
Di sebuah ruangan yang gelap, dipenuhi butiran debu yang memenuhi setiap sudut ruang. Suasana sepi mulai terasa mencekam ketika melihat seluruh isi ruangan dihiasi kain putih yang menutupi setiap sudut ruangan yang sudah penuh dengan sarang laba-laba. Lantai kotor dan beberapa hiasan dinding yang telah usang dimakan waktu membuat ruangan ini menjadi saksi bisu perjalanan the brouch beberapa tahun yang lalu.
“Jadi, di sinilah tempat Ayahku menyimpan semua senjatanya. Tapi, aku tak tahu, apakah senjata itu masih bisa di gunakan atau tidak.” ucap Jane. Melihat hal ini membuat ketiga kawan prianya mulai membuka satu persatu kain putih yang menyelimuti beberapa barang dalam ruangan tersebut. Mata mereka mulai terbelalak takjub melihat isi sebuah peti coklat yang nampaknya sudah tersimpan puluhan tahun lamanya.
“Tak kusangka, ada ruangan di balik ruangan seperti ini. Ini luar biasa, desain yang dibuat benar-benar tak bisa ditebak. Bagaimana bisa kau menemukan petunjuk ini, Jane?” tanya Nick yang mulai takjub dengan peralatan keamanan yang lengkap dengan beberapa pistol dan peluru yang tersimpan rapi di beberapa peti coklat.
“Aku menemukannya dalam surat yang pernah ayahku tulis. Surat itu kutemukan di kamar di mana beliau berbaring.”jawab Jane dengan menunjukan secarik kertas yang sudah berubah menguning karena usia. Dalam kertas itu tertulis bahwa Ayah Jane, Edward Brouch sudah memprediksi bahwa pembalasan dendam akan terus berlanjut sampai mereka berhasil membunuh seluruh darah keturunan The Brouch.
“Luar biasa! Kurasa dengan ini kita bisa bertahan hidup dan melawan mereka.” ujar Tom dengan menggelengkan kepalanya sembari menatap Nick yang ada di sampingnya.
“Keselamatan sudah berpihak pada kita.” tambah Nick yang memperlihatkan gigi rapinya.
Namun, tiba-tiba Jane mulai terbayang dengan semua surat yang ayahnya tulis kala itu. Seakan ia mulai terbawa dengan suasana yang ada dalam surat yang ditulis tangan.
Kejadian itu terjadi belasan tahun silam, ketika Jane masih berusia 8 bulan dalam buaian sang Ayah tersayangnya. Suasana bahagia mulai menyelimuti keluarga the brouch begitu juga seluruh komplotan yang kala itu masih komplit berjumlah 30 orang.
Akhirnya kehadiran seorang putri melengkapi rumah tangga dan kebahagiaan mereka. Namun, dalam hati Edward sempat terbalut rasa kecewa karena anak yang dilahirkan Yuna bukanlah seorang bayi laki-laki gagah yang ia inginkan tuk melanjutkan misi hitam yang ia jalani. Melainkan, ia seorang putri cantik yang memiliki tatapan mata lembut khas dengan mata birunya mirip sang Ibundanya, Yuna Minerra.
“Siapapun kau, kau adalah kebanggaanku. Kau kuberi nama Jennings Brouch. Kaulah yang akan menjadi penerus the brouch ini.” bisik Edward pada telinga kanan Jane kecil kala itu.
“Tidak! Aku tak setuju jika putriku menjadi sosok criminal kelas kakap seperti dirimu. Aku ingin ia menjadi seorang yang berguna nantinya. Menjadi seperti dirimu, hidupnya takkan pernah tenang. Aku tak mau anakku tersiksa karena pengintaian dan kejaran polisi dan negara.” sahut sang Ibu yang mencoba mengutuk semua pekerjaan suaminya.
