The Black Missions

The Black Missions
Eps. 45 I GOT YOU



Suasana ruangan mulai menegang. Keringat dingin mulai bercucuran menuruni leher Dormino dan Nick. Mereka masih duduk tersudut dengan kedatangan beberapa orang dengan seragam hitam lengkap dengan senjata laras panjangnya.


Seorang pria dengan wajah seram berperawakan tinggi besar dengan topi hitam datang dan menginjak putung rokoknya.


“Di mana kau sembunyikan bos gadismu itu?” tanya sosok pria itu dengan suara besar hingga menggema di seluruh ruangan.


Nick dan Dorm memilih diam tanpa sepatah kata yang terucap. Tiba-tiba sosok pria itu mulai mengangkat senjatanya dan mengarahkan kepada mereka. Sontak ini membuat napas kedua pria muda itu tersenggal-senggal seakan sulit tuk bernapas.


“Cepat katakan padaku, di mana gadis itu berada?” ucapnya dengan menodongkan pistolnya seakan-akan mencoba untuk menakut-nakuti kedua pria yang tengah duduk tertindas tak bisa melakukan apapun.


“Siapa yang kau bicarakan? Tak ada gadis di sini.” jawab Nick yang mulai meyakinkan mereka dengan melawan rasa takut yang sedari tadi menghantui jiwanya.


Pria itu mulai melirik ke sana dan ke sini seakan mendesis mencari sesuatu. Tak mungkin ia melepaskan begitu saja tahanan yang selama ini dicarinya, bagaimanapun caranya ia harus segera mendapatkan gadis itu sebelum Jack O’Hammels datang.


“Geledah seluruh ruangan, bawa gadis itu di hadapanku baik hidup ataupun mati!” perintah tegasnya kepada beberapa pengawal bersenjata, beberapa diantaranya mulai berjalan menggeledah seluruh isi ruangan.


Dormino mulai menelan ludahnya karena gerogi, pikirannya kembali memikirkan sosok Jane, apakah ia berhasil mengunci ruangan bawah tanah itu atau tidak. Bagaimana jika ia tertangkap dan tewas ditembak, sementara Jane tak membawa senjata apapun hanya sebilah pisau yang ada di saku bajunya. Tapi, tetap Jane bukanlah sosok yang ceroboh. Bahkan ia sangat pandai melebihi sang kancil.


Pria itu mulai menatap tajam, “Aku akan menemukan gadis itu dan kalian akan kukirim bersamanya ke alam baka.”


Nick dan Dormino tak mempedulikan ucapan pria itu, hatinya hanya mengharap keselamatan sosok Jane dari para pasukan hitam tak kenal ampun satu ini.


“Brukkk!!” pintu mulai di banting dengan keras dan terdengar seseorang mulai berjaga di luar pintu, nampaknya kali ini mereka takkan bisa lepas. William tak mungkin melepaskan komplotan penjahat The Brouch begitu saja. Nick dan Dormino terperangkap di dalam ruangan mereka.


“Kurasa kita tak bisa dengan mudah kabur dari sini.” bisik Nick di telinga Dorm. Dormino mulai menaikkan kepalanya dan memandang sahabat karibnya itu.


“Tidak ada yang tidak mungkin.” ucapnya dengan tatapan mata yang penuh percaya diri. Nick mulai mengangkat sebelah alisnya, seakan masih ragu dengan apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.


Sementara itu, di ruangan bawah tanah. Jane mulai mengatur napasnya dan bersembunyi di antara beberapa peti kayu. Jantungnya mulai berdegup kencang, bagaimana jika ketahuan dan apa yang harus dilakukan. Itulah yang selalu ada dipikiran Jane. Ia kembali mengusap dahinya yang berkeringat.


Terdengar suara hentakan kaki yang terjadi di atas sana.


“Apa jangan-jangan mereka menemukan tempat persembunyianku?” khawatirnya dengan menggigit kuku jarinya. Hatinya semakin gelisah, bagaimana keadaan Dorm dan Nick di atas sana, apakah mereka baik-baik saja?


Sebuah mobil Jeep hitam datang berparkir di halaman rumah tua. Terlihat 5 orang dengan satu orang pemimpin datang dengan gagahnya dengan senjata menghampiri segerombolan pasukan berpakaian hitam yang mengerubungi di sekitar rumah.


“Maaf, Anda siapa?” tanya seseorang yang mencoba menghalangi keenam pria kekar ini.


Tatapan mata yang bengis dari pemimpinnya mulai menyorot, “Menyingkirlah!”


“Anda dilarang masuk!” bentak pria itu yang mulai bersiaga dengan senjatanya sontak ini membuat beberapa kawannya mulai menoleh ke arah pria yang tengah adu mulut menahan enam pria asing yang hendak masuk.


