
Di Jalan Luciana nomor 12, terlihat sebuah mobil hitam pekat mulai berhenti dan keluarlah sosok pria dengan gagah diiringi dua orang penjaga dengan senapan di belakangnya. Pria itu mulai memasuki sebuah kedai kopi yang lumayan populer di sana, terlihat semua pengunjung mulai panik melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba.
“ Bisakah aku bertemu dengan pemilik kafe ini?” tanya pria itu dengan gagah berani yang sontak membuat pelayan itu terperangah dan segera memanggil sosok pemilik kedai kopi yang dikenal ramai oleh pengunjung.
Beberapa pengunjung mulai ketakutan dan memilih untuk tetap diam di tempat beberapa diantaranya memilih untuk pergi melarikan diri. Terlihat seorang pria paruh baya dengan mengenakan kemeja putih dan berdasi mulai keluar dari sebuah ruangan kecil yang ada di sebelah pintu pelayan.
“ Apa ada yang bisa saya bantu, pak? ” sapa ramah sang pemilik kedai kafe itu sembari menyunggingkan sebuah senyum pada bibirnya, walaupun ia ketakutan tetapi ia mencoba untuk tetap tenang, mata sang pemilik masih terus terbelalak kaget melihat dua orang penjaga dengan senapan panjangnya yang berjaga kokoh dibelakang sosok pria muda yang kini berdiri gagah di depannya.
“ Jangan takut, pak. Saya Stephen Ivander, saya berasal dari Instansi pemerintahan, saya takkan berbuat jahat pada bapak ataupun kedai kopi bapak.” jawab pria itu yang bernama Stephen sembari ia menyodorkan sebuah tanda pengenal yang menandakan bahwa ia merupakan salah satu anggota dari Intansi keamanan negara yang diturunkan langsung untuk menyelesaikan kasus tak terpecahkan dari kematian Jason yang tak wajar menurut para ahli yang menilainya.
“ Baiklah, silahkan duduk, pak.” Pria itu mulai mempersilahkan ketiga orang itu duduk ke tempat yang telah tersediakan. Seorang pramusaji juga turut melayani mereka dengan baik atas komando sang pemilik kedai kopi itu.
Stephen mulai menyunggingkan senyum tulusnya dan meminta kedua ajudannya untuk menurunkan senjatanya agar tak membuat sosok pria hampir tua yang kini duduk dihadapannya tak lagi ketakutan dengan momok senjata yang ia todongkan.
“ Apakah bapak tahu tentang berita kematian Ary Jason dan keluarganya?” ucap Stephen yang mulai membuka topik pembicaraan dan mencoba untuk mencairkan suasana yang sedari tadi hening dan menegang.
“ Ya, saya tahu dan saya sangat terpukul mendengar berita itu, dia pria yang baik tapi seseorang malah menghabisinya tanpa ampun, aku tak mengerti mengapa mereka tega melakukan hal bejat seperti ini terhadap pria baik seperti mendiang.” jawab pria itu dengan menundukkan kepalanya seakan ia juga merasakan betapa pedihnya peristiwa yang dialami oleh Ary Jason beserta keluarganya. Mereka dibantai tanpa ampun padahal mereka tak memiliki seorang musuhpun di dunia ini.
Stephen mulai tersenyum tipis mendengar ucapan pria itu yang nampaknya mulai merasakan kehilangan yang mendalam pada sosok mendiang Ary Jason. Ary Jason dikenal baik dimata masyarakat, dialah pejabat paling baik dalam sejarah perjalanan politik, mengabdikan sepenuh raganya untuk mendengar keluh kesah rakyat kecil.
“ Kedatangan kami kesini untuk menyidik kasus kematian beliau, menurut berita yang saya dengar bahwa ada seseorang yang merencanakan misi hitam ini di kedai ini dan apakah pernah kedai kopi ini disewa untuk kepentingan pribadi, pak?” sidik jelas Stephen kepada sosok pria yang kini duduk tercengang di hadapannya.
Terlihat pria itu mulai gelisah dan raut wajahnya berubah menjadi muram ketika Stephen melontarkan sebuah pertanyaan yang menyinggung soal penyewaan kafenya. Tangannya mulai gemetar, sosok pemilik kedai ini ketakutan jika ia terseret dalam kasus berat seperti ini.
“ Bapak tak perlu takut, kami takkan menyeret bapak dalam kasus ini tapi dengan catatan bapak mau bekerja sama dengan kami untuk mengusut tuntas kasus kematian mendiang, jika bapak mau bekerja sama maka kami tak segan-segan akan melindungi bapak beserta keluarga dari semua bentuk kejahatan yang mungkin saja akan mengintai selama kasus penyidikan ini dimulai, karena beberapa orang mengira bahwa tuan Jason meninggal karena kasus politik yang menjeratnya.” jelas Stephen pada pria yang kini tengah terbujur kaku karena gemetar dahsyat.
Terlihat pria itu mulai mengangguk dan menarik napas dalamnya, seakan ia sependapat dengan ucapan sosok detektif negara yang kini berjanji padanya akan melindunginya dan keluarganya dari segala bentuk kejahatan yang mengintainya selama penyidikan berlangsung, namun dengan catatan jika ia mau bekerja sama menuntaskan kasus misteri kematian sang pria baik, Jason.
“ Bagaimana? Apa bapak ingin bekerja sama dengan kami?” tawar Stephen dengan menyeruput secangkir kopi hitam yang terhidang di hadapannya.
