The Black Missions

The Black Missions
Eps. 14 Perebutan Kekuasaan



Di sebuah gedung parlemen negara terlihat seseorang tengah berdiri dengan gagahnya di ikuti dengan beberapa orang bodyguard yang kini gagah perkasa berdiri tepat di belakangnya tuk menjaganya dari sekerumunan massa yang ada menghampirinya. Beberapa wartawan dan pembawa berita juga terlihat hadir dan mulai mengerubungi mereka untuk mendapatkan berita faktual dan terkini dari sekelompok orang yang nampaknya akan berperan penting untuk kemajuan bangsa dan negara keesokan harinya.


“ Pak, apakah dapat dipastikan jika James Sher akan naik podium dan menggeser tahta dari mendiang sahabatnya sendiri yang belum lama ini meninggal dunia?” tanya seorang wartawan televisi dengan menyodorkan sebuah mikrofon pada salah satu tetinggi partai, siapa lagi kalau bukan pemimpin partai Momentum, Mayora Bradle dengan segala kekuasaannya.


“ Iya, benar. James Sher akan menggantikan podium mendiang sahabat karibnya, Ary Jason dan partai Momentum akan memimpin pemilihan parlemen nanti.” jawabnya dengan sangat ringan dan terhias senyuman lebar yang menghiasi bibirnya seakan takkan ada beban yang mengganjal di setiap detik kehidupannya.


“ Lalu, bagaimana tanggapan bapak terhadap beberapa isu yang akhir-akhir ini mengatakan bahwa kematian sang mendiang Ary Jason ada campur tangan dari dunia perpolitikan yang terjadi? Apakah ada hubungannya dengan partai bapak atau itu hanyalah isu belaka yang ingin menjatuhkan partai satu dengan partai lainnya?” sidik pedas salah seorang wartawan dengan menyodorkan mikrofon lainnya dan beberapa alat perekam suara.


Kali ini, Mayora hanya terdiam membisu nampaknya ia sedikit gerogi dengan pertanyaan yang dilontarkan salah satu wartawan kepadanya, ia kehabisan kata-kata untuk menjawab segala isu yang baru-baru ini beredar. Nampaknya, hatinya mulai sedikit gelisah dan khawatir dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh salah satu media berita tersebut.


“ Bagaimana, pak? Apa bapak punya tanggapan dan kritikan lain mengenai isu baru-baru ini beredar, pak?” dedas salah seorang wartawan lagi dengan nada bicara yang terus menggali berita dengan rasa penasaran yang tidak terkira.


“ Bagaimana dengan keadaan Pak James ketika mendengar bahwa sahabat karibnya telah tiada dan menjadi korban pembantaian massal bulan lalu, pak? Apa keadaan Pak James sekarang baik-baik saja?” tambah salah satu wartawan lainnya dengan penuh rasa penasaran karena selama ini James Sher belum pernah muncul ke permukaan pasca pembunuhan yang terjadi pada sahabat dan keluarganya. Beberapa wartawan mengira bahwa James Sher tengah terpukul dan depresi karena kehilangan sosok sahabat karibnya dalam insiden yang memilukan yang terjadi sebulan yang lalu.


“ Tidak, musibah tetap saja musibah. Bukankah kematian dan garis kehidupan manusia sudah di atur oleh Tuhan? Jadi, ini sudah kehendak dari sang maha kuasa tak ada campur tangan manusia apalagi dunia perpolitikan dan untuk keadaan James, dia baik-baik saja.” elak cerdik sang pemimpin partai, Mayora Bradle dengan terus berusaha menghindari pertanyaan aneh yang dilontarkan para wartawan sembari ia bergegas memasuki mobil dinasnya walaupun beberapa wartawan mulai mengetuk-ketuk kaca mobilnya untuk meminta penjelasan lebih mengenai isu politik yang kian memanas karena kasus kematian Ary Jason yang belum tuntas dan masih melakukan penyelidikan karena belum diketahui siapa dalang dibalik pembunuhan massal satu keluarga dan ditambah lagi dengan insiden melarikan dirinya sang tersangka pembunuhan, Jack O’Hammels dari penjara yang membuat polisi semakin sulit untuk menuntaskan kasus panjang yang tanpa henti seperti ini.