“Doorr!!!” peluru kembali dilepaskan begitu saja pria berbaju hitam tewas tertembak di kepalanya. Pasukan lainnya ikut terdiam dan sesekali menelan ludah, hatinya kembali bergumam siapakah sosok pria ini?


“Apa ada lagi yang ingin melawanku?” tanya pria gagah itu dengan penuh wibawa, wajahnya mulai memerah sedari tadi menahan amarah yang ingin meledak.


“S-siapa kau? Apa maumu?!” tanya seseorang yang mulai memberanikan dirinya. Tatapan tajam sosok pria penembak itu mulai menatap pria yang ada dihadapannya. Ia mulai menarik kerah bajunya,


Mendengar namanya beberapa pasukan William itu mulai bergidik ngeri dan beberapa diantara mereka mulai menjatuhkan senjata dan mengangkat kedua tangannya. Jack mulai mendorong beberapa pasukan yang mencoba menghalanginya dan masuk dengan senjata tajam diikuti dengan kelima pasukan di punggungnya.


“Tembak dan hajar siapapun yang berani bergerak atau melawan.” pesan Jack kepada lima anak buahnya. Mereka mulai mengangguk paham. Dua di antaranya berjaga diluar rumah dan tiga lainnya ikut menyusuri seisi rumah.


“Kita cari gadis itu dan lindungi dia. Apapun yang terjadi jangan sampai kalian melukainya.” tambahnya. Mereka mengangguk paham atas instruksi Jack, bos besarnya.


“Aku akan segera menemukanmu, Jane. Jangan takut, aku sudah ada di sini.” gumamnya dalam hati mengharap bisa menemukan Jane lebih awal sebelum William menemukannya.


Jack dan kelima anak buahnya ini bukanlah anak buah sembarangan. 1 anak buah pimpinan Jack mampu menghabisi 10 hingga 20 orang sekaligus tanpa ampun, mereka juga ahli dalam bidang tembak menembak ataupun pertarungan dengan tangan kosong.



Beberapa pasukan dihajar dan dipukuli dengan tangan kosong, Jack dan ketiga rekannya mulai berpencar di setiap seluruh ruang. Tiba-tiba Jack melihat sebuah ruangan yang dijaga ketat dengan penjaga William.


Nampaknya batang hidung William belum terlihat. Jack mulai memberikan aba-aba kepada rekannya untuk menyerang petugas yang menjaga sebuah ruangan. Hati kecilnya mengatakan bahwa di sana ada seseorang yang mungkin telah mengisi ruang hatinya.


Pertarungan tanpa senjata terjadi, Jack berhasil melumpuhkannya namun terpaksa ia harus menancapkan sebilah pisaunya untuk melakukan perlawanan yang cukup sengit. Napasnya tersenggal-senggal.


“Apa kau baik-baik saja, Jack?” tanya Mark, rekannya. Jack mengangguk sembari mengatur napasnya.


Pintu mulai di dobrak terlihat dua orang pria tengah berusaha kabur melalui loteng ruangan. “Jack?” panggil Dorm dengan suara yang sedikit gembira dan terkejut.


“Bagaimana bisa kau sampai kemari?” tambahnya


“Di mana Jane?” tanya Jack sembari mencari ke sana kesini namun ruangan itu kosong hanya ada dua pria.


“Dia sudah ada di ruangan rahasia bawah tanah.” jawab Nick yang ikut menghampiri Dorm.


“Dan siapa kau?” tanya Jack


“Aku Nick, rekan Dorm sekaligus anak buah dari nona Jane. Senang bisa melihatmu, Jack. Ternyata parasmu tak semengerikan dengan apa yang kubayangkan.” jawab Nick yang membuat Jack tersenyum kecil.


Namun, mata Nick kembali terbelalak melihat beberapa mayat penjaga yang sudah bersimbah darah dan tak bernyawa tergeletak begitu saja. Menariknya hanya Jack dan Mark rekannya yang menghabisi seluruh penjaga di luar ruangan di mana mereka disekap.


“Kau berdua yang melakukan semua ini?” heran Nick sembari menggelengkan kepalanya.


“Jangan lupakan kami menghabisinya dengan tangan kosong.” tambah Mark, tim Jack yang mulai menyombongkan diri sembari melambaikan tangan kanannya.


Nick masih terkagum-kagum melihat aksi penjahat ahli yang satu ini. Pantas saja Jane jatuh hati dengan Jack, kemampuannya luar biasa.


“Kita harus temukan Jane sebelum bedebah itu berhasil menemukannya. Jika tidak, nyawamu dan nyawaku jadi taruhannya.” ucap Jack yang membuat Nick dan Dormino mengangguk setuju. Ia juga memberikan sebuah pistol genggam kepada dua pria malang tersebut.


“Tunjukan padaku di mana Jane bersembunyi?”