
Suasana ruangan kerja Sam kian memanas, Sam mulai terdesak dengan kedatangan dan pertanyaan Stephen beserta kedua penjaga gagahnya yang meminta jawaban atas semua teka-teki yang terendus oleh Stephen Ivander. Wajah Sam mulai memucat dan nampaknya ia juga telah kehabisan akal untuk menjawab semua pertanyaan yang diutarakan oleh Stephen, nampaknya ia akan segera tertangkap basah karena ulah liciknya.
“ Sebenarnya, aku tak ingin melakukan kekerasan padamu, Sam. Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku dengan jelas dan penuh kejujuran. Kau tahukan, jika aku tak menyukai kebohongan dan aku juga benci kepada para pembohong.” ucap Stephen dengan melipat kedua tangan pada dadanya sembari terus menatap Sam yang mulai gugup dan tak bisa berkata dengan jelas lagi. Nampaknya, Stephen terus mendesak Sam untuk angkat bicara mengenai foto yang ia dapat.
Sam mulai menelan ludahnya. Haruskah ia berkata jujur atau berbohong menutupi semua kesalahannya, dalam hatinya juga tahu bahwa sebaik apapun kebohongan ia tutupi maka suatu saat akan ketahuan juga, layaknya bangkai seekor tikus walaupun disembunyikan dengan cara apapun tetapi tetap baunya akan tercium juga. Sam masih terus berpikir bagaimana caranya ia mengelabui sosok mata-mata handal yang kini duduk menatap sadis ke arahnya, amat mustahil jika ia membongkar semua kejahatan yang Mayora lakukan terhadap partainya, jika ia mengatakan semuanya dengan jelas maka secara tak sengaja ia juga akan ikut terseret dalam kasus yang dilakukan oleh Mayora dan karirnya sebagai seorang ahli hukum akan tamat.
“ Aku masih menunggu jawabanmu, Sam. Kau tak perlu berpikir terlalu lama, kau hanya perlu menjawabnya. Apa itu sulit bagimu?” tambah Stephen dengan menggerakkan kakinya yang nampaknya ia mulai habis kesabarannya menunggu Sam bicara.
Sam mulai menghela napasnya dan sesekali tangannya juga turut mengusap keringat yang jatuh ke pelipisnya.
“ Baiklah, jika kau tak mau menjawabnya, aku tak masalah. Akan kupastikan karirmu akan hancur karena ketidakjujuranmu itu, Sam. Amat disayangkan seorang ahli hukum yang ternama, kini berdusta dalam pekerjaannya.” ucap Stephen yang nampaknya mulai geram dengan tingkah Sam yang mengabaikan semua ucapannya, ia lebih memilih diam tanpa sepatah kata yang terucap.
“ Kau benar-benar pria yang munafik. Penampilanmu, sikapmu tak mencerminkan pekerjaanmu.” sindir keras Stephen pada Sam yang masih terus diam mematung. Stephen mulai berdiri dari kursinya dan bergegas merapikan setelan jas hitamnya sebelum ia pergi meninggalkan Sam yang diam mematung tanpa sepatah kata yang terucap.
“ Tunggu, Stephen! Aku akan jelaskan semuanya padamu.” ujar Sam yang mulai memberanikan diri mengeluarkan sepatah kata yang telah lama ditunggu-tunggu oleh Stephen. Stephen mulai menyeringai puas mendengar ucapan Sam yang mulai angkat bicara dan menjelaskan semuanya.
Nampaknya, gertakan sosok detektif ini mampu membuat Sam angkat bicara dan ketakutan, Stephen dengan sigap kembali pada posisi semula dan duduk di kursi yang tersedia di ruang kerja Sam.
“ Aku akan ceritakan maksud foto yang kau ambil ini, Steve.” ucapnya yang sesekali menelan ludahnya dan menarik napasnya dalam-dalam.
Stephen mulai menyeringaikan bibirnya membalas ucapan Sam yang nampaknya sedikit ragu untuk mengungkap semua rahasia yang ada. Stephen mulai mengeluarkan sebuah foto pertama yang Ketika Sam bertemu dengan Mayora dan diikuti dengan foto yang kedua ketika mereka bertukar sebuah koper hitam antar satu sama lain di gedung negara di lantai dua.
“ Aku mengakui semuanya bahwa semua tuduhanmu atas diriku itu benar, jika aku bekerja sama dengan Mayora. Ia memintaku untuk mempromosikan dan membuat James Sher menang dalam pemilihan umum ini, tak luput ia juga membayarku dengan satu koper uang beserta perhiasan dan koper itulah bayaranku, aku bertukar sebuah koper kosong dengan koper yang berisi uang komisiku di gedung itu dimana kau mengambil foto ini, inilah bayaranku ketika aku berhasil menjalankan misi hitam bersamanya.” jelas Sam dengan menundukan kepalanya memandang dua buah foto yang kini tergeletak dihadapannya.
“ Lalu, apa yang ia minta darimu? Apa ia meminta untuk dilindungi hukum?” sidik Stephen dengan lebih jelasnya sembari ia menekan sebuah alat perekam untuk merekam semua bukti yang diungkapkan Sam.
“ Tidak, ia hanya memintaku untuk…” jawabnya yang tiba-tiba saja tersengal dan kini kepala Sam semakin tenggelam dalam malu.
“ Untuk? Untuk apa, maksudmu?!” bentak Stephen yang terus menggali informasi dari sosok pengacara yang kini tertunduk malu seakan ia tengah menyadari semua kesalahannya karena menerima pekerjaan dari salah seorang ketua partai yang serakah.
