The Black Missions

The Black Missions
Eps. 12 Pertemuan Berbahaya



Hari ini adalah hari yang cerah, matahari bersinar dengan indah terlihat banyak orang yang berlalu lalang dan tak jarang ada yang hanya sekedar berjalan santai menikmati pemandangan alam.


Pagi ini, terlihat antrian nasabah bank yang semakin memanjang memenuhi sebuah ruangan kecil di bank besar milik negara yang terletak di pusat kota daerah kota New York.


Bukan hanya ramai dengan nasabah bank yang ingin menarik ataupun menabung uang namun dengan menaruh rasa curiga terlihat sekomplot pria bertopeng turun dari mobil Jeep mewahnya dengan mengenakan pakaian yang serba hitam mereka mulai meneror dan memasuki sebuah bank negara tanpa izin yang jelas.


" Angkat tangan kalian semua dan serahkan semua uang dan benda berharga milik kalian jika tidak nyawa kalianlah yang akan jadi taruhannya." bentak salah seorang dari komplotan preman itu yang membuat suasana bank yang tadinya hening dan tenang kini berubah menjadi histeris dan kepanikan, semua orang terlihat semakin histeris memandang sosok pria hitam ini membawa dan menodongkan sebuah pistol hitam yang kini berada di genggamannya.


Sontak hal ini membuat semua pengunjung dan pegawai bank mengangkat tangannya dan bertiarap mengikuti semua ucapan para komplotan yang tak jelas asal-usulnya.


Terlihat seorang satpam dengan badan yang lumayan besar nan kekar datang menghampiri mereka dan meminta komplotan itu untuk pergi sebelum polisi datang kemari.


" Kau berani mengancam kami?" duga salah seorang perampok yang kali ini tak segan-segan meluncurkan peluru pada seorang satpam bank yang tengah bertugas di sana. Ia menembak dengan terpaksa sosok penjaga bank yang mencoba tuk menghalangi misinya. Tak boleh ada yang menghalangi dan tak boleh ada yang menolak perintah mereka,itulah semboyan dan prinsip hidup mereka.


Sang satpam itupun jatuh tersungkur dengan darah segar yang terus mengalir menembus seragam kerjanya. Hal ini membuat beberapa orang semakin menggelinjang ketakutan, mereka tak berani lagi tuk melawan dan mereka menyerahkan apapun yang komplotan misterius itu minta.


" Serahkan semua uang atau kau akan bernasib sama seperti orang yang sok pahlawan ini." ancamnya dengan menodongkan sebuah pistol dan mulai menarik pelatuk pistol itu hingga mengenai sebuah vas bunga hingga hancur berantakan, suara pistol inilah yang membuat semua orang dalam bank teriak semakin histeris.


" B..Baik, pak." ucap salah satu pegawainya yang gugup ketakutan dengan memberikan sekantung uang pada sosok perampok jalanan yang menodong bengis tanpa ampun.


Tiba-tiba terdengar suara sirine berbunyi nyaring di telinga, aparat kepolisian telah datang. Para komplotan itu mulai panik dan pergi berhamburan keluar melarikan diri dengan menaiki mobil Jeep miliknya. Namun, salah satu diantara mereka tertinggal dan tak ada pilihan lain selain ia harus berlari menjauhi kota. Cara inilah yang akan membuatnya lolos dari kejaran para aparat keamanan hanya saja ia harus siap jika sewaktu-waktu ia tak kuat berlari dan polisi itu berhasil meringkusnya.


Seorang perampok yang tertinggal kawannya itu mulai berlari dengan hati yang gelisah, jantungnya mulai berdegup kencang mendengar teriakan para aparat kepolisian untuk berhenti dan diam di tempat dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menjauhi sekelompok polisi dan satpam yang sedari tadi turut mengejarnya.


" Akankah aku selamat dari mereka?" gumam rampok itu dalam hati sembari terus berlari membawa sekantung uang yang baru saja ia ambil paksa dari bank negara.


