
Matahari mulai bersinar dengan cerah menebar semangat membuang lelah, burung-burung berkicau dengan riang dan ayam mulai bersahut-sahutan ramah, sungguh indah pagi ini, inilah yang dinamakan pagi yang ceria dan akan selalu membuat orang berbahagia. Terlihat beberapa orang mulai memadati sebuah ruangan yang ada di desa-desa bahkan kota-kota, mereka berbondong-bondong hadir menuju tempat pemungutan suara untuk menyalurkan aspirasinya.
Ya, hari ini adalah hari pemilihan umum dimana semua partai bersaing ketat demi memperebutkan sebuah jabatan yang telah lama diinginkan. Siapapun pemenangnya haruslah menjadi sosok yang amanah terhadap jabatan yang akan diemban.
“ Aku tak sabar menunggu kemenangan kita, James. Kini takkan ada lagi yang bisa menghalangi semua kemauan kita.” bisik halus Mayora pada telinga James yang tengah duduk menatap siaran langsung berita tentang pemungutan suara.
James hanya menyeringai membalas perkataan Mayora, nampaknya James juga tidak sabar menunggu waktu dimana ia akan dinobatkan sebagai perwakilan rakyat dan duduk di kursi parlemen negara, sepertinya impian masa lalunya kini akan segera terwujud walau cara untuk meraih mimpinya itu sangat tidak terpuji dan melalui jalan-jalan kotor yang dalam tanda kutip sangat ekstrem dan tak berakhlak, tetapi James tetap merasa tenang dan menikmati setiap menit bahkan detik yang bergulir tanpa ada rasa bersalah yang menyelip dalam dadanya seakan hatinya kini telah mati rasa dan tak berfungsi lagi sebagai seorang manusia.
Simpati dan empatinya telah hilang berganti dengan keserakahan dan kelicikan yang kini menghinggapi hatinya.
Sembari menunggu hasil mutlak dari pemilihan umum perdana menteri, beberapa aparat kepolisian mulai berkumpul dan menyusun sebuah misi khusus untuk menuntaskan kasus kematian Ary Jason beserta keluarganya dan mencari jejak Jack O’Hammels yang kini tengah melarikan diri dan berkeliaran bebas di luar sana.
Salah satu brigade polisi dan mata-mata terbaik mulai dikerahkan, dia adalah Stephen Ivander, seorang pakar kriminal yang baru-baru ini menjadi mata-mata terbaik di Badan Inteligence milik Amerika Serikat, bisa dibilang dialah seorang detektif handal yang bekerja dalam diam bagai seorang sniper dalam badan pemerintah, ia hanya diturunkan dalam suatu misi yang menurut hukum sudah sangat sulit dan berat tuk dipecahkan sama seperti kasus yang menimpa keluarga Ary Jason yang sudah dua bulan belakangan ini belum terusut kasusnya dan masih tetap menjadi sebuah misteri yang tak terpecahkan, seakan-akan ada sebuah hukum yang ikut melindungi sosok pelakunya.
“ Aku ingin kasus ini segara dituntaskan, aku tak mau pelakunya terus berkeliaran dan hidup dengan bebas tanpa rasa bersalah, dia harus dibalas dengan hukuman yang setimpal agar Ary Jason dan keluarganya bisa beristirahat dengan tenang, karena aku tak rela jika kaki tanganku dihabisi dengan cara setragis ini.” ucap salah satu pria setengah tua dengan melipatkan tangannya tepat di dadanya memasang mimic wajah yang sedikit kesal dan jengkel terhadap semua hal yang telah terjadi.
Dia adalah Albert Barbara ketua umum partai Big Solidarity yang sejak dua bulan lalu berjuang meminta keadilan untuk sang mendiang kaki tangannya, Ary Jason.
“ Baik, pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengusut tuntas kasus ini. Dugaan sementara, pelakunya adalah orang-orang terdekat pak Jason, maka untuk langkah awal merekalah tersangka pertama yang akan kami selidiki, setelah itu baru orang-orang yang berada dan pernah singgah dalam lingkungan hidup Pak Jason.” jawab tegas Stephen Ivander dengan berdiri gagah dengan sebuah rompi dan topi kepolisian miliknya yang memberi kesan perkasa dan bijaksana. Barbara mulai menganggukan kepalanya dengan penuh keyakinan pada sosok pria muda nan gagah perkasa seperti Stephen Ivander, karena keahlian dan kecerdikannya tak bisa diragukan lagi.
Kasus kematian Ary Jason dan keluarganya akan segera terusut dan pelaku akan segera di temukan.
Beberapa komplotan mata-mata dan aparat kepolisian mulai bergerak dengan diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik yang mencurigakan, mereka mencoba memata-matai saudara bahkan sepupu Ary Jason yang juga ikut serta dalam pemilihan umum perdana Menteri ini.
Tiba-tiba sesosok pria berjubah hitam dengan gelagat yang mencurigakan mulai memasuki sebuah gedung yang tak satu orangpun bisa masuk ke sana kecuali hanya tamu penting dan pejabat negara, itupun masih harus diperiksa dengan ketat. Terlihat pria itu membawa sebuah koper hitam yang cukup besar dalam genggamannya.
