The Black Missions

The Black Missions
Eps. 24 Dalang Pembunuhan



Suasana ruangan persidangan kian memanas, saling salah menyalahkan, sudut menyudutkan dan egoisme menjadi pemandangan yang tidak mengenakan, James dan Mayora masih tidak mau jujur satu sama lain.


James menganggap bahwa inilah salah Mayora karena ialah yang merencanakan pembunuhan keluarga Jason dengan menyuruh salah satu eksekutor ternama, sementara Mayora mengatakan bahwa ini adalah rencana James, James-lah yang memintanya untuk membunuh Jason beserta keluarganya. Hakim semakin dibuat bingung dengan runtutan kasus ini.


Sang terdakwa tak mau mengaku dan malah saling melempar kesalahan satu sama lain.


Tiba-tiba hakim mulai mengetuk palunya dengan keras dan meminta seluruh audien yang ada di dalam ruangan untuk diam begitu juga dengan Mayora dan James yang sedari tadi adu mulut melempar kesalahan.


“ Pak hakim, saya keberatan. Ini bukan salah saya, James Sher-lah dalang dibalik peristiwa berdarah ini. Jadi, tolong bebaskan saya.” ucap Mayora sembari mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.


“ Apa yang kau katakan, pak? Bukankah kala itu kau yang memintaku untuk diam dan patuh terhadap semua rencanamu? Tapi, kau malah seperti ini memutar balikan fakta yang ada. Kau bagaikan seekor ular!” jawab James yang mulai menyebut Mayora sebagai ular, ia licin dan licik.


“ Cukup! Aku akan memanggil beberapa saksi untuk menuntaskan semua masalah ini.” Hakim mulai memanggil satu saksi pertama yakni pemilik kedai kopi yang pertama kali didatangi oleh Mayora beserta ajudannya, inilah bukti pertama bahwa Mayora merencanakan pembunuhan ini dengan sangat matang.


Saksi pertama mulai menghadap hakim dan menjelaskan semua runtutan kejadian yang ada, di kala kedai kopinya ramai pengunjung namun saat Mayora tiba ia malah memintanya untuk mengosongi semua isi kedai dan menyewa seluruh isi kedai untuk kepentingan pribadinya bersama sosok pria besar dengan tato yang menghiasi lengannya. Ia juga menjelaskan bahwa Mayora juga memberikan uang sewa yang sangat banyak tak seperti orang biasa sebelumnya.


Terlihat Mayora masih terus mengelak dan masih berusaha untuk lari dalam jerat masalah yang kali ini menjeratnya.


“ Tidak, ini semua bohong, dia pembohong, aku tak pernah datang ke kedai kopinya bahkan aku juga tidak tahu dimana lokasi kedai kopinya. Hei, Pak tua, apa kau memiliki bukti atas semua tuduhanmu itu?” tantang Mayora kepada sosok pemilik kedai dengan suara yang tegas dihiasi senyuman tipis namun sadis.


Pemilik kedai itu hanya diam mematung mendengar bentakan keras dari sosok Mayora yang berada di hadapannya saat ini. Matanya terus mencari sana-sini sosok aparat kepolisian yang dua hari lalu datang menghampiri kedai kopinya karena bukti polisi itulah yang membawanya.


“ Mengapa? Mengapa kau diam? Kau tak memiliki bukti, bukan? Bisa kupastikan, setelah penyelidikan kasus ini selesai, aku akan menyeretmu ke penjara atas pasal pencemaran nama baik.” tegas Mayora dengan menunjuk sosok pria yang kini tengah mematung gelisah di hadapannya.


Terlihat seorang aparat kepolisian mulai mengangkat tangannya dan meminta izin kepada hakim untuk berbicara, hakim ketuapun mulai mengizinkan sosok aparat keamanan ini untuk mengeluarkan hak suaranya.


