
“ Tunggu, Jack.” panggil seseorang dengan lantangnya yang kini mulai berdiri gagah menghadang jalan pulangnya. Jack hanya diam dan terus menundukan kepalanya, seakan ia tak mau membuka kedok bahwa ia benar-benar bernama Jack yang menjadi buronan pihak kepolisian.
“ Maaf, tuan salah orang.” jawab cetus Jack yang mencoba pergi dari hadapan sosok pria yang baru saja menghadangnya.
“ Kau jangan berpura-pura Jack, aku sudah tahu bahwa ini adalah kau. Kau tak bisa mengelabuiku dengan penyamaran kampungan seperti itu.” Ucapan pria itu mulai memberhentikan langkah kakinya. Jack mulai menyeringaikan bibirnya dan terus menundukan kepalanya menatap tanah.
“ Siapa gadis itu, Jack? Apa dia kekasihmu?” tanya sosok pria dengan suara serak yang sedikit menyindir nakal tentang kehidupan pribadi Jack, suara ini tak asing bagi telinga Jack sepertinya ia mengenalnya.
Jack mulai mengangkat kepalanya dan menatap sosok pria yang lebih tua darinya yang kini berdiri gagah dengan melipatkan kedua tangannya.
“ Will?” ucap Jack yang mulai tak percaya melihat sosok Will Hertz kini berdiri kokoh dihadapannya. Nampaknya, ia mengetahui semuanya, Jack tertangkap basah.
William Hertz adalah teman satu komplotan Jack yang sama-sama mengabdi dalam King Gangster. Namun, karena sifat iri dengki yang bersemayam dalam dadanya, membuat Will menjadi tamak dan haus akan jabatan, ia ingin terus menyingkirkan Jack dari gangsternya, ia merasa bahwa kehadiran Jack malah membuatnya semakin terpuruk bahkan sang bos besar hanya memperhatikan Jack dibandingkan dirinya yang telah bekerja lama, dan semenjak Jack datang posisi panglima kematian dan kaki tangan sang bos besar digantikan oleh Jack padahal sebelumnya Will adalah kaki tangan dari Bob Markle.
Ia berpikir bahwa Jack telah merebut segalanya yang ia punya, maka dari itu ia terus mencari cara supaya bisa menyingkirkan Jack dan membuat sang bos besar membencinya. Seketika itu, tahta menjadi orang kepercayaan dan gelar panglima kematian akan jatuh ke tangannya.
“ Senang bertemu denganmu di tempat ini, Jack.” ucap Will dengan suara yang sinis sembari menyeringaikan bibirnya dengan sadis.
“ Apa yang kau lakukan disini? Apa kau memata-mataiku?” tegas Jack yang mulai terpancing emosinya karena kemunculan Will yang tiba-tiba. Jack dan Will tak berteman baik karena kasus sepele yang pernah ia rebutkan.
“ Kau tak perlu tahu, mengapa aku berada disini. Asalkan kau tahu, Jack jika bos besar tahu kau mendekati seorang wanita seperti Jane, maka secara tak langsung kau membuat reputasimu sebagai kaki tangan dan panglima kematian itu hancur.” ancam Will dengan menatap tajam Jack.
“ Kurang ajar!” ucap Jack yang mulai marah, ia mencoba mendekati dimana Will berdiri, ia juga menarik kerah baju Will dengan kasar, layaknya seorang preman yang meminta uang pada mangsanya.
“ Kau berani mengancamku? Apa kau tidak tahu, kau tengah berhadapan dengan siapa?” ucap Jack dengan mencengkram erat kerah baju Will. Will dengan santai menyeringaikan bibirnya seakan ia tak takut dengan ancaman yang diucapkan oleh Jack. Menurutnya Jack tak ada apa-apanya dibandingkan dirinya, ia merasa bahwa kemampuan Jack masih dibawahnya
Will mulai menyingkirkan cengkraman tangan Jack dan bergegas merapikan pakaiannya yang kusut karena cengkraman erat Jack. Ia tetap bertindak santai seakan tak ada masalah yang terjadi diantara kedua kubu yang tengah memanas karena gelar yang diberikan bos besar gangsternya.
