
“ Gawat, polisi sudah mengetahui markas kita, dan mereka mulai melacak keberadaan kita.” ujar Antonio dengan napas yang terengah-engah membawa berita tegang untuk seluruh anggota Gangster.
"Mereka akan segera datang meringkus kita. Bagaimana ini aku tak mau dipenjara." gelisah Antonio dengan mengusap dahinya yang mulai berkeringat dingin.
Sontak hal ini juga membuat semua anggota terbelalak kaget dengan berita yang di bawa oleh salah satu rekan mereka yang berlarian dari luar markas. Jika polisi berhasil menemukan markas mereka dan mengepungnya, tamatlah sudah riwayat King Gangster ini.
“ Sial, kita tinggalkan tempat ini sekarang juga.” bentak Bob Markle dengan menginjak putung rokok yang baru saja ia seduh.
Semua orang dalam markas mulai mengikuti perintah sang bos besar, namun tanpa mereka sadari Jack masih berada di luar markas dan tak mengetahui tentang hal ini.
" Dimana Jack?!" bentak Bob kepada semua anak buahnya mencari Jack yang belum kelihatan batang hidungnya.
Semua hanya menggeleng kepalanya dan tak mengetahui keberadaan Jack
Bob melihat Jack ada di depan gerbang markas, ia mencoba meneriakinya dan memintanya untuk segera lari, namun kali ini sudah tak bisa polisi sudah menemukan markas mereka berkat bantuan laporan para warga yang merasa resah dan gelisah karena kedatangan mereka di daerahnya.
“ Berhenti kalian!” teriak seorang polisi diikuti dengan suara letupan pistol yang di arahkan ke atas langit.
“ Jack, berlarilah!!” teriak Bos besar dan meminta Jack untuk berlari dari markas.
Jack mulai bingung tak karuan, ia mencoba lari menjauhi markas.
Namun semua usahanya berakhir sia-sia, polisi mengangkat lurus pistolnya dan mengarahkan pada sosok lelaki yang hendak melarikan diri.
"Doorrr!" suara peluru mulai dilepaskan, kaki Jack berhasil di tembak oleh pihak kepolisian karena melawan dan berusaha melarikan diri dari kejaran polisi, hal ini membuat Jack tak bisa berlari dengan kuat lagi karena peluru yang melesat pada betisnya..
Ia berhasil di lumpuhkan dengan senjata api, sesekali terdengar Jack mulai merintih kesakitan karena tembakan itu. Jack mulai mengangkat tangannya tinggi-tinggi, ia menyerahkan diri pada polisi.
“ Sial!” kutuk bos besar yang segera menancap gas sepeda motornya menjauhi kejaran pihak kepolisian dan meninggalkan Jack yang berhasil di ringkus pihak berwajib.
Polisi mencoba meringkus Jack dan membawanya ke kantor polisi dengan menggunakan mobil khas milik mereka. Penjahat kelas kakap ini sudah tak bisa berkutik lagi, ia hanya bisa pasrah dengan segala hal yang saat ini menimpa dirinya, dalam hatinya ia sudah sangat paham bahwa suatu waktu ada massanya ia akan teringkus. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga itulah pepatah yang mampu menggambarkan posisi Jack O’Hammels saat ini.
Di depan hakim yang menyidangnya terlihat seseorang mulai mengintrogasi Jack dengan beberapa pertanyaan salah satunya adalah menanyakan siapa dalang di balik peristiwa berdarah ini, namun dengan teguh Jack tetap diam tak bergeming, ia tak berani berbicara sosok sebenarnya di balik pembunuhan satu keluarga partai itu yang ternyata pelakunya adalah musuh dari partai politik korban, disisi lain, ia juga tak mungkin untuk ingkar pada janjinya, jika suatu hari ia tertangkap maka ia akan mencoba menutup semua rahasia yang ada dan dia juga harus siap menerima hukuman yang akan menjeratnya karena peristiwa yang dilakukannya.
“ Baiklah, jika kau tak mau bicara, dimana komplotanmu bersembunyi?!” tegas seseorang pengintrogasi dengan nada bicara yang tegas dan galak. Jack tetap mengunci mulutnya tak mau berkata sepatah katapun, ia hanya tertunduk lesu merasakan linu yang menjalar di sekujur kakinya pasca penembakan itu. Kini ia terlihat lemah tak berdaya dengan borgol yang menjerat di kedua tangannya dan perban putih yang membelit luka di betisnya.
“ Tetap tidak mau bicara, jika kau tak bicara kau akan mati membusuk di penjara.” ancam salah seorang dari mereka yang penuh geram karena pelaku tak mau berkata sepatahpun.
Jack mulai menengadahkan kepalanya menatap mata semua orang yang duduk mengelilinginya dengan penuh kebencian.
“ Baik aku akan bicara, tempat dimana kalian menyergap itulah markas kami.” Jack yang mulai berterus terang menjawab pertanyaan yang diajukan salah seorang penyidik kejahatan.
