
Pernahkah kalian bertemu dengan seseorang yang tak terduga namun membekas dalam jiwa?
" Aku Jennings Brouch dan panggil saja aku Jane." Suara lirih namun berwibawa dari sosok gadis cantik itu masih terus terngiang jelas di telinga Jack. Pikirnya mulai terbayang dan terpenuhi oleh sosok wanita cantik dengan mata biru sebiru langit yang baru saja ia temui dengan waktu dan tempat yang tak di sangka-sangka.
" Jane, nama yang indah seindah parasnya." gumam Jack kali ini dengan senyum yang merekah di bibirnya menunjukan hatinya mulai tertarik dengan sosok yang baru saja ia temui.
" Suatu hari nanti, akan kucari keberadaanmu, Jane. Aku yakin suatu hari nanti kita akan bertemu lagi." gumamnya dalam hati sepertinya hati Jack mulai tertawan pada gadis ini dan ingin tahu lebih tentang sosok Jennings Brouch atau yang akrab dipanggil dengan Jane ini, Jack mulai menatap Jane yang sudah hilang di telan jarak, ia kembali mengambil sebilah pisau yang tadi sempat ia jatuhkan dan todongkan kepada sosok gadis manis nan ayu itu. Hampir saja ia mengurangi populasi wanita cantik di dunia.
Jack kembali mengendap-endap dan bergegas pergi meninggalkan tempat persembunyiannya yang menjadi tempat awal mula pertemuannya Jack dan Jane.
Gadis berambut pirang dengan nama lengkap yang garang, Jennings Brouch itu adalah seorang perampok wanita kelas kakap yang sangat cerdik dan handal dalam menjalankan segala aksinya sebagai seorang perampok. Belum pernah ada seorang perampok sepicik dirinya. Mungkin dialah satu diantara seribu yang ada, untuk beberapa kasus dia belum pernah tertangkap sekalipun.
Sekawanan polisi berkali-kali dibuat kewalahan ketika mengejarnya, sepertinya sudah ada bakat dan darah kriminal yang mengalir deras dalam aliran DNA gadis cantik seperti Jane ini.
Benar saja, Jane adalah putri tunggal dari salah satu pria paling berbahaya di dunia. Ayah Jane bernama Edward Brouch yakni seorang pakar dari segala macam bentuk perampok dan kejahatan yang pernah ada, bisa dikatakan ayah Jane adalah sang legenda kriminalis mungkin sebelas dua belas seperti Jade Jillary yang baru saja di hukum mati itu.
Ayah Jane telah tewas delapan tahun silam karena hukuman yang menjeratnya, ia di vonis hukuman gantung atas segala perilakunya sebagai balasan yang setimpal atas semua perbuatan di semasa hidupnya, polisi mengatakan bahwa Edward Brouch memiliki 184 kasus perampokan dan pencurian, 38 kali melalukan kejahatan genosida berupa pembunuhan berencana atas perintah dari seseorang, ia berhasil melenyapkan orang itu diantara lain korbannya adalah lima pegawai dari toko perhiasan di Washington atas perintah dari pemilik toko emas lainnya, seorang saudagar kaya raya atas dasar warisan, pasangan suami istri pejabat negara dengan suruhan partai politik, seorang wartawan berita dan lainnya masih dalam proses penyelidikan. Polisi mengklaim bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Edward Brouch lebih dari ini, mereka menduga masih ada aksi jahat lainnya yang sampai saat ini belum terungkap dan masih menjadi tanda tanya besar.
Sementara, Ibu Jane bernama asli Yuna Minerra, ia adalah seorang wanita biasa dengan mata yang biru yang berprofesi sebagai pemilik toko bunga atau florist di Amerika. Dia adalah tipe sosok wanita yang penuh kasih dan sayang terhadap keluarganya.
Namun, suatu hari hati Yuna mulai merasakan sesuatu hal yang janggal dan berbeda terhadap tingkah laku suaminya yang semakin hari semakin membuatnya menaruh rasa curiga yang mendalam.