" Berhenti kau atau kau ku tembak!” teriak beberapa orang polisi dengan menyodorkan pistolnya dan mengarahkan kepada seseorang yang mengenakan topeng bak seorang ninja yang kini tengah terengah-engah berlari kencang sekuat tenaga dengan membawa sekantung uang hasil rampokan bank yang baru saja ia lakukan.


 


“ Doorr!! Doorrr!!” peluru pistol terpaksa kembali dilepaskan untuk kesekian kalinya untuk membuat perampok kelas kakap itu berhenti dan gentar, namun ternyata dugaan mereka salah, hal ini malah membuat sosok rampok ini merasa senang bukan main, karena bisa berkejar-kejaran bersama pihak kepolisian. Kapan lagi jika tidak sekarang.


 


Beberapa peluru telah dilesatkan dan ajaibnya perampok itu masih bisa berlari dengan cepat secepat macan yang mengejar mangsanya, ia sangat handal dalam bidang menghindari dan menghalau peluru yang ditembakan.


Benar-benar gesit penjahat ini.


Sungguh ini bagaikan sebuah adegan seru dalam pengejaran seorang buronan dengan setting adegan yang luar biasa serunya sama seperti di film action yang ada di Hollywood.


 


Perampok hitam itu mulai berlari sekuat tenaga dan memilih tutup telinga akan semua ucapan para polisi yang kini tengah mengejarnya tepat di belakang, sembari ia membawa lari hasil rampokkannya, rampok ini masih terus gigih pendiriannya dan dengan semangat yang tiada tanding untuk lolos dari kejaran massa. Namun, nampaknya tembok besar kini menjadi sebuah penghalang yang menghalangi jalan pelariannya, sepertinya ini adalah akhir dari nasib rampok merampok dari seorang rampok ternama di penjuru kota New York.


 


Sang perampok mulai panik dan kalang kabut sesekali ia juga menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari jalan keluar agar bisa terbebas dari kejaran para satuan keamanan itu. Ia tak mungkin kembali bisa tertangkap dan habis terlumat. Amat konyol jika ia benar-benar berhasil di bekuk dan dibawa ke kantor kepolisian.


 


Tiba-tiba seorang lelaki datang dari sela-sela tembok dan menarik pergelangan tangannya dengan sangat keras, dengan sikap yang sigap telapak tangan laki-laki itu juga ikut mendekap erat tubuhnya dan menutup mulut perampok bank itu rapat-rapat. Perampok itu hanya berdengung meminta sosok pria yang tak di kenal ini untuk melepaskan tangannya yang membekap mulutnya hingga membuatnya tak mampu lagi tuk bernapas lega karena terhalang dengan tangan besar dan kasarnya.


 


“ Sstt! Diamlah!” desis pria muda itu yang meminta si penjahat bertopeng untuk tetap tenang agar terhindar dari kejaran polisi.


" Kau diam atau polisi akan segera meringkusmu." bisik pria itu tepat di gendang telinga perampok hitam dengan memberikan dua opsi dalam pilihan. Ingin tetap bebas atau ingin menjadi tahanan.


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang mulai mendekati tempat persembunyian mereka. Suara ini menunjukkan bahwa bukan hanya ada satu atau dua orang saja yang datang, kemungkinan besar ada tiga sampai tujuh orang yang ikut mengejarnya.


“ Cari dia sampai dapat. Jangan sampai ia lolos. Selidiki semua ruang yang mungkin menjadi tempat persembunyiannya.” perintah tegas seorang pemimpin kepolisian kepada anak buahnya.


" Baik, pak!" jawab mereka dengan serentak yang penuh kompak dan disiplin tugas.


" Amat tidak mungkin jika rampok itu berhasil lari dari kepungan tembok besar yang menjulang tinggi seperti ini." gumam seorang komandan pada anak buahnya sembari menaruh kedua tangannya di pinggangnya.


