
Jika kau dihadapkan dengan dua pilihan antara cinta dan kesetiaan, manakah akan kau pilih? Membingunkan, bukan? Itulah yang dirasakan oleh sosok Jack O’Hammels, si pembunuh dan kaki tangan gangsternya.
Suasana kian menegang nampaknya Bob mulai mengendus suatu hal yang janggal yang terjadi di dalam komplotannya, ia semakin yakin dengan perasaannya bahwa ada suatu hal yang telah disembunyikan anggotanya tanpa sepengetahuan dirinya. Sesuatu itu berbau pengkhianatan atau kebohongan. Di sebuah sudut ruangan terlihat seorang pria gagah mulai duduk menyendiri mengasingkan dirinya dalam kesepian yang kini mulai menghantui sepanjang hidupnya, Jack hari itu hanya diam tanpa sepatah kata yang terucap. Pikirannya hanya berpikir pada sosok pujaan hatinya yang entah kemana ia harus mencari sosok Jane itu.
“Aku juga mencintaimu, Jack.” Ucapan Jane masih terus terngiang di telinga Jack, senyum manisnya, tatapan bola mata birunya semua masih tergambar jelas di benaknya. Pertemuan Jack dengan Jane adalah sebuah anugerah besar bagi diri sosok pembunuh bayaran itu.
“Kemana harus kupergi mencari keberadaanmu, Jane? Aku tak tahu bahwa cinta serumit ini.” ucap lirih Jack sembari menyandarkan tubuhnya pada sebuah sofa yang hampir usang yang tersedia dalam bilik pribadinya. Pikirannya terus terbayang tentang ucapan bosnya yang kali ini mulai menaruh rasa curiga, hatinya mulai bergetar. Sebaik-baik menyimpan bangkai pasti suatu saat baunya akan tercium juga.
Jack mulai menghela napas panjangnya seakan ada suatu hal yang mulai mengganjal dan menyesakan dadanya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang datang menghampirinya dan membangunkan lamunan singkatnya.
“Kau itu sangat cerdik, Jack. Tak kusangka, kau akan melakukan hal licik seperti ini hanya demi menyelamatkan nyawa kekasihmu dan mengorbankan seluruh hidupmu.” Pria itu mulai menyeringaikan bibirnya sembari matanya menatap tajam bak sebilah pisau yang terasah kepada Jack yang tengah duduk menyangga kepalanya.
“Jaga ucapanmu, Will. Ini bukan urusanmu!” bentak Jack kali ini yang mulai terpancing emosinya.
“Tentu ini akan menjadi urusanku, Jack. Ingatlah satu hal, cepat atau lambat hubungan gelapmu dengan wanita itu akan terbongkar dan bukankah kau juga sudah tahu apa konsekuensinya jika kau berani berkhianat dalam gangster ini?” ucap Will yang membelakangi Jack.
Jack mulai mengangkat alisnya dan memandang sengit sosok pria berbadan besar dengan nama panggilan Will itu.
“Kau dan gadis itu akan mati, Jack. Dan akulah yang akan membunuhmu dan gadismu.” tegas William diiringi dengan gelak tawa jahat miliknya.
Pria itu mulai berdiri dari kursinya dan mencengkram kerah baju milik William dengan kuat.
“Aku tak akan membiarkan siapapun menyentuh gadisku. Kaulah yang akan kubunuh terlebih dahulu. Ingat itu!” William hanya meringis membalas ucapan Jack.
“Silahkan saja. Tapi, jangan menangis jika akulah yang berhasil menemukan keberadaan Jane dan komplotannya itu. Aku yang akan membawa kepalanya ke hadapan bos besar.” tambah William yang membuat suasana hati Jack semakin memanas. Tangan Jack mulai mengepal dan pria sombong itu mulai melangkah meninggalkan Jack yang tengah terbakar emosi.
“Takkan kubiarkan kau menemukan Jane, Will. Akulah yang akan melindunginya.” gumamnya dengan menahan amarah dan memukul kursi.
Di sisi lain, di daerah Las Vegas dengan suasana yang terik dan angin musim panas yang berhembus. Di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan lukisan dan barang-barang antik lainnya terlihat tiga orang pria dengan satu wanita tengah duduk melingkar dengan menggenggam sekaleng minuman bersoda sebagai teman di kala musim panas datang menjelang.
“Sepertinya kita harus atur strategi, aku takut jika Bob akan datang dan menemukan kita disini.” ucap Nick yang mulai membuka topik pembicaraan diantara mereka.
Sontak hal ini membuat Tom dan Dormino melirik seakan pikirannya memiliki satu pikiran yang sama. Bob Markle bukanlah orang sembarangan, ia takkan menyerah begitu saja dengan keadaan. Ia pasti juga akan mencari keberadaan The Brouch.
“Kau benar, kurasa cepat atau lambat mereka pasti akan menemukan tempat persembunyian kita dan kita tak boleh diam saja.” tambah Tom yang membuatnya semakin jelas.