Tanda tanya besar masih menjadi misteri dalam kasus yang menimpa Jason beserta keluarga. Dugaan sementara yang dilontarkan dari pihak kepolisian adalah Ary Jason dan keluarganya dibunuh atas perintah salah satu lawan politiknya atau seseorang yang lebih tinggi jabatannya dan kemungkinan besar peristiwa ini masih erat hubungannya dengan perebutan kekuasaan dan sifat iri dengki terhadap pencapaian yang telah dicapai oleh sang mendiang selama hidupnya.


“ Ini tak bisa dibiarkan, bagaimanapun caranya kasus kematian Jason harus segera dituntaskan jika seperti ini terus maka secara tak langsung partaiku akan berada dalam zona bahaya, cepat atau lambat mereka pasti akan tahu bahwa akulah dalang di balik semua insiden berdarah ini.” gumam Mayora dalam hati sembari terus menggigiti jarinya karena rasa bersalah yang kini menyelimuti hatinya.


Tiba-tiba Mayora mulai merogoh sakunya meraih sebuah ponsel yang tersimpan disana. Terlihat ia mulai memanggil seseorang dalam teleponnya, seperti ada sesuatu hal yang penting yang akan dibicarakan.


“ Halo, temui aku di jalan Flora nomor 13, hari ini juga. Ada hal penting yang ingin kubicarakan.” ucap Mayora dengan nada sigap.


“ Baik, pak.” Terdengar seseorang dengan suara berat mulai merespon ucapannya melalui panggilan ponselnya.


Mayora mulai menghela napas panjangnya seakan ada sesuatu yang berat yang kini mulai menyiksa seluruh relung batinnya. Isu demi isu tentang kematian Jason terus menghantuinya, simpang siur keaslian berita mulai membuatnya semakin gila, ia tak bisa tenang dalam menanggapi semua hal yang berhubungan dengannya dan sang mendiang Ary Jason seakan inilah karma dari semua hal yang ia perbuat.


Di sebuah kedai kopi yang ada di jalan Flora nomor 13, kini menjadi sebuah tempat rapat rahasia yang sepi tanpa pengunjung, Mayora mulai menyewa seluruh isi kedai untuk kepentingan pribadinya bersama seseorang yang baru saja ia telepon, sepertinya akan ada rencana khusus yang akan disusun oleh Mayora bersama rekan satu timnya ini. Rencana yang mungkin akan menggemparkan seluruh dunia perpolitikan yang kini memanas.


Terlihat sebuah mobil hitam bersinar yang menyilaukan datang dan seseorang berpakaian rapi dengan jas hitam pekat lengkap dengan dasi merah dan kacamata hitam yang melindungi matanya dari cahaya terik sang surya keluar dari dalamnya, jika dilihat dari gaya penampilannya sepertinya sosok pria berjas hitam ini bukanlah sosok orang yang sembarangan, mungkin dia adalah salah satu pejabat penting negara yang juga memiliki misi khusus untuk melakukan sesuatu hal.


“ Sam.” panggil Mayora yang mulai berdiri dari kursinya menyambut kedatangan sosok pria yang datang yang tengah berjalan sembari membuka kacamata hitamnya dengan senyum terhias dan menatap jelas sosok pria paruh baya yang tersenyum sumringah menatapnya. Pria dengan jas hitam itu ternyata bernama Sam atau bernama lengkap Sammy Grint.


“ Ada apa, anda memanggilku kemari tuan? Hal penting apa yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Sam yang matanya terus menyidik ke kanan dan ke kiri memeriksa situasi sekitar, nampaknya aman tak ada mata-mata yang mengintainya karena suasana kedai telah sepi dan tersewa oleh pemimpin besar partai Momentum itu.


Sammy Grint atau akrab dipanggil dengan sebutan Sam Grint ini adalah seorang pengacara ternama yang ada di kota New York, dia bukan pengacara sembarangan dia pengacara handal yang memenangkan beberapa kasus di setiap kasus yang ia tangani.


