
Di sebuah ruangan rapat dengan fasilitas lengkap dengan AC berhiaskan sebuah meja yang panjang dengan kursi yang mengelilingi setiap sisi meja terlihat tiga orang berjas rapi dengan dasi yang menggantung manis di lehernya tengah duduk bercengkrama sepertinya ada suatu hal penting yang membuat mereka membicarakannya hanya dengan empat mata tanpa ada orang lain di sekitarnya.
“ Bagaimana pak, keputusan untuk pemilihan umum nanti? Acara sebentar lagi akan dilaksanakan tetapi kita belum punya persiapan sama sekali.” ujar seorang pria dengan beraninya memandang tegas sosok pria paruh baya yang diam tanpa sepatah kata yang terucap. Pria itu tetap diam mematung dengan tangan yang mengepal di dagunya.
“ Pak, apa tidak kita putuskan saja siapa kandidat baru yang pantas untuk menggantikan posisi tuan Jason di pemilihan nanti? Bukannya apa-apa, pemilihan umum sebentar lagi akan dilaksanakan sementara partai kita belum ada kandidat yang menggantikan posisi tuan Ary Jason. Kita harus segera menuntaskan masalah ini, pak.” tambah salah satu anggota mereka dengan nada yang sedikit tertunduk takut menatap atasannya yang garang dan masih terpukul karena orang andalannya kini telah tiada di dunia.
“ Hatiku berkata bahwa takkan ada yang bisa menggantikan posisinya, tapi aku akan mencoba untuk menunjuk Mike sebagai pengganti resmi mendiang Jason, kurasa dialah satu-satunya orang yang pantas untuk menempati posisi ini, dia muda, berani dan cakap sama persis seperti mendiang Jason.” ucapnya yang putus asa sembari menyangga kepalanya seakan ada sesuatu yang berat yang mulai memasuki pikirannya. Kedua orang itu mulai mengangguk setuju dengan keputusan yang dilontarkan oleh Barbara.
Albert Barbara adalah ketua umum dari partai saingan Mayora yakni Big Solidarity. Partai ini tengah dilanda musibah karena kekosongan kandidat untuk pemilihan umum yang akan berlangsung beberapa hari lagi, kandidat hebat mereka telah gugur dalam kejadian mengenaskan bulan lalu. Namun masalah ini tak menjadi masalah yang serius bagi seluruh anggota partai walau hati mereka masih berduka, dengan sigap sang ketua umum mulai mencari jalan alternatif untuk menyelamatkan partainya yang kini berada di ujung tombak kehancuran.
Pandangan demi pandangan, pendapat demi pendapat telah tertampung, banyak orang yang bertanya-tanya siapakah sosok yang akan menggantikan posisi Ary Jason di pemilihan nanti, namun pandangan sang ketua umum mulai tertuju kepada seorang pria muda yang berusia sekitar 28 tahunan, bernama Mike Hilton.
Dia adalah kaki tangan dan sekretaris kepercayaan dari Ary Jason yang sudah 3 tahun ini menjabat sebagai sekretaris pribadinya. Albert Barbara meyakini bahwa Mike Hilton telah banyak belajar dari sosok mendiang, maka dari itu dengan setengah hati melepaskan kepergian Jason walau hati masih belum rela, Barbara mulai menunjuk Mike Hilton sebagai kandidat yang akan menggantikan posisi Ary Jason dalam pemilihan perdana menteri rakyat nanti.
Di luar gedung terlihat massa mulai memadati halaman gedung partai Big Solidarity diikuti dengan para wartawan pengejar berita yang siap memberikan pertanyaan dan merekam semua kejadian yang akan terjadi, nampaknya mereka tengah menunggu keputusan tentang sosok pengganti Ary Jason dalam pemilihan nanti.
Seorang pria paruh baya mulai keluar dari kantornya dengan dua orang penjaga berbadan besar mulai ikut menjaganya dari berbagai sisi.
