The Black Missions

The Black Missions
Eps. 26 Bob Markle



Di sebuah taman kota terlihat beberapa orang berlalu lalang, terlihat seorang pria tengah duduk menyendiri mengenakan setelan jas dengan topi berwarna hitam sebagai penyamarannya. Pria ini tampak murung dari biasanya, seperti ada masalah besar yang kini menghampiri hidupnya.


“ Jack?” panggil seorang yang menyebut namanya.


Jack mulai memutar kepalanya dan memandang seorang pria yang datang menghampirinya. Pria itu Nampak tersenyum memandang pria yang kini termenung di bangku taman.


“ Jay?” ucap Jack yang mulai tak menduga tentang kehadiran sosok Jay yang menghampiri dirinya.


“ Jack, hidupmu ada di tanganmu. Baik buruknya itu sesuai dengan keputusan yang kau ambil, janganlah kau tergesa-gesa untuk mengambil keputusan, kau harus memikirkannya matang-matang, kau tak mau jatuh untuk kedua kalinya, bukan?” jawab Jay dengan menyodorkan senyumnya. Jack mulai terkejut dan bangun dari tidurnya, napasnya kini tersenggal-senggal.


Pertemuannya dengan Jay ternyata hanyalah sebatas mimpi, Jay datang hanya memberikan petuah padanya agar ia tak gegabah dalam mengambil sebuah keputusan. Jack sama sekali tak bisa menduga bahwa ia benar-benar bertemu dengan sosok Jay dalam mimpinya.


Jack mulai menyibak rambutnya dengan tangannya, ia mulai kebingungan dengan semua gejolak dalam hatinya. Ia ingin menjadi seorang yang baik namun ia juga tak mau keluar dari gangsternya karena hanya gangster inilah yang menjadi satu-satunya keluarga yang ia punya, dalam gangster ini juga Jack tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah dan berani dalam mengambil segala resiko.


“ Itu Jack!” teriak salah seorang aparat keamanan yang mulai menemukan gelagat Jack yang tengah duduk terdiam di bangku taman.


Jack yang mulai menyadari keberadaan polisi mulai melarikan diri, ia tak mau tertangkap untuk kesekian kalinya, ia tak mau dieksekusi mati.


“ Tangkap dan kejar dia!”


“ Jangan sampai lolos!”


Beberapa aparat kepolisian mulai berlari dan beberapa juga mengendarai motor besarnya untuk mengejar jejak Jack.


“ Kami melihat Jack O’Hammels berada di sekitar taman kota dan sekarang ia melarikan diri menuju jalan Saint Port nomor 12, disini kami membutuhkan bantuan beberapa aparat kepolisian untuk mengepungnya, ia berlari sangat cepat.” ucap salah seorang aparat melalui sebuah alat komunikasi yang menghubungkan antara polisi satu dengan polisi lainnya.


“ Baik. Satu mobil kepolisian akan segera datang ke sana, pak.” jawab salah seorang polisi dari dalam telepon.


Terlihat sebuah mobil kepolisian juga mulai mengejar Jack, kali ini mereka takkan membiarkan Jack lepas begitu saja, mereka menurunkan beberapa anak buah untuk menangkapnya. Menangkap sosok Jack sama seperti menangkap sosok kancil, ia sangat cerdik dan cepat.


“ Jack O’Hammels, berhenti atau terpaksa kami akan menembakmu.” ucap salah satu aparat kepolisian dengan menggunakan sebuah speaker mobilnya sembari diiringi dengan suara sirine yang berbunyi nyaring. Jack tetap berlari tanpa menggubris suara polisi itu.


Jack mulai kalang kabut, ia mulai panik, ia tak bisa menemukan jalan keluar. Jack salah memilih jalan. Namun, tiba-tiba seseorang mulai menarik tangannya dan memintanya untuk bersembunyi di dalam sebuah rumah kecil yang sudah tua dan tak terpakai. Jack mulai membungkukkan badannya dan menutup mulutnya.


“ Kita kehilangan jejaknya lagi, pak.”


“ Sial! Cepat cari daerah sekitarnya, aku tak mau dia lolos begitu saja. Pria ini sangat cepat.”


Beberapa aparat kepolisian mulai menyusuri tempat-tempat di sana mulai dari semak-semak belukar, peternakan warga dan bahkan rumah-rumah wargapun mereka periksa demi menyeret sosok pembunuh bayaran yang melarikan diri ini. Namun, tetap mereka tidak bisa menemukan keberadaan Jack.