“ Kau akan menyesal karena kau berani mendekati gadis itu, Jack.” ucap Will yang mulai memancing rasa penasaran bagi Jack.
“ Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan pada gadis itu? Jawab aku, Will!” sahut keras Jack dengan mengerutkan dahinya, kali ini ia benar-benar tak mengerti dengan ucapan yang dimaksudkan oleh Will Hertz itu. Ia mulai mengepalkan tangannya, jika Will berani melakukan suatu hal yang senonoh dan membahayakan kehidupan Jane, maka tak segan-segan ia akan menghajar bahkan membunuhnya di tempat ini.
“ Tenanglah sebentar, Jack. Janganlah berapi-api seperti itu, aku hanya berkata sesuai apa yang kuketahui. Saranku, kau menjauhi saja gadis itu, sebelum semuanya terlambat dan nanti kau akan menyesal jika kau terus berhubungan dengan gadis rampok yang bernama Jenning Brouch itu.” kata Will yang masih menyembunyikan sebuah rahasia yang tak diketahui oleh Jack sebelumnya.
Omong kosong apa yang sebenarnya Will bicarakan?
Kedua bola mata Jack masih terus menatap tajam sosok pria ini, ia menyidik setiap kata yang terucap dari bibir sosok Will, sang musuh bebuyutan dalam gangsternya.
Semanjak pertama kali bertemu dan mengenal Will, Jack merasa bahwa William Hertz adalah pria licik yang bersembunyi dalam gangsternya. Ia bahkan sering memergoki William membuat misi sendiri dan memakan bayarannya itu sendiri. Ia adalah pria yang serakah, tak heran jika ia memberikan ancaman pada Jack dengan menggunakan Jane sebagai senjata ampuhnya.
Jack mulai berlari dan kembali ke rumah Jane untuk memeriksa keadaan Jane apakah ia baik-baik saja, Jack merasa bahwa Will telah melakukan suatu hal yang mengancam kehidupan sosok Jane. Ia tak mau jika William memperlakukan Jane dengan sangat buruk.
Jack kembali berdiri kokoh di depan rumah Jane, ia melihat dari kejauhan sosok Jane yang tengah menyiram tanamannya.
Nampaknya, tak ada suatu hal yang mencurigakan dan aneh yang menimpa Jane, ia terlihat baik-baik saja dan bahagia sama seperti sebelumnya. Jack masih terus berpikir maksud dari ucapan Will yang mencurigakan. Untuk apa ia menjauhi Jane? Ada hubungan apa antara Jane dengan Will sebenarnya? Hati Jack terus bertanya-tanya, ia mencoba merenungkannya selama ia menyusuri jalanan kota yang mulai gelap tak secerah sebelumnya.
“ Sepertinya ada suatu hal yang tak kuketahui kebenarannya, Jane dan Will, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka memiliki hubungan sebelumnya? Aku tak bisa jika aku harus menjauhi Jane begitu saja, dialah cinta pertamaku. Aku belum pernah merasakan indahnya bercinta.” gumam Jack dalam hati sembari terus menatap langit yang kini berubah menjadi gelap. Amat berat rasanya jika ia harus menjauhi sosok Jane, hatinya kini telah dikuasai oleh Jane, hanya dialah satu-satunya cahaya bagi hidupnya. Ia tak mau kehilangan gadis cantik berambut pirang ini. Memang benar adanya bahwa cinta memang membuat orang lupa diri.
Di bawah langit yang mulai menghitam lebam, sang Mentari mulai tenggelam di ufuk barat. Langit malam kini indah berhiaskan cahaya gemintang dan sang rembulan, lampu jalanan mulai menyala memberikan cahaya jingganya untuk menerangi setiap jalanan yang ada. Angin malam yang bertiup membuat suasana kota menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
“ Jack, darimana saja kau? Kami menunggumu.” tanya sang bos besar, Bob Markle yang menghadang jalan masuknya menanyakan Jack yang baru saja pulang dari tugas mengembaranya. Mata Jack mulai tertuju pada sosok pria yang sedari tadi duduk menatapnya dengan sinis, ya dia adalah William Hertz. Sosok pria yang tadi sore menemuinya dan memergokinya bermesraan dengan sosok perampok wanita yang handal, Jenning Brouch.
