The Black Missions

The Black Missions
Eps. 29 JJ's Story



Kejujuran adalah kunci utama dan suatu hal yang berharga di sebuah kehidupan, dengan kejujuran kau bisa mengubah dunia. Karena dunia ini kekurangan sosok figur yang mengutamakan kejujuran, mereka semua bersembunyi dibalik topeng kepalsuan.


Di sebuah rumah dengan cat putih yang memiliki banyak sekali tanaman bunga yang tertanam disana, terlihat dua orang tengah bercengkrama serius membicarakan sebuah masalah besar yang nampaknya membuat suasana yang sebelumnya nyaman berubah menjadi sedikit menegang.


“ Apa semua itu benar, Jane bahwa misi perampokan ini ulah kau dan komplotanmu?” tanya Jack sekali lagi dengan nada yang serius


“ Iya, aku dan komplotankulah pelakunya.” jawab Jane yang masih tertunduk. Seakan ia tak berani memandang sosok Jack yang kini duduk di sampingnya.


Jack terkejut dengan pengakuan Jane, perampokan dan pembakaran toko perhiasan di pusat kota ternyata ulahnya beserta komplotan ugal-ugalannya. Misi ini adalah misi baru yang Jane dan antek-anteknya susun, karena beberapa polisi sudah bisa mengendus dan membaca gerak-geriknya dalam beberapa misi perampokan bank yang terjadi beberapa bulan lalu.


“ Jadi, kau yang melakukannya?” sidik Jack sekali lagi yang masih terus bertanya seakan ia tak percaya dengan kinerja Jane dan komplotannya. Ia tak menyangka bahwa seorang gadis manis sepertinya bisa beraksi hingga lewati batas kewajaran seperti ini.


Jane hanya mengangguk mengiyakan, Jack hanya terperangah takjub. Betapa beraninya Jane melakukan misi kejahatan diluar dugaan seperti ini. Jane tak takut dengan kepolisian, ia seorang gadis pemberani yang pernah ada.


“ Sungguh luar biasa.” puji Jack yang sontak membuat Jane mengangkat kepalanya menatap heran Jack yang menyelipkan tepuk tangan untuknya. Jane mulai menyidik Jack.


“ Ada apa? Mengapa kau menatapku seperti itu, Jane? Apa aku salah?” tanya Jack yang mulai kaget melihat ekspresi Jane yang menatap sinis wajahnya.


“ Mengapa kau bertepuk tangan padaku? Apa kau mengejekku?” ucap Jane dengan tegas sembari membelalakan lebar kedua bola matanya seakan bola matanya ingin melompat keluar ketika ia menatap tajam Jack


“ T..tidak, kau sangat keren. Aku belum pernah melihat wanita selincah ini dalam melakukan aksi rampoknya.” Jack sedikit gemetar memandang tatapan tajam Jane.


Jane mulai menganggukkan kepalanya.


“ Kukira kau akan mengejekku.”


“ Tidak. Kau salah paham.” jawab Jack yang mulai gelisah dengan ucapan Jane yang nampaknya lebih seram dari perintah bos besar gangsternya.


Jane mulai menceritakan semuanya bahwa ia sudah sangat terbiasa dengan misi perampokan seperti ini, ia merasa bahwa ia sudah memiliki bakat terpendam sejak ia masih kecil. Jack hanya diam membisu mendengarkan Jane yang menceritakan kisah masa lalu. Tak luput, ia juga menceritakan sosok ayahnya yang meninggal karena hukuman mati yang menjeratnya. Sontak hal ini membuat Jack terbelalak kaget, ia tak pernah menduganya bahwa dibalik sosok Jane yang manis ini memiliki perjalanan yang keras sama seperti dirinya.


Berbeda dengan Jane, perjalanan kisah Jack juga sangat rumit dimana ia di terlantarkan begitu saja oleh orangtuanya karena perceraian. Ia bertahan hidup dengan menjadi pencopet dan penjambret jalanan hingga ia bertemu dengan sosok Bob yang kini menjadi ayah angkat baginya.