“ Pak, siapakah kandidat yang akan menggantikan posisi tuan Jason? Apakah benar jika partai Big Solidarity tengah terpuruk untuk memilih kandidat yang ada?” ucap berbagai macam media massa yang mulai memberikan aneka ragam pertanyaan kepada salah seorang yang sedari tadi hanya tersenyum lebar menutupi segala masalah yang ada menyelimuti hati dan isi pikirannya.
“ Pak, tolong bicaralah sedikit mengenai permasalahan yang ada karena politik sekarang kian memanas.” pinta salah satu wartawan berita sembari menyodorkan sebuah alat perekam kepada sosok pria hampir tua itu.
“ Baiklah, untuk calon kandidat yang akan menggantikan posisi Jason sudah ada, kami sudah mengantungi satu nama yang menurut kami itu terbaik bagi kemajuan negara dan partai ke depannya.” jawab Barbara dengan menyunggingkan sebuah senyum tulus di wajahnya.
“ Siapa pak?” tanya salah satu wartawan lagi dengan terus menyodorkan mikrofon tuk mengorek sebuah berita hangat dan faktual lainnya.
“ Kalau boleh kami tahu dia itu siapa pak?” tambahnya lagi sembari mengorek berita yang sekian lama membuat seluruh masyarakat penasaran dengan perkembangan partai Big Solidarity pasca ditinggal oleh sosok Ary Jason. Barbara hanya tersenyum puas memandang seluruh awak media yang sedari tadi penasaran dengan jawaban yang keluar dari mulut Barbara.
“ Dia adalah Mike Hilton. Kami menunjuk Mike Hilton sebagai kandidat yang akan menggantikan posisi Ary Jason di pemilihan parlemen nanti.” jawab Barbara dengan tersenyum lebar menanggapi setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh setiap wartawan yang mendesaknya.
“ Lalu, bagaimana dengan tanggapan bapak tentang pernyataan dari ketua umum partai Momentum yang mengatakan bahwa semua kejadian tragis yang dialami tuan Jason dan keluarganya adalah kehendak dari Tuhan dan bukan merupakan campur tangan dari pihak manapun termasuk dengan dunia politik?”
Barbara hanya menyeringai geli mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut salah seorang wartawan berita.
Nampaknya, Barbara menyikapi semua pertanyaan yang ada dengan santai tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikitpun. Ia menyampaikannya apa adanya sesuai dengan fakta dan opini yang ada.
“ Kalau menurut saya, memang benar semuanya sudah di atur oleh Tuhan yang maha kuasa, tapi kalau soal rencana kekejaman, sifat iri dengki dan ambisius hanya manusia yang melakukannya. Jadi, tunggu saja suatu saat akan terjawab semuanya. Tuhan tidak tidur dan dialah yang maha adil.” respon Barbara dengan ucapan yang ringan dan santai.
“ Jadi, bapak tetap percaya bahwa tuan Ary Jason meninggal karena taktik balas dendam, iri hati dan perebutan kekuasaan?” tanya balik seorang wartawan dengan sangat jelas dan tegasnya menarik kesimpulan yang tersirat dari ucapan sang ketua umum partai Big Solidarity.
“ Berarti secara tidak langsung bapak juga menuduh setiap partai politik yang ada termasuk dengan partai Momentum yang baru-baru ini buka suara soal kematian mendiang Ary Jason dan keluarganya?” tambah salah satu wartawan dengan nada yang agak sedikit pedas dan menyakitkan jika masuk ke dalam relung hati.
“ Tidak, saya tidak menyalahkan siapapun. Perlu di garis bawahi, saya hanya mengambil kesimpulan dan dugaan sementara menurut pandangan saya sendiri, dan saya juga tidak bermaksud untuk menyinggung atau menyalahkan pihak manapun hanya saja tunggu waktu yang akan menjawab segalanya, kasus misteri ini akan segera tuntas. Tuhan tidak tidur, benar bukan?” jawab Barbara dengan sedikit tertawa kecil nampaknya beberapa awak media mulai salah paham dengan ucapan yang diutarakan Barbara kepada mereka.