“ Kau tahu berita tentang kematian Jason dan keluarganya, bukan?”


“ Ya, lalu apa yang kau inginkan dariku?” ucap Sam dengan melipat kedua tangannya tepat di dada bidangnya.


“ Aku ingin kau menjadi pengacara untukku dan partaiku, kau tahukan kali ini partaiku dituduh melakukan kejahatan genosida itu?”


Sam mulai mengangguk sembari meneguk segelas kopi yang terhidang di hadapannya.


“ Berapa banyak yang akan kudapatkan jika aku berhasil melindungimu secara hukum?” tantang Sam dengan menatap tajam wajah Mayora yang nampaknya mulai sedikit gugup berhadapan dengan sosok pengacara hebat seperti Sam Grint.


“ Berapapun yang kau minta akan kuberikan, asalkan kau bisa dipercaya, Sam.” jawab Mayora yang ikut menyipitkan kedua bola matanya merespon sinis ucapan Sam yang nampaknya mulai menyinggung perasaan dan hatinya, seakan memberinya sebuah sebutan bahwa dialah orang yang tak bisa dipercaya. Mayora bukanlah tipe pria yang suka bermain-main, dia orang yang ambisius, keras kepala, keras hati dan juga dialah orang yang gila akan harta dan tahta.


“ Dengar, aku bukanlah budak yang bisa kau suruh kesana kemari. Ingat, Mayora aku ini tidak bodoh, aku tahu semua hal tentangmu dan tentang partai kotormu itu. Jadi, jangan coba macam-macam denganku.” tambah tegasnya kali ini pernyataan Sam membuat bulu kuduk Mayora berdiri dan urat-urat syarafnya mulai menengang merespon ucapan Sam.


Mayora mulai meneguk kopi yang tersedia di mejanya sembari menutupi sikap geroginya.


“ Santai saja, aku tidak akan bermain-main denganmu. Aku hanya ingin mengajakmu bekerja sama, kau akan kujanjikan dengan bayaran yang sangat fantastis bayaran dimana tak ada satupun orang yang berani membayarmu sebanyak diriku. Asalkan kau mau bekerja sama denganku dan partaiku, bagaimana?” tawar Mayora Bradle dengan mengangkat alisnya memandang sosok pengacara licik seperti Sam Grint.


“ Apa maksudmu? Pekerjaan macam apa yang harus kusetujui?” sidik Sam yang kali ini sepertinya mulai sedikit tertarik dengan ucapan yang dilontarkan oleh tetinggi partai Momentum itu.


“ Kau cukup lindungi aku beserta partaiku dari isu yang menjeratku dan partaiku kali ini, dan kau juga harus membantuku untuk memenangkan James Sher dalam pemilihan umum parlemen nanti, bagaimana kau setuju atau tidak?”


Terlihat Sam mulai terdiam nampaknya ia mulai mencerna dan berpikir ulang dalam mengambil keputusan dan memilih konsekuensi yang akan ia terima jika ia menerima kerja sama yang diminta oleh Mayora sang ketua umum partai Momentum, di sisi lain bayaran yang menggiurkan membuat hatinya kembali goyah, soal harta dan nikmat dunia siapa yang tidak mau, orang lainpun akan menerima bayaran mahal itu tanpa berpikir dua kali.


“ Bagaimana, Sam?” tanya Mayora sekali lagi yang masih setia menunggu jawaban dari sang pengacara ternama yang sejak tadi terdiam tanpa sepatah kata yang terucap.


Sam mulai menghela napasnya sepertinya keputusan kali ini yang ia teguhkan cukup berat.


“ Baiklah, aku setuju dengan perjanjian kerja sama ini.” jawab Sam.


Mayora mulai sumringah mendengar jawaban Sam yang membuat telinganya puas mendengar keputusan yang dibuat oleh pengacara itu, kemudian tak lupa ia juga mengulurkan tangan kanannya sebagai bentuk persetujuan atas penerimaan kerja sama yang berlangsung hari ini dan dengan senyum jahat bagai seorang psikopat, Sam mulai meraih uluran tangan Mayora menandakan ia setuju dengan segala bentuk kerja sama yang di minta oleh sang ketua umum partai yang licik dan penuh ambisi itu.


