The Black Missions

The Black Missions
Eps.7 Hukuman dan Keadilan



Di sebuah ruangan berhiaskan kain berwarna hijau mulai sesak dipenuhi orang yang datang dengan mengenakan pakaian hitam bergaris merah di leher dan menghadap seseorang yang menggenggam palu kayu dengan penuh wibawa, hari ini adalah hari dimana hukuman Jack di jatuhkan, terlihat Jack duduk di kursi di tengah mereka yang melingkar lengkap dengan seragam biru bertuliskan tahanan. Tamatlah sudah riwayatnya takkan ada lagi yang mampu menghalangi hukuman yang akan segera menimpa sosok pembunuh bayaran macam Jack.


 


Jack hanya tertunduk pasrah tanpa harap tuk bebas sembari kedua bola matanya terus memandang salah satu kakinya yang terbalut kasa putih, sepertinya ada rasa penyesalan yang terpendam dalam dadanya yang kini mulai terasa begitu menyesakan dan sangat berat tuk bernapas.


 


“ Tok..Tokk..Tokk..” Suara palu mulai di ketuk menandakan sidang hukum akan segera di mulai, sontak membuat semua orang yang ramai berbincang mendadak senyap dan tak ada yang bicara, flash kamera tersorot memotret setiap kejadian yang berlangsung sebagai bahan untuk membuat berita hangat hari ini.


 


Hari ini, sidang hukuman Jack di selenggarakan dan di pimpin langsung oleh salah seorang hakim ternama yang bernama Lard Mallone, ia adalah hakim terhebat yang ada di negara ini, ia selalu memutuskan hukuman dengan seadil-adilnya tanpa membeda-bedakan antar status sosial satu dengan yang lain. Ia adalah seorang hakim yang amanah dan apa adanya, Lard selalu menolak berbagai suapan yang selalu di berikan padanya, ia berkata bahwa pekerjaannya mengutamakan kejujuran bukan harta.


 


“ Saudara Jack O’Hammels dengan ini di hukum dengan hukuman yang berlaku sesuai dengan pasal 340 KUHP dengan ayat yang berbunyi barang siapa dengan sengaja dan dengan di rencanakan tuk menghilangkan nyawa orang lain, akan dihukum dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.” ucap Hakim dengan nada tegas dan bijaksana mendakwai Jack O’Hammels yang membatu tak berdaya tanpa perlawanan.


“ Saya keberatan.” acung seseorang hakim penuntut pada ucapan hakim utama sembari ia berdiri dari kursinya. Hakim ketua mulai mempersilahkan penuntut utama untuk mengutarakan pendapatnya tentang ketidak setujuannya terhadap ucapan Hakim ketua.


“ Jika dia di hukum sementara selama dua puluh tahun itu takkan membuatnya jera.” lanjut si penuntut pertama dengan suara yang lantang dan tangannya mengacung tinggi menunjuk Jack yang terdiam.


“ Karena bisa kita lihat jika dia dibiarkan untuk bebas dan diberi hukuman ringan ia akan bertindak semena-mena, bukankah sebelum ia membunuh Jason dan keluarganya, ia juga pernah membunuh seorang pria yang lain dan bukan adalah ayah kandungnya?” tambahnya dengan membeberkan beberapa fakta tentang riwayat tindakan kriminal yang pernah Jack lakukan di masa lalu. Ini bisa menjadi bukti dan alamat baginya mendapatkan sanksi yang tegas.


“ Benar, pak saya sependapat dengan penuntut satu. Jika kita memberikan keringanan lagi pada hukumannya, ia akan terus beraksi mengancam bahkan membunuh seseorang lagi di kemudian hari, mungkin kali ini adalah Jason dan keluarganya nanti bisa jadi presiden atau perdana menteri lainnya.” sanggah salah satu penuntut lainnya dengan nada tegas dan jelas menambahkan pernyataan penuntut pertama.


“ Ini akan meresahkan masyarakat.”


