
Sorak-sorak bergembira mulai terdengar riuh, hasil pemilihan suara sudah keluar 100% suara telah masuk dan terhitung dalam penghitungan cepat. Hasil menyatakan James Sher dari partai Momentumlah yang menjadi kandidat perdana menteri yang akan menampung seluruh aspirasi rakyat, dialah yang akan menjadi wakil rakyat yang nantinya akan menyampaikan keluh kesah dan saran mereka kepada badan pemerintahan.
Mayora Bradle beserta staff partainya mulai bahagia mendengar kemenangan ini, lima tahun lamanya mereka menunggu partai mereka kembali berjaya dan berkibar dan inilah waktunya mereka untuk menang, beberapa wartawan mulai berbondong-bondong datang memenuhi halaman gedung untuk mewawancarai dan mencari berita terbaru atas kemenangan telak partai Momentum dalam pemilihan umum tahun ini.
“ Pak James, bagaimana perasaan anda setelah memenangkan banyak suara dalam pemilihan umum kali ini?” ucap salah satu wartawan berita dengan menyodorkan sebuah mikrofon khas sebuah stasiun televisi.
James Sher mulai tersenyum sumringah sembari menunjukan gigi putih rapinya kepada seluruh awak media yang hadir, beberapa diantara mereka juga mulai memotret wajah James dengan cahaya flash kameranya.
“ Saya sangat bersyukur bisa menjadi perwakilan rakyat, saya tak pernah menduganya bahwa saya benar-benar bisa memenangkan pemilihan umum kali ini. Saya akan berusaha menjadi pemimpin yang baik dan mendengarkan semua aspirasi rakyat.” jawab James dengan memancarkan aura kemenangannya pada seluruh wartawan yang ada.
“ Lalu, kemana saja bapak selama ini? Mengapa bapak tidak pernah muncul ke media memberikan sebuah klarifikasi dan malah lebih memilih untuk menghilang tanpa jejak, apakah semua ini ada hubungannya dengan mendiang tuan Ary Jason?” cetus salah satu wartawan lainnya yang masih terus penasaran dengan keadaan James yang selama ini tak pernah muncul di media pasca kematian sahabat karibnya, Ary Jason.
James Sher mulai tertegun perlahan senyum bahagia mulai memudar, raut wajahnya kembali menunjukan kesedihan.
“ Saya sangat terpukul dan depresi, ketika saya mendengar berita kematian sahabat saya inilah alasan mengapa saya tak pernah muncul ke media, karena saya masih tidak percaya bahwa sahabat karib saya benar-benar meninggalkan saya sendirian. Saya tidak mau mempublikasikan seluruh kesedihan dan rasa kehilangan yang menyelimuti hati saya ke depan publik, karena menurut saya tidak semua hal harus dipublikasikan, bukan? Dan bukankah kita juga diberi ruang untuk menyendiri dan memiliki privasi?” ucap James dengan suara yang tegas dan diiringi gelak tawa yang ganas sembari menyembunyikan perasaan tersinggungnya karena sebuah pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan oleh wartawan secara langsung.
Beberapa awak media mulai menghening, ketika mendengar ucapan James yang menyinggung soal privasinya, beberapa diantaranya juga mengucapkan kata selamat atas kemenangan James pada pemilihan umum kali ini dan beberapa juga mendoakan James agar semua pekerjaan dan jabatan yang diembannya bisa berjalan dengan lancar dan bisa menjadi sosok wakil rakyat yang amanah. Partai Momentum benar-benar mengadakan pesta besar atas kemenangan James.
Di sisi lain, sang partai saingannya, Big Solidarity tengah asyik menyidik kasus kematian Jason, mereka sudah tak peduli lagi dengan hasil ataupun perolehan suara yang mereka dapatkan dalam pemilihan hari ini. Kali ini yang terpenting adalah keadilan bukan hasil perolehan suara.
Di sebuah ruangan yang hanya ada sebuah meja lengkap dengan kursi dan beberapa ornamen klasik yang menempel erat di dinding terlihat seorang pria tengah duduk sembari memandang sebuah foto dalam genggaman tangannya, senyum sinis kembali terpancar dalam wajah pria dengan jas hitam yang membalut tubuh kekarnya ini.
“ Sammy Grint, kali ini kau tidak akan lolos dari kejaranku.” gumam pria itu ternyata dia adalah Stephen Ivander yang kini tengah menaruh rasa curiga yang amat dalam pada sosok pengacara handal, Sammy Grint.
“ Aku akan segera mengungkap sosok dalang dibalik semua peristiwa berdarah ini.” tambahnya yang tengah bergumam dalam hati sembari tangannya memutar pulpen yang ada di genggamannya, kali ini Stephen tidak main-main ia juga sangat penasaran dengan sosok dalang yang menyimpan dendam pada sosok pria baik dan berbudi luhur seperti Ary Jason.