Suaminya lebih sering pergi jauh dari rumah dan bersembunyi sambil memberi pesan pada Yuna bahwa jika ada sesorang yang datang dan mencari keberadaan Edward, maka dengan sigap Yuna harus mengatakan bahwa Edward sang suami telah pergi entah kemana. Ia menghilang begitu saja.
Waktu berputar dan menjawab semua teka-teki kegelisahan dan pertanyaan yang ada di lubuk hati sang Yuna, ia menyadari bahwa sang suaminya, Edward Brouch adalah seorang perampok dan menjadi buruan polisi, mengetahui kebenaran yang pilu ini membuat hati Yuna teguh memilih tuk meninggalkan suaminya yang kala itu lari sebagai penjahat kelas kakap, ia lebih memilih untuk bercerai daripada harus hidup selamanya dengan sosok perampok berhati kejam dan keras seperti Edward, di sisi lain ia juga tak mau terseret dalam kasus kriminal yang dibuat oleh suaminya, ia tutup telinga atas semua ocehan para warga yang selalu membicarakannya dan suaminya.
Setelah permintaan perceraiannya dikabulkan oleh hakim tertinggi, Yuna menghilang tanpa jejak dan tak ada yang tahu pasti dimana keberadaannya saat ini. Seorang florist itu benar-benar menghilang tanpa kabar.
Yuna tega meninggalkan putri kecilnya yang kala itu diasuh langsung oleh seorang pria yang menurutnya tak baik tuk psikis seorang anak-anak seperti Jane yang kala itu berusia belum genap 7 tahun.
Ia membiarkan putri semata wayangnya, Jennings Brouch hidup dalam lingkungan kriminal dalam asuhan Ayahnya yang seorang perampok besar yang berhati iblis dan bengis.
Kini, usia Jane sudah menginjak 23 tahun, gadis kecil yang malang itu kini berubah menjadi sosok gadis yang cantik dan pemberani.
Jane beranjak menjadi seorang gadis dewasa yang cantik seperti sosok ibunya yang menghilang entah dimana keberadaannya, saat ini Jane bukan hanya mewarisi paras anggun dari sang ibu tetapi ia juga mewarisi keahlian dan watak hati yang keras seperti ayahnya, ia juga dikenal sebagai ratu dalam bidang keperampokan atau orang-orang menyebutnya the criminal queen, ia juga memimpin sebuah komplotan ganas yang dahulu adalah kelompok rampok milik ayahnya yang kali ini menjadi harta peninggalan satu-satunya dari sang mendiang ayah terkasihnya, Edward Brouch.
Sejak Jane kecil, ia sudah sangat paham dan familiar dengan dunia kriminal dan seisinya. Hal-hal yang berbau kejahatan dan kriminal adalah makanan sehari-hari bagi Jane. Ia juga tak takut tuk menggunakan senjata tajam dalam setiap aksi merampoknya, bahkan ia juga berani melakukan kekerasan fisik terhadap korban yang berani melawan atau mengancamnya, hal inilah yang membuat Jane ditakuti dan disegani banyak orang namun disisi lain banyak orang yang juga menyayangkan bahwa gadis semenawan Jane harus memiliki hati yang jahat sejahat iblis.
“ Hai Jane, apa kau baik-baik saja?” tanya seseorang satu komplotannya dengan mengendarai sebuah mobil mewah diiringi sebuah bunyi klakson yang sedari tadi membuat Jane tergetar. Jane hanya tersenyum menatap sahabat satu genk-nya itu dan ia mencoba masuk ke dalam mobil mewah tanpa atap di atasnya.
" Maafkan aku, Jane, aku tidak tahu jika kau tertinggal di belakang. Apa kau baik-baik saja?" tanya orang itu sekali lagi, kali ini Jane mulai memandang sosok pria yang sedari tadi mencemaskannya.
“ Aku tak apa, injak saja gasnya.” gumamnya dengan meneguk sebotol air minum.
Rasanya gadis ini sangat kehausan bukan hanya tenggorokannya saja yang mengering bagai gurun pasir tapi badannya juga seakan ikut mengering karena hampir saja nyawanya berakhir di tangan sosok pria yang bernama Jack O’Hammels itu.
