
Kehilangan adalah suatu hal yang tak ingin kurasakan.
Pernahkah kau merasakan kehilangan seseorang yang kau cinta? Rasanya sangat hampa jika tanpanya, bukan?
Berhari-hari telah berlalu, kabar Jack nampaknya sudah tak terdengar lagi di telinga Jane. Jane mulai merasa curiga akan menghilangnya sosok Jack dari kehidupannya, seperti ada sesuatu hal yang aneh yang menimpa Jack saat ini. Mungkinkah ia kembali bersama gangster ganasnya itu? Atau jangan-jangan Jack sudah tertangkap oleh polisi?
“ Jane, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya seorang pria dengan menepuk pundak Jane yang kala itu tengah melamun.
“ Dorm? Tidak aku tak sedang memikirkan apa-apa.” Jane mulai menutupi semua perasaannya.
“ Kau pasti sedang memikirkan Jack si pembunuh itu, kan?” duga Dorm dengan seriusnya, sepertinya akhir-akhir ini pikiran Jane dipenuhi oleh sosok pria bernama Jack itu.
“ Tidak.”
“ Jangan berbohong padaku, aku bisa melihatnya dari sorot matamu. Jane, bisakah kau memandangku sebentar saja, lihatlah aku. Aku selalu ada untukmu.”
“ Dorm, apa maksudmu?” sahut Jane yang mulai kebingungan dengan ucapan dan gelagat Dorm yang penuh tanda tanya.
“ Percayakan cintamu untukku, Jane. Percayalah, cintaku ini lebih tulus daripada si pembunuh bayaran itu. Aku akan selalu bersamamu, aku takkan meninggalkanmu.” ucap Dorm yang mulai menggenggam erat jari jemari Jane yang sontak membuat Jane diam menatap sosok laki-laki yang sudah lama menyimpan rasa padanya.
Jane mulai menarik paksa tangannya dan melepaskan genggaman tangan Dorm.
“ Maafkan aku, Dorm. Pulanglah, aku ingin istirahat.” jawab Jane yang mulai meninggalkan Dorm. Terlihat Dormino hanya menghela napasnya, untuk kesekian kalinya ia ditolak mentah-mentah oleh Jane. Dorm mulai menundukkan kepala dan meninggalkan rumah Jane. Penolakan cinta menjadi momok menyeramkan yang pernah Dorm rasakan bahkan lebih menyeramkan dari kejaran aparat kepolisian.
Dormino atau yang dikenal dengan nama Dorm adalah sosok laki-laki dengan perawakan yang tinggi besar dengan mata yang sipit. Dia adalah teman satu komplotan Jane dalam misi perampokannya, posisinya dalam genk rampoknya adalah sebagai pengatur strategi, Dorm memiliki segala tak-tik dalam pencuriannya dan dari segala rencana yang dibuat oleh Dorm semuanya berhasil dan tak ada yang meleset sedikitpun.
Namun, suatu hari sebuah rasa yang tak biasa mulai menghampiri hati Dorm, dalam pandangan pertamanya, Dorm sudah menyimpan sejuta rasa pada sosok tangguh Jane. Ia sangat tertarik dengan sikap tegas dan berani sosok gadis ini, tak sesekali ia juga sering memandangi Jane dalam diam. Dorm adalah salah satu anak buah kepercayaan dari sang mendiang ayah Jane, Edward Brouch. Di usianya yang belasan tahun ia sudah ikut mengembara kejahatan bersama ayah Jane, tak heran jika karena kesetiaan pada bosnya, dalam usia yang masih belia ini ia diangkat menjadi kaki tangan sekaligus panglima strategi dalam komplotannya.
Setelah kematian sang bos besar, Edward Brouch, Dorm mulai mendedikasikan sepenuh hidupnya untuk menjaga Jane dan tetap bergabung dalam komplotan perampok kelas kakap yang saat ini di pimpin langsung oleh Jenning Brouch yang tak lain dan bukan adalah anak semata wayang dari Edward Brouch. Keahlian merampok Jane lebih hebat daripada ayahnya, kecepatannya dalam berlari dan kecerdikannya dalam melarikan diri membuat beberapa kepolisian kewalahan untuk membekuknya.
“ Suatu saat nanti kau akan menjadi milikku, Jane.” ucap Dorm dengan lirih sembari terus menatap langit biru yang menaunginya. Penolakan kali ini tak ada artinya, ia akan terus berusaha untuk mendapatkan cinta kasih dari sosok idamannya, jenning Brouch.