Seluruh armada kepolisian terus menyidik dan mencari jejak sosok ninja perampok itu dengan teliti, mereka mencari kesana kemari , memeriksa sana dan sini tetapi tetap saja rampok itu belum juga di temui keberadaannya. Nampaknya, kali ini mereka benar-benar kehilangan jejak dari sosok rampok misterius kelas kakap ini.


Sosok komplotan perampok inilah yang membuat resah hati para warga selama empat bulan belakangan ini, mereka tidak tenang karena mereka takut menjadi korban keganasan para perampok yang tak berhati nurani itu.


Di sisi lain, di sela-sela tembok terlihat seorang pria menutup rapat mulut perampok itu.


“ Maaf, pak. Kali ini kita kehilangan jejaknya lagi, pak. Rampok ini bukan sembarang rampok pak. Dia sangat cepat.” gumam salah satu petugas dengan napas yang sedikit terengah-engah letih mencari kesana kemari keberadaan sosok perampok bank yang menjadi incaran para petugas selama empat bulanan ini.


“ Sial! Ia berhasil lolos.” Kutuk seorang polisi dengan menghentak-hentakkan kakinya sebagai alat pelampiasan kekesalannya.


Sekawanan polisi itu pergi dan kembali masuk ke dalam mobil patrolinya.


Mereka berpatroli mencari sosok perampok yang handal dan licin selicin belut yang hilang entah kemana.


 


Pria yang pembekap mulut rampok itu mulai melepaskan tangannya dari mulutnya. Nampaknya, situasi sudah aman dan ini waktunya untuk berlari menjauh dari pantauan pihak kepolisian. Dengan rasa marah dan kesal yang menggebu-gebu, perampok itu mulai menendang perut dan memukul keras wajah sosok laki-laki yang tadi sempat menolongnya dari kejaran sekelompok polisi bersenjata itu.


 


Ia menganggap bahwa perilaku pria ini tidak sopan dan membuatnya terkejut yang bisa saja sewaktu-waktu dapat menyebabkan serangan jantung.


“ Hei, Kau orang yang tidak tahu malu.” teriak lantang laki-laki itu dengan menyodorkan sebuah pisau yang terselip di sakunya dan berjalan menghampiri sosok penjahat bertopeng yang kini tengah berjalan mundur yang berusaha menjauh dari cengkraman dan todongan pisau sang pria itu.


 


Pria itu semakin mendekat dan menyentuhkan pisaunya pada perut sosok perampok bank seakan-akan pisaunya telah siap sedia untuk merobek dan mengeluarkan seluruh isi perut sosok orang yang tak tahu berterima kasih seperti dirinya dan lengan kekar pria itu kini dengan kuat menahan leher sosok rampok bertopeng itu agar tidak lari dan melakukan perlawanan.


 


Sang perampok akhirnya mulai memberontak keras terhadap perilaku nekat yang dilakukan sosok pria yang baru saja ia pukul.


" Jangan kau bersikap macam-macam padaku atau pisau ini akan merobek seluruh isi perutmu." ancam pria itu dengan membelalakkan kedua bola matanya pada sosok orang bertopeng yang baru saja merampok sebuah bank negara.


“ Siapa kau sebenarnya!” bentak pria itu dengan mata yang terbelalak emosi menatap sosok bertopeng. Ia tak bisa menduganya, karena belum pernah ada orang yang berani menendang dan memukul wajahnya hingga memar membiru seperti ini.


Rampok hitam itu mulai diam mematung dengan napas yang agak tersengal karena cekikan pria berbaju biru tua dengan bertulisan tahanan di balik punggungnya.