“ Hidup ini begitu rumit, Jack. Terkadang jika kau bukan siapa-siapa kau takkan dianggap di masyarakat bahkan orang-orang tak mau berteman denganmu. Tapi, ketika kau kaya dan memiliki banyak harta maka semua orang akan menyukaimu dan menemanimu. Aku sudah tak heran dengan lelucon dunia.” ujar Jane yang mulai membuka topik pembicaraan lain diantara mereka sembari matanya terus menatap langit biru seakan Jane merasa bahwa mendiang ayahnya kini tengah mengawasinya di atas sana.


“ Kau tahu, Jane. Aku juga pernah hidup di masa yang sulit, dimana semua kawanku menjauhiku dan menganggap bahwa aku ini gila dan memiliki gangguan jiwa, kau juga tahu Jane, semenjak orang tuaku bercerai beberapa tahun lalu, semua orang menjauhiku dan berkata bahwa aku ini anak yang liar tanpa kasih sayang orang tua hingga membuat beberapa orang tua temanku memintaku untuk menjauhi anak-anak mereka, mereka menganggap bahwa aku ini memberikan contoh yang buruk untuk mereka.” Jack mulai membuka semua rahasia masa kelamnya


“ Benarkah? Mereka memperlakukanmu seperti itu, Jack?” sidik Jane pada kisah hidup Jack.


“ Ya, mereka bahkan mengasingkanku dari kampung halamanku sendiri, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ibuku entah dimana keberadaannya, dia menghilang begitu saja ketika ia resmi bercerai. Ia juga meninggalkanku tanpa sebab.” tambah Jack yang mulai ikut menatap langit biru berhiaskan awan putih yang menggumpal.


“ Ayahmu? Kau bisa saja tinggal bersama dengan ayahmu. Kau bisa menemuinya, bukan?” saran Jane dengan spontan


Terlihat Jack mulai menundukan kepalanya seakan ia tak mau membahas tentang sosok ayahnya di hadapan Jane. Kisah kelam pernah terjadi diantara ayahnya dan dirinya.


“ Jack, ada apa? Apa pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu?” tanya Jane sembari ia menyentuh bahu Jack yang tiba-tiba saja terdiam tanpa sebab.


Jack mulai menghela napas panjangnya seakan ia tengah menahan sebuah amarah yang tiba-tiba saja datang menghantui batinnya ketika Jane menyinggung soal ayahnya. Jack benar-benar membenci sosok figur ayahnya dalam kehidupannya.


“ Astaga, aku tak tahu Jack. Lalu, apakah dia seorang narapidana hukuman mati seperti ayahku?” tanya Jane lagi yang nampaknya ingin tahu tentang latar belakang sosok Jack O’hammels beserta keluarganya.


“ Tidak, ayahku mati karena terbunuh.”


“ Terbunuh?” kaget Jane sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terbuka lebar.


“ Ya, akulah pembunuhnya, akulah yang membunuh ayahku sendiri, Jane. Aku beberapa kali menusuknya dengan pisau yang kucuri di pasaran sampai aku puas.” jawab Jack sembari menolehkan pandangannya menatap Jane yang mulai penasaran dengan sosok ayah Jack.


Jane hanya terperangah kaget mendengar ucapan Jack yang membunuh ayah kandungnya sendiri, sesekali Jane juga menelan ludahnya. Hatinya mulai terpikirkan, betapa bengisnya Jack yang menghabisi nyawa ayahandanya. Apa ia sudah tak memiliki belas kasih pada hatinya hingga membuatnya tega menghabisi nyawa ayahnya? Kali ini, Jane tak bisa berkutik lagi. Ia hanya bisa diam membatu bagai patung.


“ B..bagaimana bisa kau membunuhnya, Jack? Itu ayahmu, ayah kandungmu.” ujar Jane yang mulai terbelalak kaget diiringi dengan suara yang sedikit gugup merespon pengakuan Jack.