“ Sam? Apa yang ia lakukan disini?” gumam Stephen dalam hati yang melihat sosok pengacara besar mulai masuk ke sebuah ruangan dengan gelagat yang mencurigakan. Matanya kini tertuju pada sosok pengacara berjubah hitam itu dan mencoba mengikuti diam-diam sosok Sam si pengacara hebat yang tengah merogoh saku celananya dan berbisik pada salah satu penjaga gedung.
“ Seharusnya ia tak berada di sini, apa yang akan ia lakukan sebenarnya? Apakah ada hubungannya dengan pemilihan umum ini atau dia tengah melakukan suatu hal yang mencurigakan? Aku harus selidiki dia.” gumam Stephen dalam hati sembari bersembunyi memantau pergerakan Sam yang kini semakin mencurigakan.
“ Aku sudah berada tepat dimana kau menyuruhku, lalu aku harus pergi kemana? Ruangan mana yang harus kudatangi?” ucap Sam sembari terus berjalan menyusuri sebuah koridor yang ada di dalam gedung besar itu.
“ Naiklah ke lantai 10 temui aku di sudut ruangan.” ucap seseorang dari dalam telepon.
Tiba-tiba hati Sam mulai merasa tidak nyaman seperti ada sesuatu yang kini mengintai setiap gerak-geriknya, ia mulai merasa tidak bebas dalam bergerak. Sam bukanlah sosok pria yang bodoh, ia adalah seorang yang sensitif dan peka terhadap sesuatu, ia dengan mudahnya merasakan sesuatu hal aneh yang tiba-tiba saja datang menyelimuti hatinya, nampaknya ada seseorang yang kini tengah mengikutinya tepat di belakangnya.
“ Sepertinya ada seseorang yang mengikutiku, pak.” bisik Sam pada telepon genggamnya
“ Siapa dia? Siapa yang mengikutimu? Jangan sampai ia tahu bahwa kau membawa koper itu.” jawab seseorang dengan suara yang agak sedikit berat yang mulai panik mendengar laporan Sam dari dalam panggilan.
“ Baik, pak. Nanti akan kuhubungi lagi.” Sam mulai mematikan ponselnya dan bergegas masuk ke dalam lift yang mulai terbuka lebar. Sam langsung menutup pintu lift itu dan bergegas pergi menuju lantai 10 dimana sosok pria itu berada.
Sam mulai menyandarkan kepalanya pada dinding lift dan sesekali ia juga menghela napasnya, seakan ia merasa lega bahwa sosok mata-mata itu tak lagi mengikutinya. Pintu lift mulai terbuka lebar di lantai 10, terlihat seseorang berdiri kokoh dengan jas hitam yang melekat pantas di tubuhnya. Sam mulai menghampiri sosok pria dengan badan yang berisi itu dan mulai menukar koper besarnya dengan sebuah koper kecil dengan penuh curiga.
“ Baiklah, aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Kutunggu realisasi janjimu, pak Mayora.” desis sadis Sam pada sosok pak tua yang bernama Mayora Bradle.
“ Tenang saja, esok kau akan menemui rekeningmu yang menggendut karena saldo yang kuberikan.” Jawabnya dengan nada yang berbisik pada telinga Sam.
Sam mulai menyeringai puas menatap sosok lelaki yang berakal licik itu. Sebentar lagi ia akan menjadi kaya mendadak karena bayaran yang diberikan Mayora bukan main-main.
“ Ternyata kau bekerja sama dengan pria keparat itu, Sam. Baiklah, kau akan kumasukan dalam daftar orang yang perlu dicurigai dan kau akan menyesali segala perbuatanmu karena telah bersekongkol dengan pria licik seperti Mayora.” gumam Stephen dalam hati yang kini tengah bersembunyi di balik tembok yang menjadi pembatas antara dirinya dengan sosok dua orang yang kini tengah bercengkrama serius membahas misi hitam yang tercela.
Dari balik dinding yang membatasi ruang gerak mereka, Sedikit demi sedikit Stephen mulai mengetahui segalanya, ia mulai mencium bau bangkai yang selama ini bersembunyi dalam sebuah partai negara.
Stephen mulai mencurigai tentang misi apa yang Sam lakukan dengan Mayora hingga membuat sosok pengacara ternama itu mau bekerja sama dengan pria tua yang licik dan culas seperti Mayora Bradle, lalu koper hitam besar yang dibawa oleh Sam itu koper yang berisi apa hingga membuat Sam sangat berhati-hati dalam membawanya, Stephen mulai bertanya-tanya, akalnya kini ikut menduga-duga. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kematian Ary Jason? atau mungkin Mayora telah melakukan kecurangan dalam pemilihan umum demi merebut tahta itu?
Kasus ini masih menjadi sebuah misteri.
" Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya pasti akan tercium juga" pepatah inilah yang pantas menggambarkan suasana kali ini, Stephen mulai mengendus sesuatu yang janggal dibalik sikap Sam dan Mayora. kejahatan yang selama ini mereka ditutupi tak mungkin selamanya bisa tersimpan rapi, suatu saat nanti pasti akan terungkap siapa sosok dalang dibalik pembunuhan massal Ary Jason dan keluarganya.