The Black Missions

The Black Missions
Eps. 27 Jennings Brouch



“ Semua keputusan ada di tanganmu, baik buruknya itu semua tergantung pilihanmu.”


Pernahkah kalian mendengar kata ini? Sebuah kata sederhana namun memiliki ribuan makna, itulah yang bisa kita ambil bahwa keputusan menentukan segalanya. Begitu juga dengan kehidupan sosok Jack.


Keputusan Jack untuk kembali bergabung dalam gangster liarnya menjadi acuan untuk masa depannya, baik buruknya Jack yang akan menanggung semua sebab dan akibatnya.


Kedatangannya Jack pada gangsternya membuatnya kembali menjabat sebagai sosok panglima kematian dan kaki tangan sosok Bob Markle yang selama ini ditakuti oleh setiap orang yang mendengar namanya, ia ditugaskan untuk membunuh dan dialah pakar dari segala bentuk pembunuhan. Kepiawaiannya dalam dunia kriminalis membuatnya dijuluki sebagai “ The king of murderer” atau raja pembunuh, karena ia telah memiliki beberapa kasus tentang pembunuhan salah satunya yang sempat menggemparkan jagad raya adalah kasus pembunuhan sosok perdana Menteri Ary Jason beserta keluarganya yang tak lain yang tak bukan sang eksekutornya adalah Jack O’Hammels.


Jack mulai tumbuh menjadi sosok yang kejam semenjak orang tuanya bercerai dan ia mulai hidup sendiri dalam dunia yang penuh kekerasan, dalam usianya yang dulu menginjak remaja ia sempat ingin membunuh kepala sekolahnya yang kala itu selalu memarahi dan menasehatinya agar menjadi sosok murid yang baik, namun Jack tidak terima dengan perlakuan sang kepala sekolah kemudian tanpa sadar ia mulai menodongkan sebilah pisau pada guru besarnya sontak melihat hal ini beberapa guru mulai menahannya dan mencoba menarik pisau yang ada di genggamannya.


Bukan hanya kasus percobaan pembunuhan, Jack juga telah melancarkan aksinya pertama kali dalam membunuh orang, yaitu ia berhasil membunuh ayah kandungnya, ia mengklaim membunuh ayahnya sebab ia ingin membalaskan sakit hati Ibunya yang dahulu sering sekali disiksa oleh Ayahnya. Ia tak tega melihat Ibunya menderita maka dari itu ia memilih untuk menghabisi nyawa Ayahnya dengan sebuah pisau yang ia curi di sebuah toko peralatan rumah tangga di pasar.


Beranjak dewasa ia mulai bergabung dengan sebuah gangster yang bernama King Gangster, sebuah gangster yang haus akan darah dan ditakuti di Amerika. Dalam gangster inilah Jack tumbuh menjadi sosok yang berani dan tak kenal rasa takut dan disinilah Jack menemukan arti dari sebuah keluarga sesungguhnya.


“ Aku senang bisa melihatmu kembali, Jack.” sambut salah satu diantara mereka dengan wajah yang sumringah akan kedatangan sang panglima kematiannya.


Jack mulai tersenyum sembari matanya terus memandang teman-teman satu komplotannya. Ia tak percaya bahwa ia bisa kembali menjadi bagian dari gangster ini. Walaupun sebelumnya ia sempat marah dan ingin keluar dari komplotan yang mengerikan seperti King Gangster ini.


“ Selamat datang di rumah, Jack.” sapa hangat Bob dengan membuka tangannya lebar-lebar menyambut kedatangan sosok Jack yang tiba-tiba. Kali ini Jack tidak main-main dengan keputusannya


“ Mulai saat ini keluarga gangster ini sudah lengkap.”


