
Hari ini adalah hari yang cerah mentari bersinar dengan terang seperti biasanya. Suasana pagi ini cukup damai namun sedikit menegangkan dimana sekelompok aparat keamanan mulai berkumpul di sebuah ruangan dan menjalankan misi yang telah direncanakan, dua tim mulai bergerak sesuai dengan tugas dan perintahnya masing-masing.
Tim satu dipimpin oleh Harold untuk menyergap dan membawa James Sher ke markas sementara tim dua langsung dikomando oleh Stephen untuk menangkap Mayora Bradle. Dua orang inilah yang dicurigai sebagai sosok dalang dari peristiwa yang menewaskan satu keluarga yang terpandang di Amerika Serikat.
Stephen beserta tiga orang penjaganya mulai merayap menuju kediaman Mayora di Jalan Rosalia nomor 20, New York. Beberapa amunisi telah disiapkan, ketiga pengawalnya sudah siap dengan senjata yang dibawanya, nampaknya kali ini akan menjadi perlawanan yang sengit karena Mayora bukanlah tipe orang yang mau mengalah, ia akan memberontak jika ada suatu hal yang mengancam ketenangannya. Kali ini, Stephen harus berhati\-hati dengan sosok pria paruh baya seperti Mayora Bradle.
Mobil hitam mulai terparkir di halaman rumah Mayora, empat orang pria dewasa dengan gagahnya mulai mengetuk pintu rumahnya, penggerebekan segera dimulai. Terlihat seseorang mulai membuka pintu dengan mata yang terbelalak lebar ia mulai terkejut dan membanting keras gagang pintunya.
Beberapa aparat mulai mendobrak pintu dan memaksa untuk masuk, terlihat seorang pria dengan pakaian serba putih mulai berlari dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang kemudian menguncinya dengan rapat seakan sosok pria ini tahu maksud kedatangan keempat aparat kepolisian itu.
“ Mayora keluarlah! Aku yakin kau berada di dalam, cepat buka pintunya atau akan kudobrak dengan paksa!” teriak Stephen dengan lantangnya sembari tangannya terus menggedor keras pintu yang terkunci rapat menyembunyikan sosok Mayora di dalamnya.
“ Kau takkan bisa menangkapku, Steve karena dalang sebenarnya adalah James Sher bukan diriku.” jawab Mayora dari balik pintu, sepertinya ia mulai memutar balikan fakta yang ada.
“ Jika kau tak bersalah, maka keluarlah jangan kau sembunyikan dirimu dalam ketakutan seperti ini, pak.” ujar Stephen dengan suara yang keras dan tegas. Beberapa penjaga juga mulai siap siaga dengan senapannya seakan mereka tengah berjaga-jaga jika terjadi sebuah pemberontakan karena yang mereka tahu Mayora bukanlah orang sembarangan pasti dia juga akan merencanakan sebuah rencana yang licik untuk meloloskan diri dari para penjaga yang akan menangkapnya. Bagaimanapun, ia adalah seekor ular yang berbisa.
“ Jika kau tak mau keluar dari persembunyianmu, terpaksa dalam hitungan ketiga aku akan menembak dan membom rumah ini.” ancam Stephen dengan menghitung mundur dan memaksa Mayora untuk segera keluar.
“ Satu…” ucap Stephen yang mulai menghitung nampaknya masih belum ada pergerakan dari Mayora.
“ Dua.. kuharap sebelum dalam hitungan ketiga kau segera keluar.”
Seluruh aparat bersenjata mulai menyodorkan dan mengisi senjatanya dengan peluru seakan senapan mereka siap membidik apapun yang ada. Namun, terdengar suara gagang pintu mulai dibuka, keluarlah seorang pria yang mulai menodongkan pistolnya kearah dimana Stephen berdiri. Dia adalah Mayora Bradle.
“ Jika kau berani macam-macam denganku, aku takkan segan-segan membuat seluruh isi kepalamu keluar, Steve.” ancam Mayora dengan menodongkan pistol genggamnya ke kepala Stephen, sosok mata-mata handal itu hanya menyeringaikan bibirnya seakan ia tak takut dengan ancaman yang Mayora utarakan padanya.
