
Fajar mulai menyingsing, mentari bersinar dengan cerah memberikan suasana pagi yang indah namun tidak dalam sel penjara khusus milik Jay dan Jack, suasana sel nampaknya sedikit menegangkan dan mampu membuat jantung berdebar kencang tak seperti biasanya terlihat seseorang di giring keluar dengan borgol yang melekat erat di kedua tangannya. Jack diam menatap pintu penjara yang terbuka lebar dengan seorang penjaga yang menjaga di luar pintu sel mereka. Nampaknya, ini adalah kesempatan emas untuk dirinya melarikan diri dari penjara. Jack mulai memberikan kedipan mata ke arah Jay seakan ini adalah caranya ia berkomunikasi dengan kode rahasianya.
Jay menatap balik dan menggerakan kepalanya yang memberikan kode isyarat untuk Jack melarikan diri dari jeruji besi. Jack mengangguk mengiyakan dan menghajar dua orang penjaga dengan pukulan kerasnya begitu juga dengan Jay ia juga ikut membantu Jack menghakimi seorang petugas yang sedari tadi menahan lengannya agar tidak kabur.
Jack dan Jay mulai melarikan diri dari sel khususnya dan mencari jalan keluar agar segera terbebas dari kejaran kepolisian yang baru saja ia pukuli tanpa ampun.
“ Pak, Jack dan Jay melarikan diri!” lapor salah seorang penjaga kepada komandan besar kepolisiannya.
“ Kejar dia! Jangan sampai mereka lolos.” bentak seorang komandan dengan sangat kerasnya seperti nada seorang yang tengah marah besar.
Alarm darurat kembali dibunyikan dengan nyaring dan seseorang mengucap bahwa Jack O’Hammels dan Jade Jillary berhasil melarikan diri, seluruh armada kepolisian mulai dikerahkan tuk menangkap dan membawa Jack dan Jay kembali pada sel tahanannya baik hidup ataupun mati. Jika mereka benar-benar lolos kehidupan dan kedamaian kota akan kembali terancam dan pembunuhan serta penyiksaan akan terus terjadi.
Jay dan Jack kalang kabut mencari jalan keluar dari neraka itu dengan tekat yang kuat sekuat baja mereka terus berlari kesana kemari mencari jalan walau rasa panik menyelimuti sekujur tubuhnya. Mereka benar-benar terkepung oleh dinding yang besar dan kokoh yang mengelilingi setiap sudut penjara ketat tersebut.
Tak ada cara lain selain mereka harus memanjat pagar beton berlapis besi yang berdiri kokoh menghadang mereka.
" Kita harus cepat naik ke atas, Jay." ucap Jack yang mulai kebingungan dengan suara yang tersenggal oleh napas.
" Naiklah ke pundakku, Jack. Cepat!" perintah Jay pada Jack dengan lantangnya sembari ia membungkukkan badannya. Jack mulai merangkak naik melalui tubuh Jay yang sebagai pijakannya tuk meraih pucuk tembok yang ada.
" Kau harus ikut pergi denganku, Jay. Cepat naiklah akan kutarik tanganmu." ucap Jack sekali lagi yang mulai membujuk Jay yang tengah berdiri dan merenung.
" Cepat, Jay! Ulurkan tanganmu." tambahnya dengan mengulurkan tangannya pada Jay yang ada di bawahnya.
" Tidak, Jack. Aku harus menebus dosaku disini. Kau pergilah!"
" Jay, kita harus pergi bersama, satu langkah lagi kita bisa bebas dari neraka ini, cepatlah Jay." nasihat Jack dari atas pagar beton itu.
" Cukup Jack! Dengarkan aku, kau pergilah dan larilah sekuat tenagamu dan abaikan aku."
" Jay?" panggil Jack dengan nada yang sedikit membentak emosi
" Jack cepat! Pergilah!" usir Jay dengan nada keras meminta Jack untuk segera enyah dari penjara itu.
Terdengar suara pistol kembali di luncurkan.
" Jangan bergerak!" ucap salah satu kepolisian kepada Jay yang kini tengah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Ia menyerah tanpa perlawanan.
Sementara Jack dengan berat hati, ia mulai melompat keluar dari sebuah tembok besar yang menjadi pembatas antara penjara dengan kota.
Lengannya kembali berdarah karena serpihan besi yang menyayat kulitnya ketika ia melompat dari tembok yang menjadi pengaman tembok penjara kala itu.