Beberapa wartawan mulai diam membatu mendengar ucapan bijaksana dari sosok ketua umum terkemuka di dunia politik khususnya bagi partai Big Solidarity. Barbara dengan sigap meninggalkan awak media dan massa yang kala itu memadati halaman gedung Big Solidarity, kini semua pertanyaan dari para wartawan telah terjawab satu persatu dan sedikit demi sedikit teka-teki dari dunia perpolitikan mulai terbuka, nampaknya ada sesuatu hal yang aneh yang tengah terjadi di dalamnya semacam ada perang dingin yang menyelimuti setiap partai politik yang ada.
Barbara mulai melambaikan tangannya kepada seluruh massa yang ada, beberapa wartawan juga mulai mengucap terima kasih karena Barbara telah memberikan sebagian waktunya untuk menjawab pertanyaan mereka. Barbara dan partainya amat di segani oleh pihak manapun, bukan karena jiwa sosial yang tinggi tetapi dia dan anggota partainya sangat menjunjung tinggi sikap toleransi dan persatuan yang ada. Mereka adalah suri teladan yang baik bagi setiap orang yang ada.
“ Jadi, mereka masih memiliki kandidat cadangan untuk menggantikan Ary Jason. Ini tak bisa dibiarkan, mereka tak boleh menang.” Mayora mulai sedikit kesal melihat siaran televisi yang menayangkan sosok Barbara dengan kandidat barunya, dengan emosi yang memuncak dahsyat, ia mulai merogoh sakunya menelepon sosok orang yang akan membantunya dalam melancarkan segala aksi yang ada.
“ Halo…” ucap Mayora melalui panggilan telepon selulernya, memanggil seseorang.
“ Aku mau tuntaskan misi kita, buat James Sher menang dalam pemilihan seperti yang telah kita sepakati sebelumnya. Apa kau mengerti, Sam?” pinta Mayora dari dalam panggilan teleponnya, ternyata ia tengah menelpon sosok Sam, si pengacara handal namun bermata duitan. Lagi-lagi ia melakukan kecurangan pada pemilihan umum yang akan segera berlangsung dalam waktu dekat.
“ Ya, saya mengerti pak.” konfirmasi Sam pada Mayora.
Haus akan jabatan, gila akan harta membuat Mayora Bradle menempuh jalan kotor yang penuh dengan kecurangan dalam misinya. Ia tak mau kalah saing dengan partai dan ketua partai lainnya, ia ingin selalu dilihat sebagai sosok orang yang hebat dan lebih tinggi dari yang lain, ia tak mau dipandang rendah. Segalanya yang ia inginkan, harus bisa ia dapatkan karena kekalahan menurutnya hanyalah sebuah aib dan suatu hal yang memalukan. Inilah yang membuat Mayora gila akan tahta dan kekayaan.
Terdengar suara pintu kaca diketuk dengan keras.
“ Masuk.” teriak Mayora dengan lantang mempersilahkan seseorang untuk masuk ke dalam ruangannya.
Terlihat seorang pria berkemeja putih mulai memasuki ruangan, Mayora mulai berdiri menyambut kedatangannya dengan riang gembira.
“ Welcome home, James.” sambut Mayora dengan melebarkan kedua tangannya menyambut kedatangan sosok kandidat yang menjadi kaki tangannya selama ini, James Sher.
“ Persiapkan dirimu, nak kau akan menjadi seorang pemenang.” tambah Mayora dengan diiringi suara gelak tawa jahat.
“ Aku sudah sangat siap menghadapi kemenangan ini, pak. Aku tak sabar menjabat sebagai perdana Menteri, inilah impianku selama ini.” jawab James dengan ikut tertawa Bahagia
“ Lalu, bagaimana dengan kandidat baru dari partai Big Solidarity itu pak? Apa ini tak menghambat kemenangan kita?” tanya James yang mengeluarkan semua isi hatinya yang baru saja mendengar berita bahwa akan ada kandidat baru yang menggantikan posisi Ary Jason.