Terlihat Jane mulai mengintip dari balik tirai jendela rumahnya untuk memeriksa apakah Dormino sudah pergi atau masih di sana. Sebenarnya hatinya juga merasa tidak enak jika ia bersikap tidak sopan pada sosok kawan sejatinya, namun apa boleh buat Dorm selalu memaksakan cintanya.
“ Maafkan aku, Dorm. Aku tak mencintaimu, hatiku hanya milik Jack seorang. Walaupun kutahu, Jack belum tentu memiliki rasa yang sama denganku. Namun, aku yakin suatu saat kau pasti akan mendapatkan sosok yang pantas untukmu.” ujar Jane dari balik pintu rumahnya sembari terus memandangi langit-langit rumah. Kali ini, ia benar-benar memikirkan Jack. Setiap menit bahkan detik yang bergulir hanya ada Jack di dalam otaknya.
Jane mulai duduk sembari memeluk lututnya dengan perasaan gelisah yang menyelimuti relung kalbunya, kali ini ia mulai terpikir untuk mencari sosok Jack. Namun, ia tak tahu harus pergi kemana tuk mencari sosok kekasihnya yang hilang ditelan bumi itu. Rasanya ingin sekali melihat keadaannya walau sekejap saja setelah sekian lama menghilang tanpa secercah kabar.
Di sebuah berita di salah satu stasiun televisi mulai menyiarkan sebuah berita yang menggemparkan seluruh kota tentang kebakaran dan perampokan sadis yang terjadi di sebuah toko perhiasan di pusat kota New York. Kali ini beberapa stasiun televisi juga mulai menyiarkan dan beberapa koran juga mulai menceritakan segala hal yang terjadi dalam insiden mengerikan ini.
“ Perampokan dan pembakaran massal terjadi di sebuah toko perhiasan terjadi di kota New York, diperkirakan jumlah korban yang meninggal akibat insiden ini kurang lebih 28 orang meninggal dunia, 13 orang luka-luka dan 6 orang selamat.” Seorang pembawa berita mulai menyampaikan beritanya di sebuah stasiun televisi sontak membuat seorang pria dengan badan yang gagah yang sedari tadi melamun sendirian kini mulai tercuri perhatiannya dan memandang jelas ke arah televisi itu.
“ Kurasa perampok ini sangat handal, mereka sampai membakar tokonya demi menghilangkan jejak mereka. Sungguh cerdik.” puji salah seorang pria dengan menyeringaikan bibirnya mendengar sebuah berita di televisi
“ Tolong keraskan volumenya.” pinta seorang pria dengan suara serak basahnya yang mulai penasaran dengan sebuah berita yang tersiar dalam televisi.
“ Baiklah, Jack.”
Pria itu ternyata Jack O’Hammels yang mulai tercuri perhatiannya dengan berita yang baru-baru ini hangat diperbincangkan.
“ Sementara, polisi menduga bahwa pelaku yang melakukan perampokan ini yang tak lain dan bukan adalah pelaku yang sama yang melakukan perampokan bank bulan lalu, penyidikan masih terus dilaksanakan, karena beberapa warga sudah mulai resah dengan sejumlah kasus perampokan yang tak kunjung ada titik terang.” Pembawa berita itu masih terus menjelaskan beritanya sembari memperlihatkan video amatir tentang kebakaran yang melahap toko perhiasan terbesar di New York dengan ganasnya.
“ Aku sangat salut dengan perampok ini, mereka menghilangkan jejak dengan mudahnya, kurasa para polisi akan kewalahan mencari pelakunya.”
“ Benar sekali, sungguh licik namun cerdik.” tambah seseorang dengan diiringi gelak tawa yang besar.
“ Jane? Apa kau pelakunya?” gumam Jack dalam hati yang matanya terus memperhatikan video detail setiap menit video yang terjadi.
“ Jack, apa yang kau lakukan? Mengapa kau terlihat gelisah seperti itu?” tanya seorang temannya yang sedari tadi duduk memperhatikan raut wajah Jack yang berubah setelah menyaksikan ber ita di televisi.
“ Tidak, aku tidak apa-apa. Aku harus keluar sebentar.” jawab Jack yang nampaknya sedang terburu-buru.
“ Hei, ada apa, Jack?”
Jack hanya berlari tanpa menggubris pertanyaan temannya yang sepertinya mulai menaruh rasa curiga terhadap gerak-gerik Jack. Perasaan Jack semakin tidak karuan, pikirannya mulai terbayang sosok Jane. Ia harus tahu, apakah Jane beserta komplotannya yang melakukan perampokan dan penjarahan keji ini.