Polisi masih terus mengejarnya, mereka tak mau kehilangan jejak seorang kriminal kelas kakap dengan mudahnya, sangat sulit tuk membekuknya lagi, ia penjahat yang sangat lincah dan gesit bagai seekor kelinci dan licik bagai seekor ular.
Tiga mobil polisi kembali dikerahkan dengan suara sirine khas milik kepolisian namun ini tak membuat hati Jack gentar, ia terus berlari dan mencari tempat persembunyian yang aman.
“ Jack O’Hammels seorang narapidana kelas kakap berhasil melarikan diri dari hukuman mati.” Itulah sebongkah kata yang menghiasi setiap koran dan ruang berita. Seluruh penjuru kota kembali dibuat resah dan tidak tenang.
Jack benar-benar berani melakukan hal segila ini.
Ia menyamar menjadi sosok yang tak dikenal dengan menutupi wajahnya dengan menggunakan sebuah topi yang ia curi dari sebuah penjual di jalanan.
“ Tuhan bersamamu, Jay.” gumamnya dalam hati yang mendoakan Jay teman satu selnya sembari ia mengatur napasnya yang masih terengah-engah atas pengejaran itu, ia mulai menyeringaikan bibirnya dan memperlihatkan gigi rapinya seakan ini hal yang menyenangkan bagi Jack, karena bisa bermain kejar-kejaran dengan aparat kepolisian.
Ia mulai menyandarkan tubuhnya pada sebuah tembok di gang sempit dalam hatinya berharap semoga para aparat kepolisian itu tidak dapat menemukannya yang tengah bersembunyi di sela-sela tembok kecil yang menghalangi ruang geraknya.
Urusan Jay, ia tak mengetahui bagaimana nasibnya karena hari ini adalah hari dimana ia di eksekusi, amat tragis rasanya meninggalkan sosok Jay terbunuh dengan sia-sia namun apa boleh buat Jay yang berkata bahwa hidup Jack masih panjang dan harus terus berjuang, ia juga yang membantu Jack untuk keluar dari jeruji besi yang membelenggu kebebasan pria muda itu.
" Mengapa kau tidak ikut lari, Jay? Apa yang membuatmu bertahan?" sidiknya sekali lagi.
" Bukan urusanmu!" jawab Jay dengan nada sedikit acuh pada sosok komandan yang kini berdiri mengintrogasinya
" Penjahat tetaplah penjahat, Jay. Bawa dia ke ruang eksekusi segera!" pinta komandan besar itu dengan lantangnya.
Beberapa polisi mulai membawa Jay ke sebuah ruangan khusus eksekusi.
" Aku ingin Jack kembali ke tahanan. Bawa dia padaku baik hidup ataupun mati, aku sudah tak peduli." perintah sang komandan besar terhadap separuh anak buahnya tuk mengendus dan mencari jejak Jack yang kini tengah sibuk melarikan diri dari hukuman.
" Siap pak!" ucap serentak pasukan kepolisian dengan lantang, mereka bergegas masuk ke dalam mobil patroli dan mengejar Jack.
" Pria ini cukup cerdik dan pintar, aku harus buat strategi untuk menjebaknya dan gangster mematikannya itu." gumam komandan itu dalam hati sembari tangannya menyentuh dagunya yang berjanggut tipis.
Di sebuah ruangan yang pengap dan minim udara dan cahaya, nampak hanya ada lubang kecil sebagai fentilasi udara terlihat lima orang polisi beserta ajudannya berjajar rapi dan siap dengan pistolnya.
Seseorang narapidana mulai ditutup kedua matanya dengan sebuah kain hitam, ia adalah Jay yang kini tengah menghadap pada ajalnya.
" Apa ada ucapan terakhir yang ingin kau ucapkan pada kami, Jay?" tanya seorang ajudan kematian pada Jay yang kini tertutup matanya dengan kain hitam
" Penjahat tak selamanya jahat, orang baik juga tak selamanya baik. Camkan itu, komandan. Hari ini mungkin kau menghakimi satu orang penjahat tapi suatu saat nanti akan tumbuh seribu penjahat lainnya di muka bumi ini ." jawab Jay dengan menyeringaikan bibirnya.
" Baiklah, Jay. Bersiaplah pada posisi." ucapnya yang diiringi beberapa polisi yang mulai berjajar rapi.