“ Kau tak perlu khawatir. Mereka takkan bisa menang kali ini.” jawab Mayora dengan suara yang jahat sembari menyeringaikan bibirnya. James hanya menghela napas panjangnya seakan ia merasa lega mendengar berita bahwa tak ada siapapun yang bisa menghalangi jalannya untuk menang dalam pemilihan umum ini.
Sementara itu, di waktu yang bersamaan di sebuah tempat yang sangat ramai oleh massa, terlihat Sam mulai turun tangan melakukan blusukan dadakan guna mencari suara yang akan membawa kemenangan bagi James Sher. Apapun akan ia lakukan demi mendapatkan uang dengan nominal yang sangat besar dari partai yang membayarnya itu, walaupun ia tahu bahwa hal ini adalah hal yang melanggar hukum, tapi demi uang hukum tak berlaku lagi tanpa uang hidup tak berarti lagi.
Sam mulai membujuk sana sini dengan menyogok uang bagi beberapa orang yang ditemuinya dengan syarat memilih James Sher dalam pemilihan umum nanti. Beberapa orang nampaknya setuju dengan permintaan sang pengacara yang dikenal professional itu untuk memilih sosok James Sher dari partai *Momentum*, beberapa beranggapan bahwa tak ada lagi yang bisa menolongnya karena sosok pahlawan yang selama ini mempedulikan nasib rakyat kecil sudah tiada sebab kasus pembunuhan yang sebulan lalu terjadi dan meregang nyawanya, meninggalnya sosok Jason membuat seluruh rakyat kecil berputus asa hingga membuat mereka rela menjual suaran mereka dengan uang kotor kampanye demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Kampanye hitam itulah yang bisa tergambarkan dari bentuk kecurangan yang dilakukan oleh Sam Grint ini.
Amat di sayangkan, sosok Sammy Grint seorang pengacara yang sangat ahli dalam bidang hukum malah melakukan kampanye hitam yang jelas-jelas melanggar hukum yang tertera. Mirisnya, ia melakukan hal ini hanya demi uang dan dunia.
“ Halo, Pak Mayora. Semua siap 70% diantara mereka siap memilih James Sher dalam pemilihan nanti. Kuharap kau bisa menepati janjimu, pak.” ucap Sam yang melapor pada Mayora bahwa tugasnya telah selesai.
Terdengar suara gelak tawa puas nyaring dari dalam telepon, nampaknya Mayora tengah berbahagia mendengar pekerjaan Sam yang berjalan dengan mulus tanpa hambatan.
“ Kau jangan khawatir, aku akan menepati janjiku padamu, Sam.” jawab Mayora dengan nada yang santai menanggapi semuanya.
Pemilihan umum tinggal menghitung beberapa hari lagi, semua perlengkapan dari partai Momentum telah siap siaga, begitu juga dengan partai lainnya mereka juga telah siap bersaing sehat dalam pemilihan umum yang akan dilaksanakan esok hari.
Segala usaha dan kerja keras telah mereka kerahkan dengan baik mulai dari kampanye sampai dengan bentuk kegiatan sosial demi menarik hati para warga agar memilih mereka telah mereka lakukan, namun keputusan tetap berada di tangan rakyat, inilah negara demokrasi, mereka hanya tinggal menunggu alur nasib baik dan buruk yang menghampiri masing-masing partai yang bersaing dalam pemilihan, kemenangan dan kekalahan dalam pemilihan umum adalah hal yang biasa, bagaimanapun hasilnya mereka juga harus siap menghadapi dan menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada.
Beberapa diantara mereka percaya, bahwa setiap usaha keras yang telah di lakukan tidak pernah mengkhianati hasil.