“Apa ada yang salah, Yuna? Dia akan menjadi tuan putri yang nantinya akan dihormati banyak orang, karena kekuasaan Ayahnya yang ada dimana-mana.” tanya Edward yang mulai menghampiri istrinya yang tengah menatap langit malam tanpa bintang.
“Tidak, aku tetap tak mau buah hatiku menjadi seseorang seperti dirimu. Aku takut hal buruk menimpanya.” jawabnya yang bersikeras menentang harapan suaminya
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja.”
Suatu hal mulai terjadi, ketika Jennings menginjak usia 1 tahun. Berbagai teror mulai meresahkan seluruh keluarga brouch dan komplotannya. Terlihat seorang anggota the brouch berjalan tertatih dan memasuki ruangan dengan luka yang memenuhi sekujur tubuhnya, darah segar mulai berceceran mengotori pakaiannya, ia juga membawa sepucuk surat yang dititipkan penjahat itu untuk diberikan kepada bos besarnya, Edward Brouch sebelum akhirnya ia terkapar tak berdaya karena kehabisan banyak darah.
“Seluruh keluarga dan keturunanmu akan mati di tanganku, Ed. Takkan ada lagi the brouch yang akan tersisa di dunia ini.” baca Edward sembari matanya memerah menahan amarah, ia mulai meremas hancur kertas itu.
“Bob, ternyata kau masih ingin bermain-main denganku.” ucap Edward yang mulai membanting sebuah botol minuman ke lantai.
Hari demi hari berganti, satu persatu komplotan mulai berkurang. Nampaknya, Bob benar-benar membabat habis seluruh anggota the brouch. Kala itu, Edward berusaha untuk melarikan diri mencari tempat persembunyian hingga suatu hari pertengkaran hebat terjadi dalam rumah tangga Edward dengan Yuna, istrinya yang membuat Yuna melarikan diri meninggalkan Edward bersama anak semata wayangnya, Jane kala itu berusia dua tahun lebih tiga bulan.
“Aku akan menjagamu sepenuh hatiku, nak.” bisik Edward yang kala itu bersembunyi bersama Jane yang kala itu Bob mulai mengintainya.
Bertahun-tahun Edward masih bisa bertahan hingga melihat anak gadisnya tumbuh menjadi sosok gadis cantik dengan mata biru sebiru laut, namun tetap saja ia mencoba menyembunyikan segala hal yang terjadi dari putri semata wayangnya. Yuna? Tak tahu lagi dimana keberadaannya, ia menghilang bak ditelan bumi. Nampaknya, perkataan Yuna semuanya itu benar, bahwa pekerjaannya hanya membuat putrinya hidup dalam belenggu kesengsaraan. Satu persatu nyawa anak buahnya mulai terancam, jumlah komplotan semakin lama semakin berkurang begitu juga pertahanan The Brouch yang mudah dibobol begitu saja.
Hal mengerikan mulai terjadi ketika Edward pergi ke California, tiba-tiba saja ia bertemu dengan sosok Bob di tengah perjalanan yang gelap gulita.
“Ed, lama tak berjumpa.” panggilnya dengan suara berat.
“Bob?”
“Tembak saja aku, jika itu maumu.” tantang Edward malam itu dengan gagah berani hingga membuat Bob menyeringaikan bibirnya dengan seram.
“Aku tak semudah itu menembakmu. Aku tahu, membunuhmu takkan membuat the brouch berakhir begitu saja. Aku juga harus membunuh anakmu, Ed. Karena dia juga ancaman terbesar bagiku.” ucap Bob
Edward mulai terbelalak kaget dan berusaha mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya.
“Aku takkan membiarkan kau menyentuh putriku.”
Malam itu Edward melawan Bob seorang diri tanpa bantuan anak buah di belakangnya. Ia tak tahu jika akhirnya, ia akan bertemu dengan sosok Bob, si pengkhianat besar nan licik di tengah malam gelap gulita di gang dimana ia biasanya beraksi. Namun, mata Edward mulai melirik ke kanan dan ke kiri melihat beberapa orang berpakaian serba hitam mulai menodongkan pistol ke arahnya.