 


Pria itu mulai mendekatkan mata pisau tajamnya ke arah perut sosok perampok bertopeng dan terlihat mata dari balik topeng mulai terbelalak kaget memandang lelaki yang berdiri kokoh dengan niat yang keji itu, kini perutnya mulai merasakan ada sesuatu lancip yang ingin menembus paksa perutnya. Ia mulai menegakkan tubuhnya sebagai pertahanan terakhir agar pisau itu tak menancap menyusuri seluruh isi perutnya dan merusak usus di dalamnya.


 


“ Aku takkan gegabah membunuhmu, aku ingin melihat rupamu sebelum aku benar-benar membunuhmu!” ujar pria itu dengan menarik paksa topeng hitam yang menyamarkan sosok wajahnya dari seorang perampok yang baru saja di tolongnya.


“ Kau?!” gumam pria itu dengan nada terkejut sembari ia mulai menarik jauh pisau yang sedari tadi ingin bergegas merobek perut sosok perampok itu. Kini pisaunya terjatuh di atas tanah.


“ K..kau seorang wanita?” Pria itu mulai mundur satu langkah menatap seorang gadis yang berada di balik topeng perampokan bank negara. Menurutnya, pantangan besar jika harus menyakiti wanita tanpa sebab yang jelas, hampir saja ia melenyapkan satu nyawa wanita yang cantik seperti gadis kini tengah berdiri kokoh memandangnya.


“ Iya, aku wanita. Apa yang akan kau lakukan jika aku ini adalah seorang wanita?” tegasnya dengan menarik paksa topeng yang ada di genggaman pria yang hampir saja membunuhnya dengan sebilah pisau kecil yang ia bawa pada saku celananya.


“ Jadi, selama ini perampok picik itu adalah seorang wanita? Dan itu kau!” Pria itu masih menghela napasnya sebab tak percaya dengan semua kejadian ini, yang ada dipikirannya bahwa sosok perampok handal kelas kakap yang licin bak seekor belut itu adalah seorang laki-laki yang perkasa dengan tubuh yang sangat kuat dan kekar serta memiliki daya tahan tubuh yang kuat bahkan lebih kuat darinya, namun bayangannya salah, perampok ajaib itu adalah seorang gadis cantik berambut pirang dengan mata biru yang sebiru samudera hindia.


“ Jika tak ada hal penting yang ingin dibicarakan lagi, biarkan aku pergi!” bentak tegas sosok gadis itu dengan menatap pria dengan pipi lebam bekas hantaman tangannya dan kini dengan segala tekad ia berusaha melangkahkan kakinya menjauh dari pria yang nyaris merenggut nyawanya dari dunia ini.


“ Tunggu, nona.” ucap pria itu dengan nada yang sopan dan lemah lembut terhadap wanita, suara serak basah pria itu mampu memberhentikan langkah kakinya.


“ Namaku Jack, Jack O’Hammels dan siapa namamu?" ujar pria itu dengan nada ramah sembari meringis menatap punggung wanita yang hendak pergi menjauh darinya.


“ Jennings Brouch, panggil saja aku Jane.” jawabnya dengan tetap berjalan lurus tanpa menoleh ke arah dimana sosok pria yang bernama Jack itu berdiri.


Jack hanya tersenyum malu menatap punggung wanita bermata biru itu.


Gadis itu mulai berlari dengan cepat meninggalkan sosok pria yang baru saja ia temui dan ia bernama Jack O'Hammels, si pembunuh bayaran yang baru saja lari dari penjara.


 


Gadis berambut pirang yang ditemui Jack hari itu bernama Jennings Brouch atau orang lain menyebutnya Jane. Dia adalah seorang perampok wanita kelas kakap yang sangat cerdik dan handal dalam menjalankan segala aksinya sebagai seorang perampok.


 


Sekawanan polisi di buat kewalahan ketika mengejarnya, sepertinya sudah ada darah preman yang tertanam kokoh di dalam DNA dan jiwa gadis cantik seperti Jane ini.


Siapakah sosok gadis cantik jelita yang bernama Jennings Brouch sebenarnya? Mengapa ia disebut sebagai wanita paling bahaya di dunia?