The Black Missions

The Black Missions
EPS 46. WILLIAM'S BETRAYAL



Jack datang tepat waktu hingga membuat Nick dan Dormino terkejut walaupun The Brouch ini kehilangan satu anggotanya, Tom.


Suasana ruangan saat itu tiba-tiba saja mencekam, hening dan keringat dingin pun ikut bercucuran. Terlihat seorang pria dengan beberapa bodyguard-nya berdiri kokoh menghalangi jalan masuk.


"Tunjukan padaku, di mana kalian sembunyikan bos kalian?" ucap salah satu pria dengan suara khasnya.


Sosok itu juga menyeringaikan bibirnya, "Tak kusangka, kalau Jack juga ada di sini. Kurasa ini akan menjadi akhir dari kisah cinta Romeo dan Juliet-mu."


Jack dengan santainya ikut menyeringai, "Bukankah aku ini memang selalu lebih unggul darimu, Will?"


Mendengar ucapan Jack, spontan membuat senyuman di bibir pria itu perlahan memudar


"Karena aku ini lebih unggul darimu dan seluruh anak buahku terbaik, kau memang selalu berusaha mencari celah untuk menghancurkanku. Benar begitu, bukan?" sambung Jack yang kembali membuat pria itu tersudut.


Will mulai mengepalkan tangannya.


"Aku akan membuatmu hancur, Jack." ia mulai mengancam Jack sekali lagi. Tapi nampaknya ancaman itu tidak ada maknanya bagi Jack.


Jack justru tertawa, "Coba saja. Akan ku pastikan kalau akulah yang akan menghancurkanmu lebih dulu."


Sementara itu, di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim terlihat beberapa orang tengah berkumpul di sebuah ruangan khusus.


Seseorang di ajak masuk secara paksa dengan tangan yang diikat.


"Bos, aku punya berita besar." kata seorang pria dengan gagah, ternyata pria itu adalah Jimmy, anak buah Jack O'Hammels.


"Kami berhasil menemukan pembunuh Brian sebenarnya." tambahnya yang langsung membuat bos besar itu berdiri dari kursinya bahkan semua orang yang ada di sana pun ikut menatap kaget.


Hanya 24 jam saja, kasus kematian Brian bisa terungkap. Jack, dia pria yang luar biasa dan memiliki insting yang bagus untuk menjadi seorang mata-mata.


"Apa benar dia yang membunuh Brian? " tanya seorang pria lainnya yang tidak percaya dengan melihat penampilan biasa seorang preman jalanan yang ternyata menjadi ajudan kematian bagi Brian malam itu.


Mendengar pertanyaan itu, tanpa basa basi membuat Jimmy langsung menganggukkan kepalanya,


"Ya, dialah kaki tangan William Hertz untuk menghabisi Brian. Ia juga mendapatkan bayaran yang fantastis dari Will. Will melakukannya karena dia punya misi khusus untuk membunuh Jack. Misi inilah yang membuatnya mencari preman-preman jalanan seperti dia untuk memusnahkan satu anggota terdekat dari Jack." Jimmy yang mulai menjelaskan semuanya yang ia temukan selama mengusut tuntas kasus bersama Jack.


Mendengar ucapan Jimmy, Bob selalu bos besarnya pun langsung terdiam bahkan seakan ia merasa tak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga mulai berjalan menghampiri sosok pria itu yang bernama Sandy.


"Jawab aku, apa benar kau disuruh oleh William? " tanya Bob yang mulai menginterogasi pria yang kini mulai tertunduk, takut.


"I-iya, aku diminta untuk membunuh Brian di gang sempit dekat sungai. Aku menusuknya atas perintah tuan Will." pria itu mulai mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Bob mulai menatap dengan tatapan marahnya, bahkan membuat jantung sosok pria itu semakin berdegup kencang,


"T-tapi sungguh aku tidak tahu menahu kalau orang yang kubunuh itu adalah anggota dari kelompok ini. Aku berani bersumpah." tambahnya yang juga ketakutan bahkan keringat dingin mulai memenuhi kepalanya.


Bob mulai menyeringaikan bibirnya sambil menatap sadis, "Seharusnya aku tahu, kalau ada duri dalam daging di kelompok ini."


Bob mulai mengepalkan tangannya lagi, "Apa yang sebenarnya terjadi? Aku akan membunuh semua pengkhianat termasuk William."


