The Black Missions

The Black Missions
Eps. 18 Pertemuan Yang Tak Terduga



Di sebuah pusat perbelanjaan di kota, terlihat seorang laki-laki dengan porsi badan yang cukup besar berdiri gagah di depan sebuah minimarket pinggir kota, dengan topi dan kacamata hitam yang menyamarkan seluruh tubuhnya, ia mulai mengintai setiap gerak-gerik orang yang berlalu lalang di sana. Matanya terus tajam mengawasi situasi untuk mencari kesempatan emas guna melancarkan aksi mencopetnya. Seseorang yang kaya rayalah yang menjadi sasaran empuknya kali ini.


Matanya kini tertuju pada seorang gadis cantik dengan tas yang ada di bahunya, sepertinya gadis ini membawa uang yang banyak dalam tas kulit yang nampaknya berharga jutaan dollar dan nampaknya ia juga membawa banyak barang-barang mewah di dalam tas mahalnya. Pria itu mulai mengintai dari jauh sosok wanita yang kini berjalan menyusuri sebuah gang yang cukup sepi. Pria itu mulai melancarkan aksinya dan mencoba menarik paksa tas mewah milik sosok gadis yang kini tengah berjalan seorang diri.


Namun usahanya gagal, wanita itu nampaknya mulai melawan dan menghantam keras wajah sosok pria yang mencoba menjambret seluruh isi tasnya hingga membuat topi pria itu jatuh ke tanah karena hantaman keras yang di beri gadis itu. Ia tak takut dengan perlawanan sosok penjambret itu, nampaknya gadis ini sangat ahli dalam membela dan menjaga dirinya dari kejahatan.


“ Jangan kau macam-macam denganku, untung hanya topimu saja yang lepas bukan kepalamu yang ikut tertebas.” tegas gadis itu dengan gagah beraninya sembari tangannya menarik paksa tas yang kini berada di tangan sang penjambret itu.


“ Jika kau ingin menjambret atau merampok barang seseorang berlatihlah dan gunakanlah akalmu, dasar bodoh.” Bentak gadis itu sekali lagi yang mulai mencaci maki sosok pria penjambret yang tengah jatuh tersungkur di tanah. Gadis itu mulai menyeringaikan bibirnya menatap sosok pria yang kini tengah terjatuh menyentuh wajahnya yang baru saja kena hantaman oleh sosok wanita yang berani.


Pria itu mulai mengangkat kepalanya dengan tinggi menatap wajah sosok wanita yang berani memukulnya.


“ Jane?” ucap pria itu dengan nada tak percaya.


Gadis itu mulai terperangah kaget mendengar ucapan pria itu yang menyebut Namanya.


“ Jack? Kau Jack, benarkan?” tuding gadis itu pada sosok pria yang baru saja berniat untuk mengambil paksa tas beserta barang berharga di dalamnya. Gadis itu ternyata Jennings Brouch, sosok gadis yang selama ini Jack cari keberadaannya, namun dengan waktu dan tempat yang tak disangka-sangka mereka bisa bertemu lagi, lagi-lagi mereka dipertemukan Ketika mereka melakukan hal kriminal, sepertinya takdir sudah berkehendak untuk mempertemukan sosok raja dan ratu kriminal handal seperti mereka. Jack hanya tertawa kecil mendengar bahwa perempuan itu juga mengenalinya dan mengingat betul namanya. Jack mulai berdiri dan merapikan pakaiannya yang kotor karena tanah, tak lupa Jane juga mengambilkan topi yang tadi jatuh karena pukulannya. Hati Jane mulai merasa tidak enak, ia gerogi dan pikirannya mulai kacau, bagaimana jika Jack akan membunuhnya, pikirannya selalu dihantui dengan ucapan itu. Jane hanya bisa menggigit bibirnya dan menyodorkan topi milik Jack pada Jack.


“ Maaf jika aku lancing dan memukul keras wajahmu, Jack.” ucap Jane sembari tangannya menyodorkan topi hitam milik Jack. Jack menyambut topinya dengan baik dan tersenyum manis menatap Jane sembari terus menyeringai menahan sakit pada pipinya yang sepertinya mulai memar dan membengkak karena pukulan Jane yang keras menghantam wajahnya.