Sorak-sorak gembira mulai terdengar gaduh menyambut kembalinya sosok Jack. Namun, dalam hati Jack kembali terselip sebuah nasihat yang diucapkan oleh Jay dalam mimpinya, namun sepertinya kali ini Jack tak mau menggubrisnya ia hanya fokus terhadap apa yang ia pilih saat ini. Menjadi sosok yang ditakuti dalam sebuah gangster sangat menyenangkan menurutnya, otak Jack kembali tercuci dengan serbuk-serbuk kejahatan.


Di sebuah ruangan kosong yang minim cahaya terlihat lima orang tengah berkumpul di sana merencanakan sesuatu hal yang sepertinya penting untuk kelanjutan hidup manusia.


“ Jane, ada apa? Mengapa kau melamun? Apa kau tak suka dengan misi kali ini?” tanya salah seorang pria dengan perawakan yang tinggi besar menepuk pundak Jane yang tengah hanyut dalam sebuah lamunan.


“ Tidak, aku baik-baik saja, hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu.” jawab Jane yang mulai terdiam lagi, pikiran Jane kini tengah memikirkan sosok Jack yang sudah beberapa hari ini pergi tanpa kabar, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika Jack tak ada di sisinya. Ia berpikir ini semua karena ulah Dormino. Jika saja hari itu Dormino tidak mengusir dan memaki-makinya pasti Jack akan sering-sering datang berkunjung dengan membawa setangkai bunga untuknya. Sayang, nasi telah menjadi bubur semuanya sudah terlanjur terjadi. Jack pergi menghilang tanpa secercah kabar yang datang. Ingin mencarinya, tapi tak tahu harus pergi kemana.


Sebuah misi baru kembali diluncurkan oleh Jane beserta antek-anteknya. Merampok adalah profesinya, tanpa merampok hidupnya akan hampa. Berkejaran dengan kepolisian, bermain dan menembak dengan pistol itu sudah menjadi hal biasa bahkan merupakan suatu hiburan yang menyenangkan.


Kali ini, misi yang dilakukan adalah misi khusus, misi yang baru lebih dari lainnya. Mereka tak lagi merampok sebuah bank atau minimarket, tetapi kali ini mereka akan merampok beberapa toko perhiasan di kota.


“ Jane, ayo kita pergi!” ajak Dormino yang mulai memanggil Jane dari sebuah mobil rampoknya. Jane bergegas memakai topengnya dan menutupi wajahnya, walau dalam hatinya ia masih merindukan kehadiran sosok Jack di sisinya.


Di sebuah toko perhiasan yang cukup besar, terlihat beberapa pembeli mulai mencoba dan memilah memilih aksesoris yang cocok untuknya. Pintu toko mulai dibuka, empat pria dengan satu wanita mencoba mengendap-endap masuk dan menyiapkan beberapa senjata. Kala itu, Jane beserta keempat temannya mulai berpura-pura membeli dengan menanyakan harga dari masing-masing perhiasan yang ada. Aksi rampok mereka akan dimulai ketika sudah terdengar aba-aba.


“ Serahkan semua barang berharga kalian! Cepat!” ucap salah seorang pria yang tiba-tiba saja menodongkan sebuah pistol kepada seluruh pengunjung.


“ Masukan semua perhiasan ini.” pinta Jane yang melempar sebuah karung besar untuk diisi sebuah perhiasan dan berlian yang terjual disana sembari tangannya terus menodongkan pistol kearah penjaga toko.


“ Cepat!” bentak Jane dengan keras yang membuat beberapa penjaga toko makin larut dalam ketakutan dan gemetar.


Suasana ramai kini berubah menjadi hening, beberapa diantara mereka mulai menunduk dan tiarap mematuhi semua perintah. Anak-anak mulai menangis dan ketakutan melihat pemandangan yang menegangkan.


Terlihat seorang pria tengah menelpon dari dalam sebuah ruangan khusus, sepertinya ia tengah menelepon seorang polisi, Dorm yang melihat pemandangan ini mulai beraksi, taka da ampun bagi seseorang yang berani memanggil polisi. Tanpa basa- basi lagi, Dormino mulai mendobrak dan membuka paksa pintu yang sedari tadi terkunci menyembunyikan sosok pria yang melaporkan ke polisi. Peluru demi peluru coba ditembakan tetapi gagal kaca yang menjadi pelindung ruangan itu terbuat dari kaca anti peluru, mau tak mau mereka harus mendobraknya lagi.