Jay mulai menarik dan menghela napas panjangnya, ia sudah sangat siap menemui ajalnya dalam hati kecilnya ia sudah puas karena sudah melakukan kebaikan pada seseorang, setidaknya sebelum ia mati ia bisa melihat kebahagiaan orang lain karena ia telah membantunya tuk keluar dari penjara. Ia tersadar bahwa membuat orang bahagia membuatnya menjadi bahagia juga, namun penyesalan tak ada artinya lagi, semuanya telah terlanjur bagai nasi yang telah menjadi bubur. Ia dikenal sebagai orang yang buruk dan selamanya akan dikenang begitu.
Jay mulai menghembuskan napasnya berkali-kali seakan ia tak mau menyia-nyiakan hembusan napasnya di waktu terakhirnya sebelum hidungnya tak lagi berfungsi tuk menghirup oksigen dunia. Ia mulai menarik napasnya lagi seirama dengan suara pistol yang di isi peluru. Ia telah siap jika nanti ia terbaring dalam peti dan terkubur di tanah selamanya.
“Doorrr!!” pelatuk pistol mulai di tarik namun tak ada peluru yang melesat ke arahnya, Jay masih bisa bernapas dan bergerak.
" Apa ini? Apa kalian tak jadi membunuhku?" ejek Jay pada seseorang polisi yang melesatkan pelurunya pada sasaran yang lain selain padanya.
"Doorrr!" Peluru kembali di luncurkan namun untuk kedua kalinya peluru itu tak mengenai tubuh Jay dan malah menembus dinding yang ada di belakang tubuh Jay.
Jay mulai meringis sadis, nampaknya ia tahu bahwa inilah taktik dari ajudannya untuk membuatnya gentar ketakutan.
" Apa kalian ingin bermain-main denganku? Kalian ini menembak saja tidak benar? Apa harus aku yang mengajarkannya pada kalian semua?" ucap Jay kali ini dengan suara yang terdengar lebih jelas dan menyeringaikan bibirnya dengan bengis. Ia meragukan keahlian para ajudan yang berdiri membidiknya.
" Baiklah, Jay. Kau yang menantang kami." gumam halus salah satu ajudan tembak yang kali ini memfokuskan sasaran pada tubuh Jay.
" Kali ini, akan kupastikan peluru ini takkan lagi melesat." gumam lirihnya lagi dengan memfokuskan bidikan tepat pada jantung Jay.
" Doorrr!!" terdengar sebuah peluru kembali diluncurkan dan kini benar-benar melesat tepat di jantungnya.
" Kita akan bertemu di sana, Maria." gumam Jay dalam hati . Jay merasakan sesuatu yang indah mulai datang bermekaran di dalam lubuk hatinya. Ia merasa tenang dan teduh dalam tidur panjangnya.
Jay terkapar tak berdaya merasakan sengatan peluru yang tiba-tiba saja datang menyangkut tepat di dadanya. Jay tak dapat berbicara sepatah kata lagi, nyawanya mulai melayang menuju langit ketujuh. Jay benar-benar tewas dan menghadap pada sang dewa kematian. Segera Jay akan bertemu dan menjemput sosok wanita yang ia cintai selama ini, Maria Cardwill sebagai bentuk penyesalannya di masa lalu yang telah menyia-nyiakan cinta kasih tulusnya.
Inilah akhir dari perjalanan kriminal seorang kriminalis kelas kakap dan bandar narkoba, Jade Jillary.
Jay atau bernama lengkap Jade Jillary dihukum mati dengan metode hukuman tembak mati. Setidaknya setelah kepergian sang legenda kriminalis penduduk New York dan sekitarnya bisa sedikit bernapas lega dan hidup dengan damai walau masih ada satu bahaya yang mengintai jelas dan masih ada satu komplotan yang terus berkeliaran massal dan meresahkan warga, yaitu Jack O'Hammels beserta gangster pembunuhnya yang kini menjadi kejaran dan incaran pihak kepolisian. Radar Jack beserta Gangster-nya mudah datang dan mudah hilang, nampaknya seluruh anggota Gangster ini bukanlah kriminal sembarangan. Mereka sangat lihai dan handal dalam segala hal, bukan suatu hal yang mudah tuk menangkap mereka, polisi membutuhkan kerja dan pemantauan d yang super ekstra demi membekuk dan menyeret komplotan licik seperti mereka ke dalam penjara.
Akankah Jack dan komplotan kriminalnya berhasil di tangkap dan di seret kembali ke penjara?
....
Jangan lupa like dan Komennya yaa :)
Angelenzyy 🌻:)