Dengan kesal, mereka mulai membubarkan barisan dan berpatroli sepanjang jalan sembari memata-matai keberadaan Jack.


Di sebuah rumah tua dengan tembok yang hampir runtuh dan atap yang tak lagi utuh, terlihat Jack mulai menghela napasnya dan tangannya kini menyentuh dadanya seakan ia merasa lega karena selamat dari kejaran kepolisian. Hidup seperti Jack sangatlah tidak nyaman, kemanapun ia pergi, ia harus siap berkejaran dengan polisi. Nampaknya, situasi mulai aman Jack bisa segera keluar dari persembunyian.


“ Terima kasih kau telah menyelamatkanku.” ucap Jack yang mulai membungkukan badannya sebagai salam hormat pada sosok yang baru saja menolongnya dari kejaran kepolisian.


“ Tidak masalah, Jack.” jawab seseorang dengan suara yang berat sembari ia mengelus punggung Jack yang tengah membungkuk. Jack mulai menatap sosok orang baru saja menolongnya, ia merasa bahwa dia berhutang budi padanya.


“ Kau?” jawab Jack yang tak percaya bahwa sosok yang menolongnya adalah Bob Markle, bos besar gangsternya.


“ Mengapa kau menyelamatkanku? Aku tak butuh bantuanmu.”


“ Bukankah sebagai seorang ayah harus menyelamatkan putranya? Aku melihatmu dikejar dengan beberapa aparat kepolisian maka dari itu, aku berusaha mengejarmu dan menarikmu dalam persembunyian ini. Aku takkan membiarkanmu masuk penjara untuk ke sekian kalinya, Jack.” ujar Bob dengan mengelus halus bahu Jack.


Jack masih mengabaikan semua perkataan Bob Markle, sang bos besarnya seakan ia masih kesal dan kecewa dengan sikapnya. Bob menganggap Jack sebagai anak angkatnya namun ia tak membantu Jack ketika ia terjerat dalam jeruji besi.


“ Bukan aku tak mau membantumu, tapi kau tahu jika aku membantumu seluruh gangster akan terancam, aku masih memikirkan jalan terbaik untuk membantumu, Jack. Tapi, kali ini aku takkan membiarkanmu masuk dalam jeruji besi itu lagi.” jawabnya yang mencoba menyalakan mesin motor besarnya.


Jack masih terus menatap dan tak mau menjawab perkataan Bob.


“ Kembalilah pada kami, Jack. Kau tahu, tanpamu kami tak ada artinya.” tambah Bob yang mulai meyakinkan Jack agar kembali bergabung dalam King Gangster-nya. Jack mulai terpikir lagi.


“ Baiklah, aku akan kembali bersamamu.” jawab mantap Jack yang menyetujui permintaan Bob sang bos besar untuk kembali menjadi salah satu bagian dari gangsternya. Bukan karena ingin menjadi jahat lagi, tapi karena Jack merasa telah berhutang budi pada Bob yang telah menyelamatkan nyawanya dari kejaran aparat kepolisian. Bob tertawa bahagia mendengar ucapan Jack yang menyetujui untuk bergabung dengannya lagi. Dalam hati Bob tahu bahwa Jack takkan bisa pergi jauh karena King Gangster adalah keluarga sekaligus rumah baginya.


Di bawah cahaya senja yang bersinar dengan terang membawa matahari tenggelam di ufuk barat, terlihat seseorang dengan pakaian rapi lengkap dengan jaket jeansnya berdiri tegap di depan sebuah kedai kecil sembari menyedot rokok di genggamannya, nampaknya pria ini tengah menunggu datangnya seseorang.


“ Maaf, membuatmu menunggu lama.” jawab salah seorang yang datang dengan motor besarnya


“ Baik, tidak masalah. Mana bayaranku? Aku sudah melakukan tugas sesuai dengan arahanmu.” tagih sosok pria muda dengan jaket jeans itu sembari tangannya menengadah menagih bayaran atas kerjasamanya.


Terlihat sosok pria dengan motor besar itu mulai merogoh saku celananya dan mengambil sebuah amplop coklat yang terselip di dalam saku celananya.


“ Ini bayaranmu, kau mengerjakan tugas dengan tuntas dan bagus.” puji pria itu dengan suara yang serak basah sembari menyodorkan sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang.


