The Black Missions

The Black Missions
Eps. 22 Misi Baru



Hari mulai berganti, siang berganti malam dan jam terus berputar pengintaian dan penyidikan masih terus berlanjut sampai titik darah penghabisan. Kali ini, Stephen mulai mengejar tersangka nomor dua yaitu Mike Hilton, seorang sekretaris kepercayaan keluarga Jason yang sejak lama mengabdi pada Jason, ia mendatangi Mike hanya untuk menanyakan beberapa pertanyaan mengenai sosok Jason di hari terakhir sebelum ia tewas.


Stephen tak mau tergesa-gesa menyidik dan menuduh Mayora begitu saja, ia harus punya barang bukti yang kuat untuk kasus ini. Stephen mulai bergerak menghampiri kediaman Mike Hilton di jalan Saint Louis, Amerika serikat. Kali ini Stephen datang sendiri tak ditemani dua sosok penjaga gagahnya, karena tak mungkin ada kekerasan yang akan terjadi ketika ia beradu mulut dengan sosok Mike yang dikenal diam tapi banyak bekerja ini. Mike dikenal sebagai sosok yang berhati lembut, ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja, amat diragukan jika ia salah satu komplotan yang ikut menghabisi nyawa keluarga Jason dimana ia bekerja.


 


Pintu rumah mulai diketuk, terlihat seorang wanita dengan blouse putih mulai membukakan pintu dan menyambut hangat kedatangan Stephen yang datang dengan jas berwarna coklat yang menggantung di tubuhnya.


 


“ Selamat siang, apa benar ini rumah tuan Mike Hilton?” tanya ramah Stephen dengan sedikit senyum yang terhias dibibirnya memandang sosok wanita yang kini berdiri kaget di balik pintu.


“ Benar, silahkan masuk. Saya akan panggilkan Mike.” jawab wanita itu dengan ramahnya yang menjamu tamu. Stephen mulai melangkahkan kakinya dan duduk di ruang tamu dimana ia menunggu Mike datang menemuinya.


 


Terdengar langkah kaki yang menuruni tangga, terlihat Stephen mulai berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sosok pria muda yang lain dan bukan, ia adalah Mike Hilton. Jika digambarkan pria ini memiliki postur tubuh yang tinggi besar, memiliki potongan rambut yang rapi nan modis, dan masih sangat muda jika diperkirakan usianya kemungkinan besar belum genap 30 tahun.


 


“ Apa ada yang bisa saya bantu, pak? Seharusnya jika bapak membutuhkan bantuan saya, bapak tinggal menghubungi saya saja, jadi merepotkan bapak jauh-jauh datang kemari.” ucap Mike yang mulai merasa tidak enak dengan kedatangan sosok kepala kepolisian sekaligus mata-mata negara, Stephen Ivander itu yang tiba-tiba.


“ Tidak, aku tidak merasa direpotkan, Mike. Aku datang kemari hanya ingin mengunjungimu saja karena ada suatu hal yang ingin kubicarakan padamu.” respon Stephen dengan menyeruput secangkir teh yang tersaji di hadapannya.


“ Hal penting apa, pak?” sidik Mike yang mulai penasaran dengan kedatangan dan ucapan Stephen yang tiba-tiba saja dan mungkin di jam ini ia mulai terganggu dengan waktu istirahatnya.


“ Jadi, seperti ini. Aku ditugaskan untuk menyidik dan menuntaskan kasus kematian tuan Jason dan keluarganya, dan kau sebagai orang yang paling dekat dengan mendiang sebelum ia tewas dibunuh. Maka dari itu tujuanku datang kemari ingin menanyakan suatu hal padamu, tapi aku tak bermaksud menuduhmu sebagai pembunuh atau lainnya, hanya saja aku membutuhkan klarifikasi yang jelas dari orang terdekatnya sebelum mendiang tewas.” jelas Stephen pada Mike yang sedari tadi menatap penuh rasa ingin tahu.


Mike mulai mengangguk paham, ia juga sudah tahu suatu saat ia pasti dimintai keterangan oleh kepolisian karena ia satu-satunya orang terdekat yang menemani korban sebelum pembunuhan itu terjadi.


“ Aku siap membantumu mengusut tuntas kasus ini, pak.” jawab Mike dengan nada yang mantap tanpa rasa gerogi yang menyelimuti hatinya. Stephen mulai merasa bahwa Mike bukanlah tersangka yang ia duga sebelumnya, ia tak melihat sebuah kejanggalan dalam setiap gerak-gerik dan tatapan matanya. Mike benar-benar menyikapinya dengan santai karena ia merasa bahwa ia tak bersalah dan tak terlibat dalam tragedi berdarah ini. Jadi, untuk apa ia takut, seperti pepatah yang bilang bahwa berani karena benar dan takut karena salah.