“ Aku yang akan memberikan bukti ini padamu, Mayora. Aku telah mendapatkan beberapa bukti yang menunjukan bahwa kaulah dalang sesungguhnya.” jawab tegas sosok polisi ini yang mulai berjalan menghampiri hakim dan terlihat senyum sumringah terpancar di wajah seorang pria pemilik kedai kopi itu. Ia melihat sosok polisi yang datang menemuinya disana dan membantunya dalam kesaksian yang ia berikan, pria polisi itu adalah Stephen Ivander.


Sosok pria itu mulai berjalan menghampiri sang hakim sembari menunjukan bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan Mayora bersama ajudannya datang menemui sosok pria berbadan kekar dan bertato di sebuah kedai yang saat itu tengah ramai pengunjung. Hakim mulai mengangguk mengiyakan dan percaya bahwa sosok pria dengan ajudan itu adalah Mayora Bradle.


“ Tidak, semua ini tidak benar. James-lah tersangkanya bukan aku.” elak Mayora sekali lagi yang kali ini sudah mulai terdesak.


“ Kau tak bisa mengelak lagi, Mayora. Semua bukti sudah mengarah padamu.”


“ Ada satu kebenaran lagi yang ingin kuungkap tentang Mayora dan antek-anteknya.” sahut salah satu pengacara dengan lantangnya dan mulai berdiri dari kursinya. Sontak hal ini membuat seluruh audien yang ada di dalam ruangan persidangan mulai memandang ke arah sosok pengacara berjas hitam dengan rambut yang tertata rapi itu berdiri.


“ Saya Sammy Grint, saya mengakui semua kesalahan saya di depan para hakim dan seluruh audien yang ada. Apa yang akan kukatakan saat ini adalah benar, bahwa Mayora telah membayarku untuk melakukan kampanye hitam demi James Sher naik tahta dan dia juga menyuapku untuk membuat kecurangan di pemilihan umum kemarin.” jelas Sam yang menahan malu atas semua perbuatan tak terpujinya.


Mendengar pengakuan Sammy Grint sosok pengacara handal ini membuat para hadirin terbelalak kaget, mereka juga mulai bertanya-tanya mengapa sosok ahli hukum yang luar biasa seperti Sammy Grint bisa ikut terseret dalam kasus mengerikan seperti ini yang mungkin saja bisa merusak karir dan kepercayaan para kliennya dalam menegakan hukum negara.


“ Apa ada bukti untuk menguatkan tuduhanmu itu, tuan Sam?” tanya hakim dengan menyidik ucapan dan gelagat dari sosok pengacara ini.


“ Ada, pak.” jawabnya dengan mantap. Sam mulai berjalan menghampiri hakim dan memberikan beberapa bukti diantaranya adalah surat pernyataan kerja sama dan uang yang digunakan Mayora untuk menyuapnya serta bukti lain juga diberikan Stephen untuk menjadi penguat.


“ Bukan hanya itu saja, menurut penyelidikan yang kudapat bahwa Mayora juga merupakan dalang dibalik peristiwa penyanderaan wakil presiden yang terjadi beberapa tahun silam dengan menyuruh salah satu kriminalis legenda itu, Jade Jillary untuk melancarkan penyanderaan ini.” tegas Stephen yang membongkar semua akal busuk Mayora selama menjabat sebagai ketua umum partai Momentum itu.


“ Aku sudah mencium banyak sekali teka-teki misterius semenjak ia menjabat sebagai ketua di partai ini, tingkahnya mencurigakan dan ternyata semua dugaanku selama ini benar bahwa ia memiliki rencana buruk dan ingin menguasai dunia.” tambahnya


Seluruh hadirin dibuat terkejut dan mulai menatap Stephen yang tengah membongkar semua kejahatan sang ketua umum partai Momentum itu. Betapa terkejutnya mereka mendengar bahwa sosok Mayora bukanlah sosok tauladan yang baik, ia menyimpan banyak kebusukan dalam hatinya.