“Aku tak main-main denganmu, Ed. Kau berani bergerak satu inchi saja mereka akan melepaskan pelurunya ke tubuhmu dan kau akan mati.” desak Bob dengan melempar senyum jahat kea rah Edward yang kala itu hanya diam mematung.
“Aku sama sekali tak takut denganmu.” tegas Ed sembari menarik pelatuk pistolnya dan “doorrr!!” peluru mulai melesat dan menancam dalam bahu Bob. Ia mulai jatuh tersungkur sembari menahan sakit di pundaknya. Namun, suatu hal terjadi salah satu anggota gangster pimpinan Bob Markle mulai mengeluarkan senjata dan menembak Ed di tempat. Hari itu baku tembak terjadi hingga membuat Edward jatuh tersungkur tak berdaya.
“Inilah yang akan kau dapatkan jika kau berani berbuat macam-macam padaku.” kata Bob yang meringis menahan sakit. “Kuakui kau penembak yang handal, Ed. Ponselku.” Bob mulai meminta ponselnya dan menghubungi pihak kepolisian untuk menangkap Ed.
“Halo polisi, aku melihat Edward Brouch jatuh terkapar tak berdaya di gang North nomor 22.” ucapnya pada telepon.
Tak lama kemudian mobil polisi mulai berdatangan beberapa aparat mulai mengamankan tempat kejadian dengan memasang garis kepolisian. Tak hanya itu, mereka juga sangat terkejut melihat sosok pria yang terkapar tak berdaya itu adalah Edward Brouch yang selama ini dicari keberadaannya.
“Apa dia masih hidup?”
“Masih, pak.” jawab seorang polisi yang baru saja memeriksa denyut nadi pada lengannya.
Ambulance mulai datang dan mengangkut tubuh Edward yang tengah terluka tak sadarkan diri karena peluru yang baru saja melukai tubuhnya.
Inilah akhir dari sosok penjahat kelas kakap seperti Edward Brouch. Berita duka mulai menyelimuti seluruh komplotan The Brouch kala itu, beberapa diantara mereka tak berani menjenguk sosok Edward begitu juga Jane, putrinya yang kala itu sudah dipesani Ayahnya untuk tidak melakukan apapun ketika suatu hal buruk terjadi pada Ayahnya.
Edward mulai dijatuhi hukuman mati karena ulahnya yang sudah sangat meresahkan warga dari mulai perampokan, pembegalan dan mengedarkan narkoba semuanya ia jalani dalam semasa hidupnya.
“Jane, apa kau baik-baik saja?” tanya Dormino yang mulai membangunkan lamunan Jane.
“Aku baik, Dorm. Terima kasih.” jawabnya sembari menyodorkan senyum indah pada sosok pria yang sudah ia tolak cintanya sebanyak 3 kali itu.
“Apa semua senjata itu masih bisa digunakan?”
“Ya, semuanya masih sangat bagus dan terawat. Kurasa kita bisa melawan mereka dengan senjata ini.” jawab Nick yang masih membersihkan beberapa pistol yang mulai dihinggapi debu.
“Bagus.” ucap Jane yang melipat kedua tangannya sembari mengangkat alisnya dengan penuh kebencian, seakan hatinya mulai muak dengan semua ulah kejam sosok Bob Markle itu.
“Aku ingin sosok Bob itu lenyap. Akan kubalaskan dendam kematian ayahku, aku ingin membuatnya membayar semua dosa yang telah ia lakukan.” kata Jane sembari menatap tajam kearah tiga pria yang tengah berdiri di hadapannya.
“Kuperintahkan kalian semua untuk membabat habis Bob beserta antek-anteknya!” perintah Jane pada mereka hingga membuatnya terperangah kaget.