“ Apakah ada suatu hal yang janggal di hari terakhir kau bekerja dengannya, Mike?” sidik Stephen dengan menyandarkan punggungnya pada sebuah sofa yang ada.


Terlihat Mike mulai mengingat sesuatu dalam ingatannya seakan ada sesuatu hal yang masih mengganjal dalam hati dan pikirannya.


“ Aku ingat sesuatu, pak. Sebelum acara pemilihan umum dilaksanakan, tuan James Sher pernah datang menemui pak Jason dan ia juga membuat keributan di halaman gedung hingga beradu mulut dengan beberapa satpam penjaga disana.” Jelasnya yang mulai teringat dengan satu peristiwa yang menghebohkan seluruh anggota Big Solidarity akan kedatangan salah satu saingan politiknya, James dari partai Momentum yang memaksa untuk bertemu dengan Jason yang kala itu mereka masih sama-sama mendaftar sebagai calon perdana menteri rakyat.


Stephen mulai menegakan punggungnya yang sedari tadi bersandar nyaman di sofa dan menyangga dagunya dengan tangan kanannya, seakan ia mulai tertarik dengan topik pembicaraan yang dibicarakan oleh Mike.


“ Lalu?”


“ Pak Jason mengajak tuan James ke ruangannya dan aku tak tahu apa yang terjadi saat itu, tiba-tiba saja tuan James keluar dengan wajah yang memerah seperti seseorang yang sedang marah dan di ruangan tuan Jason juga terlihat melamun seakan ada sesuatu yang berat menghampiri jiwanya, setelah itu aku mencoba menanyakan kabarnya namun ia berkata bahwa ia baik-baik saja, sepertinya tuan Jason menyimpan sesuatu saat itu.” jelas Mike pada Stephen. Stephen masih terus bepikir dan menyidiknya. Nampaknya, Mayora dan James menjadi misteri besar yang belum terpecahkan.


“ Jadi, James datang kala itu?”


“ Iya, pak benar, pak James datang di kala suasana politik tengah memanas. Tapi sayangnya, aku tidak tahu apa yang ia lakukan pada pak Jason, karena saat itu aku tak diperkenankan masuk oleh tuan Jason. Beliau bilang ini urusan pribadinya dengan sahabat karibnya.”


Stephen mulai mengangguk paham, sepertinya penyelidikan selanjutnya adalah menghampiri James dan Mayora secara langsung sudah tak ada pilihan lain selain menyergap mereka secara terang-terangan dan beberapa bukti beserta fakta juga telah terkumpul rasanya cukup untuk menjebloskan mereka ke penjara atas semua perbuatan kejamnya.


“ Lalu, apalagi yang kau ingat sebelum mendiang meninggal?”


“ Hanya itu pak yang mengganjal ketika tuan James datang dan membuat kegaduhan.” jawab Mike dengan jelas dan menyeruput tehnya.


“ Baiklah, terima kasih kau telah memberikan informasi ini padaku, Mike. Kau telah membantuku.”


“ Tak masalah, pak. Jika ada suatu hal yang kau butuhkan lagi hubungi saja aku, aku akan siap sedia membantumu sekuat dan semampuku.” jawab Mike dengan menundukan kepalanya sebagai bentuk hormat kepada sosok pria berpangkat besar yang diturunkan langsung dari Badan Inteligen Negara. Stephen mulai berdiri dari tempat duduknya dan berpamitan untuk segera pulang, karena nampaknya sudah cukup informasi yang ia dapatkan dari Mike.


“ Baiklah, kalau begitu terima kasih Mike kau telah memberiku sebuah informasi yang snagat berharga, maaf jika kedatanganku yang membuat kau dan keluargamu repot.”


“ Istrimu?” tanya Stephen yang mulai menunjuk sosok wanita dengan blouse putih yang tadi turut membukakan pintu.


“ Iya, pak. Kami baru menikah 2 tahun yang lalu."


“ Baiklah, jaga dan rawat dia baik-baik, Mike. Jangan kau sakiti dia.” pesan Stephen pada mereka.


“ Baik, pak. Aku akan menjaganya di sepenuh ragaku.” ucap Mike yang mulai mengalungkan tangannya pada istrinya sembari menyodorkan sebuah senyum manis yang terhias di wajah kedua mempelai yang tak lama menikah ini. Terlihat sebuah cinta dan kasih yang tersorot dalam sinar matanya.