 


Hakim mulai mengangguk dan membaca kembali semua catatan dan tuntutan atas terdakwa, Jack. Betul saja, ia pernah memiliki riwayat pembunuhan sebelumnya, ia adalah mantan napi beberapa tahun silam dengan kasus pembunuhan berencana atas ayah kandungnya sendiri, namun ia diringankan dalam hukumannya karena sewaktu itu usianya masih di bawah umur untuk mendapatkan hukuman berat yang berlaku.


 


Namun, keputusan tetap berada di tangan sang hakim, ia harus bisa adil dan bijaksana dalam memberikan hukuman bagi seseorang pembunuh bengis seperti Jack.


Kepala Jack kembali tenggelam dalam lautan kepasrahan menunggu nasib kematiannya yang sebentar lagi akan segera datang menjemputnya. Semua orang yang hadir dalam persidangan itu mulai merasa lega dan puas dengan apa yang hakim Lard berikan. Ini adalah hukuman yang sepadan bagi seorang pembunuh bayaran seperti Jack O’Hammels.


 


Amat disayangkan di usianya yang masih terpaut muda, ia harus berurusan dengan pihak kepolisian, menjadi seorang narapidana dan terjerat hukuman yang benar-benar hanya ditujukan untuk para penjahat kelas kakap, hukuman mati.


Di sebuah sel khusus, terlihat Jack mengenakan baju biru khas seorang narapidana kini tengah duduk termenung memeluk lututnya dan menyandarkan punggungnya pada sebuah tembok, matanya menatap langit-langit penjara dan dalam lubuk hatinya masih merasa tidak tenang seakan selalu ada hal yang menghantui dirinya.


 


“ Hey, kau. Kudengar kaulah pembunuh keluarga Jason itu, kan?” desis seseorang dengan nada sinis menatap Jack yang tengah melamun.


Jack mengangguk mengiyakan pertanyaan seseorang napi yang berada dalam satu sel dengannya. Nampaknya dia telah lama menjadi penghuni sel istimewa khusus para napi pembunuh dan berbalas dengan hukuman mati ini terlihat dari wajah dan jenggutnya yang tak terawat.


“ Kau sangat hebat, berani melakukan hal gila seperti itu. Kau tak takut dengan apapun yang ada di hadapanmu. Kau sudah tak punya akal, nak.”


Jack mulai memalingkan wajahnya menatap penuh amarah kepada seorang laki-laki yang ada di sebelahnya.


“ Seharusnya kau berpikir dua kali untuk melakukan misi kejahatan bagi perdana menteri itu. Masa mudamu sia-sia, nak.” sinis orang itu lagi dengan menyeringai menatap Jack dengan tatap mata yang sangat tajam seakan ia sedang menceramahi Jack atas segala perbuatannya.


“ Lihat, benar saja sekarang kau menyesal, bukan?” tambahnya yang membuat gejolak hati Jack semakin memanas memendam amarah terhadap pria yang ada dalam sel-nya itu. Jack mulai berdiri menjulang dengan tangannya yang menggenggam.


“ Apa masalahmu dengan mudah mengomentari hidupku? Siapa dirimu!” tegur keras Jack pada sosok laki-laki yang sejak tadi berbicara mengenai dirinya. Terlihat pria itu mulai tertawa menatap Jack yang masih kebingungan karena hukuman yang baru saja ia terima.


“ Aku? Kau tak mengenalku? Kau ini hidup di zaman apa, anak muda sampai-sampai kau tak mengenali diriku? Namaku sudah terkenal di seluruh penjuru negeri ini.” cetusnya dengan terus tertawa.


Jack mulai terpancing emosi dan menggosok hidungnya sembari menatap tajam kepada sosok pria yang menurutnya telah tidak sopan mengomentari tentang hidupnya.


“ Siapa kau!! Punya urusan apa kau dan aku?!” Bentak Jack dengan keras. Namun, bentakan Jack tak membuat pria itu ketakutan. Ia malah tertawa kecil melihat Jack yang berdiri menggeram marah.


Siapakah sosok pria ini sebenarnya? Mengapa ia berada dalam satu jeruji yang sama dengan Jack?