vegas, terlihat seorang pria mengenakan jaket hitam berlari cepat menuju jalan roadcost nomor 18, di mana di jalan tersebut terdapat markas tersembunyi milik komplotan The Brouch yang tengah diincar keberadaannya. Ia berlari bagai seekor macan yang mengejar mangsanya, cepat dan secepat kilat.


Di dalam sebuah markas rahasia di Las Vegas terlihat beberapa orang tengah bersantai ria menikmati minuman dan hidangan yang tersedia di atas meja sembari terus berjaga-jaga dengan senjata yang tergeletak manja di dekatnya. Namun, suasana santai berubah menjadi tegang setelah seorang pria mulai masuk ke dalam ruangan dengan keadaan napas yang tersenggal-senggal. Nampaknya, sosok ini membawa berita penting yang harus segera disampaikan kepada seluruh anggota komplotannya sebelum semuanya terlambat.


“Gawat!” teriak sosok pria itu dengan sigap membuka pintu hingga membuat seluruh anggota menatap kaget. Beberapa diantaranya mulai mengangkat senjata laras panjangnya seakan sudah siap sedia jika terjadi suatu hal yang mengancam keselamatan dan nyawa.


“Ini gawat! Ini benar-benar gawat.” ucap pria itu dengan kata yang terus diulang berkali-kali.


“Apa maksudmu, Nick? Bicaralah yang jelas.” sentak Dormino yang nampaknya juga mulai ikut tegang sembari ia berdiri dari kursi nikmatnya, diikuti Tom dan juga Jane. Nick mulai mengatur sedikit demi sedikit napasnya.


“Apa kalian tahu korban pembunuhan yang masuk dalam berita televisi pagi tadi?”


Semua anggota menggelengkan kepalanya termasuk Jane yang mulai menyidik penasaran, jantungnya tiba-tiba ikut berdegup dengan kencang, hatinya mulai bergumam apakah pria yang tewas pagi tadi itu benar Jack? Apakah Jack sudah tewas? Pikiran kacau dan dugaan buruk mulai menghampiri otaknya.


Terlihat Nick mengambil napas panjangnya sembari tangannya menyentuh dadanya. Nampaknya, lari sejauh 1 kilometer membuat dada Nick terasa sesak dan sakit.


“Pria itu adalah salah satu anggota King Gangster, gangster di mana Jack berada.” ucap Nick yang masih menyentuh dadanya dengan napas yang tak beraturan diiringi cucuran keringat yang turun dengan deras membasahi dahi hingga lehernya.


“Tunggu dulu, aku belum mengerti sama sekali. Jadi, pria yang ditemukan tewas pagi itu adalah teman satu geng Jack? Jack O’hammels, begitu?” sidik Tom yang nampaknya mulai mencari kebenaran. Nick mulai mengangguk mengiyakan sembari terbatuk dan berlutut di lantai seakan ia tak kuat lagi tuk menompang tubuhnya di atas pijakan kakinya. Dengan sigap, Jane berlari membawakan segelas minuman dingin untuk menyegarkan tubuh Nick yang baru saja berlari jauh menyampaikan berita urgent ini.


“Sepertinya peristiwa pembunuhan salah satu anggota king gangster ini akan membawa malapetaka besar bagi kita semua. Ini akan memperkeruh suasana.” desis Dormino yang mulai mengepalkan tangannya dengan kesal.


“Mengapa bisa begitu, Dorm? Bukankah kita tak melakukan apapun terhadap mereka, kita hanya bersembunyi di dalam markas ini tanpa berani keluar menunjukan batang hidung kita. Apa kita juga yang akan disalahkan?” sahut Tom kali ini memiliki pikiran yang tak sejalan dengan Dorm.


“Ya, karena secara tak langsung mereka akan menuduh kita sebagai dalang di balik pembunuhan mengerikan ini dan bisa jadi mereka akan menjadi lebih ganas dalam mengejar jejak kita. Kini, aku mulai meragukan kesetiaan Jack padamu, Jane.”


“Dorm? Apa yang kau bicarakan? Jack takkan melakukan hal yang akan mengancam nyawa kita, dia yang berkata padaku bahwa dia yang akan melindungiku dan the brouch dari serbuan gangster-nya, apa kau lupa? Kau yang mendengarnya sendiri, bukan?” sanggah Jane yang mulai berdiri menghampiri dan menyela ucapan Dorm tentang Jack.


“Bukan, bukan seperti itu maksudku, Jane. Kita lihat kondisi saat ini, salah satu anggota mereka tewas terbunuh dengan misterius dan di sisi lain mereka juga memiliki dendam dan mengintai keberadaan kita, secara tak langsung mereka juga akan menuduh the brouch sebagai pembunuh dari anggotanya, dan ini juga tak menutup kemungkinan bahwa Jack juga akan menghabisi dan mencari kita karena merasa dicurangi dan ini juga menyangkut kesetiaan Jack pada gangster-nya itu.” terang Dorm yang mulai menggenggam bahu Jane dengan kedua matanya yang terus menatap teduh wajah cantik Jennings Brouch itu.