“ Kupegang ucapanmu, Mayora. Kuharap kau tidak mengingkari perjanjian yang telah kita buat kali ini.”


“ Kau bisa mempercayaiku, Sam. Aku tipe orang yang bisa dipercaya dan teguh terhadap pendirianku, jangan khawatir selama kau tidak melakukan kesalahan fatal dan tidak membocorkan rahasia ini, aku akan tetap memenuhi janjiku padamu.” jawab Mayora yang menyeringaikan bibirnya merespon pembicaraan Sam yang sepertinya meragukan sikap keras kepala dari Mayora Bradle. Sam hanya tersenyum membalas ucapan Mayora seakan ia mulai tenang dengan kerja sama barunya.


 


Kali ini, Mayora berhasil mengambil hati sosok pengacara handal dan profesional seperti Sammy Grint, ia tak pernah berpikir bahwa Sam juga memiliki hasrat yang sama seperti orang lain di luar sana, ia juga gila akan harta dan hal yang berbau dengan keduniawian hanya dengan rayuan sedikit uang mampu membuat pendirian orang lain tergoyahkan, memang di zaman seperti ini harta memang lebih di prioritaskan di atas segala-galanya, tanpa uang apalah arti dari sebuah kehidupan, tanpa uang kita bukan siapa-siapa di dunia bahkan berkawanpun kita selalu memandang harta dan kekayaan, jika kau miskin kau akan dijauhi kawan namun jika kau kaya kau akan banyak teman dan di segani setiap insan yang ada.


 


Kali ini, partai Momentum benar-benar akan menjadi penguasa dalam pemilihan perdana menteri nanti dan James Sher akan menjadi perdana menteri yang akan menyalurkan aspirasi rakyat sesuai dengan keinginannya sejak lama, takkan ada lagi yang bisa menghalangi Mayora beserta antek-anteknya. Kemenangan sudah hadir di depan mata, kejayaan milik mereka, partai Momentum dan seisinya.


“ Sebentar lagi, Big Solidarity akan jatuh terpuruk dan Momentum akan naik podium di hati masyarakat. Aku tak sabar melihat Albert dan jongos-jongosnya itu jatuh terpuruk. Rasakanlah pembalasanku.” gumam Mayora dalam hati kali ini diiringi dengan gelak tawa jahat yang menggelegar dalam hatinya, seakan ia puas dan tak ada rasa takut lagi yang menyelimuti hatinya karena akan ada hukum yang akan membelanya dan tak ada orang yang bisa menyingkirkannya.


 


Pemilihan umum perdana menteri akan berlangsung beberapa hari lagi, terlihat beberapa partai negara sudah siap bersaing secara sehat dalam pemilihan umum nanti, salah satu partai yang sudah siap bertarung adalah partai *Momentum*, mereka sudah sangat siap dengan segala amunisinya begitu juga dengan calonnya, James Sher yang sudah siap sedia menghadapi pemilihan umum yang akan berlangsung dalam hitungan hari.


 


Sementara di sisi lain, partai Big Solidarity terlihat masih diam di tempat tanpa adanya sebuah pergerakan, partai ini masih merasakan duka dan pilu yang amat mendalam karena kehilangan sosok ujung tombak bagi partainya yakni, Ary Jason karena pembunuhan misterius yang dilakukan oleh seseorang tanpa tanggung jawab, mereka masih bingung menentukan calon yang akan melaju menggantikan posisi sang mendiang dengan dedikasi dan budi pekerti yang tinggi seperti Ary Jason.


Nampaknya belum ada satupun orang yang bisa menggantikan posisi mendiang yang memiliki hati bersih dan suci serta amanah dalam mengemban tugas yang diberikan.


" Orang baik akan selamanya dikenang baik, walaupun raganya sudah tak ada tapi jasanya akan selalu dikenang sepanjang masa."