 


Stephen bergegas masuk ke dalam mobil hitamnya dan mencoba menghubungi markasnya untuk segera berkumpul dalam ruangan rapat ada sesuatu hal penting yang ingin dibahas. Beberapa timnya mulai menyetujui pertemuan ini. Stephen memacu mobilnya dengan sangat cepat, seakan ia tak ingin di kejar waktu dan ingin segera menuntaskan tragedi ini dan membuat Ary Jason beristirahat dengan tenang.


Di sebuah ruangan besar dengan cahaya yang begitu terang terlihat beberapa aparat keamanan mulai dari kepolisian hingga mata\-mata lainnya mulai berkumpul melingkar pada sebuah meja yang bundar.


 


“ Aku mendapatkan informasi bahwa James Sher mendatangi Jason sebelum peristiwa berdarah itu dimulai.” ucap Stephen yang mulai membuka topik pembicaraannya. Beberapa aparat terlihat kaget mendengar ucapan Stephen.


“ Bukankah James Sher adalah sahabat karib beliau, mengapa ia tega menghabisi nyawa sahabatnya sendiri?” Salah satu aparat mulai dibuat terheran-herat dan tak percaya dengan kelakuan busuk sosok James Sher.


“ Kurasa dugaan kita selama ini benar bahwa dalang dibalik peristiwa ini adalah James Sher sendiri. Tunggu apalagi lebih baik hari ini kita seret dia ke jeruji besi. Kesabaranku sudah habis meledeni sikapnya.” sahut salah satu aparat keamanan yang mulai terpancing emosinya mendengar berita terkini dari sosok Stephen.


“ Jangan gegabah dalam memutuskan suatu perkara, kita harus tetap tenang dalam menjalankan misi ini. Agar tersangka itu tidak kabur begitu saja, lalu tuan Stephen bagaimana dengan sosok pengacara itu? Apa ia sudah mengatakan sesuatu hal penting padamu?” ujar salah satu diantara mereka dengan bijaksana dalam menangani suatu masalah.


“ Sammy Grint telah menyerah dan ia sudah memberikan kesaksian bahwa ia benar-benar bekerja sama untuk memenangkan James Sher dalam pemilihan umum kemarin, ia melakukan kampanye hitam kali ini, dan ia juga telah berjanji akan mengakui semua perbuatannya di depan hakim nanti. Maka dari itu, misi selanjutnya adalah langsung menyeret Mayora dan James Sher pada meja hijau. Kita harus selidiki lebih lanjut dan jangan sampai lepas.” tegas Stephen pada seluruh anak buahnya.


“ Baik, pak.”


“ Aku ingin besok kita berpencar dan membentuk tim menjadi dua, tim pertama menyergap rumah James Sher dan tim kedua pergi ke kediaman Mayora. Tim pertama akan dipimpin oleh Harold, kau yang memimpin dan kaulah yang akan bertanggung jawab atas segala keadaan James Sher dan untuk tim kedua akan kupimpin sendiri dan aku yang akan menangkap dalangnya.” jelas Stephen sembari menolehkan pandangannya memandang sosok Harold yang ditunjuk sebagai pemimpin tim satu.


“ Baik, pak. Aku siap.” jawab Harold dengan suara yang lantang. Stephen hanya mengangguk mengiyakan. Misi pemburuan baru akan segera dilancarkan.


 


Terlihat Stephen mulai merogoh saku celananya tuk meraih ponselnya guna menghubungi sosok pemimpin partai Big Solidarity, Albert Barbara untuk mengabari sebuah berita yang luar biasa.


 


“ Selamat siang, pak.” sapa Stephen yang membuka percakapan melalui telepon genggam.


“ Ya, Steve. Apa ada perkembangan baru mengenai kasus yang kau selidiki kali ini? Aku sudah menunggu laporanmu.” jawab seseorang pria dengan suara yang berat dari dalam panggilan telepon, ya dia adalah Albert Barbara yang mencari keadilan untuk kaki tangannya, Jason.


“ Ya, pak. Esok kami akan segera menyergap dua orang yang kami curigai, untuk saat ini semua bukti telah terkumpul dan kurasa bukti-bukti ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa merekalah pelakunya.”


“ Baiklah, Steve akan kutunggu kabar selanjutnya tentang sosok pelaku itu. Aku tak sabar untuk menghukumnya.”


“Baik, pak.”


Panggilanpun berakhir.


Misi baru akan segera dilancarkan dan tersangka tak mungkin bisa berkutik lagi, pengepungan akan segera dilakukan.


 


“ Kuharap kau mau mengakui semua perbuatanmu, Mayora. Sudah cukup kau bersembunyi dibalik topengmu.” gumam Stephen sembari menutup telepon genggamnya dan mengangkat alisnya ke atas. Pelaku sudah mulai ada titik terang.