Ia juga menaruh rasa curiga yang dalam pada beberapa orang yang hidup di sekitar beliau sebelum meninggal, diantaranya adalah sosok Sammy Grint si pengacara itu, suspect kedua yang tertulis dalam daftar catatan Stephen selanjutnya adalah Mayora Bradle ketua umum dari partai Momentum yang lain dan yang bukan adalah saingan sengit dari partai politik dimana Ary Jason menjabat, dugaan sementara untuk tersangka yang ketiga adalah James Sher, sosok sahabat karib Jason sejak ia masih kecil hingga dewasa yang kemungkinan besar bisa saja menjadi musuh dalam selimut bagi kehidupan Jason beserta keluarganya, dan tersangka terakhir yang dicurigai membunuh Jason dengan meminta bantuan gangster ternama itu adalah Mike Hilton, dia adalah kaki tangan dan sekretaris kepercayaan keluarga Ary Jason yang mungkin saja ketika ia bekerja dengan keluarga Jason, ia menyimpan dendam pada keluarga ini hingga ia memilih jalan ekstra yakni membunuhnya tanpa ampun dengan bantuan tangan Jack O’Hammels, si malaikat kematian dari gangster ternama di Amerika. Keempat orang itu masih terus diselidiki oleh Stephen, sebentar lagi titik terang akan segera muncul dan dalangnya akan segera terungkap. Keadilan akan kembali ditegakkan.
Dalam hitungan jam, Stephen Ivander berhasil mengumpulkan beberapa barang bukti mengenai gerak-gerik mencurigakan dari sosok ahli hukum ini, mulai dari beberapa foto hingga video ketika ia menemui sosok Mayora di cafe berhasil ia kantongi. Ia mata-mata yang handal dan jago dalam segala hal yang berbau dengan detektif, belum satu hari ia bekerja, ia sudah berhasil mendapatkan barang bukti yang berharga. Bau-bau kebenaran akan segera tercium dan bangkainya akan segera ditemukan.
“ Bagaimana James ucapanku benar, bukan? Jika kau akan menang dalam pemilihan ini.” ujar Mayora dengan menepuk pundak James yang tengah berbahagia menyambut kemenangannya.
“ Iya, pak. Aku tak menyangkanya bahwa mimpiku selama ini benar-benar terwujud.” balasnya sembari menuangkan sebuah beer ke dalam gelas. Mayora hanya tertawa membalas perkataan James. Mereka bersulang dan merayakan kemenangan dengan penuh suka cita seakan tanpa beban yang menyelinap datang ke dalam jiwanya.
“ Sudah kukatakan, cara yang kubuat ini sangat ampuh untuk merebut kemenangan.” ujar Mayora Bradle yang mulai membanggakan dirinya dengan semua rencana licik yang ia terapkan pada pemilihan ini, James hanya tertawa bahagia membalas perkataan Mayora ketua umumnya. Ia tak peduli bagaimana cara Mayora merebut kemenangan ini, yang terpenting baginya adalah ia bisa duduk dan menjabat sebagai perwakilan rakyat.
Di sebuah gedung yang menjulang tinggi dan tingginya hampir mencakar langit, gedung inilah tempat dimana Sammy Grint bekerja, ya inilah gedung konsultasi hukum.
Terlihat seorang pria mulai keluar dari mobil patrolinya, dia adalah Stephen Ivander beserta dua orang aparat kepolisian yang turut hadir menjaganya dengan senapan yang mengalung di leher masing-masing penjaga. Stephen ingin bertemu dengan sosok Sam dan meminta penjelasan dengan semua perbuatan yang telah ia lakukan bersama Mayora.
“ Bisakah saya bertemu dengan tuan Sammy Grint?” tanya Stephen dengan nada ramahnya kepada salah seorang resepsionis yang ada.
“ Kalau boleh tahu, pak Sam menanyakan siapa nama bapak sebenarnya?”
“ Stephen, Stephen Ivander.” jawab Stephen dengan menyebut nama lengkapnya. Terlihat wanita resepsionis itu mulai menutup teleponnya.
“ Baik, bapak bisa menemui pak Sam di lantai dua.” arah sang resepsionis dengan suara yang lembut dan ramah.
“ Baik, terima kasih.”
Stephen bergegas menuju ruangan Sammy Grint di lantai dua, pintu mulai diketuk dan seseorang telah memberikan izin untuk masuk. Sam yang kala itu sedang duduk bersantai tiba-tiba terkejut dengan kedatangan sosok mata-mata handal seperti Stephen Ivander masuk ke dalam ruangan kerjanya.
“ Selamat pagi, tuan.” sapa Stephen dengan nada sedikit tegas namun ramah sembari membawa dua orang penjaga di belakangnya.
Sam terperangah sembari menjawab sapaan pagi dari sosok Stephen beserta dua pengawal pribadinya.
