
Suasana kian memanas, api dendam semakin bergejolak dalam dada. Jane tak mungkin bisa diam, kematian Ayah dan komplotannya harus segera dibayar. Nyawa harus dibalas dengan nyawa, itulah semboyan yang Jane pegang kala itu. Dengan wajah yang memerah diiringi tatapan mata yang tajam, Jane mulai membuat jantung ketiga pria dewasa itu bergetar dahsyat.
“Jane, apa kau serius dengan ucapanmu itu? Membunuh Bob dan komplotannya?” sidik Tom yang mencoba memastikan kebenarannya.
“Ya, ini sudah keputusanku. Kurasa kali ini tak perlu lagi bersembunyi. Cepat atau lambat mereka juga pasti akan menemukan kita. Dormino, atur strategimu untuk melawan mereka.” ucap Jane yang mulai melirik sinis Dormino.
Dormino mulai menyunggingkan bibirnya seakan tak percaya bahwa sosok Jane yang tegas dan berbahaya kini kembali bersemayam dalam tubuhnya.
“Aku akan mencari pembunuh Ayahku dan aku sendirilah yang akan membunuhnya.” gumam Jane yang mulai mengepalkan tangannya sebagai pelampiasan kekesalan.
Sementara itu, di sebuah ruangan kecil terlihat beberapa orang dengan jaket hitam lengkap dengan topi yang menutupi wajahnya mulai mengatur strategi pencarian. Terlihat sosok pria gagah menghisap rokok yang ada di genggamannya sembari memulai memimpin pasukannya.
“Aku mau kasus ini cepat dituntaskan. Selidiki daerah sekitar cari tahu siapakah dalang dibalik pembunuhan berencana ini.” pinta sang ketua dengan suara serak basah yang penuh wibawa, Jack O’Hammels.
“Baik, bos.”
“Kuharap kali ini kasus kematian Brian bisa segera terselesaikan. Aku tak mau, jika William berhasil menemukan keberadaan Jane.” gumamnya dalam hati sembari melempar putung rokok dan menginjaknya.
Mereka mulai bergerak menyelidiki sedikit demi sedikit tempat kejadian dimana Brian meregang nyawa. Darah yang mengering menjadi saksi bisu kepedihan Brian.
“Siapa sosok ini sebenarnya?” ujar Jack yang mulai menyentuh darah yang sudah mengering di aspal.
“Kurasa pembunuh sebenarnya adalah orang terdekat kita, bos atau jangan-jangan ini semua ulah the brouch, bukankah mereka tahu bahwa kita sedang mengejarnya?”
Beberapa diantaranya mulai mengangguk seakan setuju dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Donny, salah satu anak buah Jack dalam misi penyelidikan kasus misterius yang menimpa sosok Brian, si pemilik strategi jitu dalam gangsternya.
“Jika benar ini adalah ulah the brouch, mereka benar-benar paham tentang pertahanan kita. Bahkan mereka memilih orang yang tepat untuk dibunuh.” tambah Donny yang mulai menarik kesimpulan sendiri atas kematian dan kasus pembalas dendam bos besarnya.
Jack mulai melirik, seakan ia tak sependapat dengan ucapan Donny.
“Bukti belum ditemukan, kurasa jika benar pembunuhan Brian ini adalah ulah dan rencana kotor dari the brouch, mereka pasti masih berada di sekitar sini dan tak mungkin sulit ditemukan persembunyiannya. Bahkan jika benar mereka dalangnya, aku mampu mengendus radar keberadaannya dengan mudah.”
“Berarti ini bukan ulah the brouch begitu, bos?” tanya salah satu diantara mereka.
“Kurasa bukan. Ada orang dalam yang berusaha bermain-main dengan kita atau bahkan ada seorang pengkhianat yang mencoba menjadi musuh dalam selimut kita.” jawab Jack dengan tegas hingga membuat seluruh anak buahnya terdiam.
Di sebuah gang sempit di pinggiran kota yang sepi tanpa pejalan kaki terlihat seorang pria besar dengan tubuh yang tegap dengan pakaian serba hitam berdiri seakan tengah menunggu hadirnya seseorang.
“Halo, bos. Aku sudah di lokasi.” Pria itu mulai bicara dalam panggilan suaranya.
“Apa lokasinya aman? Pastikan tak ada orang yang mengikutimu.” ucap seseorang dari dalam telepon genggamnya.
“Lokasi aman, tak ada seorangpun yang mengikutiku, bos.”
Matanya yang terus melirik ke kanan dan ke kiri mengintai lokasi sekitar, nampaknya tempat ini aman untuk mengadakan sebuah pertemuan rahasia dan merencanakan sesuatu hal yang berbahaya. Bahkan di tempat ini dapat dijumpai beberapa buah botol hijau bekas minuman keras dan kartu remi, sepertinya gang sempit ini menjadi markas kecil bagi mereka si pejudi dan pemabuk malam.
Terlihat seseorang pria berjalan dengan berhati-hati sembari mengantongi senjata tajam di saku celananya sebagai alat untuk berjaga-jaga mempertahankan diri jika terjadi suatu hal yang mengancam nyawanya.
“Bos.” panggil sosok pria itu dengan lantangnya sembari berdiri tegap dari sandaran temboknya.
“Sandy.” Mereka saling bersalaman satu sama lain.
“ Aku terharu dengan apa yang kau kerjakan, semuanya sangat memuaskan. Kau berhasil membunuh Brian, aku kagum dengan kerja bersihmu. Bahkan kau melakukannya tanpa kesalahan sedikitpun. Aku tak salah memilihmu sebagai ajudan kematianku.” kata pria itu yang mulai menepuk pundak Sandy. Pria muda bernama Sandy Rows itu hanya tersenyum puas mendengar pujian yang ia terima dari bos besarnya. Sandy Rows adalah seorang preman jalanan yang terkadang tingkahnya yang meresahkan warga. Ia seorang pemabuk dan pejudi, bahkan ia rela melakukan apapun demi bisa bermain judi.
