
Di sebuah gang sempit pinggiran kota terlihat sekelompok orang tengah berdiri gagah dengan pakaian hitam tuk mencari kebenaran dan mengusut tuntas kasus pembunuhan sembari membawa sebilah senjata tajam untuk menjaga diri. Nampaknya, ini bukanlah perkara mudah, seseorang yang dicurigai terus mengelak dan menutupi semua kebenaran yang ada.
“Kau jawab aku! Apa motifmu membunuh Brian?” bentak Jack sekali lagi kepada sosok pria yang ia curigai menjadi kaki tangan pembunuhan berencana Brian, teman sejawatnya.
“Aku hanya disuruh. Aku tak tahu jika aku harus membunuh temanmu, Jack. Aku mohon biarkan aku pergi.” jawabnya sembari menggigil ketakutan dengan mata yang berkaca-kaca menatap beberapa orang berdiri tegap di sekelilingnya.
“Kau tak bisa pergi begitu saja. Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu?” sahut seorang anggota lain yang nampaknya sudah terpancing emosi. Namun, pria itu kembali diam membisu tak ada lagi kata yang terucap seakan ia tengah menjaga rahasia.
“Mengapa kau diam saja?! Apa kau tuli? Jawab aku.” bentaknya sekali lagi, namun kali ini Sandy tetap diam menutup katup bibirnya.
Suasana semakin memanas, darah mulai mendidih. Jack mencoba mendinginkan suasana yang ada sembari bernegoisasi dengan sosok Sandy agar mau membuka mulut dan mengatakan jelas tentang sosok dalang dibalik peristiwa berdarah tanpa sebab ini.
“Sandy, kau tahu betul siapa diriku, bukan?” bisik Jack pada telinga Sandy yang kini mulai berkeringat dingin ketakutan dan kepalanya sedikit mengangguk mengiyakan.
“Jika kau tahu siapa diriku, kau katakan saja padaku siapa dalang dibalik pembunuhan berencana ini? Kau tak perlu khawatir selagi kau mau bekerja sama denganku, takkan ada seorangpun yang bisa membunuhmu.” tanyanya sekali lagi kali ini Jack menatap tajam sosok pria di hadapannya.
“A..aku.. aku..” jawab Sandy yang mulai gerogi.
“Jawab saja, jika kau menjawab dengan jujur aku akan membiarkanmu pergi. Tapi, jika kau berbohong padaku, aku akan mencarimu dan memotong tubuhmu menjadi bagian terkecil.” ucap Jack yang mulai mengeluarkan sebuah pisau runcing sembari menakut-nakuti sosok Sandy.
Pria itu mulai menelan ludahnya dan menatap tajam sebuah pisau yang digenggam Jack.
“Jadi, bagaimana? Kau ingin berkata jujur atau kau ingin mati dengan sia-sia disini?” tawar Jack yang mulai memberikan dua pilihan pada Sandy.
“B..baik, aku akan mengatakan yang sejujurnya tapi tolong jangan bunuh aku dengan pisaumu itu, Jack. Aku hanya disuruh.” Pintanya sekali lagi. Terlihat beberapa anggota Jack mulai tersenyum miris nampaknya mereka sudah tak sabar mendengar sosok dalang di balik pembunuhan berencana Brian.
“Tidak, selagi kau masih bisa diandalkan aku tak membunuhmu.”
Terlihat sosok Sandy mulai menghela napas leganya dan ia mulai menceritakan segalanya yang telah terjadi pada Jack. Terlihat Jack mulai mengepalkan tangannya dan matanya mulai memerah seakan emosinya kali ini sudah memuncak ketika mendengar nama sosok dalang di balik pembunuhan Brian.
Sementara itu, di sebuah tempat yang jauh dari pemukiman warga dengan William yang masih memimpin penyidikan kasus The brouch. Nampaknya, kali ini ia tak macam-macam dengan kasus ini. Di balik sosok William ada niat hati yang busuk yang kapan saja bisa menghancurkan Jack. Kali ini mereka mulai bergerak menuju Las Vegas, dimana disanalah banyak para kriminal yang hidup dan bersembunyi. Hatinya mengatakan bahwa keturunan the brouch bersembunyi di sana.
“Kita harus segera temukan mereka, bagaimanapun caranya.” Beberapa anak buahnya mulai mengangguk setuju.
“Aku takkan membiarkan the brouch lepas begitu saja, Jack kau akan menanggung semua akibat yang telah kau buat dan kekasihmu itu akan hancur di tanganku dan kau akan di asingkan dari markas.” gumam William dalam hati. Benar adanya, William ingin merebut posisi Jack sebagai panglima eksekusi dan tangan kanan, Bob Markle.
Jack masih mencoba menahan amarahnya dan membawa sosok Sandy ke markas tuk bertemu dengan sang bos besar, Bob. Terlihat beberapa anggota mulai berdiri menegang ketika melihat ekspresi wajah Jack yang sudah memerah dengan urat-urat marah yang jelas.
“Aku telah menemukan tersangka dan pembunuh Brian.” Sang bos mulai berdiri dan tersenyum manis, baru 24 jam Jack dipekerjakan ia sudah mampu memecahkan misteri yang ada. Kecerdikannya inilah yang membuat Bob terkesan, Jack bukan hanya seekor belut tapi juga bergerak cepat bak seekor cheetah.