Jane mulai menyeringaikan sebelah bibirnya ketika mengingat kejadian dimana mata pisau yang runcing itu hampir saja menyentuh dan merobek mengeluarkan seluruh isi perutnya.
“ Jack O’Hammels, pria itu telah membuatku tak bisa lupa akan kejadian hari ini.” gumamnya dengan tertawa kencang di dalam mobil yang tentu saja membuat seseorang yang mengemudi ikut terkejut dengan suara tawa keras milik Jane.
" Ada apa, Jane? Belum pernah kumelihatmu sebahagia ini?” tanyanya dengan nada keheranan melihat sikap Jane yang tiba-tiba saja menjadi seorang maniak yang tertawa lepas tanpa beban.
“ Kau tahu, aku baru saja bertemu dengan seseorang yang hampir membunuhku dengan sebilah pisaunya." jawab Jane dengan mengangkat sebelah alisnya memandang sopir di sampingnya.
" Benarkah?" tambahnya yang mulai terkejut dengan ucapan Jane
" Kau tahu siapa dia?" Pria itu mulai menggelengkan kepala terhadap teka-teki yang diberikan Jane padanya.
" Dia bernama Jack O’Hammels, pria itu yang hampir membuat ususku keluar dari tempatnya.” jawabnya sembari telapak tangannya mengelus halus perutnya.
“ Apa? Jack O’Hammels?” Pengemudi itu tiba-tiba saja menginjak remnya yang sontak membuat empat roda mobil itu berdecit berhenti seketika.
“ Dorm! Apa kau sudah gila?!” bentak Jane dengan menatap marah sopirnya yang ternyata bernama Dormino Clifford, nampaknya tindakan bodoh Dorm yang menginjak rem dengan tiba-tiba, membuat leher Jane terasa sakit dan jika terulang lagi mungkin lehernya akan ikut patah karena rem dadak yang Dorm lakukan barusan.
“ Berbahaya? Apanya yang berbahaya?” tanya Jane yang masih menyentuh lehernya.
“ Jack O’Hammels, kau tak tahu siapa dia?" sidik heran Dorm pada Jane. Jane hanya membalasnya dengan gelengan kepala yang menandakan ia benar-benar tak tahu siapa sosok Jack O'Hammels sebenarnya.
Terlihat Dorm mulai menghela napas panjangnya dan mengusap dahinya yang tiba-tiba saja berkeringat dingin ketika ia membahas sosok pria yang bernama lengkap Jack O'Hammels ini.
" Baiklah, dia adalah seorang pembunuh bayaran dan kau tahu, Jack yang baru saja kau temui itu adalah seorang tahanan yang baru saja melarikan diri dari hukuman matinya, kini ia berhadapan langsung dengan para mata-mata negara yang mencari keberadaannya.” jelas Dorm yang memberikan sebuah pengarahan pada Jane tentang sosok lelaki yang baru saja di temuinya. Jane hanya terdiam menatap wajah Dorm tanpa ada sepatah katapun yang keluar.
“ Aku tak mau jika kau juga ikut terseret dalam kasusnya. Aku bersumpah padamu Jane, dia bukan pria yang baik, dia itu sangat licik." ucap Dorm sembari menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.
Jane hanya tercengang mendengar kisah sosok laki-laki yang baru saja ia temui. Ia tak bisa menduganya bahwa pria yang menodongkan pisau pada perut rampingnya itu memiliki riwayat kriminal yang luar biasa kelamnya. Nampaknya bulu kuduk Jane juga ikut berdiri tegang karena mendengar ucapan Dorm barusan.
“ Ku harap kau tak lagi menemuinya dan jangan coba-coba untuk bertemu dengannya. Berbahaya jika kau dekat dengannya, Jane.” nasehat Dorm dengan menarik perseneling mobilnya tuk membuat mobilnya kembali melesat.
Jane hanya diam merenung mencerna semua berita yang ia dengar dari sahabat sejawatnya Dormino Clifford atau akrab disapa Dorm ini. Seakan ia masih tak percaya bahwa lelaki rupawan yang tadi tak sengaja ditemuinya adalah seorang pembunuh bayaran yang melarikan diri, wajahnya yang sangat teduh jika Jane memandangnya ia bukanlah pria yang suka akan kejahatan dan menurut pantauan dari sorot matanya ia juga tak mungkin melakukan pekerjaan keji seperti ini.