“ Kutegaskan sekali lagi, bahwa dialah dalang dibalik semua kejahatan yang ada termasuk dalam kasus penyanderaan wakil presiden kala itu. Namun, saat penyidangan itu berlangsung, dengan sangat liciknya ia memutar balikan fakta dan menyalahkan ajudan setianya dan mengumpan Jade Jillary sebagai dalangnya, yang kini Jade atau yang dikenal sebagai Jay telah dieksekusi mati. Pria ini berhati iblis. Dia haus akan harta dan tahta, otaknya sudah menggila.” ucap Stephen sembari menyodorkan beberapa barang bukti yang ia dapatkan ketika menyidik kasus yang menyeret nama ketua umum partai Momentum ini. Nasib Mayora kini berada di ujung tanduk.


Hakim hanya mengangguk paham melihat seluruh bukti sudah sangat kuat dan jelas yang diberikan oleh Stephen.


“ Apa dari terdakwa ada pembelaan?” tanya hakim ketua sekali lagi sembari matanya terus menatap James dan Mayora yang duduk dengan tenang tidak seperti sebelumnya yang masih terdengar kegaduhan.


“ Tidak, yang mulia.” jawab Mayora yang mulai kehabisan akal, ia mulai tertunduk tanpa sepatah kata yang ingin ia keluarkan.


“ Yang Mulia hakim, maaf jika pembicaraanku yang menyela, disini aku menyerahkan diriku sepenuhnya, aku mengakui segala perbuatanku yang bekerja sama dan melakukan kecurangan dalam pemilihan umum itu.” sahut Sam sembari mengangkat tangannya dan menyerahkan diri ke polisi atas kasus kampanye hitam yang ia lakukan agar James Sher menang serta kasus karena menerima suapan.


Semua keputusan tetap berada di tangan hakim, Mayora dan James masih tertunduk pasrah melihat ahli hukum yang tengah merundingkan hukuman untuknya.


“ Baiklah dengan demikian, Mayora Bradle dijatuhi hukuman seumur hidup dan James Sher akan dijerat 10 tahun penjara dan untuk kau Sammy Grint kau dijatuhi hukum 7 tahun penjara dan denda 15 juta US Dollar.”


Terdengar suara palu diketuk menyatakan hukuman tak bisa diganggu gugat dan sudah disahkan. Beberapa tersangka mulai digiring menuju selnya. Pintu ruangan persidangan mulai dibuka, terlihat beberapa wartawan mulai berkerumun untuk meminta berita faktual hari ini, beberapa cahaya kamera mulai memotret James dan Mayora yang tengah di bawa oleh beberapa aparat keamanan, terdengar beberapa pertanyaan juga yang terlontar dari para awak media yang sejak tiga jam tadi menunggu berakhirnya sidang.


Masalah ini sudah berakhir, dalang pembunuhan sudah ditemukan Jason dan keluarganya sudah bisa beristirahat dengan tenang dan keadilan sudah ditegakkan.


“ Aku berterima kasih padamu, Steve. Kau telah membantuku menuntaskan perkara ini.” ucap Albert Barbara dengan menepuk pundak Stephen.


“ Aku puas dengan pekerjaanmu, Steve. Kau memang bisa diandalkan.” tambahnya


“ Sama-sama, pak. Inilah tugas dan kewajiban kami membantu menyelidiki dan menyelesaikan kasus yang ada.” jawab Stephen dengan senyum sumringah yang menghiasi wajahnya.


Setelah dalang pembunuhan Jason berhasil ditangkap, tapi tetap saja semuanya belum berakhir masih ada satu hal yang masih membuat warga resah yakni berkeliarannya sosok Jack O’Hammels si panglima kematian yang diturunkan langsung oleh Mayora untuk membunuh Jason dan keluarganya. Pembunuhan, pencurian, pembegalan dan pengedaran narkoba, Jack dan gangsternyalah spesialisnya.



Terdengar telepon berdering nyaring.


“ Halo? Ada kasus lain yang harus kau tuntaskan, Steve.” Ucap salah seorang dengan suara yang serak basah dari dalam telepon.


“ Siap. Tugas apa yang harus kuselidiki kali ini, pak?” jawab Stephen dengan suara yang siap siaga menerima tugas selanjutnya.