“Asal kalian tahu, pembunuh atas kematian Brian adalah William Hertz. Dialah duri dalam selimut.”
Mendengar ucapan Jack, membuat semua orang terperangah kaget seakan tak percaya dengan semua kejadian yang ada begitu juga dengan Bob, ia tak menyangka bahwa ada seorang pengkhianat yang melakukan perlawanan demi kepentingan diri sendiri.
“Aku tak main-main.” jawab Jack yang mulai membelalakkan bola matanya dan menahan amarah. Tatapan tajam Jack membuat jantung Bob berdetak kencang, tak seperti biasanya ia takut dengan anak buahnya sendiri. Tapi, sungguh hari itu Jack memiliki aura yang menyeramkan.
“Dialah pelaku pembunuh Brian. Ia melakukannya dengan sengaja demi mendapatkan kepercayaan untuk mengusut tuntas kasus the brouch dan menggeserku dari gangster ini. Di mana bedebah itu!” teriak Jack yang mulai hilang kendali.
“Tenangkan dirimu, Jack.” ucap salah satu anak buah Jack yang mulai menahan pergerakan Jack.
“Jika kalian tak percaya, tanyalah pada pria ini. Dia yang sudah mendapatkan banyak bayaran atas pekerjaannya.”
Bob mulai mendekati sosok Sandy dan menodongkan sebuah pistol tepat di kepalanya.
“Katakan padaku, apa benar William Hertz yang menyuruhmu?” tanya Bob yang masih menempatkan pistol tepat di dahi sosok pria yang tengah berkeringat dingin sembari mengangkat kedua tangannya itu.
“Iya, tuan William yang memintaku untuk menghabisi tuan Brian.” jelasnya yang membuat semua orang terperangah tak percaya. Terlihat Bob mulai mengisi ulang pelurunya dan bersiap untuk menembak mati sosok pria bernama Sandy. Suasana ruangan semakin menegang, taka da seorangpun yang berani bergerak bahkan untuk bernapas saja rasanya agak menyesakan dada. Mereka semua diam mematung.
“J..Jack tolong aku.” pintanya pada Jack dengan suara gemetar ketakutan. Jack mulai berdiri di hadapan sosok Sandy.
“Aku tak bermaksud lancang padamu, bos. Tapi, aku tak ingin kau membunuhnya. Ia hanyalah kambing hitam William, yang pantas kau bunuh adalah William bukan dia.” Jack mulai menegur dengan tatapan mata yang tajam.
“Tapi, dia yang membunuh Brian. Nyawa harus dibayar dengan nyawa.” jawabnya kali ini yang masih menggenggam pistolnya. Jack masih terus menatap mata Bob tanpa ragu.
“Dia memang membunuh Brian tapi itu semua ulah William. Apa kau lupa bagaimana kau dulu mengkhianati dan membunuh Edward Brouch saat ia berada dalam posisi tertekan? Apa kau juga tak ingat bagaimana kau menghabisi the brouch hanya karena kau ingin membalas dendam atas perlakuanmu? Coba kau bayangkan, jika kau membunuhnya dan membiarkan William hidup menjadi soerang pengkhianat dan suatu hari William melakukan hal yang sama seperti dirimu yang membalas dendam karena pengkhianatan dengan membunuhmu dan seluruh keturunanmu, apa yang akan kau lakukan?” tegas Jack pada Bob yang mulai menyadarkannya.
Pengkhianat akan selamanya menjadi pengkhianat, maka dari itu pilihan membunuh atau dibunuh kini menjadi opsi menegangkan diantara mereka.
Bob mulai terdiam ketika mendengar Jack membongkar perilaku buruknya di depan seluruh anak buahnya. Nampaknya kali ini Jack sudah tak tahan lagi, ia harus segera mencari Jane. Bob mulai menurunkan pistolnya dan membiarkan Sandy pergi begitu saja.
“Kau dulu membunuh orang yang salah, bos.” tambah Jack dengan berani.
“Di mana William!” teriak Bob Markle dengan keras mencari sosok William, namun sayang William sudah pergi dengan beberapa komplotannya tuk mengejar the brouch.
“Dia sudah pergi ke Las Vegas untuk mencari the brouch, bos. Karena bos William mendengar bahwa di sana ada komplotan baru yang cukup ditakuti oelh masyarakat, jadi ia percaya bahwa itu adalah mereka, the brouch yang bos besar cari.” jawab salah satu diantara mereka. Amarah Jack semakin memuncak, ia mulai membawa beberapa senjata tajam dan peluru sebagai perbekalannya melawan William. Kali ini, ia tak bisa bersikap lebih sabar lagi, ia harus menemukan Jane dan menghabisi William sebelum semuanya terlambat.
“Apa yang akan kau lakukan, Jack?” tanya Bob
“Aku yang akan menemukannya dan membunuhnya. Bukankah nyawa harus dibayar dengan nyawa? Karena tak ada kata maaf bagi seorang pengkhianat, bos.” ujar Jack dengan wajah dan mata yang memerah.
“Bawa dia kemari hidup ataupun mati.” perintah Bob pada Jack.
Jack mulai menyeringaikan bibirnya dengan seram. Nampaknya, kali ini ia harus menyeret William dan menghabisinya.
Akankah Jack berhasil menemukan William dan Menyelamatkan Jane?