“Jane, dengarkan aku kita tak usah merepotkan Jack apalagi menyeretnya dalam masalah besar seperti ini. Kau tahu, jika bos besarnya tahu bahwa Jack memiliki hubungan denganmu dan membocorkan semua misinya, nyawanyalah yang akan menjadi taruhannya. Mereka juga takkan segan-segan tuk membunuhnya.” jawab Dormino yang mulai menjelaskan semuanya pada Jane.
“Tapi, dia telah berjanji padaku bahwa ia akan datang menemuiku.”
“Cukup, Jane. Lupakan Jack!” tambah Tom yang membuat Jane tak bisa berkutik lagi. Kali ini, tak ada hal yang perlu dipertahankan atas nama Jack O’hammels si panglima eksekusi gangster yang mengincar The Brouch itu.
“Maaf, Jane bukan kami melarangmu untuk menjalin hubungan dengannya. Tapi, keadaan ini berbeda, dialah eksekutor dan pemimpin dalam misi pencarian kita. Kau tahu, hati manusia tak ada yang tahu. Mungkin kemarin ia bersikap baik dan mau membantu kita, tapi esok atau lusa? Kita tidak tahu apakah ia akan tetap membantu kita atau malah melukai kita? Jadi, janganlah tertipu dengan topeng manusia.” nasihat Nick yang kali ini membuat Jane tertunduk lesu tanpa gairah.
Kali ini tak ada yang bisa diharapkan dari sosok Jack, karena mungkin saja ia sadar dan mencoba untuk mengejar mereka. Hati manusia bisa berubah-ubah kapanpun dan tak mengenal waktu.
“Tapi, aku tetap percaya bahwa Jack takkan melakukan pengkhianatan itu padaku. Aku akan terus menunggumu, Jack.” gumam Jane dalam hatinya yang mulai meyakinkan dirinya bahwa Jack bukanlah pria pengkhianat, dari sorot matanya Jane sudah yakin bahwa dia adalah pria yang setia dan memegang teguh janjinya.
Beberapa diantara mereka mulai menyiapkan amunisi dan mengeluarkan senjata yang sebelumnya mereka sembunyikan.
“Bagaimanapun kita harus melawan. Kita tak boleh bersembunyi seperti pengecut seperti ini.” ucap Dorm yang mulai membakar semangat juang para anggotanya. Rencana demi rencana kembali mereka susun berjaga-jaga jika komplotan gangster itu datang menghampiri mereka. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa Bob Markle, sang bos besar sekaligus seorang pengkhianat dari The Brouch ini datang ke markas mereka di Las Vegas. Bob juga akan segera tahu markasnya selain di Los Angeles.
Sementara Jane masih terus memikirkan nasib Jack yang kini jauh dimatanya.
“Jack, apakah kau baik-baik saja disana? Semoga Tuhan melindungimu dan semoga hatimu tak berbalik dan kau segera datang menepati janjimu padaku.” gumam Jane dengan menatap langit biru dari jendela markasnya. Namun, kesedihan dan kegundahan hati mulai dirasakan Jack.
Di sebuah markas yang minim cahaya dan dengan udara yang sedikit lembab, membuat Jack kemabli meratapi nasibnya. Dilema melanda hatinya, kali ini kesetiaan pada bos dan cintanya pada Jane tengah diuji.
Jack harus pintar mengambil langkah sebelum William Hertz mendahuluinya dan membongkar semua rahasia yang ada. Will adalah ancaman terbesar bagi Jack. Bukan hanya nyawanya yang akan terancam jika semua hal terbongkar tapi keberadaan Jane dan komplotannya juga akan berada di zona berbahaya. Ia harus segera menghancurkan William sebelum semuanya terlambat.
“Aku tak bisa tinggal diam, aku harus mencari keberadaan Jane. Aku akan menepati janjiku yang telah kubuat padamu, Jane. Jangan khawatir, aku akan datang menemuimu dan melindungi seluruh keturunan The Brouch, apapun resikonya aku tak peduli lagi.” gumam Jack dalam hati sembari menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di sebuah tembok kasar yang menjadi benteng pertahanan markas gangsternya.
Mata-mata masih terus menghantui Jack, nampaknya William masih terus memantau pergerakan Jack dari sudut ruangan lainnya.
“Kau pikir, aku akan melepaskanmu begitu saja, Jack. Lihatlah, aku akan membuatmu menangis darah karena aku yang akan berhasil menyeret gadismu ke markas ini dan kau akan melihat akhir hidup dari kekasihmu itu.” ucap lirihnya dengan menyeringaikan bibirnya sembari menatap Jack yang tengah duduk menyendiri di sudut ruangan menatap keluar jendela kecil yang ia dibuat.
“Romeo dan Juliet akan menjadi tragedi akhir kisah cintamu.” tambahnya kali ini mulai mematikan rokoknya dengan menginjak putung itu dengan sepatu hitamnya.
*Akankah semuanya terbongkar? Apakah hubungan terlarang Jack Jane akan tercium oleh bos besar*?