“ Kau buka pintu ini atau kubunuh gadis ini.” teriak Dorm dengan menyandera salah satu pegawai toko. Gadis toko itu mulai menangis dengan mata yang memerah.


Melihat gadis malang itu, hati pria ini mulai luluh. Terlihat pria itu mulai membukakan pintunya, Dorm dan salah seorang temannya mulai masuk dan menahan sosok pria ini. Dorm mencoba memeriksa nomor panggilan yang baru saja ia hubungi, ternyata benar pria ini baru saja menghubungi mata-mata negara untuk meminta sebuah bantuan atas insiden perampokan yang terjadi di tokonya.


Dorm menarik paksa kerah pria itu dan mencoba mendekatkan pistolnya tepat di kepala pria yang kali ini tengah berdiri kokoh sembari mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


“ Maafkan aku, pak. Tolong jangan bunuh aku.” pinta salah seorang itu dengan memohon.


“ Maaf, kali ini permintaan maafmu kutolak.” jawab Dorm yang menatap tajam, pria dengan kemeja putih itu hanya menggeleng dengan pasrah.


Pelatuk mulai ditarik, “Doorr!!” sebuah peluru dilepaskan tepat di kepala sosok pria ini. Suara dentuman peluru membuat seluruh pengunjung toko berteriak histeris. Sosok pegawai pria itu mulai jatuh melemas tak berdaya.


Sebuah bom mulai dipasang, kali ini mereka bukan hanya merampok tetapi juga meledakan toko perhiasan yang ada. Setelah kantung itu terisi penuh dengan berbagai macam perhiasan, Jane beserta kawanannya mulai bergegas meninggalkan toko perhiasan itu sebelum meledak karena bom yang ada.


Dua buah mobil kepolisian datang tepat dimana bom itu meledak. Toko perhiasan yang megah nan besar itu kini rata dengan tanah, tak ada lagi yang tersisa. Polisi semakin geram dan penasaran dengan sosok perampok ini. Mereka melakukannya tanpa ada jejak sedikitpun.


“ Kita berhasil melakukannya, kurasa polisi itu akan kewalahan karena bom yang kita pasang.” ujar Dorm yang sedari tadi membayangkan ekspresi para polisi yang melihat toko perhiasan itu sudah rata dengan tanah.


“ Mungkin saja sudah meledak. Kurasa kepolisian saat ini sangat lamban mereka kalah cepat dengan kita.” tambah salah satu diantara mereka dengan suara tawa yang puas sembari tangannya memeriksa satu kantung penuh yang berisi sebuah perhiasan.


“ Lihatlah, jika seperti ini kita akan cepat kaya.”


“ Kau tahu, aku belum pernah memiliki perhiasan sebanyak ini.” tambah salah satu diantara mereka dengan tatapan mata yang heran dan mulut yang agak terbuka lebar


Semua orang dalam mobil itu mulai tertawa jahat memandang sebuah perhiasan yang bersinar terkena cahaya. Mereka seperti menemukan harta karun yang sebenarnya.


“ Jane, mengapa kau diam saja tak seperti biasanya kau begini, biasanya kaulah yang paling ceria diantara kami? Apa kau tak suka dengan misi ini?” tanya Dorm yang mulai melirik Jane yang sedari tadi diam tanpa sepatah kata yang terucap.


“ Ah, tidak. Hanya saja aku tak ingin bicara banyak hari ini. Tapi, misi ini sungguh luar biasa menyenangkan.”


Seluruh komplotannya hanya mengangguk mengiyakan. Jane adalah bos dari semua misi perampokan yang ada, dialah sang ratu kriminal. Dia licin seperti belut.


“ Jack, sebenarnya dimana kau berada?”