“ Tak apa.” Jawab Jack dengan menyentuh pipinya


“ Tapi, pipimu lebam dan hidungmu…” kata Jane yang mulai merasa panik sembari menuding hidung Jack yang tiba-tiba mengeluarkan darah segar. Jack mulai menyentuh cairan merah yang baru saja meleleh dari dalam hidungnya, sepertinya pukulan Jane mampu merusak pembuluh darah yang ada di hidungnya. Jack hanya tersenyum kecil sembari menatap Jane.


“ Tidak apa, aku sudah terbiasa terluka seperti ini.” jawab Jack dengan santainya sembari menatap teduh sosok Jane yang tengah berdiri tegap di hadapannya, sungguh Jane adalah wanita paling cantik yang pernah ia temui sepanjang hidupnya. Rambutnya pirang dan panjang, matanya yang membiru sebiru lautan, dengan tubuh yang indah bagaikan sebuah gitar spanyol. Jane adalah wanita sempurna yang pernah ia lihat, inilah tipe wanita idaman bagi sosok pembunuh kelas kakap seperti Jack O’Hammels.


“ Aku benar-benar minta maaf karena perbuatan burukku padamu, Jack.” sahut Jane yang terus merasa tidak enak dengan sosok pria yang gagah dan perkasa seperti Jack. Ini pertama kalinya bagi Jane bertemu dengan sosok laki-laki selain kawanan satu komplotannya, Dormino. Rasanya agak canggung karena ini pertama kalinya ia memandang sosok pria rupawan seperti Jack secara langsung. Wajah Jack sangat mempesona tapi juga dalam hatinya terbesit rasa takut yang amat dalam, karena cerita yang di ceritakan oleh Dormino bahwa Jack adalah seorang pembunuh bayaran dan seorang buronan kepolisian. Amat di sayangkan pria setampan Jack harus berurusan dengan polisi dengan kasus yang sangat parah, membunuh perdana menteri Jason atas bayaran dan perintah orang lain.


“ Sudahlah, Jane tak apa, aku sangat tidak percaya bahwa aku bisa bertemu denganmu disini, Jane. Aku mencarimu di sepanjang waktuku.” ucap Jack dengan terus memandang wajah Jane seakan ia tak bisa memalingkan pandangannya sekejap saja dari sosok wanita bernama asli Jennings Brouch ini.


Jane hanya terdiam mendengar ucapan manis yang keluar dari bibir tipis pria ini, hatinya mulai menyidik sinis, apakah Jack berkata demikian dengan tulus atau dia hanyalah seekor buaya darat yang suka mempermainkan hati wanita? Jane bukanlah tipe wanita yang mudah tergoda, ia selalu menaruh rasa curiga terhadap siapapun yang baru ia jumpai. Aneh rasanya, jika Jack mengatakan suatu perkataan yang seakan menunjukan bahwa mereka sudah saling mengenal lama, pertemuan yang sekejap mata membuat Jack tergoda dan tergila-gila dengan sosok gadis yang ia temui saat bersembunyi dari kejaran polisi.


“ Aku sangat senang bisa bertemu denganmu disini, Jane.” ucap Jack lagi dengan menunjukan senyuman manis nan tulus di bibirnya seakan ia tak main-main dengan semua kejadian yang kebetulan terjadi seperti ini.


“ Aku juga senang bisa melihatmu lagi, Jack.” balas Jane dengan tersenyum memandang Jack yang terpaku memandangnya.


“ Izinkan aku membantumu untuk membawakan barang-barang belanjaanmu dan mengantarkanmu pulang.” tawar Jack dengan meraih barang-barang kebutuhan sehari-hari milik Jane dari tangannya.


Jane hanya tersenyum memandang pria ini, nampaknya apa yang diceritakan Dormino padanya tak sesuai dengan apa yang Jane lihat. Jack pria yang baik dan ramah terhadap siapapun, ia juga sosok pria yang ringan tangan. Jane merasa bahwa apa yang di ceritakan oleh Dormino itu salah.


“ Jane, ternyata kau sangat ahli dalam bela diri ya.” ucap Jack yang memberanikan diri untuk mencoba membuka topik pembicaraan diantara mereka yang sedari tadi hanya diam menatap jalan.