“Ada apa kau datang kemari, Steve?” tanya Sam dengan penuh curiga memandang sosok Stephen yang tengah berdiri tegak dengan mimic wajah yang serius.
“ Apa kau tak mengizinkanku untuk duduk, pak?” ucap Stephen pada Sam, secara tak langsung Sam mulai mempersilahkan untuk duduk di kursi yang telah di sediakan, namun kedua penjaganya masih terus berdiri kokoh menjaga Stephen.
“ Apa yang kau inginkan hingga kau datang membawa dua pengawal seperti ini masuk ke dalam ruanganku?” sidik sinis Sammy Grint pada Stephen, seakan sikap Stephen dan kedua penjaganya mulai mengganggu ketengan batin sosok Sam.
“ Aku datang kemari karena ada satu hal penting yang ingin kubicarakan padamu, pak.” sahut Stephen dengan menatap tajam Sam.
“ Apa maksudmu? Hal penting apa yang kau ingin bicarakan padaku?” jawabnya dengan menyipitkan kedua matanya seakan ia tengah menyidik sesuatu hal yang terucap dari mulut Stephen.
“ Ini masalah kejujuranmu dan jabatanmu.” tegas Stephen sembari matanya terus menatap tajam sosok ahli hukum yang kini duduk dengan menyandarkan bahunya di kursi.
Tubuh Sam mulai bergetar, keringat dingin mulai bercucuran deras menuruni pelipisnya, suasana ruangan menjadi sangat panas , pendingin ruangan serasa tak berfungsi memberikan kesejukan pada diri. Stephen mulai mengeluarkan sebuah barang bukti dari dalam tas hitamnya.
“ Aku ingin kau menjelaskan semua makna dalam foto yang kudapatkan hari ini.” ucap Stephen dengan menyodorkan sebuah foto dimana ia dan Mayora bertukar sebuah koper hitam dan foto dimana ia berusaha mengendap-endap masuk ke dalam sebuah ruangan dengan gelagat yang mencurigakan.
Sammy Grint terkejut melihat semua foto yang Stephen keluarkan, ia mulai gerogi untuk menjawab semuanya.
“ Aku tak punya hubungan apapun dengan sosok pria ini. Kau salah mengira seseorang.” elak Sam pada semua foto yang ia lihat. Ia mengelak bahwa itu bukan dirinya dan ia tak punya kerja sama apapun Bersama sosok pria yang ada dalam foto tersebut.
“ Kau jangan berbohong padaku, Sam. Aku sudah mendengar semua hal tentang dirimu dan Mayora Bradle. Kau menjalin misi khusus dengannya, bukan? Misi apa yang kau kerjakan?” desak Stephen dengan menatap tajam sosok Sam yang kini mulai gugup tak karuan.
Sam mulai terdiam, sepertinya ia mulai terdesak dengan semua tuduhan yang diutarakan oleh Stephen mengenai kerja sama yang ia buat bersama Mayora Bradle. Ia tidak mungkin membongkar semua bentuk kerja sama yang ia setujui Bersama Mayora.
“ Kau tidak mau menjawab, baiklah kau bisa kutuntut dengan segala perbuatanmu dan barang bukti ini kurasa cukup untuk menyeretmu dalam jerujiu besi dan kau tahu jabatanmu sebagai pengacara bisa saja dicabut karena sikap ketidak jujuran dan tidak keterbukaanmu pada seorang klien.” ancam Stephen Ivander pada sosok pengacara yang tiba-tiba saja terdiam mematung tanpa sepatah kata yang terucap.
Sam mulai menelan ludahnya, ia mulai merogoh saku celananya tuk mengambil sesuatu yang terselip di sana.
“ Kau berani mengancamku!” bentak Sam yang mulai marah sembari ia menodongkan sebuah pistol kecil ke arah dimana Stephen duduk, hal ini sontak membuat kedua penjaga Stephen yang sedari tadi bersiaga mulai menodongkan pistol mereka dan ikut mengarahkannya pada sosok Sam yang kini mencoba mengancam nyawa Stephen.
“ Jangan bergerak, kau melakukan kekerasan, kami takkan segan-segan menembakmu di tempat.” ucap tegas salah seorang penjaga pada Sam yang terus bersiaga menembak kapanpun jika ia melakukan perlawanan. Stephen hanya menyeringai menatap Sam yang salah tingkah seakan dugaannya selama ini benar bahwa Sam memiliki hubungan pada sosok pria licik seperti Mayora Bradle.
Sam mulai panik, akal pikirannya mulai kacau. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa.
“ Tenanglah, Sam. Aku hanya membutuhkan penjelasanmu saja. Kau tak perlu menggunakan kekerasan seperti ini.” sindir Stephen yang mencoba menurunkan senjata yang Sam genggam. Sam mulai menyidik ke kanan dan ke kiri, Ia mulai menurunkan senjatanya dan begitu juga kedua penjaga Stephen yang ikut serta menjauhkan senapannya pada kepala Sammy Grint.