Jack, Jack dan Jack selalu tersangkut dalam otaknya, wajahnya juga masih terekam jelas dalam benaknya ketika ia menodongkan pisau kecil pada perut sang gadis ini.
Jane tetap tak bisa berhenti berpikir memikirkan sosok pria gagah nan rupawan itu, walaupun Dorm sudah melarangnya untuk tidak bertemu dengan pria yang berbahaya menurut sahabat lelakinya itu.
" Aku harus cari tahu sosok pria ini. Aku harus cari kebenarannya. Kita akan bertemu lagi, Jack." gumam Jane dalam hati sembari mengepalkan tangannya dengan pandangan yang menatap ke arah luar jendela.
Di sebuah ruangan yang kosong hanya ada sebuah meja dan sofa putih yang mulai usang termakan waktu, terlihat beberapa orang tengah berkumpul melingkar. Markas baru dari King Gangster rupanya.
“ Jack, telah berhasil melarikan diri dari tahanan, bos." gumam salah seorang diantara mereka yakni Brian dengan membawa sebuah bukti koran yang tergambar wajah Jack O’Hammels rekan satu timnya yang berhasil lolos dari lapas hukuman matinya.
Sontak dengan datangnya berita ini, membuat seluruh anggota dalam markas berdiri menegang
" Jack melarikan diri? Apa kau yakin?" tanya salah seorang dengan nada kaget diiringi dengan tatapan mata yang terbelalak seakan ingin melompat keluar.
" Kau jangan main-main, Brian." tambah salah satu diantara mereka dengan menyidik atas kebenaran dari berita yang baru saja ia dengar dari teman satu jalannya, Brian.
" Lihat dan bacalah, koran ini. Aku saja tidak percaya tetapi benar Jack melakukannya." jawab Brian dengan menyodorkan sebuah koran harian yang baru saja hangat membincangkan sosok Jack O'Hammels, si penjahat kelas kakap yang melarikan diri.
Bob Markle mulai meminta paksa kertas koran harian yang dibawa oleh salah satu anak buahnya. Berita ini benar-benar membuat seluruh warga New York gempar.
Ia membacanya dengan seksama dan benar saja Jack berhasil melarikan diri dari hukuman matinya. Berita ini membuat Bob kembali sumringah terlihat lekukan di bibirnya yang mulai terpampang jelas dan manis menghiasi wajahnya.
“ Anak ini punya sesuatu hal yang tak pernah kuduga sebelumnya dan ia benar-benar berhasil melakukannya.” ujar Bob dengan tersenyum jahat memandang tajam sebuah koran yang ada di genggamannya.
" Kau harus kembali bergabung pada kami, Jack. Kau adalah kaki tanganku, aku akan mencarimu hingga penjuru negeri." gumamnya dalam hati yang terus menatap sebuah koran dengan wajah Jack yang terpajang di sana.
" Kita harus cari Jack dan membawanya kembali bergabung pada misi khusus kita." ujar Bob selaku pemimpin besar king gangster .
" Benar pak, tanpa Jack kita bukanlah apa-apa."
" Misi kali ini temukan Jack dan jangan lupa bawa ia kemari dan satu hal lagi berhati-hatilah ketika kalian mengendus keberadaan Jack. Jangan sampai salah langkah, karena polisi masih terus memantau keberadaan Jack dan kita." pinta sang bos besar pada anak buahnya sontak membuat anak buahnya mengangguk setuju.
Sontak hal ini membuat seluruh anggota Gangster dikerahkan tuk mencari sosok Jack O'Hammels yang baru saja melarikan diri dari jeruji besi dan hukumannya. Akankah Jack akan ditemukan oleh mereka dan akan kembali bergabung pada sosok komplotan besar di Amerika? atau Jack memilih jalan sendiri dan menjadi pribadi yang lebih baik seperti saran yang ia dengar dari Jay, sang legendaris itu?