“ Maaf, bos aku hanya berjalan-jalan untuk menghilangkan stress di kepalaku. Akhir-akhir ini aku merasa sesuatu hal aneh mulai menerpa diriku, maka dari itu aku butuh waktu untuk menyendiri untuk menyelesaikan masalah pribadiku.” Jawab Jack yang masih terus menyembunyikan pertemuannya dengan sosok gadis cantik dengan mata biru itu, Jenning Brouch.
Bob mulai mengangguk mengiyakan, ia sangat percaya dengan semua perkataan Jack, karena selama Jack bekerja dengannya, Jack tak pernah berbohong dan ia selalu mengatakan apa adanya yang ada di dalam hatinya. Maka dari itu, Bob sangat mempercayai Jack dan mengangkat Jack sebagai kaki tangannya dalam segala misi yang ada. Kinerja Jack juga sangat bagus dan memuaskan.
“ Jagalah kesehatanmu, Jack. Kau harus tetap fit karena masih banyak misi yang membutuhkan tenaga dan kecerdikanmu.” ucap Bob yang mulai memberikan perhatian lebih pada sosok Jack O’Hammels ini. Jack mulai mengangguk dan bergegas duduk di sebuah kursi yang di sediakan. Mata Jack terus memandang tajam Will begitu juga dengan Will yang masih terus memandangi Jack tanpa henti.
“ Ada suatu hal yang ingin kubicarakan pada kalian, kurasa ini akan menjadi misi baru untuk gangster kita. Ini suatu hal yang sangat penting bagiku, karena setelah sekian lama aku memendamnya dan mencoba mencarinya, akhirnya aku menemukannya.” ujar Bob yang mulai membuka forum untuk rapat misi kali ini. Nampaknya, ia akan menceritakan suatu hal besar yang selama ini ia tak pernah membongkarnya.
“ Maaf, bos. Aku tak mengerti maksud anda. Hal penting? Hal apakah itu?” sahut salah seorang anak buahnya dengan suara yang polos dan terus memandang sang bos besarnya.
Terlihat Bob mulai menghela napasnya dan mulai tertawa kecil mendengar ucapan anak buahnya. Ia juga mulai melirik kearah Will dan Jack yang tengah menundukan pandangannya menatap sebuah gelas besar yang berisi bir. Dalam keadaan melingkar, mereka mulai berkumpul dan berbagi kisah.
“ Kurasa ini waktu yang tepat untuk menceritakan segalanya.” ujar lirih Bob Markle yang semakin membuat penasaran seluruh anak buahnya yang kini tengah duduk melingkar. Sebenarnya apa yang terjadi dengan sosok bos besar yang selama ini dikenal dengan tangguh dan pemberani ini.
Terlihat mereka semua mulai menatap sang bos besarnya memberikan isyarat bahwa mereka siap mendengarkan misi baru sekaligus kisah rahasia yang selama ini bosnya sembunyikan. Rasanya sangat aneh jika Bob memiliki rahasia yang besar yang tak diketahui oleh seluruh anak buah berandalnya.
“ Cerita dan katakana saja, bos. Apa yang harus kami lakukan? Kami siap menerima perintah barumu.” sahut salah seorang diantara mereka yang melihat bosnya yang masih diam membatu tanpa sepatah kata yang keluar.
Bob mulai menarik napasnya dan memberanikan diri untuk membongkar rahasianya.
“ Baiklah, aku akan menceritakan segala rahasiaku. Ini tentang masa laluku yang kelam.” ucap Bob Markle dengan menghela napasnya dan meneguk seteguk bir dalam gelas besarnya seakan ia berat untuk mengungkapkannya namun ia harus mengatakannya.
Jack dan Will mulai mengangkat kepalanya yang mulai penasaran dengan rahasia besar bos besarnya.