“ Terima kasih, jika kau membutuhkan bantuanku lagi. Hubungi saja aku, dengan senang hati aku akan menerimanya.” ujar sosok pria ini sembari mencium amplop coklat yang kini ada di genggamannya.


“ Bisa diatur, asalkan kau tetap menjaga semua rahasia dan bisa terus diandalkan.”


“ Aku akan siap selama bayarannya sesuai aku takkan bertingkah aneh-aneh, pak.”


Pria dengan motor besar itu mulai mengangguk mengiyakan.


“ Baiklah, terima kasih. Kutunggu tugas selanjutnya, Bob.” ucap pria berjaket jeans itu yang bergegas pergi meninggalkan sosok pria berbadan besar yang ada dihadapannya. Ternyata pria itu adalah Bob Markle, sosok bos besar sebuah gangster yang ditakuti di Amerika ya dialah bos dari Jack O’Hammels.


“ Akhirnya Jack bisa kembali bersamaku. Aku takkan melepaskannya begitu saja.” gumam Bob yang diiringi dengan suara gelak tawa yang menggelegar puas.


Ia mulai mengingat sebuah kejadian yang menyenangkan. Dimana tepat pukul 14.00, Bob yang tengah berpatroli dengan motor besarnya sembari menyusuri jalanan kota untuk mencari mangsa penjambretan seperti biasanya namun secara tak sengaja Bob melihat sosok Jack tengah duduk menyendiri di sebuah bangku taman. Melihat Jack yang tengah termenung, Bob mulai memiliki sebuah ide cemerlang untuk membawanya kembali bergabung bersama gangsternya. Ia tak mau melepaskan sosok berlian begitu saja.


Bob mulai merogoh saku jaketnya dan mengambil sebuah ponsel yang tersangkut di sana.


“ Halo?” terdengar suara seseorang merespon panggilannya.


“ Rad? Aku membutuhkan bantuanmu kali ini aku memiliki tugas penting untukmu, Rad.” ucap Bob dalam sebuah panggilan teleponnya yang menelepon seseorang.


“ Tugas apa yang harus kutuntaskan?” jawab seseorang dari dalam telepon itu yang ternyata bernama Radd.


Bob merencanakan sebuah rencana licik yang tak terpikirkan sebelumnya, ia meminta salah satu anak buahnya yang bernama Rad untuk menelepon pihak kepolisian dan mengatakan bahwa ia melihat Jack O’Hammels di sekitar taman kota. Bukan hanya itu saja, sosok pria dengan bernama Rad ini juga menambahkan berita bahwa gerak-gerik Jack di taman sangat mencurigakan hingga membuatnya ketakutan.



Mendengar berita ini, polisi percaya dan bergegas menuju taman kota. Beberapa polisi mulai berpatroli di sekeliling taman dan beruntungnya mereka berhasil menemukan sosok Jack yang tengah duduk merenung di bangku taman, dengan sigap aparat kepolisian mulai mengejar Jack. Namun, sesuai rencana yang direncanakan oleh Bob Markle sang bos besar sekaligus otak dari rencana licik ini, ia mulai mencoba mengikuti pergerakan Jack dan berpura-pura untuk menolongnya dengan menarik lengannya.


“ Jika seperti ini, dia akan kembali menjadi bagian dari gangsterku dan dia akan merasa bahwa dia telah berhutang budi padaku. Jack kau mencoba bermain-main denganku. Kau takkan pernah bisa lepas dari genggamanku.” ujar Bob yang terus mengikuti pergerakan Jack.


Bob bukanlah orang yang bodoh, dia memiliki seribu cara untuk membuat Jack kembali dalam gangsternya. Rencana berjalan dengan mulus dan Jack berhasil diselamatkan oleh Bob, dengan hal ini Bob mencoba untuk melancarkan aksinya untuk merayu Jack agar mau kembali menjadi panglima kematian di gangster yang dipimpinnya, sontak Jack menyetujui semua permintaannya dan Jack kembali menjadi kaki tangan sekaligus ajudan dari sosok Bob Markle ini.


“ Begitu mudahnya menjebak sosok Jack. Hanya dengan hitungan detik saja ia kembali dalam genggamanku.” Bob Markle mulai tertawa puas dengan hal ini setidaknya sumber uang dari gangsternya tidak hilang begitu saja.