Jack masih terus berlari menyusuri keramaian kota dengan berbekal topi hitam, kumis palsu dan jaket hitam besar yang menyamarkan tubuhnya dari intaian para mata-mata negara yang mencari keberadaannya. Jack mulai bergegas menuju persembunyian Jane yang berada di jalan San Yore, New York. Perasaan cemas, gelisah menghantui jiwanya. Cepat atau lambat ia harus bertemu dengan Jane.
“ Jane, apakah ini semua ulahmu? Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” gumam Jack yang terus bertanya dalam batinnya sembari kakinya terus berjalan cepat bahkan berlari demi sampai ke rumah Jane yang jaraknya sekitar 10 km dari markas rahasia gangsternya.
Di sebuah rumah yang kecil namun mewah dengan cat berwarna putih lengkap dengan tanaman bunga yang menghiasi seluruh halaman rumahnya, kaki Jack mulai terhenti terlihat ia juga mulai mengatur napasnya yang sedari tadi terengah-engah. Ia mulai berjalan mendekati pintu rumah dan mulai mengetuknya dengan pasrah.
“ Sebentar!” teriak seorang wanita dengan suara yang melengking dari dalam rumah. Terdengar sebuah gagang pintu mulai ditarik.
“ Maaf, tuan anda mencari siapa?” tanya sosok wanita dengan pakaian putih dan rambut pirang yang terurai manja kepada sosok pria asing yang nampaknya ia tak mengenalinya. Tanpa basa-basi, sosok pria berkumis ini mulai memeluk Jane dengan erat hingga membuat Jane mendorongnya dengan kuat. Pria ini melakukan hal diluar dugaannya.
“ Anda jangan macam-macam atau saya akan bertindak sesuai kemampuan saya.” tuding Jane pada sosok pria yang agresif itu sembari tangannya meraih sebuah gunting dan mengangkatnya dan mengarahkannya kepada sosok pria yang tiba-tiba saja memeluknya dengan kurang ajar.
Pria itu mulai melepaskan topi dan kumis palsunya sembari mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah.
“ Ini aku Jack.” ucap Jack sembari mengangkat tangannya pada Jane.
“ Jack? Apa itu kau?” ucap Jane yang mulai tak percaya dengan kehadiran sosok Jack dihadapannya dan menjatuhkan guntingnya ke lantai.
“ Iya, ini aku. Aku menyamarkan diriku agar tak dikejar pihak kepolisian.”
Tanpa basa-basi lagi, Jane mulai berlari dan memeluk erat tubuh Jack yang tengah berdiri ketakutan karena ancaman Jane dengan guntingnya.
“ Jack, aku sangat merindukanmu. Kemana saja kau? Aku selalu menantikan kehadiranmu.” ucap Jane yang masih terus memeluk erat tubuh Jack
“ Aku juga merindukanmu, Jane.” jawab Jack yang ikut membalas dekapan Jane terlihat kaki Jane juga mulai terangkat karena Jack mengangkatnya dengan mesra.
“ Mengapa kau meninggalkanku, Jack?” tanya Jane yang mulai melepaskan dekapan eratnya.
“ Maafkan aku, ada urusan mendadak yang mengharuskanku untuk pergi.” jawab Jack sembari tangannya membelai rambut Jane. Jane hanya tersenyum memandang Jack.
Jane mulai mengajak Jack untuk duduk, hatinya kini mulai merasa lega melihat keadaan Jack yang baik-baik saja.
“ Jane, ada yang ingin kubicarakan padamu, bolehkah?” pinta Jack pada Jane yang kala itu tengah duduk di sampingnya.
“ Dengan senang hati, apapun kau boleh tanyakan padaku.”
Jack hanya tersenyum tersipu malu.
“ Apakah perampokan toko perhiasaan itu ulahmu dan komplotanmu, Jane?” sidik Jack pada Jane yang seketika itu juga membuat Jane terdiam membisu.
Jane mulai diam membisu dan memalingkan pandangannya ke arah lain, seakan ia enggan menjawab pertanyaan Jack yang menyinggung soal misinya bersama antek-anteknya.
“ Jane? Jawablah.” panggil Jack yang membangunkan Jane dari lamunannya
“ Iya, itu ulahku dan geng-ku.” jawab Jane yang mulai tertunduk lesu menatap kedua kakinya.
“ Astaga, Jane.”
Terlihat Jack yang mulai menghela napasnya dan mengusap wajahnya dengan tangannya.