Jack kemudian digeret paksa masuk ke dalam jeruji besi khusus untuk kejahatan seperti dirinya dan esok adalah hari yang paling mendebarkan dimana ia akan disidang dan mendapatkan balasan setimpal atas segala perbuatan jahat yang selama ini di perbuat, nampaknya hal ini tak membuatnya jera, ia masih terlihat santai menjalani harinya.
Teringat kasus beberapa tahun silam, ketika usia Jack masih menginjak belasan tahun ia juga pernah diringkus dan mendekam di penjara karena kasus pembunuhan atas ayah kandungnya. Ia menggorok dan menusuk korban dengan pisau yang ia curi di salah satu toko peralatan rumah tangga di pasaran hingga ia dijerat kasus berlapis.
Terlihat seorang berjas hitam datang dan mendekati Jack.
" Nak, bicaralah siapa yang menyuruhmu melakukan kejahatan ini?" sidik orang itu pada Jack dari luar jeruji besi.
" Aku takkan bicara padamu dan kau juga pasti sudah tahu jawabannya." jawab Jack dengan nada bengisnya dan menyeringaikan bibirnya menghadap seseorang pria paruh baya itu. Sosok pria itu hanya mengangkat alisnya seakan pikirannya telah tertuju pada salah seorang pria yang mungkin terlibat dalam pembunuhan Ary Jason dan keluarganya.
" Kau adalah Albert Barbara, seorang pemimpin besar dari partai Big Solidarity, benarkan?" tanyanya dengan nada sedikit sadis menatap pria tua yang berdiri menjulang di depannya. " Kau ini berkedudukan tinggi tapi bodoh." tambah Jack dengan nada sedikit menggertak keras.
" Jaga bicaramu! Apa maumu?!" sentak Barbara dengan lantangnya
" Lihatlah, orang di sekitarmu itu, mereka semua bukanlah orang baik. Mereka semua pasti punya rencana busuk yang kapan saja bisa menyingkirkan bahkan melenyapkanmu. Merekalah serigala berbulu domba. Bukalah matamu lebar-lebar dan lihat sekelilingmu itu, Pak tua!"
Barbara hanya mematung menatap ocehan pria muda yang mencoba tuk menceramahinya.
" Kau lihat, apa selamanya bodyguardmu itu akan setia padamu? tidak kan? Peganglah ucapanku hari ini, ketika kau bukan siapa-siapa apa mereka mau mematuhi perintahmu tidak, juga bukan? itulah manusia mereka bertindak semaunya. Ketika kau bukan siapa-siapa kau dianggap sampah tapi ketika kau menjadi orang yang ternama kau akan disanjung-sanjung bahkan dipuja-puja. Aku sudah tak heran dengan sikap para bedebah itu." ucap Jack yang panjang lebar menatap pria tua yang berdiri mematung di hadapannya.
" Mereka hanya haus akan nafsu dan serakah." tambahnya dengan membelakangi Barbara
Barbara masih terdiam tanpa kata. Perkataan yang dilontarkan Jack menancap dalam relung hatinya, ia menjadi semakin was-was apakah Jason mati terbunuh karena ulah sahabatnya sendiri yang ingin merebut tahta dan hartanya? Apakah ini ada hubungannya dengan perpolitikan? Barbara terus memikirkan ucapan anak muda itu.
" Pergilah, aku sedang tak ingin diganggu." usir Jack pada Barbara yang diam mematung tak bergerak sama sekali. Barbara dan tiga Bodyguard nya pergi meninggalkan Jack dalam jeruji besi. Sebuah perkataan sederhana namun bermakna dari Jack mulai terngiang dan tertanam di pikirannya.
Di sebuah ruangan sempit dengan udara yang sedikit lembab lengkap dengan penerangan lampu yang minim, terlihat seseorang berdiri kokoh menjulang di antara beberapa orang yang tengah duduk melingkar.
“ Jack sudah tertangkap.” jelas Bob yakni ketua diantara mereka.
“ Kita semua harus berhati-hati karena pasti polisi akan terus mengintrogasi pemuda malang itu untuk mencari dimana keberadaan kita.” tambahnya dengan mengepalkan tangannya.
“ Lalu, bagaimana keadaan Jack sekarang, bos? Apa dia baik-baik saja?” tanya Antonio dengan sangat lantang memikirkan nasib anak muda yang masih banyak mimpi tuk melangkah lagi ke depan.
“ Aku tidak tahu pasti bagaimana keadaan Jack saat ini, tapi saat kita semua dikejar polisi, polisi berhasil menembaknya dan menyeretnya ke dalam mobil patroli.” jawabnya dengan nada sedikit lesu karena kaki tangannya telah tertangkap oleh pihak yang berwenang.
Seluruh anggota terlihat berdesis menyesal karena tidak meminta Jack untuk segera lari dari markas. Nampaknya mereka tinggal menunggu nasib bahwa polisi akan segera berhasil meringkus gangsternya.
Akankah Jack mengaku dan menunjukan dimana letak markas Gangsternya? Apakah ini akhir dari perjalanan kriminal Bob Markle beserta jongos-jongosnya?Hukuman apa yang akan di terima oleh Jack esok?