“ Kau tahu, aku membunuhnya untuk membalaskan dendam ibuku, karena semenjak aku kecil aku selalu melihat ayahku memukul bahkan melukai Ibuku. Maka dari itu, aku membunuhnya, aku tak suka perbuatannya. Dia kasar dan berbahaya jika terus dibiarkan hidup.” jelas Jack yang mengingat masa lalunya itu. Jane hanya mengangguk mengiyakan dan mencoba memalingkan wajahnya memandang objek lain.


“ Sudahlah, jangan kau bahas ayahku. Aku tak suka mendengarnya. Jadikanlah masa lalu.” tambah Jack yang meminta untuk mengakhiri pembicaraan tentang ayahnya sembari melemparkan senyuman dan menyeruput segelas minuman yang sedari tadi tersaji di depannya.


“ Baiklah, maafkan aku, Jack.”


Hari itu, matahari bersinar dengan cerah diiringi dengan hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi menambah suasana menjadi syahdu dan menenangkan. Jack dan Jane menghabiskan waktunya dengan berbagi kisah satu sama lain. Jack menceritakan semua masa lalunya begitu juga dengan Jane yang menceritakan perjalanan hidupnya.


“ Jadi, ayahmu adalah pemimpin rampok terbesar?” tanya Jack


“ Ya, bisa dibilang begitu. Dialah rajanya maka dari itu ia dihukum mati karena dianggap meresahkan.” jawab Jane sembari menyodorkan senyuman yang nampaknya sedikit terpaksa dengan keadaan


Jack hanya mengangguk paham. Rasanya aneh, bagaimana bisa seorang raja perampok memiliki anak secantik Jane seperti ini.


Jam terus berputar, Jack harus segera pulang dan kembali ke markas sebelum seseorang menaruh rasa curiga terhadap dirinya yang pergi tanpa sebab, jika bos besarnya tahu ia menemui sosok wanita, maka ia tak segan-segan akan memarahinya bahkan ia akan menghukumnya.


“ Baiklah, Jane. Aku harus pergi, aku masih memiliki urusan diluar sana.” ucap Jack yang memeriksa jam tangannya dan berdiri tegap dari kursi rumah Jane.


“ Terima kasih, kau telah menemuiku, Jack. Rinduku kini sudah terbalaskan. Sering-seringlah berkunjung kemari, aku akan menunggu kedatanganmu.” ucap manis Jane pada Jack yang membuat Jack semakin tersipu malu.


“ Akan kuusahakan untuk datang, Jane.” respon Jack yang melemparkan senyuman tulus dari bibirnya


“ Aku selalu menunggumu, Jack.” Jane mulai salah tingkah


Jack hanya tersenyum memandangnya sembari melambaikan tangannya kearah Jane. Tak lupa ia juga memasang topi dan kumis palsunya lagi untuk menyamarkan identitasnya. Senyum sumringah mulai terlihat menghiasi wajah Jane.


“ Kurasa aku mencintainya.” gumam Jane dalam hati sembari terus memandang Jack yang melangkah semakin jauh menjauhi rumahnya.


Terlihat seorang pria dengan jaket kulit berwarna hitam bersembunyi di balik pohon besar, ia memata-matai Jack dan Jane sedari tadi yang tengah bercengkrama mesra.


“ Jadi, kau melakukan ini di belakangku. Aku akan membuatmu menyesal, Jack. Aku akan membuatmu membenci gadis ini. Kau tunggu saja permainanku, Jack dan Jane.” desisnya dengan sadis sembari tangannya mengepal seakan sosok pria ini memiliki rencana busuk untuk Jack dan Jane.


Siapakah sosok ini sebenarnya? Mengapa ia memiliki gelagat yang mencurigakan yang akan mengancam kehidupan Jack dan Jane? Dendam apa yang ia punya?