“ Untuk menyuap semua warga agar memilih James Sher. Aku menjalankan sebuah kampanye hitam yang dilarang oleh hukum.” jawabnya yang kini dipenuhi rasa bersalah.
Stephen mulai mengusap wajahnya dengan gelisah sembari sayup-sayup terdengar, ia mengucap “Astaga.” Sebagai bentuk responnya terhadap semua pengakuan yang diucapkan oleh Sam.
“ Sungguh, aku sangat malu dan takut untuk mengungkap ini semua.”
“ Aku merasa sesuatu hal aneh yang Mayora sembunyikan, kurasa Mayoralah dalang dibalik kasus pembunuhan yang terjadi di keluarga Pak Ary Jason.”
Ucapan Sam kali ini membuat Stephen terbelalak kaget, ia tak menyangka bahwa Sam akan membongkar semuanya.
“ Ini dugaanku saja, karena sebelumnya aku pernah melihat ia berbicara dengan seorang pria berbadan besar dengan tato yang hampir memenuhi lengan dan tubuhnya, pria itu mengenakan jaket kulit hitam dan memiliki tampang yang mengerikan, meraka bertemu di sebuah kedai kopi yang berada di jalan Luciana nomor 12 sekitar jam 12 siang. Aku memergokinya, ketika aku menganteri untuk membeli kopi namun secara tiba-tiba seorang pelayan dan manajer kedai itu mengusir semua pengunjung yang datang dan berkata bahwa kedai kopinya telah disewa untuk acara penting, setelah itu aku tak tahu apa yang mereka lakukan disana. Kurasa sosok pria itu adalah ajudan kematian yang dikirim oleh Mayora untuk menghabisi nyawa keluarga Jason.” jelas Sam pada Stephen yang tengah menyanggah dagunya dengan mimik wajah yang sangat meyakinkan ia mencoba untuk mengutarakan.
Stephen mulai mengangkat alisnya seakan ia mulai paham dengan semua ucapan yang diungkapkan oleh Sam, kini ia mendapatkan sebuah bukti baru untuk mengejar pelaku sebenarnya. Nampaknya, ia harus segera ke kedai kopi itu untuk mengusut tuntas kasus ini dan meminta penjelasan sang manajer tentang penyewaan kedainya itu.
“ Kapan kau memergoki Mayora bersama sosok pria itu?” tanya Stephen yang mulai menyidik penuh rasa penasaran dengan sosok yang pria yang diceritakan oleh Sam di kedai kafe itu.
“ Kurang lebih tiga bulan yang lalu sebelum berita kematian keluarga Jason itu tersebar.” kira Sam yang mencoba mengingat kembali kapan ia memergoki Mayora bersama dengan sosok pria berbadan besar nan kekar itu.
“ Baiklah, akan kucoba untuk mengusut tuntas kasus ini. Terima kasih karena kau mau bekerja sama denganku. Pengakuanmu itu sangat membantuku dalam penyelidikan kasus misteri ini, Sam dan petunjukmu sangat membantuku.” tutur Stephen yang mulai berdiri dan mengulurkan tangannya tuk berjabat tangan kepada Sam, sebuah jabatan tangan yang diberikan dianggap sebagai sebuah penghargaan karena Sam mau mengungkapkan semuanya dan mengakui semua kesalahannya.
“ Kuharap kau juga mau mempertanggung jawabkan semua kesalahanmu itu di depan hukum, Sam.” tambah Stephen dengan tersenyum menatap Sam yang kini meraih jabatan tangannya.
Sam mulai tersenyum lebar seakan ia merasa lega telah mengungkapkan semuanya pada sosok mata-mata handal seperti Stephen Ivander ini, kini hatinya sudah tak sesak lagi, ia mulai sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Dalam hati Sam mulai terpikirkan sebuah rencana untuk mengembalikan semua uang yang diberikan Mayora padanya, ia juga sudah berjanji dalam hatinya untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahannya yang menjadi babu untuk menjalankan misi hitam yang terlarang. Ia sadar bahwa kerja samanya bersama Mayora memiliki dampak negatif yang sangat besar baik bagi dirinya ataupun rakyat kecil.
Tersangka pertama telah mengakui semua kesalahannya dan akan mempertanggung jawabkannya di depan hukum yang berlaku, mendengar kisah Sam membuat hati Stephen semakin yakin bahwa dalang dibalik peristiwa berdarah ini adalah Mayora Bradle dan sosok pria yang ditemuinya itu adalah bos dari Jack O’Hammels yang meminta Jack O’Hammels mengeksekusi Jason dan keluarganya.
Sebuah mobil mulai melaju dengan cepat spidometer hampir menunjuk angka 100 km/jam. Stephen bergegas pergi menuju kedai kopi yang dimaksudkan oleh Sam, kedai itu berada di Jalan Luciana nomor 12, perjalanan menuju kedai kopi itu memakan waktu kurang lebih 15 menit. Semoga saja kedai itu tidak tutup karena hari ini adalah hari besar dalam pemilihan umum, beberapa toko dan restoran juga mulai tutup karena acara besar ini.
“ Aku harus bertemu dengan pemilik kedai kopi itu, aku takkan melepaskanmu Mayora, karena aku yakin bahwa kaulah pelaku dari semua kejanggalan yang terjadi.” gumam Stephen dalam hati sembari terus menginjak gas mobilnya.
" Mayora, apa benar kaulah dalang dibalik semua ini?" gumamnya lagi sembari menggigit bibirnya.