Suasana di ruangan itu pun menjadi sangat hening mencekam tak ada suara pun yang terdengar. Bahkan angin pun seakan enggan untuk bertiup di ruangan itu.


"Temukan William dan bawa ia ke hadapanku, sekarang juga!" teriak big boss tersebut hingga membuat sisa orang yang ada di dalam sana langsung mencari William yang saat ini bergegas menuju markas di mana The Brouch berada.


"Aku tidak akan membiarkan para pengerat itu hidup di sekelilingku. Pengkhianat seperti mereka pantas untuk mati." Bob yang mulai bergumam kesal.


Di sisi lain, di sebuah ruangan kecil Jimmy mulai menguhubungi Mark melalui ponselnya dan mengabarkan kalau Bos besar marah dengan perbuatan gila William. Ia juga mengutuk perbuatannya.


Bahkan Jimmy juga meminta untuk menahan William agar tidak pergi kemanapun, dan ia juga meminta agar Will tidak tahu masalah ini karena kalau dia tahu bahwa ia dicari oleh Bob, ia akan pergi melarikan diri.


Mark pun mulai berbisik perlahan dan mengabarkan berita ini padanya hingga membuat Jack tersenyum makin lebar.


Seakan ia sudah memenangkan peperangan dingin antara dua sekubu dalam satu tim ini.


"Serahkan dua pria The Brouch itu padaku atau aku takkan membiarkanmu hidup, Jack." Will mulai menunjuk ke arah Dormino dan Nick yang tengah berdiri di belakang Jack ditemani oleh Mark.


"Tidak akan, mereka adalah tawananku. Karena akulah yang lebih dulu menemukannya, jadi mereka adalah milikku." katanya yang membuat Dormino dan Nick saling menatap kaget.


"K-kita ini tawanannya?" Nick mulai berbisik tapi bisikannya itu terdengar di telinga Mark.


"Tenanglah, ini hanya taktik saja. Bos tidak akan menjadikan kalian tawanannya. Dia masih punya hati. " Mark yang mencoba meluruskan kesalah pahaman di antara mereka yang justru membuat Nick menghela napas leganya.


Tiba-tiba suara tembakan pun terdengar keras dari luar hingga membuat William dan beberapa orangnya melirik ke arah luar. Melihat anak buahnya yang sudah dihabisi dan menyerah oleh orang-orang Jack.


Bisa dikatakan ini seperti perang saudara, karena mereka berasal dari satu geng yang sama hanya beda tim saja dan saling melakukan perlawanan hanya demi keegoisan diri pemimpinnya.


"Dorm, Nick cepat temui Jane. Pastikan dia aman di sana. Mark, kau juga ikut bersama mereka. Jika semua sudah aman, kembalilah kemari ada hal yang harus kita tuntaskan. Kali ini, kupasrahkan tugasku padamu." Jack mulai berbisik dan memberikan instruksi kepada bawahannya, Mark untuk ikut mengawalnya.


Mark pun mengangguk dan membawa keduanya pergi, "Cepat, kalian semua ikut aku! " Mark yang mulai bersikap tegas sambil mendorong kedua pria itu menjauh dari lokasi.


Sementara itu, suasana semakin mencekam di antara Jack dan William. Amarah yang selama ini terpendam dalam dada Jack pun terasa sudah tak tertahankan, emosinya ikut meluap-luap.


Tanpa angin, tanpa hujan William mulai menyodorkan pistolnya ke arah Jack,


"Harusnya aku membunuhmu sedari dulu, agar kau tak menjadi penghalang bagiku."


Jack dengan santainya pun hanya menyeringaikan bibirnya, "Kalau begitu, bunuh aku sekarang. Kalau kau bisa." Jack mulai mengeluarkan dua pistolnya, yang satu mengarah kepada salah satu anggota tim William


"Kau bahkan tak tahu, kalau aku lebih pandai daripada singa dalam berkelahi dan mencari mangsa." ungkap Jack yang sontak membuat beberapa anggota Jack mulai ikut menodongkan pistolnya kepada orang-orang bawahan William.


Tetapi, tiba-tiba seseorang berteriak.


"William!!!" suara itu sampai menggelegar di seluruh ruangan.


Terlihat sekelompok orang marah besar dan ikut menodongkan pistol ke arahnya.


Catatan:


Hello, readers! Maaf sudah menunggu lama karena hiatus. Author is back!


Happy reading dan jangan lupa Komentar dan jempolnya yaa☺