“Lalu, apa yang harus kulakukan selanjutnya, bos?” tanyanya yang siap dengan perintah selanjutnya.
“Tak ada, tapi kau harus segera pergi jauh dari kota ini. Aku tak mau, seseorang mencium kejahatan ini, kau tahukan apa yang harus kau lakukan?”
Sosok pria itu mulai mengeluarkan uang dari dalam koper besarnya. Ia juga membuka kopernya yang berisi uang jutaan dollar hingga membuat kedua bola mata sosok Sandy Rows terbelalak lebar bak ingin ikut melompat keluar.
“Ini adalah hadiah untukmu karena kau berhasil melakukan tugasmu dengan baik dan benar.”
Sandy hanya tersenyum puas dan menerima sebuah koper yang berisi jutaan dollar dengan wajah yang sumringah.
“Tapi, kau harus ingat. Pembunuhan Brian ini harus menjadi rahasia antara kau, aku dan komplotanmu. Aku tak mau, kau membocorkan sedikitpun tentang kasus pembunuhan ini pada siapapun, apa kau mengerti?” pinta tegas pria besar itu dengan suara yang serak khas milik laki-laki dewasa.
“Baik, bos. Selama ada uang mulut kami akan terkunci dengan rapat.” jawabnya yang mulai menyeringaikan bibirnya menatap sosok pria yang berdiri di hadapannya.
“Sekarang kau pergilah.”
“Terima kasih, bos. Jika ada misi lainnya, jangan lupa hubungi aku. Aku dan komplotanku akan siap sedia menjalankan semua perintahmu.”
Pria itu hanya berdengung sembari tangannya memintanya untuk segera pergi.
“Kali ini, aku berhasil melakukannya. Haruskah aku juga menghabisimu untuk misi hitamku selanjutnya?” gumam sosok pria itu yang mulai mengeluarkan sebuah foto dari dalam sakunya diiringi dengan senyumam sadis dengan mata yang terus menatap seorang laki-laki yang ada dalam foto itu, nampaknya ada sebuah dendam besar yang tersimpan antara pria itu dengan sosok pria yang ada dalam foto.
Di tengah perjalanan menuju luar kota, Sandy mulai membawa pergi sekoper uang dengan hati yang gembira.
“Tak kusangka hanya dengan membunuh seseorang saja, aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini.” gumamnya yang mulai membelai halus koper yang ada digenggamannya.
Namun, tiba-tiba langkah kakinya mulai terhenti ketika melihat tiga orang pria dengan gagah berdiri menghalangi jalan pulangnya.
“Minggirlah.” teriaknya yang mulai melawan sosok pria yang kini tengah berdiri tegak di hadapannya. “Dasar pria tak tahu diri, apa kau tuli menyingkirlah dari jalanku.” tambahnya kali ini membuat salah satu diantara mereka mencengkram lengannya. Sandy mulai menatap tajam kearah tiga pria yang tak dikenal itu.
“Lepaskan aku atau kau akan menyesal.” ancam Sandy dengan wajah yang mulai memerah menahan amarah.
“Jawab aku, apa benar kau sudah membunuh Brian demi uang di koper itu?” tanya sosok pria itu sembari mencengkram erat lengan Sandy hingga membuatnya merintih kesakitan.
“Apa maksudmu? Brian? Brian siapa yang kau maksudkan. Aku tak mengerti.” jawabnya yang memancing amarah ketiga pria gagah yang berdiri mengerikan dan menatapnya sedari tadi.
Sosok pria itu mulai menoleh menatap Sandy dengan tatapan seram khas milik seorang mafia kelas kakap yang ditakuti setiap warga Amerika.
“K..Kau Jack O’Hammels?” Sandy mulai gemetar menatap sosok pria yang menghadangnya adalah Jack O’Hammels seorang mafia dan ajudan kematian dari sebuah gangster yang ditakuti di Amerika, King Gangster.
“Jawab aku, apakah kau pembunuh dari Brian, temanku?”
Sandy mulai menelan ludahnya dan menjatuhkan koper itu di tanah.
“Aku tidak tahu.”
“Jangan berbohong. Aku benci dengan para pembohong, jawab saja atau kau akan bernasib sama seperti Brian bahkan aku bisa melakukan hal yang lebih sadis dengan apa yang telah kau lakukan pada Brian temanku.” ancam Jack yang kali ini membuat tubuh Sandy berkeringat dingin, jantungnya mulai berdegup kencang tak karuan tapi ia tetap harus mempertahankan rahasia yang sudah ia setujui dengan sosok pria yang menjadi dalang kematiannya.
Tiba-tiba ketiga orang itu mulai mengeluarkan pistol dari sakunya dan mengarahkan langsung pada Sandy.
“Kau jawab atau kami akan menembakmu.”
Sandy mulai mengangkat kedua tangannya, “B..baik, aku akan menjawabnya tapi jauhkan pistol itu dariku.”
Jack dan kedua rekannya mulai menurunkan senjatanya dan mulai mengintrogasi sosok pria yang nampaknya memiliki hubungan dengan misteri kematian sosok Brian, si pembuat strategi dalam gangsternya. Mereka juga mencoba untuk memeriksa tubuh Sandy dan menyita senjata tajam yang ia bawa dalam saku bajunya. Kali ini, ia tak bisa berkutik sama sekali.
“Jelaskan apa motifmu membunuh Brian?” tanya tegas Jack dengan kedua temannya yang masih setia menggenggam pistol.