“ Beberapa bulan lalu, ada seorang pria dewasa dengan rambut yang hampir memutih yang menyewa kedai kami dengan seorang pria preman dengan badan yang cukup besar. Mereka memaksa untuk menutup kedai ini selama mereka berdiskusi suatu hal yang penting dan ia juga membayar sewa kedai ini dengan bayaran yang sangat mahal.” jelas pemilik kedai sekaligus manajer coffee shop itu dengan sangat jelas dan rinci.
Stephen mulai mengangguk dan merogoh saku jasnya mengambil sebuah foto yang terselipkan di sana. Batinnya mulai bergumam semoga orang yang dimaksudkan adalah orang yang ada di dalam foto ini.
“ Apa pria tua yang kau maksudkan itu adalah dia?” tanya Stephen dengan menyodorkan sebuah foto kepada sang pemilik kedai yang berterus terang mengenai sosok ini. Terlihat ia mulai mengangguk mengiyakan.
“ Iya benar, pria inilah yang menyewa kedaiku beberapa bulan yang lalu dan ia juga yang membayar semuanya hari itu, padahal mereka hanya datang berempat dan meminum kopi saja.” jelas sang pemilik kedai dengan sangat yakin menatap foto yang ditunjukan Stephen padanya.
“ Sudah kuduga.” desisnya dengan suara yang lirih dan menyeringai sinis menatap foto yang tergelatak di hadapannya.
“ Sepertinya aku masih memiliki bukti dokumentasi hasil rekaman CCTV yang ada, jika kau berkenan kita bisa melihatnya. Aku takut jika aku salah mengira bahwa pria inilah yang menyewa kedaiku kala itu bersama sosok pria bertato dan berbadan besar itu. Supaya lebih jelas jika kau yang melihatnya sendiri dalam rekaman itu.” ujar pria itu dengan nada yang ramah yang mulai mengizinkan Stephen beserta ajudannya untuk melihat rekaman CCTV yang ia simpan dalam ruangan pemantauannya.
“ Benarkah? Kau masih memiliki bukti rekaman itu?” Stephen yang mulai tak percaya bahwa semudah ini mencari barang bukti yang kuat, sepertinya Tuhan memudahkan segala urusannya untuk menyelesaikan kasus kematian sang menteri terbaik sepanjang masa, Ary Jason.
“ Ya, ikutlah ke ruanganku.” ajak sang pemilik kedai yang mulai berdiri dari kursinya dan membawa mereka menuju ruangan pribadinya.
Mulai ada titik terang dalam kasus ini, sedikit lagi pelangi akan segera muncul dan pelakunya akan segera ditemukan, beruntungnya sang pemilik coffee shop itu masih memiliki hasil rekaman CCTV yang terpasang di kedainya. Ini bisa menjadi tambahan barang bukti untuk menyeret pelakunya dengan kuat. Pelakunya takkan bisa mengelak lagi.
Pemilik kedai kopi itu mulai menunjukan sebuah rekaman CCTVnya dan benar saja disana terlihat dua orang pria dewasa tengah bercengkrama dengan serius, satu diantaranya berbadan besar nan kekar dengan tato yang hampir menghiasi di lengannya, dan terlihat satu orang lagi dengan membawa dua orang pengawal berpakaian hitam juga hadir di sana, dan ternyata dugaan Stephen selama ini benar, pria itu adalah Mayora Bradle, ciri\-ciri fisiknya menunjukan dialah orangnya. Dengan sigap, Stephen mulai merekam aksi ini sebagai barang bukti selanjutnya. Bukti semakin menguat dan tersangka sedikit lagi terlihat.
“ Kali ini, aku takkan melepaskanmu, Mayora. Sudah cukup banyak kelicikanmu selama ini, aku akan menghentikanmu sekarang juga.” gumam Stephen dalam hati sembari menyimpan rekaman itu pada ponsel genggamnya.
Hal ini kembali membuatnya teringat dengan kasus yang menyeret Jade Jillary. Kasus ini adalah kasus paling berbahaya yang pernah ada yakni misi penyanderaan wakil presiden di beberapa tahun silam yang sempat menggegerkan seluruh masyarakat Amerika dan dunia. Dalam misi hitam penyanderaan wakil presiden inilah yang membuat beberapa orang mulai mencurigai dan menduga-duga sosok dalang di balik kasus misteri ini, beberapa saksi mengatakan bahwa dalangnya adalah Mayora Bradle. Namun, dalam penyidikan Mayora berhasil cuci tangan dan melimpahkan semua kesalahannya pada sosok ajudannya dan Jade Jillary atau Jay yang kini telah mati karena eksekusi hukuman matinya.
Sebelum Jay diseret dalam kasus berat ini, ia juga pernah mengakui bahwa ia disuruh oleh seorang pria dengan jabatan tinggi yang berinisial MB, inisial inilah yang membuat beberapa pakar dan penyidik kasus mulai mencurigai Mayora Bradle-lah sang pelaku sebenarnya. Namun, dengan segala kelicikannya Mayora berhasil lolos dari penyidikan dan dinyatakan tidak bersalah. Hal ini yang terus menjadi momok curiga yang terus Stephen pendam, seakan ia belum puas dengan semua keputusan hakim beberapa tahun silam mengenai kasus penyanderaan wakil presiden itu, kini ia harus membuktikan bahwa kali ini dugaannya tidak meleset dan benar adanya.
“ Tunggu saja, aku akan segera membekukmu, Mayora. Kau tidak mungkin bisa lolos dari kejaranku. Aku yakin kaulah pelaku dibalik misi hitam ini.” batin Stephen yang terus menarik kesimpulan tentang Mayora Bradle.