“ Tidak, aku hanya melakukannya sebisaku, Jack.” jawab Jane dengan menyeringaikan bibirnya.


“ Tapi, kau tahu pukulanmu itu sangat keras, kekuatan yang kau keluarkan itu seperti tenaga seorang pria.” jelas Jack dengan ekspresi wajah yang polos, kali ini tingkah Jack tak terlihat seperti sosok Jack yang berasal dari King Gangster tapi hanya seperti sosok Jack yang menjelma menjadi seorang laki-laki jalanan biasa yang baik budi dan pekertinya.


Jane hanya tertawa mendengar celotehan nakal yang keluar dari mulut Jack.


“ Apa yang kau tertawakan, Jane? Aku sungguh serius mengatakannya saat pertama kali kau menendang dan menyiku perutku itu benar-benar sakit, aku tak bisa menjelaskan bagaimana rasa sakitnya tapi sungguh itu luar biasa sakit dan sekarang aku juga mendapatkan bogem mentah yang keras darimu hingga membuat wajahku memar dan hidungku berdarah. Sepertinya nasibku adalah terluka dan selalu kena pukulanmu, Jane.” ucap Jack dengan terus menatap Jane yang masih terus tertawa karena ucapannya. Jack mengungkapkan semua yang ada di hatinya.


“ Kalau seperti itu nasibnya, apa kau mau kuhajar lagi, Jack?” tawar Jane dengan mengangkat kepalan tangannya di hadapan Jack. Jack hanya menelan ludahnya yang menatap bogem mentah yang kini berada dalam genggaman tangannya.


“ Oh tentu tidak, sudah cukup, yang mulia hamba tidak mau menerimanya lagi.” respon Jack sembari membungkukan badannya dengan penuh hormat menghadap Jane layaknya hormat seorang hamba pada sang ratunya.


Jane mulai berani memukul lengan Jack yang sedari tadi terus menggodanya, nampaknya Jack adalah pria yang humoris dan baik Ketika berada di samping Jane. Jack melupakan siapa dirinya sebenarnya, ia lupa bahwa dia adalah seorang pembunuh bayaran yang memiliki banyak kasus, begitu juga dengan Jane yang lupa akan semua masalah dan misi rampoknya. Mereka berdua lupa diri tentang diri mereka masing-masing.


“ Terima kasih, Jack karena kau telah membantuku.” ucap Jane dengan penuh rasa berterima kasih pada Jack karena telah mengantarkannya pulang dengan selamat hingga rumahnya.


“ Tidak masalah, tuan putri.” jawab Jack yang mulai menggoda lagi.


“ Kau ini, Jack.” Jane mulai mencubit lengan Jack. Jack hanya meringis menahan sakit atas cubitan Jane.


“ Jack?” panggil Jane dengan nada yang halus.


“ Iya?”


“ Apa itu masih sakit?” tuding Jane pada sebuah luka memar yang membiru di pipi kanannya.


“ Tidak terlalu.” jawab singkat Jack pada pertanyaan Jane.


“ Diamlah, aku akan mengobatinya. Aku merasa tidak enak karena melukaimu, Jack.” ucap Jane yang mulai mengompres luka Jack dengan air dingin dan mengusap lembut lukanya dengan handuknya.


Jack mulai terbelalak menatap tingkah Jane yang tiba-tiba saja peduli akan kondisinya, kini ia bisa melihat wajah cantik Jane dengan sangat dekat. Tanpa sadar, Jack mulai merasakan sebuah getaran aneh yang mulai menjalar di dadanya.


“ Semoga dengan ini, wajahmu tak kaku atau sakit lagi, Jack. Aku menyesal telah melakukannya.” desis lembut Jane pada Jack. Jack hanya tertegun mendengarnya, ia kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Jane, ia hanya bisa diam dan menikmati setiap sentuhan halus yang kini menerpa wajahnya.


Kali ini, hati yang keras sekeras batu seperti sosok pembunuh bayaran, Jack juga bisa luluh karena cinta kasih yang tulus, benarkah jika Jack jatuh cinta pada sosok gadis pirang bernama Jennings Brouch ini? Lalu, bagaimana dengan perasaan Jennings pada Jack? Dan bagaimana dengan keadaan King Gangster yang ditinggal lama oleh Jack?