“ Turunkan senjatamu atau kau kutembak.” tegas salah satu ajudan Stephen dengan membidik Mayora. Mayora mulai melihat suasana sekitar, tiga orang penjaga dengan senapan panjang di tangannya membuat Mayora semakin was-was dan khawatir. Jika ia salah langkah bisa saja nyawanya melayang dalam penggerebekan ini.
“ Kalian berani melangkah satu inchi saja, aku takkan segan-segan menekan pelatuknya.” ancam Mayora dengan terus menempelkan pistolnya pada kepala Stephen sembari matanya terus mengawasi ke kanan dan ke kiri menatap pergerakan ketiga ajudannya.
“ Kau jangan macam-macam denganku, pak. Kau tahu, para ajudanku takkan tinggal diam, mereka akan menghabisimu sekarang juga bahkan saat kau matipun kau takkan bisa beristirahat dengan tenang karena semua dosamu.” bisik Stephen dengan sadisnya yang mulai mengancam Mayora. Stephen tak gentar dengan semua ancaman yang Mayora ucapkan. Ia mulai menelan ludahnya, ia mulai terdesak sekarang. Ia sudah kehabisan akal bulusnya.
Melihat Mayora yang tengah kebingungan dan gelisah, Stephen mulai menarik tangannya dan membanting pistol yang sedari tadi membidiknya. Ia mulai melintir tangan Mayora ke belakang dan meminta seorang ajudan untuk memberikannya sebuah borgol yang terselip di tas hitamnya. Mayora berhasil dibekuk dengan borgol yang mengikat kedua tangannya.
“ Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Aku tak tahu dengan semua kasus yang kau selidiki.” ronta Mayora yang meminta untuk dilepaskan borgol yang mengikat kedua tangannya.
“ Aku takkan melepaskanmu, aku ingin kau mengakui semua perbuatanmu di hukum.” jawab Stephen yang terus membimbing Mayora untuk masuk ke dalam mobil hitam milik kepolisian.
“ Tapi, aku tak bersalah. Ini semua ulah James Sher aku tak ikut andil dalam perkara ini. Aku hanya difitnah.” elak Mayora
“ Kau bisa jelaskan di depan hakim nanti.”
Mayora berhasil diamankan dan sudah dibawa menggunakan mobil kepolisian walaupun sempat terjadi ajang baku hantam antara Mayora dengan Stephen yang terus mengelak bahwa bukan ia pelakunya, namun tetap Stephen terus mengamankannya dan terpaksa memborgol kedua tangannya agar ia tak melakukan suatu hal yang membahayakan orang lain.
Sementara itu, di sebuah rumah besar di New York dengan cat berwarna putih terlihat beberapa aparat keamanan mulai turun dari mobilnya, kali ini mereka bergerak menghampiri kediaman James Sher untuk membawanya ke ruang introgasi di depan hakim karena bukti sudah menunjukan bahwa mereka berdualah dalang dibalik peristiwa berdarah ini. Mereka takkan bisa mengelak lagi karena barang bukti sudah menguat dan saksi mata sudah ditemukan dan akan segera memberikan kesaksian atas segalanya yang terjadi. Tiga orang pengawal telah siap siaga dengan pistolnya, mereka siap menembak dan membidik siapapun yang berani melakukan kekerasan.
Bel rumah mulai di tekan, terlihat seorang wanita mulai membuka pintu dan tercengang melihat empat orang pria berbadan kekar berdiri kokoh di depan rumahnya, tiga diantaranya membawa sebuah senjata api yang kapan saja bisa digunakan.
“ Maaf, anda mencari siapa?” tanya wanita itu dengan suara yang sedikit gemetar, bulu kuduknya seakan ikut berdiri menegang melihat tubuh besar keempat pria dewasa yang berdiri di hadapannya.
“ Apa benar ini kediaman tuan James Sher, nyonya?” tanya Harold dengan sopannya kepada seorang wanita yang baru saja membukakan pintu untuknya.
Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan salah seorang diantara mereka, karena ia sudah tak bisa berkata-kata lagi.
“ Kalau begitu, bisakah saya bertemu dengan tuan James?”
Wanita itu mulai mempersilahkan keempat pria itu masuk. Betapa terkejutnya James melihat keempat orang gagah bersenjata datang bertamu ke rumahnya.
“ Ada apa ini?” tanya James yang mulai heran dengan kedatangan beberapa aparat kepolisian ke rumahnya. Beberapa aparat mulai berdiri dan memberikan hormat kepada James, tak luput mereka juga bersalaman pada James.
“ Tuan James, perkenalan saya Harold, saya datang kemari atas perintah tuan Stephen Ivander untuk membawa tuan James ke markas untuk memberikan kesaksian dan kejelasan tentang kasus yang menimpa saudara Ary Jason bulan lalu .” tegas Harold dengan memperkenalkan dirinya pada James sembari menunjukan sebuah surat perintah pemanggilan James ke markas. James yang saat itu mulai tertegun, jantungnya mulai berdegup dengan kencang, ia merasa bahwa inilah akhir dari hidupnya. Semua perbuatan buruknya kini tercium sudah.
“ Aku tak bersalah, aku hanyalah korban. Ini semua salah Mayora. Dialah dalang dibalik semua peristiwa pembunuhan ini, aku tak tahu apa-apa, aku hanyalah kambing hitamnya saja.” ucap James yang panik dan tak mau di bawa secara paksa ke kantor kepolisian. James mulai ketakutan, ia tak tahu bahwa hari ini ia akan ditangkap begitu saja.
“ Maaf, pak. Bapak bisa jelaskan semuanya di depan hakim nanti, sekarang lebih baik bapak ikut Bersama kami.”
“ Tidak, saya tidak mau, saya bukanlah pelaku dalam peristiwa berdarah Jason dan keluarganya.” elak James yang terus bersikeras menganggap bahwa ini salah Mayora bukan salah dirinya.
“ Tapi, tetap bapak harus ikut kami ke markas sekarang atau kami akan membawa paksa bapak.” pinta Harold dengan tegas dan jelas. James masih tetap memberontak dan menganggap bahwa ia tak bersalah untuk apa ia dipanggil ke markas guna dimintai keterangan. Namun, Harold tak kehabisan akal ia tetap membawa James dengan cara memborgol kedua tangannya agar James tidak melakukan pemberontakan lebih dalam lagi.
Terlihat seorang wanita yang sedari tadi berdiri melihat peristiwa penangkapan ini mulai memohon kepada Harold untuk tak membawa suaminya ke penjara. Namun, perintah tetap saja perintah mau tak mau James harus ikut ke kantor polisi. Hukum dan keadilan harus ditegakkan.
“ Tolong, jangan bawa suami saya. Dia tak bersalah, aku dan calon bayiku tak bisa hidup tanpanya.” mohon wanita itu pada Harold dengan membelai halus perutnya yang mulai membesar dan mencengkram lengan Harold.
“ Tenanglah, nyonya. Jika tuan James terbukti tidak bersalah maka ia akan segera pulang menemui anda, ia hanya dimintai keterangan saja.” jawab Harold dengan sopannya dan melepaskan genggaman erat tangan wanita itu yang sedari tadi mencengkram lengan kanannya.
James mulai pasrah dan dibawa masuk ke sebuah mobil hitam milik kepolisian, ia tak bisa berkutik lagi karena bukti sudah terkuak. Hatinya kini benar\-benar menyesal telah melakukan perbuatan tercela yang menyebabkan nyawa sahabatnya hilang. James dan Mayora sudah diamankan, mereka dibawa menuju markas introgasi.
“ Aku tak bersalah, dialah dalangnya.” ucap tegas James Sher sembari tangannya menunjuk Mayora yang tengah duduk dan terdiam.
“ Aku? Kaulah dalangnya, kau yang menyuruhku untuk menghabisinya, James.” balas Mayora dengan suara yang sedikit marah membalas tuduhan James Sher.
Siapakah dalang dibalik semua peristiwa berdarah ini?