“Cukup, Dorm cukup! Kau tak bisa melihat kebaikan sedikitpun dari orang lain. Ingat, orang yang baik tak selamanya akan bersikap baik begitupun juga dengan orang jahat tak selamanya akan menjadi jahat. Asal kau tahu, aku lebih mempercayai Jack-ku ketimbang dirimu, Dorm.” bentak Jane dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hampir menetes di pipinya.


“Dengarkan aku, ini bukan masalah percaya Jack atau tidak, tapi yang jelas mereka juga akan menyelidiki sosok pembunuh yang baru saja menewaskan anggota terbaik gangster itu.” ujar Nick yang mulai menjadi penengah konflik diantara Jane dan Dormino. Mendengar ucapan Nick yang tiba-tiba, membuat ketiga temannya duduk di depannya.


“Apa yang kau bicarakan barusan, Nick?” bisik halus Tom.


“Asal kalian tahu, untuk kali ini kita tak boleh mengharapkan perlindungan dari Jack. Maaf, Jane tapi kali ini bukan aku tak mempercayai Jack-mu tapi inilah kebenarannya.” ujar Nick yang membuat Jane kembali ketar-ketir.


Jane mulai mengangkat alisnya, “Kebenaran apa yang kau maksudkan, Nick? Aku tak mengerti.”


Semua anggota mulai tercengang seakan tak percaya mendengar informasi yang baru saja disampaikan dan didapatkan oleh Nick.


Sementara Tom mulai menelan ludahnya karena gerogi.


“Jadi, Jack akan meninggalkanku dalam masalah besar ini?” tanya Jane yang mulai menggigit kukunya.


“Aku tidak tahu untuk hal itu, Jane. Tapi, jika ia benar-benar mencintaimu dan tak mau kehilanganmu, pasti sebisa mungkin ia akan bergerak cepat melebihi ambisi sosok William yang mengintai kita. Percayalah, jika Jack adalah cinta sejatimu maka ia akan kembali menemuimu.” tambah Nick yang mulai menyentuh pundak Jane sebagai bentuk memberi semangat padanya.


Untuk pertama kalinya, Jane bersikap lemah seperti ini hanya karena cinta yang bersemayam dalam hatinya. Jack telah menjadi separuh nyawa bagi sosok Jane, tanpa Jack hidupnya menjadi hampa bagaikan sayur tanpa garam.


“Tapi, darimana kau bisa mengetahui berita panas seperti ini, Nick?” tanya Dormino yang mulai penasaran bagaimana Nick bisa mengetahui berita hangat yang menggemparkan seluruh isi jagat raya.


“Aku tadi tak sengaja mendengar pembicaraan salah satu preman jalanan, yang mana mereka mengatakan sosok kematian ini memberikan amarah besar bagi king gangster. Merekapun berusaha menjauhi perkara ini, seakan mereka juga tutup telinga dan tutup mulut terhadap apa yang baru saja terjadi.” jelas Nick.


Tom mulai menggeleng keheranan, “Sampai segitu berpengaruhnya mereka hingga membuat komplotan jalanan juga patuh dan takut padanya. Seandainya tuan Edward masih hidup pasti mereka juga akan tunduk padanya.”


Secara tiba-tiba Dormino mulai menyenggol lengan Tom yang tak sadar mengatakan sosok mendiang ayah Jane.


“Kali ini, kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan, tak peduli bagaimana akhirnya kita harus tetap membela apa yang kita miliki.” tegas Dorm yang mencoba untuk mengobarkan api semangat pantang mundur di dalam diri setiap anggotanya.


Namun, di sisi lain Jane hanya terdiam dan mengangguk paham sepertinya Jane akan melupakan sosok Jack sejenak, ini semua demi keselamatan dirinya dan juga seluruh garis keturunan the brouch, karena keturunan the brouch yang tersisa hanyalah ia, seorang gadis sebatang kara tanpa sanak saudara. Semua saudaranya sudah tewas terbunuh di tangan sosok Bob Markle ini. Kali ini The Brouch yang sudah dibangun oleh mendiang Ayahnya harus tetap hidup, walau yang tersisa hanyalah empat orang termasuk dirinya.


“Tunggu, berapa amunisi yang tersisa? Apa itu cukup untuk menyelamatkan nyawa kita?” tanya Jane yang membuat ketiga teman prianya tercengang takjub. Nampaknya, jiwa bringas Jane sudah kembali bangkit.


Tom mulai menghitung dengan jarinya, “Kurasa masih cukup untuk sekedar berjaga-jaga.”


“Jika tidak, aku tahu dimana Ayahku menyembunyikan seluruh amunisinya.” tambah Jane dengan mata yang menatap satu persatu anggotanya.


“Benarkah itu, Jane? Kau tahu, di mana bos besar menyimpan seluruh senjata tajamnya?”


Jane mulai mengangguk dan meminta seluruh anggotanya untuk mengikuti di belakangnya.


Nampaknya, mereka akan membuat benteng pertahanan yang cukup kuat jika benar mereka berhasil menemukan lokasi penyembunyian seluruh senjata dan amunisi yang ada.


Akankah mereka berhasil menemukan markas senjata rahasia milik The Brouch?